
Terbungkam, itulah pemandangan yang ditampilkan manusia itu. Mulut menganga, diiringi raungan dari sosok yang mengundang lirikan membuat mereka bergidik.
“Bukankah kau bisa menyembuhkan diri? Kalau begitu ayo sembuhkan. Seranganku juga masih akan berlanjut,” ucap Reve dengan sombongnya.
“Aura ini,” gumam Aza Ergo melirik Reve.
Akan tetapi, sayup-sayup dari suara langkah yang menapaki dahan-dahan pohon secara cepat mulai memburu mereka. “Guru? Ada apa?” tanya wanita itu.
“Tidak salah lagi. Aku merasakan pertarungan hebat di sana. Tapi, ada apa dengan aura mengerikan ini?” gumam pak tua berambut hitam legam itu.
“Pertarungan? Kenapa aku tidak merasakan apa-apa?”
Pak tua itu tak mengacuhkan wanita yang menyebutnya guru. Kecuali tetap melompat ke dahan-dahan pohon untuk menuju ke sana.
“Ssshh ...” bunyi desiran angin bercampur hentakan aura yang mengudara di tubuh monster itu.
“Oh, jadi kau akan menyembuhkan diri lagi? Baiklah, akan kulihat bagaimana caramu melakukannya,” ledek Reve menyeringai aneh.
“Diam bocah bodoh! Seharusnya kita membunuhnya!” gerutu Aza Ergo akhirnya. “Cerma! (Terbakarlah!)” teriaknya. Tangannya yang diayunkan tiba-tiba, memunculkan percikan magma dari tanah dan menyelimuti monster itu layaknya gumpalan besar. “Calsea bloodeya, towera armurus! (Pemanggilan berdarah, menara penjara!)”
Begitu selesai mengatakannya, gumpalan magma yang mengurung monster itu tiba-tiba mengudara tinggi hampir membentuk jarum merah besar ke langit dan penuh duri raksasa di setiap permukaannya.
“Apa itu?!” teriak wanita yang masih mengikuti gurunya. Tak jauh di depan mereka, tampak menara merah berduri kokoh di depan, seperti terbakar namun memancarkan aura yang sangat kuat.
“Ini,” gumam Horusca menoleh ke arah menara raksasa itu.
“Sial,” umpat Aza Ergo bercucuran keringat di wajah sambil mengangkat kedua telapak tangan yang bermandikan darah.
Reve terdiam menatapnya. Aura ungu yang menyelimutinya perlahan memudar. Pandangannya beralih ke menara merah raksasa yang perlahan mengeras. Aza Ergo melangkah pelan menuju tempat Horusca sambil menggerutu tak jelas.
“Hei elftraz (penyembuh), cepat sembuhkan aku. Bisa-bisa aku mati kehabisan darah karena ini,” perintahnya sambil menyodorkan telapak tangan pada Horusca.
“Jika kau bisa melakukan ini, kenapa tidak dari tadi saja? Aku jadi buang-buang tenaga,” timpal Reve ikut menghampiri.
“Aku juga buang-buang tenaga kalau kau tidak main-main. Seharusnya kau segera menghabisinya sebelum dia menyembuhkan diri lagi. Di mana otakmu? Sepertinya aura itu memakan kepintaranmu,” sindir Aza Ergo.
“Sa-sabar tuan Aza, mari obati dulu tangan anda,” ucap Osmo menengahi. Rexcel dan Riz hanya terdiam menatap sikap mereka yang seolah santai setelah badai besar barusan.
“Ada apa dengan bocah ini? Kenapa dia teriak-teriak dan muntah darah begini?” Aza Ergo memandang heran pada Toz yang masih sama keadaannya dengan sebelumnya.
“Itu kebangkitan. Sepertinya dewa sedang bermain-main dengan kutukannya,” sahut sebuah suara tiba-tiba.
“Siapa itu?!” Rexcel menoleh ke arah sumber suara. Tiba-tiba, muncullah sesosok pria tua yang berambut hitam legam bersama seorang wanita yang wajahnya dipenuhi tato.
“Sepertinya sudah terjadi pertarungan yang luar biasa di sini.”
Reve dan Aza Ergo tak mengacuhkan ocehan pak tua itu. Mereka memilih kembali menoleh pada Horusca yang sibuk menyembuhkan Toz dan Doxia. Tak peduli berapa kali Toz disembuhkan, luka-luka kecil di lehernya tetap muncul sehingga membuatnya kesusahan. Terlebih, pengobatannya jadi tak fokus karena harus membagi kekuatan dengan Doxia yang cukup terluka parah.
“Hei, ayo obati aku, nanti kita pikirkan bagaimana cara menyembuhkan bocah ini,” ucap Aza Ergo kembali. Darah di tangannya masih tidak mau berhenti.
“Sembuhkan lukaku juga, tanganku panas,” sambung Reve ikut meracau.
Horusca mendecih karena kedua lelaki yang cerewet akibat luka tak seberapa menurutnya jika dibandingkan dua orang di depannya.
