
“K-kau,” panik bangsawan itu melihat kemunculan mata raksasa dalam retakan di belakang Rajanya.
Kers pun mensejajarkan tubuhnya dengan sosok yang tersungkur itu. “Sejujurnya aku tidak ada dendam padamu. Hanya saja, mereka yang membangkang memang harus mati di tanganku.”
Dalam sekali sentuhan tangan, dia yang diajak bicara menegang. Seperti batu, aliran darah di wajah terlihat nyata namun gelap warnanya.
Benar-benar kemampuan misteri yang dimiliki olehnya.
Sementara Revtel, sedang memberikan komando pada para bawahannya. Menyuruh mereka membantu korban-korban yang terluka akibat serangan cerberus tadi.
Miris baginya. Terlebih mendapati pemandangan anak kecil memangisi kematian ayahnya. Raungan memilukan itu menyusup masuk ke telinga.
Mencoba mengingatkan Wakil Raja pada masa lalunya, di mana dia dan Kers juga pernah di posisi yang sama.
Benar-benar menggerogoti rasa keadilan dan iba anak haram Raja terdahulu itu.
Sementara Blerda, di ruang bawah tanah duduk dengan angkuhnya. Di atas kursi batu, sambil menatap hadiah yang dibawakan peliharaan para Dewa.
Megalodon.
Di tangannya, terdapat beberapa mayat Tetua dengan kondisi mengenaskan. Kedua tangannya menarik rambut sosok terhormat dari bangsa siren tanpa kasihan.
Tapi, ternyata ada satu Tetua yang masih terbuka matanya menyaksikan siapa sosok penyambut di ujung sana.
“B-Bler-da,” gumamnya terbata-bata.
Dan Megalodon pun melempar kasar tubuh dia yang masih sadar di depan majikannya.
“Agh!”
Akhirnya, sang Tetua tergeletak tepat di dekat kaki kanan wanita muda berambut pirang itu.
“K-kau, ap-a mak-sud-nya i-ini?”
Raja siren cuma memiringkan wajahnya. Dengan sorot mata penuh kesombongan, ditatap lekatnya pak tua yang terluka.
Perlahan, aliran suara seperti air tenang terlontar dari mulutnya, agar di dengarkan dia yang sudah dikhianatinya.
“Di mana makam para Vortha?”
Tersentak.
Pak tua itu menegang, mata terbelalak dan mulut enggan bergerak. Saat nama keluarga itu dilayangkan kepadanya.
“Di mana makam para Vortha?” Blerda kembali mengulangi perkataannya.
“K-ke-napa k-kau—” suaranya benar-benar bergetar.
__ADS_1
“Di mana makam para Vortha?”
Tiba-tiba, Tetua itu mencengkeram kaki Rajanya. “M-mau ap-a kau?”
“Di mana makam para Vortha?”
Aneh, karena gadis itu terus-terusan mengulangi pertanyaan yang sama. Raut wajahnya tak berubah ataupun irama miliknya. Akan tetapi, perlahan digerakkan kakinya, agar tubuh mendekati sosok yang tak berdaya di depan mata.
“Di mana makam para Vortha?” sekarang Ratu Blerda pun menjambak Tetua itu.
“Aku tak tahu di mana makam keturunan elf itu!”
Dan langit pun bergemuruh di atas sana. Rintik hujannya, tampak indah untuk kawasan tenang di belakang perbukitan. Akan tetapi penghuninya, dominan para binatang buas.
Walau ada beberapa orang yang membangun rumah di sana, tapi itu tidak menolak kenyataan jika bahaya bisa terus berdatangan dari hewan-hewan lapar sekelilingnya.
Rumah kayu. Berbentuk istana, dengan pohon beringin sebagai pondasi kokohnya. Teriakan monyet serta lolongan serigala begitu bergema. Tapi tak mengusik keberanian para penghuninya.
“Jadi, Dantalion dan bawahannya gagal ya?”
“Itu semua karena pengkhianatan tiga bajingan itu,” kesal seorang wanita berpotongan rambut pixie cut.
Dan sosok yang tadi bertanya, hanya menghela napas namun memasang raut menyindir di wajahnya.
“Tapi, tak kusangka kalau kita termakan jebakan Blerda Sirena. Sekarang, kita harus bagaimana?” seorang nenek tua menyela pembicaraan mereka.
Seketika wanita muda mukanya langsung berubah masam. “Tapi di mana kita bisa menemukan makam elf sialan itu?”
Sosok yang masih saja memperlihatkan ekspresi menyindir tadi, memilih berjalan menghampiri jendela. “Tiga belas orang itu, memang tidak mudah mencarinya. Terlebih lagi tak ada satu pun yang tahu siapa saja mereka.”
