
“Nona Kagura,” panggil Trempusa. Mereka berdua, sedang dalam perjalanan kembali ke empusa. Tapi petinggi itu malah duluan tanpa mengacuhkan Raja yang dilayaninya.
Sehingga sang pemilik tahta, hanya bisa tersenyum kecut melihat sikapnya. Hal yang wajar karena wanita itu begitu tertekan atas sikap orang-orang di sekelilingnya.
Dia petinggi namun tak diikut sertakan dalam pertemuan setelah fakta yang terjadi. Lebih banyak terkurung di ruangannya dengan pengawal menjaga pintu masuknya.
Semua atas keputusan Blerda. Demi memastikan tak ada lagi kemungkinan pengkhianat yang akan mengancam rencana mereka. Sehingga sang petinggi terkesan diasingkan oleh semuanya.
Pasti berat bagi Kagura Masamune. Setelah insiden amukan Blerda yang terakhir, dia diancam akan dihukum mati. Kalau sampai fakta kerasukan garis murni siren tersebar keluar sana, maka Capricorn pasti akan mendatanginya.
Bagaimanapun demi keseimbangan, itu harus tetap rahasia dan hanya diketahui oleh pasang mata yang bersedia menutup mulutnya. Karena bagaimanapun juga siren tak boleh hancur hanya karena kutukan yang menimpa pemimpinnya.
“Akhirnya, setelah sekian lama aku kembali juga ke sini,” keluh Kers sambil merebahkan tubuhnya di ranjang. “Ah, anggurku mana? Revtel, tolong minta pelayan menyediakannya.”
Tapi, Wakilnya tidak menanggapinya dan malah melihat pemandangan di luar balkon kamar Rajanya.
“Revtel! Aku minta tolong, tapi kamu malah mengabaikannya. Dasar Wakil tidak berguna,” bisiknya di akhir kata. Berharap, laki-laki itu tidak mendengarnya.
Akan tetapi pintu kamar tiba-tiba terbuka dengan kehadiran seseorang yang tak asing bagi mereka.
“Tetua?” kaget Revtel karena pak tua itu datang dengan napas terengah-engah.
“Kalian, akhirnya kalian kembali juga.”
“Ada apa? Apa terjadi sesuatu?” tanyanya sambil mengambilkan kursi untuk sosok tamu mereka.
Sementara Hydragel Kers, malah menonton dengan tampang tak acuhnya. Merasa sebal sebab anggur kesayangan tidak ada di kamarnya.
“Kalian, apa kalian juga mendapatkan nubuat yang sama saat ujian kemampuan?”
Pertanyaan Tetua itu menyentak Revtel yang mendengarnya.
“Nubuat? Itu kan cuma mimpi Dewa Apollo,” sela Kers dengan santainya.
“Bagimu mungkin begitu, Nak. Tapi tidak untuk yang lainnya.”
“Apa ada masalah?” nada Revtel terdengar benar-benar serius sekarang.
Tetua itu pun mencoba mengambil napas berulang untuk menenangkan dirinya. Sampai akhirnya, kata tak terduga terlontar di bibirnya.
“Dengarkan aku baik-baik. Tetua empusa, sudah mengartikan maknanya. Dan mereka mengatakan kalau itu bencana yang akan disebabkan oleh para Raja muda serta petinggi yang berasal dari Hadesia.”
“Apa!” kaget Revtel mendengarnya. “Apa-apaan itu? Bagaimana bisa itu menjadi ulah kami?”
“Aku juga tidak percaya. Tapi sayangnya, mereka tetap bersikeras. Dan mengirimkan pesan ramalan ke seluruh bangsa-bangsa. Kalian para murid Hadesia, dalam bahaya saat ini juga.”
Dan suara berisik di depan istana merah menghiasi pemandangannya. Berasal dari sekumpulan bangsawan serta Tetua. Juga, rakyat yang tak menyukai Rajanya.
Mereka, meminta Blerda Sirena turun tahta akibat ramalan Dewa Apollo yang terlontar saat ujian kemampuan. Tentu saja, semua akibat campur tangan Tetua empusa.
Perbuatan mereka yang seenak hatinya mengartikan ramalan, justru berujung pada omong kosong untuk menurunkan para pemimpinnya.
Bahkan Trempusa yang baru saja kembali ke istana, terkena dampaknya.
“Yang Mulia, besok rapat antar bangsawan dan petinggi akan terjadi di aula. Anda diharapkan untuk menghadirinya.”
