
“Tak masalah mengendus suatu rahasia, tapi jangan bercanda,” ucap pak tua pada Logan.
“Maaf, sepertinya aku sudah merusak suasana kalian. Kalau begitu aku pergi saja. Tuan Logan, terima kasih atas undangan jamuan anda. Aku dan Toz sangat terhibur,” tukas Reve lalu pergi meninggalkan mereka.
Di perjalanan, Toz pun mengatakan apa yang membebani hatinya. “Reve, kenapa kamu berbicara begitu padanya? Tampaknya orang bernama Logan itu sangat berbahaya.”
“Memangnya aku peduli? Dia sudah kurang ajar karena ingin membeli Near dariku.”
“Aku tahu jika kamu kesal. Tapi bukankah akan lebih baik jika kamu tak berbicara seperti itu? Bagaimana jika nanti dia mengincarmu dan berbuat yang macam-macam?”
“Memangnya dia berani? Dia akan mati sebelum sempat menyentuhku,” ujar Reve jengkel.
“Reve.”
“Apa yang kau cemaskan? Di dunia ini kau tak perlu mempercayai guyonan kotor makhluk-makhluk seperti itu. Bahkan jika bukan dia, orang lain pasti berniat membunuh kita.”
“Be-begitu ya.”
“Jangan naif, dunia tak sebaik kelihatannya. Ada banyak orang yang menyembunyikan wajah asli mereka.”
Toz mengangguk, mereka berdua pun melanjutkan perjalanan entah ke mana.
Di dalam toko barang antik. “Pemuda kurang ajar, sepertinya dia hidup tanpa tahu aturan ya,” sahut Logan menatap masam wajah pak tua pemilik toko.
“Lagi pula, kenapa kamu ingin membeli peliharaannya?”
“Karena aku penasaran dengannya.”
“Penasaran? Dia hanya seorang assandia (petarung) muda.”
“Benarkah? Assandia (petarung) yang bisa mengendalikan binatang? Bukankah itu terlalu luar biasa?” pungkas Logan dengan nada meledek.
“Cincinnya sudah membuktikan semuanya.”
“Cincin? Sepertinya kita tak boleh lupa dengan legenda pengendali dua kemampuan.”
Tuan Barca terdiam mendengar ucapan Logan.
“Ah, maaf karena aku sudah mengatakan yang tidak seharusnya. Aku benar-benar minta maaf Tuan,” tambahnya.
“Tidak apa-apa. Lagi pula apa yang kamu katakan memang benar.”
Pembicaraan itu akhirnya berlanjut dengan pembahasan tentang pembunuhan salah satu hydra yang baru-baru ini terjadi.
Sekitar beberapa jam kemudian, Reve dan Toz kembali lagi ke toko barang antik tersebut. Bagaimanapun mereka masih punya urusan yang belum terselesaikan.
“Kalian,” gumam tuan Barca saat melihat kedatangan mereka berdua.
“Sepertinya aku datang di saat yang tepat.”
__ADS_1
Medengarnya, pak tua pun beralih pergi menuju tempat yang kemarin. Kedua pemuda itu juga mengikutinya, sampai akhirnya mereka tiba di ruangan kosong yang dipenuhi cahaya lilin di sekelilingnya.
“Sepertinya anda punya selera yang unik pak tua,” puji Reve.
“Mana darah salamander dan air mata perinya?” tanya pak tua itu.
“Near,” panggil Reve tiba-tiba. Ular itu melesat keluar dengan cepat dan menyemburkan dua buah botol kristal kecil ke sofa. “Itu,” ucap Reve dengan santainya.
Pak tua pemilik toko pun mendekat ke sofa dan mengambil dua botol kristal kecil tersebut. “Sebelum aku memberi tahumu, bisakah kau menjawab beberapa pertanyaanku?”
“Baiklah. Apa yang ingin kau tanyakan?”
“Pertama, siapa kau sebenarnya?”
Reve terdiam sejenak. “Aku Reve Nel Keres, guider dari bangsa manusia,” jawab Reve.
“Kedua, apa tujuanmu datang ke dunia Guide?”
“Aku ingin bersenang-senang.”
Tuan Barca dan Toz sama-sama mengernyitkan dahi. “Ketiga, kenapa kau ingin bertemu dengan Reygan Cottia?”
“Aku ingin membunuhnya.”
“Kenapa?”
“Karena dia sudah menghancurkanku.”
Raut wajah Reve berubah dingin. Aura di ruangan itu mulai terasa berat tekanannya. Terlebih lagi, api lilin bergoyang ketakukan tanpa tahu penyebabnya. Toz bisa merasakan suasana mulai mencekam di sekelilingnya.
“Aku sudah memberikan bayarannya. Sekarang anda berikan hasilnya. Jangan buat aku menyesal karena sudah berkompromi denganmu,” tegas Reve tanpa menampilkan keramahan di wajahnya.
“Keempat, apa kau benar-benar seorang assandia (petarung)?” tanya pak tua itu mengabaikan ancaman Reve.
“Inilah susahnya berurusan dengan orang tua. Apa anda tidak lihat cincin di tanganku? Jangan bilang anda sudah buta hanya karena usia. Karena bagaimanapun aku tak berniat membelikan kaca mata untukmu,” ledek Reve padanya.
