Death Game

Death Game
Hukuman sang pemilik nurani dingin


__ADS_3

“Yang Mulia,” Serpens bersuara di dalam kamar Raja bangsa gyges. Padahal istana yang ditempati sangat cerah dan asri, namun kondisinya berbanding terbalik dengan ruangan sang pemilik tahta.


Dan sosok sebenarnya tak terlihat kecuali sebuah siluet di balik gorden coklat mewah itu.


“Begitu ya,” hanya dua kata yang dilontarkan. Suaranya begitu menawan dan mengundang kekaguman. Membuat siapa pun ingin mendengarnya terus-terusan.


Seperti itulah pesona seorang Aegayon Cottia. Anak dari Reygan Cottia yang merupakan salah satu penjahat terburuk di dalam sejarah dunia Guide.


Tak seorang pun tahu seperti apa wajahnya. Kecuali para pemimpin dahulu kala, dan hanya beberapa di antara mereka. Tapi, cerita yang menyebutkan kalau Aegayon Cottia memiliki rambut emas terindah sudah memenuhi semenanjung raya.


Dan tentunya para bawahan berharap untuk bisa melihatnya, namun tak pernah kesampaian juga.


“Mungkin, makhluk itu akan menggila.”


“Apa anda akan turun tangan, Yang Mulia?”


“Tidak.” Hening pun berkumandang sejenak. “Makhluk itu akan mati sebelum sampai ke tanah ini.”


Seketika wajah berkerut terpampang nyata dari Serpens sang Wakil Raja. “Benarkah? Kenapa anda bisa seyakin itu?”


“Karena hewan itu hanya akan menyerang enam bangsa dan salah satunya bukan kita.”


Terkesiap. Sosok yang mendengar pernyataan itu dibuat terbungkam. Merasa tak percaya dengan lirihan kata atasannya. Dan tanpa sadar ia mengepalkan tangan karena tidak paham akan makna sesungguhnya.


“Apa maksud anda sebenarnya, Tuan?”


Tapi, malah tawa pelan yang berkumandang di bibir Sang Raja. Kian membuat Wakilnya tak habis pikir dengan ketenangannya.


“Tutup mata dan telinga, berpura-puralah tidak tahu dengan ini semua. Karena kita, tidak berada dalam lingkaran pertempurannya. Kamu bisa melakukannya bukan? Serpens.”


Lalu, seekor gagak pun memekik di kamar itu. Kulit dan bulunya berwarna merah darah disertai mata yang seperti langit malam.

__ADS_1


Serpens pun terkejut dibuatnya, terlebih lagi sang hewan berada tepat di atasnya sambil bergantung pada chandelier di langit-langit kamar.


Dan penampakan hewan itu, rupa-rupanya tak hanya ada di istana bangsa gyges.


Heksar tertawa di dalam ruangannya, sambil tangannya mengelus lembut kepala gagak yang serupa. Entah apa yang lucu di matanya, namun dia tak bisa menghentikan itu semua. Sang pembawa pesan pun langsung terbang menuju jendela saat pintu kamar mulai terbuka.


Dan Barca Asera menjadi bingung dengan sambutan ekspresi di depan matanya. “Yang Mulia?”  


“Kupikir, aku harus istirahat sejenak terlebih dahulu,” lirih Raja chimera sambil mengibarkan senyum lebar ke arah petingginya.


Di satu sisi di istana bangsa dracula, sosok Lucian Brastok sedang duduk di singgasananya. Hanya sendirian di sana, di ruangan gelap tanpa pencahayaan sedikit pun untuk meneranginya.


Tapi, dengan posisi tangan kanan yang agak terangkat sedada, penampakan seekor gagak sedang bertengger indah di lengannya. Seolah menjadi peliharaan patuh dari Sang Raja.


“Luar biasa, jadi begitu ya rupanya,” gumamnya dengan senyum tipis yang tersungging di bibirnya. Dan beberapa detik kemudian, hewan itu pun mengepakkan sayap untuk hinggap di punggung kursi Raja. Membuat Lucian Brastok meliriknya lewat sudut matanya. “Kunantikan permainanmu, Yang Mulia.”


“Kau gila?!” pekik Revtel tiba-tiba di tempat yang menjadi peristirahatan atasannya.


Perlahan sosok yang diajak bicara itu berbalik sambil bersandar ke bibir jendela. Di bahu kanannya, seekor gagak merah berdiri dengan gagahnya. Dan Raja hydra pun terkekeh pelan pada Wakilnya.


Tak bisa dipercaya, apa yang baru saja dikatakan laki-laki ini? Revtel geleng-geleng kepala dengan rencana gila pimpinannya.


