
“Mengendus kawasan terlarang? Apa maksudmu, Blerda?” Heksar berbicara.
“Seperti yang dia katakan, orang-orang itu memang mengendus kawasan terlarang. Jadi pertanyaannya, bagaimana bisa mereka mendapatkan kunci untuk memasukinya? Mengingat bukunya hanya diwariskan pada para Raja.”
Semua pun menoleh ke arah Kers yang berbicara.
“Apa kau ingin mengatakan kalau ada pengkhianat di masing-masing bangsa?!” geram Kagura.
Tapi, hanya senyuman yang dibalaskan Raja hydra. Tampaknya, kemarahan bangsawan Masamune bukanlah masalah besar baginya.
“Mungkin? Lagi pula yang mati kan bangsawan dari siren dan juga empusa.”
“Kau—”
“Kagura!” Trempusa bersuara. “Tolong jaga nada bicaramu, karena ini pertemuan agung,” pintanya.
Dan wanita itu mendecih di hadapan mereka semua. Sampai akhirnya Kers tertawa melihatnya.
“Kers, apa yang lucu?” Revtel mulai jengkel akan ekspresi Rajanya.
“Bagaimana mungkin ini tidak lucu? Blerda seorang Raja. Aku juga seorang Raja. Begitu pula dengan Trempusa. Tapi lihatlah, bagaimana bangsawan terhormat bersikap di hadapan mereka yang seharusnya dilayaninya.”
Beragam sorotan diperlihatkan di sana. Ada yang diam menonton keadaan atau tak peduli suasana. Tapi sepertinya, Kers masih belum berhenti menuangkan minyak di atas bara.
“Kers.”
“Dan itu juga berlaku untukmu, Revtel.” Raja bangsa ular pun menoleh. “Pertemuan antar teman atau perundingan antar bangsa adalah hal yang berbeda. Ada lidah yang harus dijaga, dan kepala ditundukkan sebagaimana mestinya. Tak peduli dari bangsa mana, begitulah aturan yang terukir di dalamnya. Beberapa mulut berbicara akan keadilan, namun sikap melambangkan ketidak hormatan.”
Semua terdiam. Entah apa maksud laki-laki itu mengatakan hal tersebut, tapi Raja bangsa dracula yang hampir saja dipeluk alam mimpi langsung tersadar karenanya. Dan Hydragel Kers bangkit dari tempat duduknya.
“Yang Mulia,” Beltelgeuse memanggilnya. Tapi, adik seperguruannya justru melangkah dari kursinya.
“Ada batasan dalam bersikap, Nona. Kau mungkin petinggi bangsawan, tapi kuasamu tetaplah di bawah para Raja. Jadi tolong jaga sikapmu dengan benar, Kagura.”
Terbungkam.
Sosok yang tadinya hanya sibuk mengisi perut dengan anggur, justru menekan suasana dengan kalimatnya. Walau raut wajahnya terlalu santai sehingga membuat rasa sopan tak pantas di sandangnya, tapi itu tak menolak kenyataan kalau dia tetaplah seorang Raja dari bangsa hydra.
Akan tetapi, kalimat barusan jelas-jelas menjatuhkan harga diri Kagura. Rahangnya dibuat mengetat oleh pengajaran yang dilakukan Kers. Seolah-olah, mencoba mengingatkan dirinya kembali seberapa rendah posisinya dibandingkan para pemimpin bangsa.
“Maafkan aku, Yang Mulia,” dengan berat hati wanita itu terpaksa meminta maaf. Walau nyatanya tangannya terkepal erat karena amarah, tapi ia juga tidak punya pilihan. Kagura hanyalah seorang petinggi dari empusa.
Kers pun tersenyum mendengarnya. Dan ia melirik Aza. “Asal kalian tahu saja, Tetua dari bangsaku menemukan fakta tentang penyusupan yang dilakukan orang-orang dari empusa.”
“Penyusupan?”
“Kupikir kau sudah tahu siapa pelakunya. Bukankah sudah disebutkan Blerda?” lirihnya pada Heksar.
“Dan kau tidak memberi tahu bangsa-bangsa?!”
“Kenapa merasa marah? Trempusa yang orang-orangnya berulah saja terlihat diam saja.”
Seketika semua menoleh ke arah Raja empusa. Dan laki-laki itu, mengernyitkan wajahnya kearah Hydragel Kers yang bersuara.
__ADS_1
“Kers.”
“Maafkan Aku Yang Mulia, bukan maksud bangsaku untuk lancang dan bertindak duluan. Hanya saja, kita sama-sama tahu kalau kunci kawasan terlarang cuma bisa dipegang para Raja.”
“Apa anda ingin mengatakan kalau Raja kami berkhianat?” Estes menyela dengan nada yang agak berat.
“Kapan aku bicara begitu?” Kers tersenyum kepadanya. “Aku cuma bilang kunci hanya bisa dipegang Para Raja.”
“Dan bukankah itu merujuk pada pengkhianatan? Nyatanya, kunci memang hanya dipegang oleh Raja. Kalimat anda mengisyaratkan kalau Raja kami yang memberi tahukan kuncinya.”
Kers tak menjawabnya. Kecuali mengedarkan pandangan sekilas ke sekelilingnya. “Kupikir aku butuh anggur, Hea,” dan ucapannya sontak saja mengundang heran orang-orang sekitarnya.