Pak tua itu tak menanggapinya. Sepertinya ia akan berbicara jika Reve menjawab pertanyaannya. “Aku memang assandia (petarung).”
“Tidak ada assandia (petarung) yang bisa mengendalikan binatang. Itu bukan ular biasa, apa kau sedang mencoba menipuku?” nada bicara tuan Barca pun berubah.
“Aku sudah menjawab pertanyaanmu. Sekarang beri tahu aku di mana kuncinya.”
“Kau terlalu mencolok. Cepat atau lambat hydra akan tahu jika kaulah yang sudah membunuh salah satu anggota mereka. Apa kau pikir bisa lolos dari itu? Revtel takkan tinggal diam begitu mengetahuinya.”
“Apa anda mencemaskanku? Kalau begitu lindungi aku. Bukan masalah lagi kan?”
“Para petinggi akan mengadakan pertemuan besok. Mereka pasti membahas itu, jangan pikir bahwa tak ada yang bisa mengendusmu.”
“Beri tahu aku di mana kuncinya. Atau aku takkan segan-segan membunuhmu pak tua.”
__ADS_1
“Reve,” panggil Toz mencoba menenangkannya.
“Reygan Cottia seorang legenda. Ia memiliki lebih dari satu kemampuan. Apa kamu pikir kamu bisa membunuhnya? Begitu membuka penjaranya, dunia akan langsung tahu bahwa kalianlah pelakunya.”
“Beri tahu aku di mana kuncinya,” tekan Reve. Tiba-tiba sebuah pedang pun muncul di tangannya. “Entah dia legenda atau dewa, aku tetap akan membunuhnya. Tak peduli apa pun yang kalian bicarakan. Jika kau masih keras kepala, aku akan memulainya dari dirimu terlebih dahulu,” ancam Reve akhirnya. Nada suaranya benar-benar berbeda.
Mata biru layaknya samudera terdalam pun bersinar di wajahnya. Tuan Barca tertegun, sekilas bulu kuduknya berdiri membuat otang tua itu mengedarkan pandangan. Tanpa sadar keringat membasahi pelipisnya, aura yang dikeluarkan Reve benar-benar memberikan tekanan tak biasa pada pak tua itu.
“Ada tiga kunci, dan hanya tiga orang yang tahu di mana keberadaannya.”
“Siapa?”
“Mantan pemimpin bangsa empusa, salah satu petinggi hydra, dan juga, salah satu petinggi bangsa tradio.”
“Ketiga orang itu? Jadi siapa saja namanya?”
Cukup lama pak tua itu hening sejenak sebelum melanjutkan ucapannya. “Bragi Elgo, Sif Valhalla, dan Izanami Forseti.”
Ekspresi wajah Reve langsung berubah. “Mereka bertiga? Sepertinya ini benar-benar sulit. Apa ada orang lain yang tahu?”
“Tidak. Dunia hanya tahu tentang kunci Reygan. Tapi mereka tidak tahu siapa saja yang mengetahui tentang kuncinya.”
“Apa itu berarti mereka memilki kuncinya?”
“Entahlah. Kau akan tahu begitu bertemu dengannya.”
“Huh! Tradio, ini akan sangat sulit untuk mengetahui di mana keberadaan bangsa hantu itu.”
Tuan Barca tersentak kaget. “Sepertinya, ini bukan pertama kalinya kau mendengar tentang mereka.”
Reve menyunggingkan senyumnya. “Terima kasih karena sudah memberi tahuku. Ayo kita pergi Toz,” ajaknya.
“Hydra sudah memulai perburuannya. Jika Hydragel Kers sampai turun tangan, maka kau pasti akan tertangkap.”
“Aku hanya membunuh seorang komandan. Kenapa respons kalian seperti kehilangan seorang bangsawan?” Reve menyeringai.
“Karena bangsa-bangsa takkan pernah membiarkan para pengacau berkeliaran seenaknya. Terlebih lagi tanpa mengetahui apa tujuan mereka yang sebenarnya.”
Reve berbalik dan menatap pak tua itu lewat sudut matanya, “jika menginginkan sesuatu yang besar, maka harga yang harus dibayar tidaklah murah. Tenang saja, cepat atau lambat anda pasti akan paham apa maksud perkataanku.”
Reve pun pergi meninggalkannya, sementara Toz membungkuk hormat hendak pamit pada pak tua itu. “Berhati-hatilah. Para dewa memiliki mata di mana pun kalian berada,” ucapnya pada Toz.
Toz tertegun, namun mengangguk sopan atas ucapan orang tua tersebut. “Terima kasih Tuan, aku ... tidak, kami akan selalu mengingatnya,” ucap Toz lalu menyusul langkah Reve.
Mereka berdua pun akhirnya kembali ke penginapan. Sesampainya di kamar, tampak Reve menatap datar pemandangan di luar kamar lewat jendela.
“Reve?”
“Apa kamu tahu Toz? Seseorang pernah mengatakan sesuatu padaku. Tak peduli, berapa banyak waktu telah berlalu, aku akan selalu mengingat ucapannya.”
__ADS_1
“Memang apa yang dikatakannya?” tanggap Toz penasaran.
Reve tersenyum, “jangan biarkan kesombongan memakan hasrat, karena terkadang merekalah pembunuh yang sesungguhnya.” Selesai mengucapkannya, Reve pun menyeringai ke arah Toz dengan tato aneh di wajahnya.