Death Game

Death Game
Dua hydra yang saling berlawanan


__ADS_3

Tak peduli apa pun yang terjadi, setiap yang bernyawa pasti akan mati.


 


Tersentak.


Riz Alea. Sang guider tankzeas (pelindung) tiba-tiba terjaga dari tidurnya. Peluh membasahi raga akibat mimpi yang takkan pernah terkira. Di mana sebuah penggalan kata-kata dari masa lalu menderanya tanpa aba-aba.


Kenangan antara dirinya dan sang sahabat Ellio yang sudah pergi meninggalkannya.


“Riz?” sapa Toz. Anak manusia itu pun menoleh pada sosok di seberang kursi yang ditidurinya. Tampak menatap lekat ke arahnya. “Kamu baik-baik saja? Apa kamu mimpi buruk?”   


“Ah ya. Sepertinya begitu,” lirih pelannya sambil mengusap kepala. “Mm? Mana yang lain?”


“Mereka di lantai atas.”


Selesai mendengar itu Riz pun menoleh ke sekelilingnya. “Rumah ini begitu besar.”


“Begitulah. Sepertinya Tuan Aza sangat kaya raya. Tapi kenapa hanya ada seorang pelayan di sini?” gumam Toz dengan tampang kebingungan.


Sampai akhirnya sosok pemilik rumah yang dibicarakan muncul di sana bersama dengan pemuda bermata biru layaknya samudera terdalam itu.


“Ah, halo Tua Aza,” sapa Toz Nidiel kepadanya.


Tentu saja, sang pengendali magma meresponsnya sambil menyunggingkan senyuman hangat di bibirnya. Langkahnya pun mendekat ke arah mereka.


“Bagaimana? Apa kalian nyaman di sini?”


“Tentu saja. Tempat ini sangat menyenangkan terlebih lagi juga besar dan luas. Aku jadi berharap bisa di tinggal di sini lama-lama,” balas Toz dengan semringahnya.


“Kalau begitu kamu bisa tinggal di sini selamanya.”


“Ah,” entah kenapa raut wajah pemuda itu berubah tiba-tiba. Membuat Riz jadi bingung melihat ekspresi temannya. “Kupikir itu tidak mungkin. Bagaimanapun juga aku harus kembali ke dunia manusia.”


“Begitu ya. Sayang sekali,” Aza pun mendudukkan tubuhnya di sofa.


Perlahan, lirikan matanya beralih pada Riz Alea yang tampak berpikir keras di penglihatannya.


Sementara di kawasan bangsa hydra, raut wajah Revtel tampak begitu memendam amarah. Terlebih lagi sang Raja hanya sibuk rebahan sambil memakan anggurnya.

__ADS_1


Setelah apa apa yang terjadi, dia membiarkan Wakilnya itu turun tangan menangani semuanya.


“Apa ini yang kamu inginkan?” Kers pun meliriknya. “Apa ini yang kamu harapkan?”


“Kamu kenapa Revtel?”


Seketika tangan pengendali es itu terkepal erat. “Kenapa? Aku kenapa? Seharusnya aku yang tanya, Kers! Kamu kenapa! Kenapa kamu membunuh mereka?! Tak peduli apa pun yang sudah dilakukan para Dewan kepadamu! Mereka tetaplah orang-orang kita! Mereka tetaplah rakyat yang berharga di hydra!”  


Suasana pun tampak menegang di antara keduanya. Perlahan, Raja muda itu menaruh anggurnya di atas keranjang perak di depan mata. Ia duduk bersila, dengan kepala miring yang menampilkan raut santai di wajahnya.


“Bukankah kita sudah sepakat? Lagi pula, tidak semua Tetua dan bangsawan yang mati kan? Aku masih meninggalkan Pak Tua kita dan juga bangsawan Septor. Ah, benar juga. Masih ada beberapa orang yang tersisa,” Kers pun mengangguk-anggukkan kepala.


“Kau pikir, apa artinya menjadi seorang Raja?” Laki-laki pemakan anggur itu pun terdiam. “Dia adalah panutan sekaligus pelindung bagi rakyatnya. Dia adalah orang tua bagi bangsanya. Dia adalah pijakan untuk kemakmuran kehidupan yang dinaunginya. Dia bukan sekadar sosok agung di singgasana, tapi dia adalah tempat semuanya bergantung kepadanya. Orang terpilih yang bisa memegang semua itu adalah kamu, Kers. Kamu! Dan sekarang kamu malah—”


Revtel pun tidak lagi melanjutkan ucapannya. Dia tampak begitu kecewa pada kekejaman adik seperguruannya.


Dadanya kian sesak saat membayangkan wajah-wajah para Tetua serta bangsawan yang ditemuinya.


Menegang dan mati.


