
“Maaf,” Aza pun menunduk di depannya.
Tiba-tiba Laravell mengelus lembut kepalanya. “Kakak tidak marah kepadamu. Kakak cuma tidak ingin kamu terluka. Mengerti?”
“Ya, aku mengerti.”
“Ya sudah, ayo,” ajaknya sambil menarik tangan Aza Ergo.
Pria yang sibuk membakar daging itu pun tersenyum melihat interaksi anak-anaknya.
“Nah, ini untuk kalian,” dirinya menyodorkan sajian hangat tersebut pada dua anak muda di depannya.
Di saat keduanya sibuk makan, pria itu pun menyentuh lembut rambut salah satu putranya. “Ini sudah panjang. Apa kamu ingin ayah memotongnya?” tanyanya pada Laravell.
Anak berambut merah itu pun melirik sekilas ke arah adiknya. “Baiklah. Tapi rambut Aza juga dipotong ya, kan tidak adil kalau aku sendiri saja.”
Bocah di sebelahnya pun memanyunkan bibirnya. “Kalau mau potong rambut ya Kakak sendiri saja. Kan Kakak yang jelek.”
“Apa kamu bilang!”
“Sudah-sudah. Jangan berteng— uhuk! Uhuk! Uhuk!” tiba-tiba ayah mereka itu terbatuk dengan keras.
Sampai memuntahkan darah dari mulutnya sehingga dua anak muda di sisinya panik melihatnya.
“Ayah! Ayah baik-baik saja?!” cemas Aza sambil beruraian air mata.
“Ayah baik-baik saja, Nak. Jangan khawatir.”
“Mana mungkin Ayah baik-baik saja?! Ada darah dari mulut Ay—” kalimat Laravell pun sontak terhenti akibat sentuhan dari pria itu.
Ia mengelus lembut kepala kedua putranya. Dengan raut wajah kelelahan namun mengibarkan senyum di bibirnya.
“Ayah baik-baik saja. Kalian tidak perlu khawatir,” lirihnya sambil memeluk mereka.
Aza dan Laravell pun meradang. Karena bagaimanapun juga, mereka tahu jika pria itu tidak baik-baik saja.
Tidak setelah kenyataan kalau ayah mereka sering terbatuk di tengah malam. Aroma darah yang sudah tidak asing selalu bersenandung di sekitar mereka.
Dan itu jelas-jelas milik sosok yang menjadi pelindung sekaligus sandaran bagi keduanya.
Di kawasan bangsa gyges, Aegayon Cottia baru saja menerima surat undangan dari para guru di Hadesia.
Di mana di dalamnya tercantum tentang pembukaan pelatihan di sana. Sebuah tempat yang akan mendidik para murid baru sebagai calon petinggi ataupun Raja untuk bangsa-bangsa.
Tentunya, semua menyambut baik itu semua. Karena pelatihan tersebut sudah pernah berdiri dahulu kala. Namun dibubarkan akibat kegilaan Reygan Cottia.
Dan sekarang demi kemajuan kemampuan para generasi muda, pelatihan itu kembali dibuka dengan metode lebih baik untuk kemajuan bangsa-bangsa.
__ADS_1
“Jadi, siapa yang akan dikirimkan ke sana?” tanya Aegayon pada Betsheba Voskha.
“Entahlah. Aku akan kirimkan umumkan isi suratnya pada rapat para Dewan.”
“Baiklah.”
Tapi, sang Tetua masih belum beranjak dari kamar Raja mudanya.
“Jadi, kapan kamu akan turun tangan?”
“Tak ada perang bukan?”
“Semua ingin tahu seperti apa wajah menawan Rajanya.”
Butuh sejenak waktu bagi Aegayon Cottia untuk menjawabnya. “Tuan Betsheba.”
“Ya?”
“Bisa tolong carikan jerami dan kodok untukku?”
Seketika wajah Tetua itu mengernyit bingung karenanya. “Jerami dan kodok? Untuk apa?”
“Bawalah saat pertemuan. Dan jika orang-orang bertanya tentang rupaku, perlihatkan kodok dan jerami itu. Beritahu mereka, kalau aku mirip dengan hewan yang kamu bawa itu.”
Sang Tetua pun geleng-geleng kepala mendengarnya. Tak peduli apa pun yang terjadi. Raja muda gyges selalu mengurung diri. Tidak jelas apa alasannya. Tapi tak satupun orang pernah melihat wajahnya.
“Benar! Tepat sekali!” balasnya dengan nada bersemangat.
