Death Game

Death Game
Anak laki-laki berwajah hancur


__ADS_3

Sekarang hening menerpa mereka. Masing-masingnya lenyap dalam pemikiran sendiri. Betsheba bingung harus berkata apa, karena sang murid sudah tak ada lagi.


Keputusan selanjutnya hanya ada pada tangan dua anak kecil di depannya.


“Karena kalian sudah tahu, selanjutnya apa rencana kalian?”


Aza Ergo tak melirihkan apa-apa. Seolah menunggu Laravell untuk bersuara. Sampai akhirnya, kalimat tak terduga terlontar dari mulutnya dan mengejutkan mereka.


“Aku titip adikku pada anda.”


“Maksud Kakak apa?”


Laravell pun tersenyum pada adiknya. Dielusnya kepala Aza sambil tangan perlahan memeluknya.


“Ikutlah dengan Kakek itu, Aza.”


“Bukankah ini rumah kita? Kenapa kita harus ikut dengannya?”


“Tidak ada. Lupakan saja. Ini sudah tengah malam. Ayo tidur, Aza,” dan ia pun mengajak sang adik memasuki rumah mereka.


Jujur saja, Tetua gyges itu tidak tahu apa maksud putra pertama muridnya. Dia masih anak-anak namun energi yang ia miliki sangatlah berbeda.


Seperti seorang Raja namun berwujud bocah di matanya.


“Sialan! Pelatihan macam apa itu?!” kesal Pangeran pertama sambil menendang meja di ruang asramanya.


Amarah dari keturunan Raja hydra itu hanya ditatap santai orang-orang yang satu ruangan dengannya.


Wajar saja dirinya marah, mengingat hampir separuh tubuhnya mengalami memar akibat melawan salamander beracun yang menggila.


“Sepertinya, sebelum keluar dari sini mungkin saja kita sudah mati,” Kers pun melirik tangannya.


Terluka. Tak diobati para guru di Hadesia. Walau ada yang menjadi elftraz (penyembuh) mereka seperti tidak sudi mengobati murid-muridnya.


Hanya ucapan selamat beristirahat yang disenandungkan oleh para pelatih di sana. Sungguh menyebalkan rasanya.


Beberapa saat kemudian, Blerda pun terjaga dari tidurnya. Rasa sakit di tubuhnya, memaksanya keluar kamar. Sehingga langkahnya terus menjauhi asrama demi mencari angin segar.


Semakin pijakan dilanjutkan, tubuhnya kian terbawa menuju danau indah yang menjadi salah satu destinasi terbaik di Hadesia.


Tapi, apa yang ia dapatkan bukanlah ketenangan. Tangisan seorang anak, sebaya dirinya menyandarkan dahi pada salah satu pohon besar di pinggiran danau.


Begitu memilukan isakannya, entah apa yang terjadi namun Blerda Sirena hanya diam menatapnya.


Sampai akhirnya sosok cengeng itu melirihkan kata ibu dan ayah di sela-sela uraian air mata. Mungkin dia merindukan kedua orang tuanya.


“Jika tidak sanggup kamu bisa pulang ke rumahmu,” tanpa bisa dihentikan sosok muda siren itu pun bersuara. Mungkin Blerda jengah, akibat cukup lama mendengar tangisannya.

__ADS_1


Perlahan, anak yang itu berbalik. Menatap ke arahnya akibat ucapanya.


Tersentak. Blerda terdiam. Saat menyaksikan hal mengerikan di depan matanya. Seorang anak laki-laki namun hancur wajah bagian kanannya. Bahkan mulutnya robek sambil meneteskan darah ke dagu.


Tubuhnya bergetar akibat tontonan mengerikan itu. Tanpa sadar ia berlari ke arahnya dan memegang lengannya.


“Apa yang terjadi? Kenapa wajahmu hancur seperti ini?”


Tapi, masih saja isakan pelan terlontar dari mulut anak laki-laki di depannya. Sampai akhirnya mereka dikejutkan dengan umpatan yang berkumandang tak jauh dari sana.


Tanpa keraguan anak itu menarik tangan Blerda dan bersembunyi di balik batu besar yang lumayan jaraknya dari pohon tempatnya tadi.


Semakin lama suara pendatang itu terdengar tidak asing bagi Blerda, walau sesekali matanya melirik rupa rusak anak laki-laki di sebelahnya, tapi fokusnya akhirnya tertuju pada dua sosok yang mengejutkan dirinya.


Quisea Sirena dan Solea Ganymede. Dua guru besar itulah yang muncul di sana.


Akan tetapi, dua bungkusan besar yang diselimuti tanaman merambat di tangan mereka pun menyita perhatian kedua anak itu.


Sampai Solea pun membatalkan mantra elftraz (penyembuh) miliknya dan mulai memperlihatkan apa isi bungkusan di tangan mereka.


