Death Game

Death Game
Keindahan Raja Gyges


__ADS_3

Sayap naga.


Terkepak dengan gagahnya, dan memamerkan cakar tajam di pinggiran. Tanduk yang menjadi ciri khas bangsa itu, menyeruak di kepala Aza, juga wajahnya hampir dipenuhi sisik sekeras baja.


Mata mirip reptil yang berwarna merah keemasan menghiasi penglihatan, dan magma sebagai ciri khas kemampuan tertinggal di setiap pijakan. Langkahnya masih normal, hanya saja aura darinya lah yang mengerikan.


Sang eksekutor berdarah empusa, nyatanya telah berubah menjadi siluman naga.


Dan setiap mata para hadirin di sana, memandang ke arahnya.


“Aza?” Kers menatap tak percaya kepadanya.


Tapi sekejap mata, orang-orang itu dihadiahi kejutan tak terduga. Hujan magma, muncul tiba-tiba di langit sana.


“T-tunggu, dasar gila!” pekik Xavier melihat atasnya.


“Sial!” Laraquel ikut tersentak.


Tanpa aba-aba, tanah gyges pun dihujani oleh magma. Tak pandang bulu dan siapa saja menjadi korbannya.


Berasap, begitu memenuhi lokasi pertempuran.


Beberapa detik setelah kejadian menakutkan itu, suara deru napas seseorang begitu terdengar. Dirinya jatuh terduduk sambil memegang dadanya, siapa lagi kalau bukan Beltelgeuse Orion sang ksatria bintang milik bangsa gyges.


“Ini, Orion!” kaget Xavier melihat genangan air begitu menghiasi pijakannya.


“Wah ... wah ... baik hati sekali bocah itu ikut melindungi kita,” seringai Leduo Perseus melihatnya.


Sementara di dalam perisai emas milik Riz Alea, tanaman es yang merambat begitu memenuhi permukaan dalamnya. Lambat laun menguap atas izin Horusca, karena dialah penggunanya.


“Kupikir kita akan mati,” syok Doxia yang juga ikut berlindung di dalam sana.


“Apa-apaan kemampuannya itu?” Laraquel menatap tak percaya, terlebih pada kemampuan perlindungan Beltelgeuse yang berhasil menghentikan jurus Aza. Dia benar-benar menciptakan perisai air raksasa di tanah bangsanya.


Akan tetapi, hal itu jelas-jelas menguras banyak tenaga. “Hei, bunyi napasmu keras sekali. Kau baik-baik saja?” Laraquel mendekatinya.


Perlahan sang ksatria bintang meliriknya. “Aza.”


Pemegang kunci itu terkesiap dan menoleh pada siluman naga. Dirinya bergidik ngeri saat melihat genangan magma di kaki petinggi empusa.


“Ini buruk,” ucap Sif Valhalla tiba-tiba. “Reygan Cottia, Kuyang, juga Leduo Perseus bersama antek-anteknya, jika dibiarkan gyges hanya akan tinggal nama.”


Laraquel dan Beltelgeuse pun tersentak dibuatnya.


Pandangan dua ahli kunci itu pun bertabrakan dengan Aegayon yang juga menatap ke arah mereka.


“Aegayon,” gumam Laraquel.


Sang Raja gyges pun mulai membalik tubuhnya ke arah Aza Ergo. Ditatap lekatnya, sang petinggi muda yang mulai berjalan pelan menuju Orion.

__ADS_1


“Kalian berdua, apa rencana selanjutnya?”


Xavier dan Kers pun sama-sama memandang ke arahnya.


“Aku akan bicara dengan keparat itu. Memangnya ada apa?” tanya Raja hydra penasaran.


“Karena aku, akan menghadapi bocah magma.”


“Anda yakin? Bahkan di antara semua lawan kita, sepertinya Aza jauh lebih berbahaya,” Xavier seolah meragukan ucapannya.


Tapi bukannya menjawab, Aegayon justru melangkah meninggalkan mereka. “Anak itu akan sangat berguna, kalau kutukan ayahku dipatahkan darinya. Aku percayakan penyimpang itu pada kalian.”


Selesai mengatakan itu, sang Raja gyges benar-benar pergi meninggalkan mereka.


Tekanan di udara mulai berubah. Walau hujan magma sempat mengganggu, tapi tidak mengganggu fokus Reve. Bahkan jika kakinya terluka, tetap saja sosoknya bertarung melawan Reygan Cottia.


Pertarungan antar pedang mereka begitu sengit sampai-sampai luka-luka tak berarti apa-apa. Hasrat membunuh sang pemuda begitu berkobar untuk membasminya.


Lain halnya Kuyang. Raguel Exon Vortha yang begitu ingin membantainya malah terkapar di perisai pengobatan. Kondisi Blerda yang juga tidak baik-baik saja, memaksanya menarik kembali Capricorn dan Megalodon ke kayangan sana.


Sekarang, cuma wanita bewujud kepala mengambang itu yang bebas dari pertarungan.


“Reygan,” gumamnya.


Lengan Reve pun tersayat pedang. Cukup dalam namun tak meruntuhkan hasratnya. Gaya bertarung berubah, di mana sosoknya lebih sering memainkan kakinya.


