
“Tuan Aza!” pekik Rexcel melihat ketegangan yang ada. Bagaimana tidak, sang petinggi dari empusa, tiba-tiba mendaratkan pedang magma pada Toz Nidiel yang tak berdaya di atas ranjang. Masih menutup mata, dan tak tahu jika ada aura membunuh yang hendak menerkamnya.
“Tuan, apa yang mau anda lakukan?! Toz salah apa?!” pekik kaget Riz sambil mencoba melindungi temannya.
Aza Ergo menatap tajamnya. “Minggir,” tekanan suaranya membuat Riz ketakutan.
Reve dan yang lainnya sama-sama kaget, karena tak tahu kenapa sang petinggi melakukan hal di luar dugaan.
“Hentikan. Kita ini satu kelompok, Aza Ergo,” lirih Horusca akhirnya. Bahkan ia memegang bahu sang petinggi agar sosok itu menghilangkan pedang magma yang bisa menari kapan saja. “Aku akan memeriksanya,” lalu dirinya pun menghampiri Toz.
“Mau apa?! Jangan mendekat!” cegat Riz karena takut jika pemuda berambut merah juga akan melakukan hal yang sama seperti petinggi empusa.
“Aku hanya ingin memeriksanya, atau kau lebih suka petinggi ini yang turun tangan dan membantainya?”
Riz terdiam. Badannya gemetaran, dan masih melirik Aza Ergo yang tampak menakutkan olehnya. Walau petinggi muda itu hanya berdiri tegak, sorot matanya menyiratkan tekanan mengerikan bagi mereka yang menatapnya.
“Tenang saja, aku hanya memeriksanya,” Horusca kembali menenangkan Riz dan menyentuh bahunya. Sepertinya, bujukan itu berhasil dan membuat sang elftraz duduk di ranjang Toz sekarang.
Tangannya menyentuh wajah sang pemuda yang menutup mata. “Toz. Toz Nidiel, apa kau bisa mendengarku?” ucapnya menepuk pelan pipinya. Tak ada respons, Reve pun mengernyitkan dahi bingung karena Near sang ular di tangan terlihat gelisah.
“Sebenarnya ada apa? Kenapa kau ingin menyerang Toz?” tanyanya menghampiri Aza.
Akan tetapi, cuma diam yang ditampilkan sang petinggi dengan mata masih melirik tajam anak manusia yang terbaring tak berdaya.
Dan di sebuah ruangan di mana beberapa orang sedang beristirahat, terlihat sosok tak biasa melirik ke luar jendela. Entah apa yang ia lihat dan itu menimbulkan tanda tanya bagi pria berbandana yang duduk di sebelahnya.
“Iza? Ada apa? Apa ada sesuatu yang aneh?” tanya Caprio karena menyadari ekspresi temannya.
Tak ada jawaban, bahkan Redena dan pak tua berambut hitam legam juga mengenyitkan wajah bingung karenanya.
“Pedang,” ia perlahan tersenyum.
“Pedang? Pedang apa maksudmu?” Redena tak paham.
Tapi, entah kenapa bibir laki-laki yang ditanya justru mengibarkan senyum tipis. “Entahlah, apa mungkin pedang bermata dua?” ia pun berdiri dari posisinya. Membuat orang-orang yang bersama dengannya semakin penasaran dan bertanya-tanya. “Menarik,” seringainya.
Dan sekarang di dalam alam bawah sadar sang pemuda yang menggemparkan keadaan, darah indah mengalir pelan. Pedang Lagarise, menusuk perutnya dalam posisi terlentang.
Toz menangis, menanti detik-detik Dewa kematian datang menjemputnya. Akan tetapi, masih ada seberkas senyum terpancar dari bibirnya yang menatap Vanargand.
Sang serigala terluka, meraung serak seperti kehilangan keluarganya.
“Kaulah yang meminta ini anak muda.”
Anak manusia sekarat itu masih berekspresi sayu di balik rasa sakitnya. Perlahan, untaian kata di hati bertanya-tanya kenapa semua bisa jadi seperti ini. Apa yang salah? Dirinya tak tahu. Kenapa wanita ini menyuruhnya membunuh Vanargand? Sekarang batinnya bertanya-tanya.
Jika serigala itu adalah rasa sakitnya, lalu apa yang harus ia lakukan? Sedikit banyaknya pikirannya tidak percaya dengan perkataan Lagarise. Karena di mata, hewan itu adalah binatang tak perdaya dan tersiksa. Sosok Vanargand mengingatkan Toz pada kucing peliharaannya. Dia tak menyesal mengorbankan nyawa agar hewan itu tak lagi menderita.
Nuraninya bahagia bahkan jika hidupnya sebagai bayarannya.