Tentu saja Revtel juga termasuk. Padahal tadi ia sudah sangat kaget akan gaya bicara Rajanya, menekan semua seolah-olah dirinya benar-benar pantas menjadi pemimpin bijaksana, namun sekarang sirna oleh lelucon anggurnya. Sungguh wakilnya benar-benar geram karenanya.
“Kers.”
“Kenapa? Aku lapar. Suruh saja Aza yang berbicara.”
“Apa-apaan ini?” Estes juga ikut kesal akan sikap seenak perut Raja Hydra. Perlahan, ia melirik Aza yang hanya menopang wajahnya dengan tangan kirinya.
“Apa?”
“Apa tak ada yang ingin kau katakan?” Revtel menimpali tiba-tiba.
Dan sosok yang ditatap, cuma menampilkan cibiran ke arahnya.
“Kupikir, akan lebih baik jika penjelasannya tidak bertele-tele. Agar kami semua tahu kenapa pertemuan ini terjadi,” akhirnya Logan Centrio berbicara. Tentunya hal tersebut juga dibalas anggukkan dari Reoa Attia.
Dan Aza yang ditatap petinggi gyges pun tertawa pelan.
“Tolong jangan tertawa Aza. Katakan apa yang kamu ketahui,” pinta Trempusa.
Sang adik seperguruan pun menoleh padanya. “Yang kuketahui ya. Baiklah, jadi harus kumulai dari mana? Aku diminta Kers untuk mencari tahu apa yang terjadi di kawasan terlarang. Karena itulah aku bertemu dengan beberapa tokoh penting dari bangsa kita.”
Semua terdiam.
“Tapi sayangnya, dalam proses pencarian aku terpaksa membunuh beberapa orang yang tak berguna.”
“Tunggu, membunuh?! Siapa yang kau bunuh?!” kaget Kagura.
Namun, Aza tak menanggapinya. “Dan akhirnya aku tahu apa tujuan mereka.”
“Apa?”
“Medusa.”
“Medusa?!” pekik Tuan Criber serta Barca Asera bersamaan.
“Benar.”
“Apa kau yakin?!” Reoa tampaknya masih meragukannya.
“Kenapa aku harus berbohong? Lagi pula Draco Arka yang memberi tahuku. Dia bahkan juga mengajakku ikut serta.”
__ADS_1
“Kenapa mereka menginginkan medusa?” Pak tua pedagang rongsokan yang dari tadi terlihat enggan bersuara, mulai memperlihatkan ketertarikannya. Dan Aza, hanya mengangkat bahu sekilas sebagai jawaban.
“Lupakan itu. Siapa yang kau bunuh?” tekan Kagura. Tampaknya, dia lebih tertarik pada korban yang mati daripada bencana di hadapan.
“Kenapa? Apa kamu akan membunuhku jika tahu?”
“Aza!”
“Hentikan,” Trempusa menengahi situasi antar petingginya. “Aku minta maaf. Tapi, aku mohon Aza. Katakan, siapa yang kamu bunuh?”
Orang-orang pun melirik ke arahnya. Pertanyaan Trempusa jelas juga mengundang penasaran mereka.
“Menurutmu, siapa?”
Trempusa memiringkan wajahnya. Sungguh ia terkejut melihat ekspresi Aza. “Apa mungkin, dia orang penting dari bangsa kita?”
Dan senyum pun berkibar di bibir bocah pengendali magma.
“Jangan bilang—“ Estes terkesiap. “Tunggu, apa mungkin Aquila?! Dia tidak hadir di sini.”
“Kau, membunuh petinggi dari bangsamu sendiri?” Trempusa mencoba meyakinkan dirinya.
“Aku hanya mengeksekusinya sebagaimana mestinya. Begitu pula dengan Ahool yang tak berguna.”
Tersentak. Pernyataan itu, sontak saja langsung menyayat hati dan pendengaran Kagura Masamune.
“Keparat, apa yang baru saja kau katakan? Kau, kau membunuh Ahool? Kau membunuh kakakku?! Bocah buangan sepertimu melakukan itu?!”
“Ya.”
“Kau!” marah wanita itu tiba-tiba. Hawa membunuh langsung menyeruak darinya dan mengagetkan orang-orang di sekitarnya.
“Kagura!” pekik Estes yang tak menyangka.
“Minggir! Akan kubunuh kau, Aza! Akan kubunuh kau karena sudah berani melakukan ini padaku!”
Dan pedang panjang yang tampak haus darah pun langsung muncul di tangan petinggi empusa.
“Gawat!” pekik Gandari melihat situasi di depannya.
Akan tetapi, Kagura yang sudah terlanjur marah dengan kenyataan di pendengaran, tanpa pandang bulu langsung melayangkan serangan mematikan.
“Sial!” Trempusa pun dibuat terkesiap olehnya.
Tapi, semua benar-benar di luar dugaan. Serangan mengerikan itu, tiba-tiba menguap begitu saja ke udara tanpa bisa disangka-sangka penyebabnya.
Sosok dari dua makhluk legenda milik Para Dewa. Telah hadir dalam wujud terburuknya untuk menghentikan keributan. Terlebih lagi mereka, berdiri di sisi Aza Ergo seperti melindunginya.
Sebagai bukti nyata kalau Blerda Sirena, takkan berbaik hati lagi menerima segala kekacauan yang hadir di Aula Kaca milik bangsanya.
__ADS_1