Death Game

Death Game
Aligator


__ADS_3

 


Tak ada yang bersuara. Langkah Bragi Elgo, Hydragel Kers, serta Revtel Elkaztas, dihiasi mulut diam di masing-masingnya.


Mereka bertiga berlalu menuju Hadesia. Di mana kedua murid itu akan kembali melaksanakan pelatihan di sana. Sementara sang Raja empusa, sosoknya jelas ingin menemui putra Maximus yang merupakan keponakannya.


Sementara di tanah chimera, Heksar dirundung kekesalan yang luar biasa. Padahal sosoknya merupakan cucu Raja, tapi tak bisa membantu Thertera dalam mendapatkan air suci untuk menyembuhkan luka luar dan dalamnya.


Terlebih parahnya lagi, insiden mengerikan baru saja menimpa temannya itu. Eksekusi mati, atas permintaan para Tetua akibat kesalahan ayah dan ibu Thertera. Di mana keduanya mencuri air suci di rumah salah satu bangsawan paling terhormat di sana.


Padahal semua dilakukan demi penyakit putra kesayangannya. Dan Thertera hanya bisa meringkuk di rumahnya sambil menangis beruraian air mata.


Tapi nyatanya, dia ada di tanah pemakaman orang tuanya. Memeluk gundukan itu sambil meneteskan kristal bening di pipinya.


Bahkan jika luka ditubuhnya mulai menguarkan aroma busuk, ataupun batuk tersemburkan dari dalam mulutnya, nyatanya sosoknya benar-benar hancur tak bersisa.


Sampai akhirnya keberadaannya pun tak ditemukan lagi di sana saat dicari kakek angkatnya. Thertera menghilang tanpa kabar sehingga menggemparkan orang-orang yang membutuhkan sosoknya.


Akhirnya, tiga orang sebelumnya sampai juga di tanah Hadesia. Walau pelatihan sudah berlanjut di sana, namun sosok mereka memaklumi keterlambatan dua muridnya. Mengingat informasi mengerikan yang menimpa Kers dan Revtel sudah sampai ke telinga.


Dan keduanya pun disambut dengan ekspresi aneh oleh teman-teman di asramanya.


“Revtel, Kers, kalian—” tapi kalimat Orion langsung terpotong akibat putra Hydrea berlalu melewatinya. Memasuki kamar tanpa kata dan membuat orang-orang bersimpati melihatnya.


Bagaimanapun juga, berita kematian ibu keduanya memang sudah umum di sana. Walau semuanya takkan tahu dengan benar apa yang terjadi sebenarnya.


Di satu sisi, Bragi Elgo terkesiap melihat pemandangan di depan matanya.


Seorang anak laki-laki, tegas garis rahangnya, menawan penampilannya berdiri tegak di depannya.


Tanpa aba-aba dipeluknya Aza Ergo akibat perasaan di dada. Bersalah dan rindu bercampur aduk di dalamnya. Mengingat sosok yang sudah seperti cucunya sendiri berdiri tepat di hadapannya.


Esoknya, pelatihan terburuk terjadi lagi. Di dalam danau, di mana di sana terdapat makhluk yang menakutkan dan sudah tersohor namanya.


Aligator.

__ADS_1


Banyak jumlahnya, namun hanya satu yang benar-benar menakutkan bagi semuanya.


Di mana yang paling buas memiliki berlian biru di kepala. Besarnya bahkan melebihi seekor gajah.


Dan hewan itulah yang harus dibunuh para murid dengan memasukinya. Benar-benar ujian gila menurut mereka, namun para guru meyakini kalau hewan tersebut takkan membunuh anak didiknya.


Terlebih lagi semuanya sudah mengikuti ujian kemampuan dan mendapatkan cincin masing-masingnya.


Pertarungan langsung adalah yang terbaik di mata para guru Hadesia. Tentu saja Bragi Elgo serta Komandan Ksatria Kerajaan empusa juga hadir di sana. Mereka berniat menonton langsung seperti apa kemampuan Azkandia yang tak lain Aza Ergo sang penipu.


“I-itu!” pekik cucu Tetua chimera. Dirinya benar-benar terbelalak melihat siapa yang ada di depan matanya. “Bagaimana bisa kau ada di sini? Seharusnya kau—”


Tapi, sosok yang dibicarakan hanya melirik tenang ke arahnya.