Nenek tua yang akhirnya duduk di kursi tersedia pun menatap bola kristal di atas meja. “Bukankah Aza Ergo tahu siapa mereka?” Orang-orang di sana pun terkesiap lalu menoleh ke arahnya.
“Aza Ergo?” sosok berambut pixie cut tampak bingung menanggapinya. “Siapa dia?”
“Buangan empusa yang dipungut oleh gyges.”
“Dia seorang petinggi muda.”
“Benarkah?!” wanita itu tampak tak percaya mendengar lirihan rekannya yang duduk di bibir jendela. “Dia tahu tiga belas orang yang berkaitan dengan guru?!” tanyanya dengan nada semringah.
Nenek tua yang memegang bola kristal pun melepaskan sentuhannya. “Jika informasiku benar, kemungkinan dia pasti tahu siapa mereka. Karena Aza Ergo, merupakan murid dari salah satu enam hantu yang memegang kunci Reygan Cottia.”
Dan orang-orang di sana pun menegaskan rahangnya saat mendengar itu semua.
“Sepertinya, kita memang harus menangkapnya,” sosok yang duduk di bibir jendela pun bangkit dari posisinya.
“Aku setuju, jadi seperti apa orangnya?”
__ADS_1
Nenek tua itu pun melirik wanita yang ikut duduk di depannya. “Aku tak yakin seperti apa rupanya. Hanya saja, informasi menyebutkan kalau dia seorang pengendali magma dan juga pengembara. Dia juga murid dari Hadesia.”
“Cih! Anak-anak pelatihan iblis ya? Sepertinya ini tidak akan mudah,” lirih wanita itu sambil menggigit ujung kukunya.
Sementara sosok yang dibicarakan, menatap tenang ke arah mayat Huldra. Walau para petinggi berkabung menyaksikan nasibnya, itu tidak menolak kenyataan kalau sang pengendali magma tidak merasakan apa-apa.
Dia tak bersedih atas kematian yang menimpa rekannya.
Tiba-tiba Beltelgeuse Orion menghampiri dirinya. “Energi dan kondisimu tidak stabil,” bisiknya.
Aza pun melirik sekilas kakak seperguruannya. “Lalu?”
“Kembalilah bersamaku.”
“Baiklah. Ayo bertemu di bibir tebing nanti,” setujunya.
Dan perbincangan singkat mereka, ditatap Logan Centrio dari kejauhan.
“Ayo antarkan Huldra. Bagaimanapun juga, akan lebih baik jika dia dimakamkan di tanah kelahirannya,” Hanzo bersuara.
Orang-orang pun setuju dengan pendapatnya.
Tapi, Libra Septor masih bungkam dalam kesedihan yang mendera. Akibat pengkhianatan dan kematian sang ayah. Bagaimanapun juga, ia masih belum tahu apa alasan Zeril mengkhianati dirinya.
Bahunya pun disentuh Reoa tiba-tiba. Sebagai bentuk simpati untuk rekan sesama petinggi sekaligus menyemangati.
Tak peduli berasal dari ras mana, mereka adalah utusan bangsa-bangsa yang saling menghormati dan juga menghargai.
Tapi, tiba-tiba Aza Ergo muntah darah sehingga mengalihkan atensi mereka.
“Aza!” kaget Orion menyentuh bahunya. “Apa yang terjadi?! Kau baik-baik saja?!” paniknya melihat kondisi adik seperguruannya.
“Aku akan menyembuhkanmu,” lirih Horusca menyiapkan mantranya.
Akan tetapi, tiba-tiba sang petinggi muda mencengkeram bahu elftraz (penyembuh) di depannya.
“Aku baik-baik saja,” lirihnya dengan sorot mata sayu namun menekan.
“Apa maksudmu baik-baik saja?! Kau muntah darah, Aza! Apa mungkin ini karena jurus magmamu yang ada pada kami?!” Toyotomi menyela tiba-tiba.
Tapi, tak satu pun balasan terlontar dari mulut petinggi muda. Karena sesak di dada menyiksanya untuk menyemburkan darah di hadapan mereka.
Pemuda itu tampak kesakitan sambil menutup wajah bawahnya.
“Aza! Cepat sembuhkan dia!” suruhnya Orion pada Horusca.
Begitu mantra bola hijau diucapkan, pemuda itu diselimuti jurus penyembuh rekan seperjalanan. Akan tetapi, tak terlihat tanda-tanda kebaikan. Selain darah terus mengalir dari mulut petinggi empusa.
__ADS_1