Death Game

Death Game
Pecahnya kesepakatan


__ADS_3

“Dan apa itu berarti kita semua akan pergi?”


“Tidak. Hanya aku yang akan pergi ke sana. Kalian akan kutinggalkan di kawasan terlarang.”


“Kenapa?”


“Tentu saja agar orang terhormat sepertiku tidak kesusahan karena ketahuan berkeliaran dengan kalian.”


“Itu berarti tujuan kita melenceng dari perjanjian.”


Aza tertawa. Perlahan, tangannya menyentuh bahu Reve yang bertampang datar padanya. “Melenceng? Jika bukan karena kalian berulah di Bukit Kristal dan sesumbar pada Kers, maka aku tak perlu membayar harga dengan menjadi pesuruhnya.”


“Oh, apa itu berarti ini semua salah kami?” tanya Reve yang tersenyum miring.


“Tentu saja. Jadi patuh saja pada Kakakmu ini, mengerti?” lalu petinggi itu pergi dengan langkah santainya.


Di area lantai satu bangunan sayap kanan, terlihat Toz Nidiel sedang bersiap-siap dengan Riz Alea. Kata Aza, kelompok mereka akan pergi esok harinya. Keduanya tampak sedang memperbaiki sepatu mereka yang sudah lusuh.


“Sepatuku sudah rusak,” keluh Toz.


“Aku juga. Apa lebih baik kita beli sepatu atau apa pun dulu sebelum pergi besok?”


“Tapi uang dari mana, Riz?”


“Ah,” pemuda itu langsung tertawa kikuk. Benar juga, mereka baru jadi guider, bahkan hari-harinya habis hanya untuk menapaki jalanan. Bagaimana caranya mendapatkan uang? Kristal biru dan hijau saja belum ditemukan. 


Tiba-tiba, sorot mata mereka berpapasan dengan Izanami Forseti. Saling berpandangan, tapi Riz langsung tersentak kaget dan tubuhnya merinding.


“Riz, ada apa?” tanya Toz menyadari perubahan ekspresinya.


Akan tetapi, keringat dingin kian mengucur deras karena sang pengendali darah berjalan mendekati mereka. Sekarang, Toz terperangah melihat pesona yang dipancarkan Izanami dari dekat.


“Jangan pergi dengan mereka.”


Satu kalimat yang membuat keduanya tersentak.


“A-apa maksud anda?” tanya Toz tak paham. Berbeda dengan Riz yang sudah terlanjur menunduk takut kepadanya.


“Tujuan mereka hanyalah kematian. Kalian masih terlalu muda untuk membuang nyawa demi kunci monster yang tak ada gunanya.”


Toz dan Riz yang gugup pun tersentak. “A-apa maksud anda? Aku tidak mengerti.”


“Pelarian dan petinggi. Aku tidak tahu apa yang ditawarkan mereka pada kalian sampai mengikutinya. Tapi, jika masih keras kepala, hanya kematian yang akan mendatangi kalian.”


“Sebenarnya, anda siapa sampai bisa berbicara begitu?”


“Izanami Forseti. Aku tahu apa yang kalian inginkan sampai datang kemari.”


Toz terdiam. Seketika ingatan di masa lalu menghampirinya. Itu nama tak asing yang pernah diucapkan Barca Asera pada dirinya dan Reve, ketika mereka mendatangi toko barang antik petinggi tersebut.


“Salah satu yang mengetahui kunci Rey—” Toz pun spontan langsung menutup mulutnya karena kaget yang dirasa. Sepertinya, karena terlalu lama pingsan dirinya banyak ketinggalan informasi. “Apa itu berarti Reve sudah—”

__ADS_1


“Kau pikir, para pengetahui kunci akan membeberkan apa yang mereka jaga dengan mudahnya? Bahkan beberapa sampai harus bertaruh nyawa dan menghilang dari dunia agar tetap menutup mulutnya.”


Kedua pemuda itu terbungkam. Dan Izanami pun kembali melanjutkan ucapannya.


“Kalian berdua masih terlalu muda. Guider amatir yang tak tahu apa-apa tentang konflik di dunia ini. Lebih baik kalian kembali ke dunia manusia dan hidup dengan benar di sana. Dari pada terlibat dalam kunci ataupun monster yang tak ada hubungannya. Jangan membuang nyawa, Nak. Dewa tidak sebaik itu untuk memberikan kesempatan kedua pada orang-orang yang telah menyia-nyiakannya.”


Dan Izanami pun melangkahkan tubuhnya untuk pergi dari sana. Meninggalkan Toz dan Riz yang masih terdiam. Pikiran mereka, sekarang kalut karena mencerna kalimat tajam dan masuk akal yang dilontarkan tadinya.


Dan Reve yang berpapasan dengan Izanami Forseti hanya diam meliriknya.


“Ah, Reve. Kamu di sini? Apa mungkin—” Toz kelabakan melihat kedatangan temannya.


“Kalian baik-baik saja?”


