Death Game

Death Game
Bangkitnya Reve


__ADS_3

Tiba-tiba getaran aneh berkumandang bertepatan dengan mata Reve Nel Keres yang terbuka. Orang-orang terpekik terlebih aura biru terpancar buas dari tubuh yang mendadak bangkit itu. 


“Reve,” lirih Horusca melihatnya. Akan tetapi, kelengahannya justru membuat jurus Aza Ergo berhamburan mengejarnya.


“Awas!” pekik Redena mengingatkan.


“BRUAGH!” suara hantaman keras dari tarian ribuan pedang yang menjadi tameng untuk sang pemuda elftraz (penyembuh).


“Pemandangan yang mengerikan,” sahut Reve sambil meregangkan otot-ototnya. Dia pun memiringkan kepala memperhatikan monster bara yang jurusnya mengamuk ke arah perisai pedangnya. “Sepertinya harus kuakui kalau dia memang petinggi yang hebat.”


“Apa kau punya cara untuk menyadarkannya?”


“Aku punya,” ucap Izanami sambil mengangkat tangannya. Tato aneh di telapak tangan kanannya menjalar ke lengan sampai bahu.


“Oi Iza, kau serius?” sela Caprio mencoba mencegatnya.


“Mau tidak mau harus kita lakukan. Dia sudah terlalu menarik perhatian. Bisa-bisa para petinggi kawasan terdekat berdatangan.”


“Kau benar. Ini jelas sangat buruk untukmu.”


Akan tetapi, sosok pria asing pengendali serbuk besi itu mulai menghentikan serangannya. Dirinya melirik ke seberang di mana ada Reve dan Horusca yang tampak sedang merencanakan sesuatu. Tiba-tiba seringai tipis terkembang di bibirnya.


“Hentikan Iza!” cegat pak tua berambut hitam legam. “Kau dan Caprio mundurlah.”


“Tapi—” kalimat pria berbandana terpotong oleh tatapan tenang sosok yang menjadi guru Redena. “Baik,” angguknya lalu menarik lengan Izanami Forseti.


“Ada apa?” tanya Reve menyadari tatapan aneh Horusca.


“Aura birumu, itu sangat mencolok. Tolong hentikan.”


Reve Nel Keres terdiam lalu melirik tubuhnya. “Aku tak tahu bagaimana cara menghilangkannya.”


“BUAGH!” suara dari pukulan keras Horusca ke arah perut pemuda ular secara tiba-tiba. Orang-orang pun menatap kaget pada ulah bocah berambut merah itu.


“Agh! Brengsek, apa yang kau lakukan?” erang Reve sambil memegangi perutnya.


“Membantumu menghilangkan auranya. Berterima kasihlah.”


“Sialan!” jengkelnya sambil menekuk kaki. “Ini benar-benar sakit. Kau seorang petarung?!”


“Aku seorang penyembuh,” ucapnya santai sambil mengarahkan tangan ke arah Reve. Tiba-tiba bola hijau yang tadi digunakan untuk menyembuhkan dirinya bersama Caprio dan Izanami muncul kembali.


“Iza? Kenapa kau memandangi mereka seperti itu?” tanya Caprio tiba-tiba.


“Bahkan di situasi mencekam, mereka terlihat santai.”


Caprio terdiam. Diliriknya dua bocah yang tampak bau kencur namun sibuk mengoceh. Bahkan mereka mengabaikan serangan-serangan gila yang dilancarkan Aza Ergo.

__ADS_1


Untung saja pak tua berambut hitam legam berhasil menghalau segala serangan yang datang sehingga membuat monster itu berjalan ke arahnya. Sesuai perkiraan, petinggi yang tak terkendali itu hanya menyerang mereka yang memancarkan aura serangan.


“Berhenti bermain-main sialan! Guruku sedang kesusahan tapi kalian malah sibuk bergurau di sana!” hardik Redena yang kesal melihat Reve dan Horusca.


“Apa dia tidak lihat kalau kau sedang mengobati lukaku?”


“Tidak. Mungkin dia buta,” jelas asal Horusca sambil menyisir rambutnya.


Seketika wajah Redena merah padam mendengar ocehan mereka. “Dasar brengsek!” Elang-elang yang semula berterbangan di atas kepalanya melesat maju ke arah mereka.


“SRAK!”


Tak disangka, tanpa aba-aba pedang Reve Nel Keres menyayat elang-elang itu tepat di depan mata pemiliknya. Menimbulkan sensasi aneh untuk beberapa mata yang kaget tak percaya.


“Kau,” tatap tajam wanita itu.


“Sepertinya sudah saatnya bagi kita menyelamatkan petinggi pembangkang itu,” Reve menyeringai tipis.