Sungguh pemegang sabit Dewa Kematian itu merasa frustasi. Dirinya syok atas ramalan aneh yang bertebaran dalam menyambut kepulangannya.
__ADS_1
Bagaimana bisa ramalan Dewa Apollo dikaitkan dengan bencana dari para murid Hadesia? Sosoknya tak habis pikir dan bertanya-tanya. Sebegitu bencikah orang-orang pada mereka?
Atau semua, karena rasa sakit di dada atas insiden yang pernah terjadi di sana. Kematian putra-putri bangsawan serta keturunan para Raja. Dan juga, tewasnya orang-orang terhormat dalam tragedi berdarahnya.
Mungkin orang-orang itu sudah mulai curiga. Bagaimanapun juga, pernyataan Blerda Sirena memang tak bisa diterima sepenuhnya.
Bagaimanapun banyak orang-orang harus kehilangan garis keturunannya sambil beruraian air mata.
“Ini semua salah Aza!” emosi Revtel di kamar Rajanya. Di sana, hanya ada dirinya dan juga Kers yang rebahan di ranjang. Tetua mereka, sudah pergi sebelumnya. “Andai dia tak memulai pertarungan, maka semua itu takkan pernah terjadi. Dia pemicunya, sudah jelas kalau dia yang harus disalahkan atas tragedi di Hadesia!”
Sementara Raja hydra, memilih diam mendengarkannya sambil memakan anggur di depannya.
“Mungkin, kita memang harus jujur pada semuanya. Tuduhan itu tidak main-main. Mereka berniat membunuh kita menggunakan ramalan yang ada. Sepertinya, memang hanya itu solusinya.”
“Revtel,” panggil Kers tiba-tiba. “Apa yang terjadi padamu? Biasanya kamu sangat bijak dan pintar. Tapi sekarang, kamu benar-benar bodoh luar biasa.”
Wakilnya itu terkejut mendengar ocehan yang begitu pedas dari mulut rekannya.
“Kamu bilang aku bodoh?” Revtel pun menyipitkan matanya.
“Apa aku salah? Itu kan hanya ramalan bukan kenyataan. Terserah orang-orang tak berguna itu mau berkata apa, faktanya kita tetaplah Raja dan Wakilnya.”
Tak habis pikir. Bagaimana bisa laki-laki di depannya begitu santai? Revtel tidak bisa memahami pernyataannya.
“Kita memang Wakil dan juga Raja, Kers. Tapi itu tidak mengubah fakta kalau banyak orang yang tak menyukai kita. Jika kita tidak melakukan sesuatu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Bisa saja tengah malam akan ada pisau yang menyayat leher kita berdua.”
Tapi, cuma kekehan pelan sebagai tanggapan Raja hydra atas pernyataannya.
“Lalu? Bukan berarti kita tidak bisa menghindarinya bukan? Ingat, Revtel. Bukan hanya Aza yang salah. Tapi kamu juga berdosa. Karena kamu, tak bisa mengendalikan es-mu sehingga membunuh semuanya.”
Terkesiap. Tanpa sadar laki-laki berkacamata itu mengepal erat tangannya. Merasa tersinggung akan ucapan adik seperguruannya.
Dan Revtel, hanya bisa menelan ingatan yang ada untuk tidak lagi mengganggunya. Karena bagaimanapun juga, semua memang seperti perkataan laki-laki di hadapannya.
Kalau mereka, jelas-jelas berdosa karena telah membunuh penghuni Hadesia dan membiarkan beberapa di antaranya meregang nyawa di depan mata.
“Yang Mulia?” sela Otama. Jujur dirinya sangat khawatir atas apa yang terjadi. Mengingat banyaknya penduduk siren menghujat pemimpinnya.
Tapi, tak terlihat kekhawatiran dari Blerda, selain tersenyum tipis melirik pemandangan di luar jendela.
“Ayo kita keluar, Otama,” ajaknya berjalan duluan.
“Yang mati tidak akan bisa hidup kembali,” lirih Heksar tiba-tiba. Dirinya sedang memegang surat yang dikirimkan oleh Tetua empusa. Berisi ramalan milik Dewa Apollo serta artinya bagi mereka.
“Kenapa anda berkata seperti itu?” tanya Barca Asera.
Mereka berdua, sedang berada di ruang peristirahatan Raja chimera.
“Karena para luwak tua itu, jelas-jelas ingin menjatuhkan Trempusa. Tapi mereka memakai nama Hadesia untuk menodai semuanya.”
“Anda berpikir begitu?”