Membuat sang Tetua semakin malas berlama-lama bersamanya. “Kalau begitu aku undur diri dulu.”
“Mm. Hati-hati dalam perjalanan anda.”
Tapi, suasana berbeda diperlihatkan di kawasan yang tanahnya dipenuhi tanaman bambu. Begitu segar aromanya, seperti energi kehidupan benar-benar menari bebas dalam hijaunya alam di sana.
“Hah? Hadesia?! Aku tidak mau!” tolak seorang anak muda tiba-tiba. “Kenapa aku harus ikut pelatihan tidak jelas begitu? Lebih baik aku belajar bela diri di rumah! Bisa seenak hatiku kapan saja melakukannya.”
“Ayolah Heksar. Itu pelatihan terbaik antar bangsa-bangsa. Kamu tidak akan menyesal kalau mengikutinya,” bujuk Kakeknya dengan lembutnya.
Tapi, bocah cebol itu tetap saja memamerkan tampang menyebalkan untuk ditatap orang tua di depannya.
“Ya kalau Kakek mau, ya Kakek saja yang ikut pelatihannya. Jangan ajak-ajak aku. Aku pokoknya tidak mau! Selamat malam dan sampai jumpa,” lalu dirinya pergi dari sana dengan langkah angkuhnya. Membuat sang kakek mau tidak mau terpaksa menyemburkan helaan napas keras dari mulutnya.
“Dasar bocah keras kepala.”
“Dari bangsa kita, siapa yang akan dikirim ke Hadesia?” tanya Raja bangsa dracula saat rapat di istananya. Tapi sayang, para bawahan terdiam. Tertunduk tanpa ada niatan membalasnya. “Kutanya sekali lagi, dari bangsa kita siapa yang akan dikirim ke Hadesia? Apa tak ada yang ingin keturunannya jadi petinggi ataupun Raja?”
Seketika raut wajah orang-orang di dalam aula berubah saat mendengar lirihannya.
__ADS_1
“Apa boleh kalau kami tanyakan dulu pada calon-calon yang ingin diajukan? Agar keputusannya lebih pasti sebelum sampai ke tangan anda.”
“Baiklah kalau begitu. Aku tunggu kabar baiknya,” jawabnya pada salah satu Tetua yang mengutarakan pendapatnya.
“Tuan Noa. Beberapa anak sudah dipastikan akan ikut serta sebagai calon murid di Hadesia,” seseorang pun memberitahukan itu tiba-tiba pada sosok Raja kurcaci yang sibuk menyirami tanaman di rumah kaca.
“Begitu?”
“Ya. Mm ... i-itu Tuan.”
“Ada apa?”
“Apa tidak diadakan rapat dulu untuk melihat seperti apa calon-calon yang akan dikirimkan ke sana?”
“Baiklah. Bukan ide yang buruk. Silakan adakan rapat di hari yang kalian setujui.”
“Baik, Yang Mulia.”
Dan di perjalanan di mana sebuah kereta kuda tanpa pelindung atap di atasnya, terlihat sosok Revtel serta Kers duduk di kursi belakang.
Satunya sibuk rebahan sambil makan buah-buahan, sementara yang satunya lagi sibuk membaca buku.
Perlahan Hydragel Kers pun melirik kakak sepupunya.
“Revtel.”
“Mm.”
“Apa kamu tidak bosan?”
“Bosan apanya?”
“Baca buku.”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena rajin baca buku itu lambang kecerdasan dan peluasan ilmu pengetahuan. Anak-anak yang isi otaknya cuma makanan takkan tahu betapa bernilainya pelajaran di dalam buku ini. Bahkan, orang-orang terdahulu merangkai kemajuan dan dituliskan dalam buku-buku terhormat seperti ini. Cobalah baca, Kers. Karena rajin membaca bisa membuatmu pintar.”
Kers yang mendengarnya pun langsung memasang tampang mencibir. Seolah jengah dengan ocehan sepupu cerewetnya itu.
“Benarkah? Kalau begitu aku lebih baik bodoh saja. Karena aku cuma mau makan dan juga rebahan. Selamat malam.”
Lalu tangan anak itu langsung mengambil segenggam anggur dan memasukkan semua ke dalam mulutnya. Menutup mata untuk tertidur sambil mengunyah sajian manis yang baru saja dilahapnya.
Benar-benar sikap yang luar biasa. Sampai-sampai Revtel ingin sekali memukul kepala adik sepupunya dengan buku yang ada di tangannya.
__ADS_1