“Mm, ya,” angguk Toz cepat.


Sorot mata sang pemuda ular pun menyapu Riz Alea. “Ayo kembali ke atas. Kita harus istirahat agar besok tidak kelelahan.”


“Oh, oke,” sahut Toz sambil memamerkan jempolnya.


Sunyi.


Sekarang orang-orang sudah terlelap dalam peristirahatannya. Melepas kantuk agar diri baik-baik saja.


Di ruangan besar, area sayap kanan yang dikhususkan untuk kelompok Aza Ergo. Ada lima tempat tidur dan masing-masingnya dibatasi dinding partisi dari kayu. Tempat yang nyaman menurut rekan-rekan seperjalanannya.


Tapi, sebenarnya Izakiel sang pemimpin Lagarise benar-benar merasa tidak enak. Bagaimanapun ruangan itu bukanlah tempat yang ingin disajikan pada kelompok Aza Ego.


“Kau tidak tidur?” tanya Aza Ergo tiba-tiba.


Sosok yang duduk bersandar pada pembatas besi sambil mengelus lembut ular kesayangannya, hanya meliriknya sekilas. Tak peduli dan memilih mengabaikan.


Cukup lama bagi mereka berdua diam sambil ditemani dinginnya malam. Dipeluk angin yang terkadang menerpa, bahkan sesekali itu membuat Near menggeliat tak nyaman.


“Kupikir, lebih baik kita saja yang pergi mencari kuncinya.”


Aza Ergo menoleh tiba-tiba. Sejenak kemudian kembali memalingkan wajah menatap hamparan pemandangan di depan mata. “Kenapa?”


“Tak ada gunanya membawa beban bersama kita.”


“Beban?”


“Perjalanan ini, lebih cenderung mengikuti tujuanku, kau, dan Horusca. Jadi tak perlu membawa lainnya yang tak ada hubungannya dengan kita.”


“Begitu?”


“Ya.”


“Jadi kau ingin kita terpecah.”


“Aku hanya tak suka membawa beban yang tak berguna.”

__ADS_1


“Atau kau takut mereka akan terluka karena rencanamu yang gila.”


“Aku bukan orang yang sebaik itu.”


Aza Ergo terkekeh. “Ya. Kau sangat tidak baik, sampai ingin membunuh Izanami yang sudah melukai pelindung itu. Yah, walaupun kau juga sekarat.”


Reve diam tak menanggapinya. Perlahan, terdengar dengkuran dari Near sang ular.


“Baiklah, kalau begitu besok aku akan memberi tahu mereka. Memang lebih baik begini, jadi tak ada yang mati sia-sia karena kita,” sambil tersenyum tipis dan pergi dari sana.


Dan Reve pun merebahkan tubuhnya di posisinya sambil menutup mata.


“Apa!”


Pekikan keras Doxia seolah menggelegar di dalam ruangan itu.


Aza Ergo hanya tersenyum setelah mengatakan apa yang diinginkannya. Berbanding terbalik dengan ekspresi beberapa orang akibat kaget akan ucapannya.


“Sekarang kau membuang kami?!” geram Doxia.


“Ya.”


“Setelah semua yang terjadi?!”


“Tentu saja!”


“Kau—” pria itu menunjuk wajah sang petinggi yang tampak menyebalkan.


“T-tapi kenapa?” tanya Toz akhirnya. “Bukankah kita sepakat akan pergi bersama-sama?” 


“Memang. Tapi, apa kalian yakin kalau memang itu yang kalian inginkan?” tukas Aza dengan santainya. “Tujuanku, bocah ular dan tanaman itu, berkaitan dengan nyawa. Apa kalian yakin tetap mengikuti kami yang mungkin saja akan mati di tengah jalan?”


Orang-orang di sana pun terdiam.


“Tapi kesepakatan kita—” potong Rexcel tiba-tiba.


“Kesepakatan apa? Aku sudah memberikan gulungan secara cuma-cuma untuk kalian. Tenang saja, lagi pula Criber tua takkan tahu bukan? Karena aku yang mencurinya.”


“Lalu kami bagaimana? Bukankah anda bilang butuh bantuanku untuk jadi pelindung?” Riz menyelanya.


Aza tersenyum. “Memang. Tapi, aku juga tak bisa bergantung pada pelindung amatir yang tak bisa melindungi dirinya sendiri.”


Tersentak. Riz merasa tertohok mendengar kalimatnya. Sakit namun tak bisa diungkapkannya.


“Hei! Bukankah kau sangat kurang ajar?! Walaupun kau petinggi, kau tak bisa memutuskan semua seenaknya setelah menariknya ke sini. Kau sendiri yang mengajaknya untuk bekerja sama bukan?!” emosi Doxia.


“Ya, lalu? Aku mengatakan ini juga demi kebaikan kalian. Lebih baik kita berpisah di sini. Tenang saja, jika kalian butuh tempat persembunyian karena status buronan, aku akan segera menyiapkannya. Karena aku punya banyak koneksi di sini.”


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2