“Memangnya apa lagi? Kita sama-sama tahu, kalau hampir semua bangsawannya punya dendam kesumat pada murid yang selamat dari sana. Aza Ergo, Trempusa dan juga si ular licin itu. Hanya mereka bertiga yang selamat, setelah banyaknya bangsawan dan keturunan Raja dikirimkan untuk mengikuti pelatihannya. Orang-orang buangan yang malah berdiri di tahta empusa.”
“Tapi Aza Ergo—”
“Dia murid Tetua bangsa gyges. Berhasil dinobatkan sebagai petinggi, setelah seminggu memasuki Hadesia. Dia mendapatkan tahtanya di umur sepuluh tahun. Bukankah dia sangat luar biasa?”
__ADS_1
Barca Asera pun terdiam mendengarnya.
“Tak ada satu pun yang tahu siapa orang tuanya. Kecuali dia dikenal sebagai anak berdarah empusa. Dan kemampuannya berhasil membuatnya unggul di depan semua murid Hadesia. Bahkan Thertera juga mengatakan hal serupa. Tapi yang jadi masalahnya, kenapa tak ada satu pun yang mampu menyentuhnya? Trempusa jauh lebih berkuasa darinya, namun empusa seperti takut kepadanya. Bagaimana menurut anda?”
Dan pak tua penjual rongsokan itu mengalihkan tatapannya sekilas. “Kamu mencurigainya.”
“Dia dan Kers yang membawakan informasi para pengkhianat. Blerda mengadakan pertemuan. Mereka bertiga, sama-sama berasal dari Hadesia.”
“Apa yang ingin kamu katakan Heksar?”
“Para pengkhianat, berasal dari siren dan empusa.”
“Jangan aneh-aneh Heksar. Bahkan ada juga pengkhianat yang berasal dari bangsa kita.”
“Tak ada pengkhianat dari bangsa kurcaci.”
“Sepertinya karena terlalu banyak informasi, otakmu jadi kacau. Lebih baik kamu istirahat, karena pertemuan baru besok dilakukan.”
Tapi, Heksar justru memandang lekat surat di tangannya. Raut wajahnya yang menyebalkan terlihat serius di mata petingginya.
“Dengar, Nak. Terlalu curiga boleh tapi jangan sampai mengurangi kepercayaanmu pada rekan-rekanmu. Jangan lupa, kalau siren bahkan sudah kehilangan salah satu petingginya karena ini semua. Dan kamu sekarang, malah mencurigainya?”
Kalimat lanjutan Barca Asera pun menyentak hati Raja mudanya. Membuatnya menyipitkan mata, sehingga penontonnya kian heran melihat ekspresinya.
“Aneh.”
“Apa lagi?”
“Seingatku, saat aku mendapatkan informasi Aza Ergo. Bukankah anda bilang Revtel yang akan menjadi Raja? Kenapa malah bocah seperti Kers duduk di singgasananya?”
Pak tua itu pun terkesiap mendengarnya.
“Mereka sama-sama dari Hadesia. Tunggu, bukan, bukan itu!” kagetnya.
“Heksar kamu kenapa?!”
“Bagaimana mungkin aku bisa lupa?!”
“Heksar ada apa?” Pak tua itu mencoba menenangkan laki-laki yang tampak panik itu.
“Bragi Elgo! Dia pernah mendatangi kakekku. Bukan hanya dia, ada Revtel juga—”
“Ya lalu kenapa? Kenapa kamu sepanik itu?!” tanya Barca Asera ikut tegang karena ekspresi Rajanya.
“Mereka mendatangi kakekku, bersama Hydragel Kers yang sudah mati saat itu.”
Dan pernyataannya, berhasil membungkam pak tua itu untuk tidak bersuara.
Sementara di istana bangsa hydra terlihat seseorang sedang mandi di dalam kolam bunga namun berisi darah sebagai airnya.
Sesekali bunyi lahapan yang cukup berisik menemani penghuninya. Di mana sosok Raja muda sedang menikmati anggur di dalam mulutnya.
“Aroma dunia mengambang di udara, pisau-pisau di jalanan, suara bagai hujan, gerbang kelam mulai terbuka, kristal biru memekarkan bunga, amukan merah dari tiga taring, dan juga kegelapan yang bersemi.”
“Kenapa artinya tidak asing begini? Sepertinya, kalian masih mengira kalau aku benar-benar hilang ingatan ya? Mau bagaimana lagi. Karena itu mimpi Apollo, maka biarkan saja terjadi. Mungkin memang sudah saatnya bagi kegelapanku untuk menari di sini.”
__ADS_1