Death Game

Death Game
Pengorbanan Komandan Ksatria Kerajaan


__ADS_3

Kers pun langsung berdiri dari duduknya. Mengejutkan Revtel yang berada di sampingnya.


“Kers?”


Sang adik mengusap kasar pipinya. Untuk menghapus jejak air mata yang tersisa. “Aku akan kembali.”


Revtel pun tersentak. “A-apa maksudmu?”


“Aku akan kembali. Revtel, kamu tetaplah di sini.”


“Jangan gila! Kalau kamu sampai tertangk—”


“Ibuku belum mati,” potongnya. “Dan aku takkan biarkan ibuku tersiksa seorang diri. Jadi aku harus kembali,” tanpa keraguan ia lari dari sana.


Membuat panik Revtel sehingga menyusulnya. “Kers! Hentikan, Kers! Hentikan!”


Tapi, entah kenapa anak itu semakin menjauhinya. Seolah gerakan kakinya begitu cepat untuk menyusuri jalanan kembali ke hydra.


Tanpa istirahat, bermodalkan harapan dan amarah ia datangi bangsa yang sudah menghancurkan keluarganya.


Hanya saja yang tersisa bagi Kers cuma tubuh tak berdaya milik ibunya. Gonggongan para ksatria yang tak sadar dengan kehadirannya, melantunkan kenyataan keji untuk ditangkap anak itu.


Di mana kabar Ibunya dijajah para Tetua sebab memiliki fisik dan visual yang luar biasa. Tak ubahnya dengan Revrea, tapi dia dinikmati tua bangka bajingan dengan nafsu keparat di diri mereka.


Dan sang Raja, hanya menonton tanpa peduli pemandangan tak senonoh di depan mata. Seolah iba tak ada di dirinya.


Pimpinan terburuk bagi sosok tertindas, suami keparat bagi selir yang melahirkan putra haramnya. Dan kakak ipar brengsek dengan nurani telah mati di hatinya.


Revtel yang berhasil menyusul Kers, hanya bisa menutup wajah akibat tak tahan dengan tangisan di pelupuk mata. Kian berjatuhan, seolah mentertawakan apa yang menimpa keluarga mereka.


Di tempat yang jauh dari kota, mereka mendapati sorakan begitu keras menghiasi halaman istana.


Dan inilah neraka untuk perasaan mereka yang sudah tersiksa.


Pakaian yang menyedihkan. Jejak cambukkan memenuhi badan, dandanan sangat memilukan, dan tali bak kalung di leher, terikat pada kuda di depan mata. Diseret sepanjang halaman istana sambil dihiasi tawa para penikmatnya.


Itulah lukisan mengerikan yang menimpa Hydrea sang bunga terindah di tanah hydra.


Putra dan keponakannya pun tak bisa berkata-kata menyaksikan keadaannya. Napas memburu spontan menghantam Kers untuk meruntuhkan kesabarannya.


“Ibu!”

__ADS_1


Teriakan kerasnya langsung mengalihkan perhatian semuanya. Dari balik pagar bunga di taman, ia berlari seolah seperti anak yang kesetanan.


“Kers!” kaget Revtel karenanya.


“Dia!” geram sang Permaisuri yang menyadari siapa yang datang. “Itu dia! Tangkap anak pengkhianat itu! Cepat!”


Perintah yang dikumandangkan wanita berkedudukan tinggi itu pun sontak saja membuat para ksatria menghadang mereka.


Mengingat sosoknya merupakan adik kandung Ratu yang sudah menjadi dalang dari kehancuran keluarga Revtel sebenarnya.


“Ibu!” ronta Kers akibat dihajar orang-orang yang lebih tua darinya.


Bahkan ronta Revtel tak ada artinya. Sihir esnya seolah sirna di hadapkan pada sosok-sosok berpengalaman di depan mata. Walau teriakannya jelas memohon pengampunan, tapi sang ayah seperti tutup telinga.


Sampai akhirnya Kers yang tersungkur dan terinjak kepalanya mendapati rupa ibunya yang mengarah kepadanya.


“Maafkan Ibu, Kers.”


Wanita itu pun menutup mata dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Akhirnya, sensasi dingin menyentak hati putra wanita yang telah meregang nyawa. Kegelapan langsung menguar di dirinya. Melewati para tersangka pengeroyokan dan langsung membunuh mereka.


Semua berteriak ketakutan melihat kobaran seperti asap hitam. Dan Kers pun memandang tajam ke arah ibunya.  