“Dasar keparat!” teriak Redena berlari ke arah mereka dengan emosi yang menggebu-gebu.


“Redena!” Caprio memperingatkan.


DEG!


Tapi tak disangka, tiba-tiba jarum magma muncul menusuk kaki Redena yang berlari ke arah bocah-bocah itu.


“Agh ...” erang wanita itu sambil matanya melirik bergetar ke arah monster yang sibuk menyerang gurunya dan pria asing pengendali besi.


“Sepertinya, petinggi bodoh itu mulai melakukan hal yang benar,” ucap Reve sambil tersenyum miring.


“Hei kau! Cepat sembuhkan kakinya!” perintah Caprio tiba-tiba. Akan tetapi, justru pandangan datar yang dipamerkan Horusca menatap ke arah mereka. “Kau! Kenapa kau diam saja?”


“Kenapa aku harus membantunya?”


Caprio tersentak.


“Dia cerewet dan bodoh. Salahnya sendiri karena terluka seperti itu.”


Raut wajah Caprio berubah dingin mendengar lirihannya. “Kau, apa kau yakin berkata seperti itu?” tanyanya dengan nada suara berat yang menekan.


“Ya.”


Tiba-tiba, sensasi aneh menguar dari cengkeraman tangan pria berbandana.


“Sepertinya kau baru saja membangunkan singa tidur,” sindir Reve melihat calon musuh di depan mereka. “Tapi, aku baru saja memikirkan sesuatu yang menarik.” Tangannya lalu terangkat menunjuk Izanami Forseti yang tak jauh dari mereka. Terlihat sosok pengetahui kunci Reygan sedang memegangi tangannya karena ngilu.


Izanami menatap tajam menyadari arah tangan yang menunjuk padanya.

__ADS_1


“Jika dia memberikan apa yang aku inginkan, kupastikan Horusca akan membantu kalian mengobatinya,” tukas Reve dengan senyuman licik yang terpampang nyata di bibirnya.


Seketika Horusca dan Caprio menoleh ke arah Izanami. Begitu pula Redena yang menahan sakit sambil keringat dingin mengucur bebas akibat lubang di kaki yang mulai melelehkan pinggiran kulit dan tulangnya.


“Kalian,” geram Caprio.


“Apa yang kau inginkan darinya?”


“Bagian dari rencana kita.”


Horusca hanya mengangguk pelan. Matanya lalu melirik pertempuran antara pria berambut hitam legam dan sosok asing pengendali serbuk besi dengan Aza Ergo.


Dirinya perlahan tersenyum melirik pertarungan itu. “Sepertinya dia mulai sadar.”


“Siapa?”


Horusca pun mengarahkan dagunya pada sosok yang di maksud.


“Dia sedang kehilangan kendali,” lirih Reve melirik tajamnya.


“Dasar bocah sialan!” amarah Caprio tiba-tiba memuncak dengan tangan terkepal yang diarahkan pada Horusca.


“BRAK!”


Suara pedang Reve menahan tinju pria di depannya. “Minggir kau!” hardik Caprio kesal.


Reve tiba-tiba mengayunkan tangannya yang lain sehingga memunculkan pedang-pedang di udara. Caprio terkesiap, dirinya tersadar kalau bocah ini memang seorang assandia langka.


Tarian pedangnya pun langsung menyerang pria berbandana tanpa jeda. “Kau pikir seranganmu ini akan mempan bahkan jika kau seorang assandia langka?!”


“Berisik!”


Serangan beruntun pun terus berdatangan, namun tak sulit bagi Caprio menahannya dengan memperkuat tubuhnya walau terdapat sayatan dalam setiap pertahanan.


“Dasar badan besi!” umpat Reve menyadari serangannya tak berarti apa-apa.


“Awas!” tiba-tiba Horusca menarik lengan Reve ke belakang sehingga pemuda ular itu mundur beberapa langkah.


Dirinya tersentak begitu menyadari ada pedang panjang yang membelah pijakan posisi berdirinya tadi. Bahkan serangan itu berhasil menghempaskan amukan pedang-pedang Reve. Dilihatnya, sosok pemakai jurus yang memasang tampang masam ke arahnya dan juga Horusca.


“Tak perlu repot-repot Caprio,” lirih Izanami dengan nada menekan. “Kenapa kau harus meminta tolong untuk mengobati Redena?”


Horusca dan Reve sama-sama mengernyitkan wajah masam ke arah sosok yang berbicara.


“Kita bantai saja mereka. Sisakan bocah tanaman itu walaupun dia harus sekarat.”


Suasana pun akhirnya berubah tegang begitu Izanami melirihkan kata-kata tak terduga yang menyulut ekspresi dingin dari dua pemuda beraura berat di depannya.

__ADS_1


__ADS_2