“Liaythax nehriem miaglea (bola hijau nehriem)” gumamnya. Lingkaran hijau yang menyelimuti Toz dan Doxia tiba-tiba membesar hampir mengelilingi mereka semua.
“Wah! Lukaku sembuh seketika,” Aza Ergo meneliti telapak tangannya.
“Ugh,” Doxia tersadar dari pingsannya. Luka Reve juga pulih seketika, akan tetapi itu berbeda dengan keadaan Toz yang masih mengerang kesakitan membuat Riz panik melihatnya.
“Kenapa ini tidak berpengaruh padanya?”
“Apa kau tidak dengar tua bangka itu? Dia bilang ini kebangkitan. Setiap orang punya cara kebangkitan tersendiri. Bocah ini salah satunya. Dia beruntung bangkit dalam keadaan seperti ini. Kebangkitanku malah terjadi saat aku sekarat dengan lubang di dada,” oceh Aza Ergo panjang lebar.
“Tapi teriakan dan lukanya!”
Reve terdiam menatap Toz. Ia pun menoleh pada pak tua itu. “Apa yang harus dilakukan untuk membantunya? Bahkan jika ini kebangkitan, bukankah cukup buruk?”
__ADS_1
“Buat dia pingsan.”
“Pingsan?” Riz berpaling.
“Buagh!” suara tinju Reve yang memukul perut Toz.
“Reve apa yang kamu lakukan?!” pekik Riz kaget mendengarnya. “Ah-” teriakan Toz tak terdengar lagi. Luka-luka sayatan yang muncul dan memudar berulang di lehernya juga tak tampak lagi.
“Bisa begini? Kekuatanku terbuang percuma,” lirih Horusca sambil menghela napas kasar.
“Jadi? Siapa kau pak tua?” tanya Aza Ergo.
“Hei! Siapa yang kau panggil pak tua? Beliau ini orang terhormat sekaligus guruku! Bisa-bisanya kalian tidak sopan begitu!” bentak wanita yang berdiri di samping gurunya.
“Apa peduliku?” Aza Ergo tersenyum.
“Sudahlah Redena,” perintah gurunya.
“Sepertinya seranganmu terlalu mencolok sampai mengundang penonton,” ledek Reve.
“Katakan pada aura kotormu itu,” balas Aza Ergo.
“Mereka berdua akur sekali,” gumam Rexcel.
“Siapa yang akur?!” sergah Aza Ergo dan Reve bersamaan.
“Aura? Serangan? Sepertinya itu memang milik kalian berdua,” pak tua itu menimpali. “Jadi, apa tekanan gelap lainnya sedang terkurung di menara merah ini?”
“Instingnya lumayan,” puji Aza Ergo.
“Rambutnya aneh,” sindir Reve.
“Hei kalian! Sudah cukup penghinaannya!” teriak wanita itu tidak terima.
Ketegangan itu masih tak menyurutkan sikap masing-masing. Sampai akhirnya pak tua mengambil alih pembicaraan dengan mudahnya. “Siapa kalian para anak muda?”
Pak tua itu tersenyum kecil. “Dari kemampuan kalian, sepertinya kalian bukan sekedar pengelana biasa.”
“Memang benar,” Aza Ergo mengukir raut sombong.
“Apa kita istirahat di sini saja? Tidak mungkin menggendong Toz dalam keadaan seperti ini,” timpal Horusca tiba-tiba.
“Kupikir juga begitu,” lanjut Rexcel.
“Guru, ayo kita pergi! Tak ada gunanya berlama-lama di sini!” ajak wanita itu pada pak tua.
Akan tetapi, tiba-tiba udara berubah mencekam dengan tekanan yang tidak biasa. Dinginnya malam semakin menusuk membuat mereka yang menyadari berubah waspada.
“Musuh lagi?” wajah Aza Ergo berubah jengkel sambil menatap langit.
“Aku akan senang jika memang begitu,” suara lembut yang menenangkan menari di sekeliling mereka.
“Siapa itu!” teriak Redena melirik sekelilingnya.
“Oi-oi! Kenapa suaranya tidak asing begini?!” Aza Ergo tiba-tiba bergidik ngeri.
“Tentu saja tidak asing. Apa kau merindukanku? Aza,” ucapnya. Perlahan, hempasan angin menyapu tubuh mereka, menampilkan siluet di depan pohon elm yang berjarak tak jauh dari mereka.
Rambut biru panjang, dengan mata amber indah menghiasi wajahnya yang mengukir senyum angkuh di rupa. Terlebih, gaya berpakaian mirip ksatria itu membuatnya terlihat menawan.
“Siapa itu? Indah sekali!” puji Rexcel melihat kedatangannya.
“Muncul lagi pengganggu,” lanjut Reve.
“Ah! Si keparat amber! Apa yang kau lakukan di sini?!” jengkel Aza Ergo.
“Apa itu kata pertamamu? Kau masih tidak berubah. Petinggi yang menyedihkan.”
“Petinggi? Di sini ada petinggi?!” Redena menoleh kaget ke sekelilingnya.