“Akan banyak yang mati kalau itu sampai terjadi, Kers! Kamu pikir, ini perkara mudah?! Nyawa mereka bukan sekadar permainan! Mereka orang-orang dari bangsa kita!”


“Kalau begitu bunuh aku dan jadilah Raja. Setelah itu, kamu bisa menggagalkan semuanya.”


Spontan Revtel pun terdiam. Bahkan jika Hydragel Kers masih bersikap santai dan mengumbar kehangatan, nyatanya kalimatnya cukup menusuk keadaan. Sehingga Wakilnya hanya bisa mengepalkan tangan akan tekanan di perasaan.


“Kalau begitu, apa artinya lima kelompok itu? Arjuna bahkan harus mati tanpa tahu semua kenyataannya. Bukankah dia tidak salah apa-apa? Tidak, bukan hanya dia. Tapi para petinggi itu, bukankah mereka tidak salah apa-apa? Bukankah muridku juga tidak ada hubungannya dengan ini semua?”


Pernyataan Revtel dengan nada kecewa itu, cukup menyayat hati jika di dengarkan. Tapi, Hydragel Kers yang masih belum beranjak dari posisinya hanya memiringkan kepalanya. Mengangkat tangan kanan lalu menatap telapaknya. Entah apa yang ia perhatikan namun temannya jelas menunggu balasan.

__ADS_1


“Lima kelompok adalah bentuk kerja sama.” Revtel pun mengangkat kepalanya, sedangkan Kers mencengkeram tangan terangkatnya. “Para pengkhianat yang berambisi, dan kita hanya meminjam rencananya untuk membereskan masalah yang ada. Memang tidak berperasaan, tapi pengorbanan adalah hal wajar untuk sebuah kedamaian.”


“Bahkan jika bayarannya para petinggi kita, kau masih mengatakan itu hal yang wajar?!” marah Wakilnya mendengarnya. 


“Ya. Maka dari itulah Aza dan Aszeria dikirim ke sana. Karena jika menginginkan perubahan, kejadian besar memang sangat diperlukan. Bukankah begitulah cara kita menanganinya? Para murid Hadesia.”


Dan Revtel pun langsung pergi dari sana. Tidak tahan lagi berhadapan dengan Raja yang dilayaninya.


Mereka memang gila, para murid Hadesia ataupun orang-orang yang menginginkan perubahan tak satu pun normal sebenarnya.


Jadi tak bisa disalahkan jika Tetua empusa melabeli mereka sebagai anak-anak pembawa bencana dan berencana menggulingkannya.


Karena nyatanya Blerda Sirena, sudah melepaskan panahnya terlebih dahulu untuk menghancurkan kursi para bangsawan serta tetua yang tebal muka, sambil dilindungi sisik dari baja.


Berharap mereka tidak ikut campur lagi dalam pemerintahan para Raja. Cukup Bragi Elgo saja yang berbesar hati turun dari tahta, akibat keserakahan bawahan rakusnya karena gila harta.


Cukup ibunya saja yang menderita, sampai akhirnya harus meregang nyawa dan digantikan Ibu dari Bleria Sirena sebagai istri Raja siren.


Cukup orang tua Thertera saja yang tersiksa, akibat terbatasnya air suci karena dimonopoli Tetua bernurani mati.


Cukup keluarga Arigan saja yang bertaruh nyawa, dan tidak dihargai bangsanya lalu lenyap tinggal nama di pemakaman mereka.


Dan cukup Trempusa serta adiknya saja yang beruraian air mata, sering dihina dan dirundung kekerasan karena bukan bagian keluarga Raja, ataupun sosok bangsawan terhormat sehingga dipandang sebelah mata oleh semuanya.


Tentunya, sudah cukup Aza Ergo saja yang dibuang oleh bangsanya, dirahasiakan siapa keluarganya, dan harus membunuh hatinya karena kehilangan separuh hidupnya.


Sudah cukup mereka semua yang meneteskan air mata. Akibat penindasan dari bangsanya, karena ulah para tetua dan bangsawan dalam meraih kekuasaan. Hidup dengan nama megah, harta melimpah, bawahan banyak, serta pemimpin boneka, sudah cukup bagi mereka semua dalam berjaya di dunia.


Saatnya hukuman mati bagi mereka, dan para Raja muda sedang menantikan panah Blerda menggapai titik darah yang diinginkannya.


Agar para makhluk dengan nurani dinginnya, bisa mengambang nyawanya dan ditonton dengan senyuman oleh sosok-sosok yang pernah ditindasnya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2