Mayat yang sudah dimutilasi.


Itulah perwujudan bawaan keduanya. Blerda menatap tak percaya, syok mendera dan tubuhnya bergetar hebat menyaksikan semuanya.


Tanpa keraguan dua guru besar itu memasukkan potongan mayat-mayat tersebut ke dalam danau di depan mereka. Sambil salah satunya tertawa dan pendengar bulu kuduknya berdiri melihatnya.


“Mayat yang ke berapa?”


“Wah, sepertinya Tuan danau akan berpesta ya,” kekeh Solea. Dijilatnya jejak darah di tangan, membuat Blerda ingin muntah namun dibungkam sosok di sebelah dengan tangannya.


Anak laki-laki itu menggeleng agar dia tidak bersuara.


“Kalau seandainya kita ketahuan bagaimana?”


Quisea pun melirik Solea yang bertanya. “Jangan tanyakan sesuatu kalau kamu sudah tahu apa jawabannya.”


“Tapi, bukan berarti takkan ada yang kabur kan?”


“Ada ilusi di pinggir area, bahkan makhluk buas juga dibiarkan berkeliaran dengan bebas di sana. Tak ada satu pun yang bisa kabur dari sini kecuali mati,” selesai mengatakan itu Quisea pun pergi meninggalkan rekannya.


Membuat Solea menatap lekat punggung wanita itu sambil diiringi suara helaan napas pelan. Perlahan diikutinya langkah temannya, membiarkan bungkusan mayat tertinggal di sana.


Sementara dua saksi masih duduk gemetaran di tempat persembunyian mereka. Blerda memeluk erat tubuhnya sendiri akibat takut yang dirasa.


Tak menyangka jika tempat pelatihan yang di datangi ternyata mengerikan seperti ini.


“M-mereka, murid-murid yang terluka parah,” gumamnya.

__ADS_1


Dan anak laki-laki di sebelahnya, hanya mengangguk kepadanya. Perlahan menyentuh wajah rusaknya sambil meringis kesakitan.


“Wajahmu, apa mungkin mereka yang melakukannya?”


Anak itu menggeleng. “Lebih baik kamu kembali. Karena kalau sampai ketahuan, kamu mungkin akan berada dalam bahaya.”


“Bagaimana bisa aku kembali? Aku bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini! Mayat-mayat itu murid-murid di sini! Mereka, bagaimana bisa mereka mati? Padahal aku melihat sendiri kalau anak-anak itu—”


“Sudah dua hari.” Blerda pun terkesiap mendengarnya. “Sudah dua hari mereka melakukan itu. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi satu hal yang pasti. Mereka mungkin merencanakan sesuatu di tempat ini.”


Putri dari siren itu pun meneguk saliva kasar mendengarnya. Keringat dingin jelas-jelas sudah membasahi tubuhnya.


Perlahan, anak laki-laki di sampingnya menyentuh bahunya. “Di mana asramamu? Aku akan mengantarmu.”


“Itu—”


“Ayo!” ajaknya sambil menarik tangan Blerda.


Mereka pun menyusuri jalan yang sangat berbeda di bandingkan sebelumnya. Seperti hutan dan berbau aneh di sekitar sana.


Cukup gelap walau ada secercah sinar sama menjadi penerangan mereka. Namun sejujurnya itu tidak berarti apa-apa.


“Apa kamu murid di sini?” Anak itu pun menggeleng. “Lalu kamu siapa?”


Tak ada jawaban. Sampai akhirnya mereka tiba di dekat pohon besar yang begitu rindang penampakannya.


“Ayo,” ajak anak itu sambil memanjat pohon di depannya. Jujur saja, Blerda kaget. Jalan ini begitu berbeda. Dia merasa seperti penyusup yang masuk ke sana. Melewati jalanan sepi tanpa pencahayaan sama sekali. “Lorong mana?”


Blerda pun menunjuk ke arah kanannya.


Dan tak lama kemudian mereka pun tiba di pintu masuk asrama gadis itu. “Masuklah. Karena sebentar lagi akan ada guru besar yang patroli.”


“Bagaimana bisa kamu tahu?”


“Abaikan itu. Jangan keluar lagi. Karena mereka takkan segan-segan membunuh siapa pun yang berkeliaran di malam hari.”


“Tunggu!” cegat Blerda saat anak laki-laki di depannya akan pergi.


“Kamu siapa?”


“Thertera. Namaku Thertera Aszeria.”


Lalu sosoknya lari terburu-buru dari sana. Tentunya itu mengundang tanda tanya sekaligus cemas Blerda Sirena. Mengingat kondisi wajah anak tersebut tidak baik-baik saja.


Sepertinya dia harus mencari tahu semuanya.   


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2