“Dia terlalu muda,” sebuah suara pelan mengganggu pendengaran Toz yang sekarat.
Wangi, seperti bunga magnolia. Indah seperti bangsawan. Seorang pria dengan mata putih seluruhnya, rambut undercut hitam dan tato aneh di pinggiran penglihatannya. Jubah yang memakan badannya senada dengan matanya. Namun, ada garis-garis aneh melambangkan api di ujung lengannya.
“Akhirnya datang juga,” Lagarise bersuara. Sementara sosok asing itu, berjalan pelan ke arah serigala tersiksa.
“Dia adalah Vanargand. Dan Vanargand adalah dia. Sang serigala dewa, memilih seorang manusia untuk membawa jiwanya. Itulah kesepakatannya.”
__ADS_1
Lagarise hanya diam, tangannya terangkat dan memegang gagang pedang pada Toz yang napasnya mulai-mulai berjarak.
“Kenapa harus dia?” gadis itu memperlihatkan ekspresi tak suka pada bocah yang sudah ditusuknya.
“Kita tahu perjanjiannya. Karena para makhluk legenda, hanya memilih pembawa jiwa sesuai kata hatinya.”
“Vanargand terlalu mulia untuk seorang manusia.”
Laki-laki itu tersenyum dan melirik Toz yang tak lama lagi akan meregang nyawa. “Dia pantas membawanya. Karena anak itu, rela mati demi Vanargand yang telah memilihnya. Dia sudah lulus ujiannya.” Dan penglihatannya pun dialihkan pada serigala yang terluka. “Vanargand, apakah kamu senang? Apakah anak itu, sesuai dengan harapanmu?”
Sang serigala, menggerakkan telinga pelan sebagai balasan. Laki-laki itu tersenyum dan mengelus lembut kepalanya.
“Kalau begitu, kami akan memulai upacaranya,” dan ia pun langsung berdiri. Sama seperti Lagarise, dari dalam mulutnya ditarik sebuah pedang yang sama persis dengan miliknya. Memancarkan api biru untuk menyelimutinya. “Lagarise.”
“Aku mengerti.” Gadis itu pun menyatukan kedua tangan dalam menggenggam pedang yang masih tertanam di perut Toz. Menekan semakin dalam, membuat anak manusia itu mulai dipeluk kematian. Nyawanya benar-benar sudah di tiang gantungan.
“Ayo mulai,” lirih laki-laki itu dengan pedang langsung ditusukkan pada sang serigala. Mengalirkan darah pelan untuk membanjiri sekitarnya.
Sekarang mereka berdua, sama-sama memegang pedang yang dihujamkan ke tubuh Toz dan Vanargand. Sambil bibir yang merah merapalkan kata-kata tak terduga.
“Aemus obdeas riad sain (semua dimulai dari sini)”
“Nebia nad aseka sistora maharz (hidup dan mati milikku sendiri)”
“Til daa hanlaask ukntu kareem (tak ada kesalahan untuk mereka)”
“Obberaa sistora (di tanganku milikku)”
“Zesora istora kareem (cahaya milik mereka)”
“Akura hersa bleedya flowda leyros (tunduk dalam perjanjian bunga lily)”
“Nebia nad aseka sistora maharz (hidup dan mati milikku sendiri)
“Aemus obdeas riad sain (semua dimulai dari sini)”
“Bleedya riad Vanargand filius Dei nad Toz Nidiel De humani pueri (perjanjian dari Vanargand sang anak Dewa dan Toz Nidiel sang anak manusia)”
Dan tiba-tiba, selesai kata itu mereka ucapkan darah yang berserakan dari tubuh Toz serta Vanargand bergerak menyelimuti badan pemiliknya. Seperti gumpalan darah besar. Begitu pedang dari Lagarise dan laki-laki itu dicabut dari mereka, cairan merah pekat tersebut bergerak ke tengah untuk menyatu satu sama lain.
Perlahan warna darah memudar membentuk siluet manusia. Lagarise dan laki-laki itu memundurkan langkahnya, mengangkat pedang di tangan seperti hendak menahan serangan.
DEG!
“Sensasi ini!” pekik Revtel yang menyadari sesuatu tak biasa.
“Kau juga merasakannya?” Hydragel Kers tersenyum remeh pada wakilnya yang menutup buku bacaan.
“Ya, bagaimana mungkin aku tidak merasakannya? Sensasi yang jarang untuk muncul di dunia Guide,” tekannya.
Akan tetapi suasana berbeda dirasakan di penginapan yang dihuni kelompok Reve Nel Keres. Mereka tersentak, saat melihat api biru menyelimuti Toz Nidiel. Namun, hanya dua orang yang berekspresi menekan. Dialah Horusca sang elftraz dan Aza Ergo sang petinggi dari empusa.”