Thertera Aszeria.


Di sebelahnya berdiri Lascazio Hybrida. Tentunya sosok berkulit eksotis itu tersenyum pada putra Tetua chimera yang tampak marah melihat anak di sampingnya.


“Sepertinya, dia sudah mengiramu mati.”


Namun kalimatnya diabaikan Thertera. Dia yang datang ke Hadesia dalam keadaan terluka parah, dihina habis-habisan dan bahkan ditatap buruk oleh Quisea Sirena serta Lorgia Asqeral. Mengingat sosoknya bukanlah murid sah Hadesia dan cuma pengawal salah satu anak didik di sana. 


Tiadanya tempat berteduh ataupun makanan menjadi harga yang harus dibayarkan olehnya. Suatu keberuntungan karena Lascarzio dan Blerda mau berbagi dengannya.


“Mulai!” perintah Remus Eterno pun terpaksa membuat semua murid masuk ke dalamnya.


Baru menginjakkan kaki di sana, teriakan berkumandang dari anak-anak yang diserang aligator tanpa iba.


Danau itu tidaklah dalam. Hanya sedada mereka. Tapi, percikan pertarungan telah terjadi di sana.


Dan banyak yang menangis ingin keluar dari tempat itu. Sayangnya, tanaman merambat Solea Ganymede serta Belze Brask membatasi pinggiran. Sehingga akan sulit bagi mereka untuk beranjak dari area pertarungan.


Air danau telah memerah, entah darah milik siapa telah bercampur di sana. Nyatanya memang ada anak-anak yang mengambang tubuhnya.


“Mereka, apa mereka baik-baik saja?”

__ADS_1


“Tenang saja,” lirih Remus Eterno pada Komandan Kerajaan empusa. “Makhluk itu sudah diberi perintah agar tak membunuh siapa pun juga. Dan luka yang ada pasti bisa disembuhkan oleh elftraz (penyembuh) jadi kalian tidak perlu cemas.”


Tapi, sorot mata Bragi Elgo masih belum beranjak dari Aza. Di mana anak itu berusaha keras membunuh semua aligator yang mendatangi dirinya.


“Luar biasa,” gumam Ireas Masamune tiba-tiba. Tentunya, kalimatnya pun mengundang tatapan heran Jascuer Alcendia yang berdiri di dekatnya.


“Apanya?”


“Di antara semua murid, hanya Azkandia yang membunuh banyak aligator.”


Dan perkataannya pun membuat semua guru besar menatap murid Betsheba Voskha. Sungguh luar biasa, di saat murid lainnya hanya mampu membunuh dua atau tiga monster di danau itu, sosoknya bahkan membantai belasan tanpa iba.


Dengan benang merah yang berputar cepat mengelilingnya sehingga para aligator kesusahan mendekatinya.


Nyatanya, kemampuannya bukan hanya itu saja.


“Tuan,” gumam Komandan Ksatria Kerajaan empusa pada Rajanya. Jelas bagi Bragi Elgo apa arti panggilannya. Kalau sosok Aza merupakan murid terkuat di tanah Hadesia.


“Kers!” panggil Revtel tiba-tiba.


Nyatanya sang adik sepupu hanya tersenyum melihat pertarungan di depannya. Walau berada dalam air, namun tak satu pun dari aligator mendekatinya.


Tentu saja hal tersebut mengundang heran August Belmera saat melihatnya. “Apa perasaanku saja, atau memang tidak satu pun dari aligator menyerangnya?” tangannya pun menunjuk Kers yang berdiri diam.


“Sepertinya, banyak murid dengan kemampuan luar biasa ya,” kekeh Bartigo Aertia.


Sampai akhirnya, hempasan kasar menghentakkan air danau. Begitu keras hempasannya, bahkan menyapu paksa para murid untuk terlempar ke tepian.


Sang Aligator terbuas.


Telah muncul di sana, dengan kilauan biru menyala di kepala. Tubuh mereka yang ketakutan seketika menegang dan tak bisa digerakkan. Terlebih saat hewan itu membuka mulutnya untuk memamerkan gigi mengerikannya.


Tapi, siapa yang bisa mengira justru api tersembur di dalamnya.


Seketika pekikan keras berkumandang dari para murid yang berada dalam jangkauannya.

__ADS_1


“Brengsek!” kesal Pangeran pertama bangsa hydra.


 


__ADS_2