__ADS_1
Tiba-tiba tawa tersembur di mulut lelaki bermata amber itu. “Apa kau dengar Aza? Memang suatu kesalahan membuatmu menjadi petinggi. Apa yang dipikirkan bangsamu?”
Aza Ergo menyeringai lalu mengibaskan rambutnya dengan anggun ke belakang. “Apa lagi? Tak ada petinggi empusa yang lebih terhormat dariku. Apa matamu rusak karena pesonaku?”
“Bocah sombong.”
“Bocah ini petinggi empusa? Serius?” Redena memotong pembicaraan dengan wajah tak percaya.
“Apa-apaan tampangmu itu?”
“Tak kusangka sejak tak menginjakkan kaki di sana lagi, selera mereka dalam menentukan petinggi jatuh begini,” Redena geleng-geleng kepala.
“Sialan, aku malas berurusan dengan wanita,” Aza Ergo mengalihkan wajahnya. “Horusca, siapkan rumput lembut untuk tidurku,” perintahnya.
Horusca kembali mendecih dengan sikap menyebalkan petinggi itu. Terlebih Reve juga ikut menimpali karena ingin cepat-cepat beristirahat.
“Hei elftraz (penyembuh), jika kau tidak suka bersama bocah magma itu, aku bersedia menjadikanmu rekanku,” sela lelaki bermata amber itu.
“Jangan dengarkan dia. Dia itu menyebalkan sama seperti sepupunya.”
“Sepupunya?” tanya Rexcel.
“Siapa lagi kalau bukan si sialan Hea dari hydra.”
“Guru! Ayo kita pergi. Tidak ada gunanya lagi kita di sini,” ajak Redena pada pak tua yang keberadaannya tak diacuhkan.
Pak tua itu menoleh ke arah menara ciptaan Aza Ergo. “Redena.”
“Iya guru?”
“Perintahkan peliharaanmu untuk melihat situasi sekitar.”
Redena terdiam sejenak. “Baik guru.” Ia pun meletakan kedua telapak tangannya ke tanah yang mengundang lirikan Horusca.
“Lsea, emera zarkia (Memanggil, pandangan elang)” gumamnya. Sekarang, orang-orang yang menyadari tekanan kemampuan Redena menoleh padanya.
“Scodeaz? (Pengendali?)” gumam Aza Ergo.
“Ini!” pekik Redena. “A-apa-apaan ini?!” seketika Redena menarik telapak tangannya yang menempel ke tanah. “Guru! Hutan ini! Ada banyak orang yang mati!”
Pak tua itu terdiam mendengar penjelasan muridnya. “Anginku memang memberi tahu aroma darah di sekitar sini. Kupikir itu karena ulah kalian,” seringai lelaki bermata amber.
“Makhluk itu, sepertinya dia benar-benar gila,” lirih Aza Ergo sambil melirik menara yang dibuatnya.
“Jadi bukan kau yang melakukannya?”
“Bisakah kau berhenti bercanda? Monster itu benar-benar masalah serius,” raut wajah Aza Ergo berubah masam menatap lelaki bermata amber.
“Guru,” panggil Redena yang tak mengalihkan pandangan gurunya pada menara merah.
“Aku yakin anda menyadarinya. Tapi sepertinya ada yang sudah bermain-main dengan segel terlarang,” ucap petinggi empusa itu melirik pak tua di depannya.
“Kau petinggi. Uruslah ini dengan orang-orangmu.”
“Tidak semuanya harus menjadi tugas petinggi kan?” Aza Ergo tersenyum tipis. Kalimatnya mengundang tatapan lelaki bermata amber dan pak tua itu.
“Aza, apa yang sebenarnya kau lakukan di sini? Dan apa-apaan rombonganmu itu? Aku yakin kau bukan tipe yang berkeliaran dengan pemula,” tanya lelaki bermata amber dengan nada menekan.
“Bukan urusanmu. Urus saja masalah bangsamu.”
Tatapan pak tua itu masih tak teralihkan. Sampai beberapa detik kemudian berpindah sorotan ke arah Reve. “Kenapa? Jika penasaran tanya saja makhluk di menara itu. Itu pun kalau dia masih hidup.” Ia pun mengedarkan pandangan. “Ayo, lebih baik istirahat, besok kita harus melanjutkan perjalanan.”
“Ya, aku juga lelah!” sahut Aza Ergo menyetujui. Mereka berdua berlalu menuju tempat yang nyaman menurutnya.
Sementara, beberapa pihak Aza Ergo merasa canggung dengan keadaan ini. Tidak yakin apa harus waspada dengan sosok yang masih asing tanpa perkenalan. Horusca yang sudah menumbuhkan rumput dengan kemampuannya, menatap tiga sosok tak dikenal itu.
“Jika tak ada keperluan kalian boleh pergi. Mari lupakan apa yang terjadi. Jika penasaran dengan makhluk yang ada di menara, aku bisa minta petinggi itu untuk membatalkan mantranya. Tapi, jika monster itu masih hidup dan mengamuk kembali, kuharap kalian bertanggung jawab,” ujar Horusca menatap dingin mereka.
__ADS_1