Sontak saja para Ksatria lain berlarian ke arahnya. Melancarkan serangan tanpa peduli jika anak kecillah yang dilawan mereka.


Tetapi semua langsung sirna. Sebab kegelapan juga muncul di tanah mereka. Raja yang menyadari keanehan di pijakannya pun menepis kasar kemampuan mengerikan itu.


Sayangnya, serangan tersebut tidak berhasil menyentuh Kers. Sampai akhirnya mereka mendapati kengerian yang sesungguhnya.


Para penonton yang tadi sudah mentertawakan ibunya, sekarang telah tewas dalam keadaan diam membeku.


Semuanya mati kecuali keluarga Raja. Dan hempasan kasar dari kapak pimpinan tertinggi bangsa hydra langsung hancur wujudnya saat mengenai leher Kers. Menimbulkan panik bagi Permaisuri juga anak-anaknya.


“Kau—”


Terdiam. Para penonton yang tersisa terbungkam. Saat putra Hydrea menyentuh perut Raja hydra sekejap mata. Dan ledakan besar pun terjadi di sana.


Membunuh seluruh penghuni istana kecuali Revtel dan hewan-hewan kecil yang berterbangan di langit mereka.


Komandan Ksatria Kerajaan yang baru datang pun membisu menyaksikan semuanya. Di mana mayat-mayat tergeletak berserakan.

__ADS_1


Abu-abu kulit mereka, membatu struktur tubuhnya. Mata terbelalak diiringi mulut yang terbuka lebar. Begitulah penampakan di penglihatan, dan itu termasuk sang Raja dan juga istrinya.


Kers yang telah membantai mereka, sekarang diselimuti energi hitam luar biasa. Di mana wajahnya dihiasi air mata darah dan juga tato mengerikan di sekujur tubuhnya.


Kengerian itu pun disaksikan Revtel tanpa bisa berkedip. Nyatanya, sekarang ia benar-benar takut melihat wujud adiknya yang berjalan ke arah mayat Hydrea.


Seperti Dewa Kematian, namun bersembunyi dalam anak kecil di depan matanya.


Dan Kers yang memalingkan wajah setelah memeluk ibunya pun mendadak bersuara.


“Revtel.”


Putra haram Raja tersentak kesadarannya. Bersamaan dengan memudarnya energi aneh yang menyelimuti diri adik sepupunya.


Mungkin sudah terlambat bagi keduanya. Mengingat para Tetua serta bangsawan dari luar istana berdatangan ke sana. Diselimuti syok saat menyaksikan mayat keluarga Raja.


“A-apa yang terjadi?!” pekik salah satu Tetua dengan napas terengah-engah.


Tapi, Komandan Ksatria Kerajaan, tiba-tiba menarik pedang dari mulutnya. Menimbulkan kegemparan bagi setiap pasang mata yang menontonnya.


“Komandan, apa yang—”


Salah satu bangsawan terkesiap begitu senjata itu diangkat ke arahnya. “Mereka pantas mati, karena itu takkan menyesali semuanya.”


Dan kalimatnya pun berhasil membuat sosok Komandan Ksatria Kerajaan tertuduh sebagai tersangka.


Tangisan akhirnya memenuhi daratan hydra. Pemakaman semuanya dihiasi suasana hujan. Bersamaan dengan eksekusi mati sang pelaku yang kejam.


Sang Komandan, mengakui seluruh kematian mengerikan itu terjadi karena kemampuannya. Akibat kecewa pada tindakan keji Raja sebagai pemimpinnya. Entah kenapa sampai akhir ia seperti melindungi Kers dan Revtel sebagai tersangka.


Senyum pun dikibarkan sosoknya sebelum pedang algojo menyentuh lehernya. Dan hal itu ditatap dingin Kers yang merupakan dalang sesungguhnya.


Tak ada kasihan di dirinya. Atau rasa bersalah akibat seseorang berkorban demi kehidupannya. Nyatanya, perasaannya telah mati ketika sang ibu menutup mata.


Dan Ratu yang di dera kehilangan tampaknya masih tak bisa mengampuni dua keturunan pemberontak yang tersisa.


Sehingga kedatangan Bragi Elgo pun mampu membungkam daratan bangsa ular.


Seorang Raja terhormat dari bangsa empusa, bahkan rela menundukkan kepala dan mempertaruhkan jabatannya demi kebebasan Kers serta Revtel di tanah hydra.


Keduanya pun akhirnya bisa kembali ke Hadesia, walau nyatanya kejadian buruk juga sudah menunggu mereka di tempat pelatihan yang penuh rahasia.

__ADS_1


 


__ADS_2