Mereka terlihat bersiap-siap hendak melakukan serangan.
“Apa yang mau kalian lakukan?!” Riz kaget dan langsung merentangkan tangan menghadang.
“Mundur!” Aza Ergo tiba-tiba menarik kerah baju Riz dan membuat laki-laki itu tersungkur ke belakang sang petinggi.
__ADS_1
Apa yang terjadi?” Reve juga kaget sambil memunculkan pedang di tangan karena keadaan Toz membuat ularnya panik ketakutan. Ini jelas bukan hal yang normal.
“Ada apa guru?” tanya Redena di sebuah penginapan yang jauh dari tempat Aza Ergo.
“Sensasi ini, apa mungkin?”
“Anda juga menyadarinya?” sela Izanami.
“Apa?” Caprio mengernyitkan wajah bingung.
Izanami Forseti pun menoleh ke arah temannya. “Itu—”
“Selamat datang wahai sang pembawa lambang merah, Scodeaz (pengendali)” ucap Lagarise di suasana alam bawah sadar sang anak manusia.
Toz Nidiel, begitulah sosok yang muncul dari gumpalan darah itu. Tak ada lagi luka tusukan di badannya, kondisinya terlihat baik-baik saja namun matanya terasa berbeda. Empat netra amber yang mirip dengan Vanargand sang serigala.
“A-apa yang terjadi?” gumamnya kebingungan.
Laki-laki yang bersama Lagarise tersenyum. “Kebangkitan, untukmu yang dipilih putra Dewa, Vanargand.”
DEG!
Jantung Toz tersentak kaget, mendengar ucapan sosok asing itu. “Vanargand? Vanargand serigala itu? Mana dia?! Kau sudah berjanji akan melepaskannya setelah membunuhku bukan?! Jawab aku sebenarnya apa yang terjadi!” teriaknya marah sambil memegang bahu Lagarise.
Akan tetapi, tangannya lewat begitu saja. Seolah sosok di pandangan adalah hantu yang tampak nyata.
“Bukankah sudah kukatakan? Vanargand adalah rasa sakitmu dan rasa sakitmu adalah Vanargand,” jelas gadis itu.
“Apa maksudmu?” Toz benar-benar tak paham.
“Vanargand adalah serigala Dewa, yang memakan rasa sakitmu untuk hidup di dunia. Saat kalian para calon guider melangkahkan kaki ke dunia Guide, takdir sudah tertulis dalam hidup kalian semua. Lima kemampuan berkeliling untuk menentukan pilihan. Dan Vanargand yang merupakan jiwa Scodeaz (pengendali), memilih dirimu di antara banyaknya nyawa untuk membawa kemampuannya.”
“T-tapi kenapa?”
“Karena kaulah yang pantas mendapatkan kemampuannya,” sambung laki-laki asing itu.
“Aku? Jika kemampuannya ada pada diriku, apa Vanargand sudah mati?”
Laki-laki itu tersenyum lalu telunjuk tangan kanannya diarahkan tepat ke dada Toz. “Vanargand sang anak dewa tidak mati. Dia hidup di dalam dirimu, sebagai darah dan juga kemampuanmu.”
Toz terdiam. Rasanya ini semua begitu aneh dan otaknya masih mencoba mencernanya. “Jadi, ulahmu yang akan membunuhku barusan?” liriknya pada Lagarise.
“Itu ujian. Ujian dari para Dewa apakah kau memang pantas untuk mendapatkan kemampuan Vanargand atau tidak. Karena ras dari Scodeaz (pengendali) golongan Dewa, tidak sepantasnya jatuh pada manusia yang salah.”
Terbungkam. Rasanya masih sukar dipercaya. Mata Toz pun melirik kedua sosok yang beraura bak Raja di pandangan.
“Apa itu berarti, kalian berdua adalah Dewa?”
“Ya,” jawab singkat Lagarise. Toz terhenyak, karena masih tak percaya jika dirinya bertemu dengan Dewa sekarang ini. “Lagarise Angerboda, sang Dewi serigala raksasa. Ibu dari Vanargand sang putra Dewa, itulah diriku wahai anak manusia.”
Rasanya guntur baru saja turun ke diri. Apakah telinganya salah dengar? Gadis cantik dan menakutkan ini ada Dewa? Ibu dari Vanargand? Dia yang tadi menyiksa serigala itu adalah ibunya? Otak Toz mulai error dibuatnya.
“Susanoo, begitulah para Dewa memanggilku,” sela laki-laki asing tiba-tiba. Dan rambut undercutnya, perlahan bagian belakang memanjang hampir menyentuh pahanya. “Senang bertemu denganmu, wahai guider Scodeaz (pengendali) dari ras Dewa.”
__ADS_1