“Apa kau ingin menendangku?” seringai sang penyimpang.


Sekarang, Aegayon sudah berdiri sejarak dua meter dari Aza. Pedangnya tertancap tepat di hadapan petinggi empusa. Tujuannya hanya satu, untuk menghentikan langkah pengendali magma yang menuju Beltelgeuse Orion.


“Aku tahu dirimu, kau putra Maxim,” ucapnya.


“Maxim? Pangeran perang empusa?” kaget Laraquel mendengarnya.


“Tak kusangka, kendi itu akan hancur. Mungkin kau tidak ingat, tapi aku juga terlibat dalam penanaman itu,” lirih Aegayon. Tak peduli jika Aza mendengarkan atau tidak, sosoknya terus bersuara. “Kutukan ibumu begitu memenuhi dirimu. Jika segelnya hancur, aku tak bisa membayangkan seberapa parah penyebaran penyakitmu itu.”


Sif, Laraquel dan juga Beltelgeuse, terdiam mendengar ocehan kenalannya.


“Kekuatanmu begitu besar, Bocah Naga. Dan itu juga sebanding dengan penyakitmu. Kendalamu hanya satu, fisikmu terlalu lemah untuk menahan itu. Dan aku yakin, bahkan jauh di lubuk hatimu, kesadaranmu pasti bisa mendengar ucapanku,” perlahan tangannya pun terangkat ke arah Aza Ergo. “Kutukan Helga tak bisa dipatahkan selain membunuhmu. Jadi aku akan mengguncang itu. Aku bertaruh padamu, karena bagaimanapun juga, kau anak temanku. Sadarlah, karena kami membutuhkan dirimu.” Dirinya pun menoleh ke arah tiga orang di kirinya. “Bersiaplah. Dia akan mengamuk.”


“T-tunggu, Aegayon. Apa maksudmu?” tubuh Laraquel malah gemetar tiba-tiba.


“Aktifkan kemampuan kalian, aku mengandalkan kalian semua,” ucap sang Raja tanpa basa basi.


Mendengar itu, Sif pun mengangkat lengan putusnya. Hanya dalam sekali ayunan, mendadak muncul lagi begitu saja. Tentunya mengejutkan Beltelgeuse akibat sang hydra tak membutuhkan elftraz (penyembuh) untuk menanganinya.


“Sif!”


“Siapkan mantramu, Laraquel,” laki-laki itu memandang datar rekannya. “Mulai.”

__ADS_1


“T-tunggu!”


Tapi terlambat. Tangan Aegayon yang terangkat, sudah terlanjur mencengkeram udara.


Dan jauh di dalam kesadaran sang pengendali magma, dirinya yang terikat di pohon Akasia pun membuka mata. Mengejutkan Laravell Axadion Ergo yang terbelenggu benang merah di depannya.


“Aza!”


Getaran hebat pun membuat air yang dipijaki Laravell bergelombang. Seperti ombak di lautan, ikut menggetarkan lima wujud mengambang di udara.


Tapi Aza yang terjaga, malah berteriak tiba-tiba. Rantai-rantai di punggungnya juga ikut terbakar. Oleh api emas kehitaman Aegayon lah sebagai pelakunya.


“Aza! Apa yang—”


Terlambat.


Lima wujud di udara saling beradu. Walau salah satunya yaitu kendi sang pangeran perang telah memamerkan retakan besar, tapi dampak barusan malah memecahkannya.


Dan Aza Ergo di dunia nyata, semakin dihiasi cairan magma.


“Lukanya menyatu!” pekik Laraquel menyaksikan. Memang seperti ucapannya, lubang besar ditubuh Aza akibat hujaman batu tak lagi bersisa.


Kecuali sekarang ekor-ekor magma semakin bermunculan di tanah gyges.


“Ini! Apa kita akan baik-baik saja?!” Toz menatap tak percaya pada ekor magma yang baru saja muncul di dalam perisai.


“Tuan Aza,” lirih Riz Alea. Jujur saja, skillnya sebagai tankzeas masihlah amatir di sana. Apalagi, ia dipaksa untuk mengerahkan kemampuannya begitu saja. Dan sekarang akibat kemunculan jurus sang pengendali magma, perisai emasnya mengalami retakan tiba-tiba.


“Pertahankan perisainya! Aku akan tangani magma yang muncul!” ucap Arigan Arentio padanya. Riz pun mengangguk sebagai balasan.


“Sialan! Kers! Kenapa kau hanya makan saja?! Kupikir kau akan bertarung brengsek!” pekik Xavier tak terima.


“Magmanya bermunculan,” ucapnya mengabaikan.


“Persetan dengan itu sialan! Bantu aku melawannya!” tentunya Xavier jadi kesal dibuatnya. Terlebih lagi ia sudah babak belur melawan Perseus. Putra Zeus itu memang bukan tandingannya, karena dari tadi dia hanya main-main saja.


“Apa kita akan baik-baik saja?” panik Jion.


Akan tetapi, Ellio hanya diam saja. Dirinya seolah tak peduli pada kejadian di sekitar. Selain matanya fokus ke arah Riz Alea.


“Tankzeas (pelindung)” gumamnya.


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2