Bahkan dibiarkan tergeletak begitu saja tanpa diurusi. Energi kehidupan mereka dikuras saat insiden penyerangan itu terjadi.


Memang sangat disayangkan, karena Hydragel Kers tampak merasa tidak bersalah.


Dia hanya memilih mengedarkan pandangan tanpa tentu arah. Sampai akhirnya, lirihan tak terduga pun terlontar dari mulutnya.


“Lalu kenapa? Jika seperti itu arti Raja yang sesungguhnya, maka sekarang itu hanya tinggal mimpi. Lagi pula yang bernyawa pasti akan mati. Dan aku hanya mempercepat kematian mereka dengan baik hati. Mau dicari ke mana lagi Raja sepertiku? Kalian sendiri yang memilihku untuk duduk di singgasana itu kan?”


“Kers,” Revtel pun dibuat tak percaya akan lirihannya.


“Jangan lunak, Revtel. Kebaikan yang berlebihan hanya akan menyiksa diri. Belajarlah dari masa lalu kita. Di mana kau dan aku sudah tersiksa akibat kekejaman mereka. Ibumu, Ibuku, dan juga Paman. Tak ada yang bisa dipercaya bahkan jika itu ayahmu sendiri. Kau tidak lupa dengannya kan?”


Sang pengendali es pun terkesiap mendengarnya. Dadanya bergetar hebat saat mengingat sosok Raja di masa lalunya. Ayah kandungnya sendiri yang tega membiarkan ibunya hancur tanpa bisa diampuni.


Dan itu jelas takkan pernah bisa dilupakan olehnya.


Tanpa terasa wajahnya pun tertunduk. Seolah tenggelam pada masa lalu yang mengikat kakinya.


“Dan jangan lupa kalau Ibuku harus mati demi menyelamatku juga anak haram sepertimu. Ibuku, dan juga Ibumu.”

__ADS_1


Bagai disayat dengan kejam. Setelah sekian lama, akhirnya ada lagi yang berani mengungkitnya.


Istilah anak haram yang sangat menyesakkan hati dan pikirannya. Mata Revtel pun perlahan memerah. Tak menyangka kalau Kers akan mengatakan itu kepadanya.


Tapi bukannya merasa bersalah, Sang Raja malah tertawa pelan. Mendekatinya sambil menyentuh wajahnya.


“Ada apa Revtel? Kenapa kamu diam saja? Aku benarkan?”


Dengan mengetatkan rahangnya, Revtel pun menyuarakan beban yang sangat melukai perasaan.


“Kamu, apa kamu membenciku?”


Sontak saja sentuhan Kers terlepas darinya. Wajah santai sang Raja berubah menatapnya. Datar namun juga menekan di saat bersamaan.


“Mana mungkin aku membencimu? Kamu sudah seperti kakakku.”


Hanya saja, ocehan laki-laki di depannya sudah terlanjur menusuk kesadaran. Revtel tidaklah bodoh. Perkataan Kers jelas-jelas menyalahkannya. Di mana sang pengasuh yang merupakan Bibinya harus mati dengan tragis demi mereka.


“Begitu?” lirihnya.


Dan Raja hydra pun menyunggingkan senyum tipis di bibirnya.


“Aku tahu apa yang ada di pikiranmu. Ibuku memang mati, tapi aku tidak pernah menyalahkanmu. Aku hanya benci dengan para bajingan itu. Karena mereka kita harus hidup seperti ini. Karena mereka kita harus kehilangan sosok yang dicintai. Bukankah saling berbagi penderitaan adalah cara yang terbaik? Kamu juga setuju kan? Revtel.”


Tiba-tiba Kers pun memeluknya. Meremangkan bulu kuduk saat merasakan sensasinya. Jujur saja, bahkan jika kemampuan Revtel lebih diakui, tapi sosok itu takkan pernah lupa. Kalau adik sepupunya memiliki misteri yang membuatnya tidak bisa mati.


“Jujur saja, pelukan ini membuatku teringat dengan kejadian di Hadesia. Kamu tidak lupa kan? Pelukanku sebelumnya. Di mana kamu ketakutan karena sudah membunuh kakakmu sendiri. Putra kandung ayahmu dengan sang Ratu dan juga permaisuri.”


Selesai mendengar itu, Revtel pun jatuh tiba-tiba. Akibat kaki yang kehilangan tenaga disebabkan oleh ingatan di masa lalunya.


Kejadian mengerikan yang membuat sosoknya mulai dijuluki sebagai pemakan kematian dari bangsa hydra.


Halo :) Next part akan menceritakan tentang Hadesia. Harap dimaklumi apa pun yang tersaji ya, dan semoga kalian terhibur. Jaga kesehatan kalian & terima kasih banyak sudah mendukung serta support karya otor sampe ke titik ini.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2