
Tapi di saat bulan merah dan putih yang entah kapan akan menyatu lagi penampakannya, pesona awan justru menutupi sinar mereka.
Sehingga sensasi gelap menghantam lokasi yang tak mendapatkan cahayanya walau cuma sementara.
Di satu sisi, Revtel perlahan terjaga. Akibat tiadanya sosok sang ibu yang seharusnya tidur bersamanya.
Ya. Dia anak laki-laki yang masih menghabiskan hari di ranjang dengans sosok cinta pertamanya.
“Ini benar-benar keterlaluan.” Dan sang pendengar hanya bisa tertunduk sambil beruraian air mata. “Mereka sudah sangat keterlaluan. Bukan hanya kamu yang menderita, tapi Hydrea juga tersiksa. Aku benar-benar tidak tahan melihat kondisi kalian berdua.”
“Aku mohon, Kakak. Tolong biarkan saja. Bagaimanapun ini salahku sehingga Hydrea juga terluka. Jadi aku mohon, Kakak jangan lakukan apa pun demi kami berdua. Aku mohon ...” pinta ibu Revtel pada saudaranya.
Tapi, justru tangan terkepal serta gigi menggertak sebagai balasan awal dari kakaknya. “Bagaimana bisa aku diam saja?! Lihat penampilanmu Revrea! Lihat! Kamu disiksa oleh Ratu dan Permaisuri bajingan itu! Dan kamu ingin aku diam saja?! Kamu pikir aku tidak tahu kalau selama ini mereka suka sekali menyiksa?!”
Wanita itu pun terkesiap mendnegar nada tinggi sosok di depannya. “Kak! Revtel sedang tidur.”
“Cih!”
Revrea pun memasang tampang cemas karena takut kalau putranya terjaga. “Walau ini menyakitkan, tapi aku cukup bahagia. Karena masih memiliki tempat sehingga kita bisa bersama.”
Akan tetapi, justru tawa pelan yang disemburkan kakaknya. “Kamu cukup bahagia?” sindirnya. “Lalu bagaimana dengan anakmu? Apa Revtel akan bahagia jika tahu ibunya sering disiksa istri-istri keparat ayahnya itu? Apa Hydrea senang ikut terluka bersamamu? Apa kamu pernah memikirkan itu? Apa kamu pikir aku bisa tersenyum saat mendapati adik-adikku babak belur akibat wanita-wanita jal*ng itu?”
“Kak!” kaget Revrea mendengar ucapannya.
“Dengar adikku! Lebih baik aku dicap sebagai pengkhianat terburuk daripada melihatmu dan Hydrea tersiksa seperti itu! Karena aku bukan orang berhati lapang untuk diam ditindas seperti itu! Pikirkan perkataanku! Karena jika sekali lagi aku mendapatimu seperti itu, akan kubakar seluruh daratan hydra karena sudah mengusik kebahagiaan keluargaku! Ingat itu!”
Dan selesai mengatakannya, kakaknya pun pergi dari sana. Revrea hanya bisa menangis sesegukan akibat sedih yang dirasa.
Menyakitkan rasanya. Sebab berada di posisi tak bisa melakukan apa-apa. Karena ia sadar akan efek samping yang akan di dapatkan kalau sampai memberontak akibat penindasan dari Ratu dan Permaisuri di tanah hydra.
Mengingat sosoknya hanya seorang selir yang tak dianggap lagi oleh sang Raja.
Tapi, dunia memang takkan sebaik itu untuk mereka yang dilukiskan tersiksa oleh takdirnya.
Hydragel Kers. Langkahnya dihadang oleh Pangeran pertama. Sosok angkuh yang suka mengganggunya.
“Mau ke mana kau anak pembantu?”
Sontak saja raut wajah anak itu berubah mendengarnya. “Ibuku bukan pembantu.”
“Benarkah? Bukankah Ibumu bawahan orang tuaku?” kekehnya sambil mencengkeram wajah Kers.
__ADS_1
“Lepaskan aku!”
“Wah!” kaget sang Pangeran akan respons bocah di depannya. “Apa kau lihat ini?” kekehnya. Sebuah cincin berwarna ungu menghiasi jarinya. “Kau tahu apa artinya?”
Kers meneguk saliva kasar. Merasa waspada akan kemungkinan yang akan dilakukan bajingan di depannya.
“Kenapa kau diam saja? Jawab!” tiba-tiba ia mendorong anak itu tanpa aba-aba. Sehingga Kers terjatuh ke belakang dan meringis akibat telapak tangannya agak terluka. “Cih! Dasar bocah tidak berguna!”
Dan akhirnya sebuah tendangan pun ia layangkan ke wajah bocah hydra sehingga ia terjungkal ke belakang.
Tawa pun pecah dari dalam mulutnya. Begitu puas melihat Kers yang sangat tersiksa. Sampai sebuah pukulan pun langsung membungkam keduanya.
Di mana pukulan Revtel, mengenai tepat wajah Pangeran pertama yang merupakan kakaknya.
“Kau!”
“Apa-apaan ini?!” suara seseorang pun mengalihkan perhatian semuanya.
“Ibu!” teriak Pangeran pertama kepadanya. Dengan tampang seolah sangat terluka, ia peluk wanita itu sambil beruraian air mata. “Ibu, lihat apa yang dilakukan Revtel kepadaku. Padahal aku hanya ingin mengajaknya main, tapi dia malah memukulku. Lihat Ibu, lihat!” tunjuknya pada pipinya.
Dan hal itu berhasil membuat Revtel serta Kers terkesiap.
Tapi, sebuah tamparan tanpa iba di daratkan ke pipi Revtel yang bersuara. “Dasar anak kurang ajar! Berani-beraninya kau memukul Pangeran? Kau pikir kau siapa?! Kau cuma anak haram di sini! Seharusnya kau itu tahu diri!” marah Ratu.
Revtel yang merasakan sakit di pipinya, menatap tak percaya pada wanita di depannya. Tampak olehnya, guratan kemarahan terlukis di sana. Bongkahan kebencian juga tertulis di diri Ratu yang menatap tajamnya.
“Ibu,” panggil Pangeran pertama. Tapi ekspresinya justru seperti meledek Revtel yang tersiksa.
Sampai akhirnya, sang Ratu pun menjambak rambut anak itu dengan kasarnya.
“Agh!”
“Revtel!” pekik Kers yang kaget melihatnya.
“Berani-beraninya kau melihatku seperti itu?! Kau dan ibumu seharusnya mati saja karena sudah menodai kerajaanku!”
Dan tangannya pun langsung mendorong Revtel sehingga jatuh menyentuh tanah. Sepertinya ia sangat murka, sampai kakinya terangkat dan hendak menginjak kepala anak haram suaminya.
Tapi, serangan itu justru berhasil ditahan Kers yang mencoba melindungi kakak sepupunya. Perlahan, wajahnya pun menoleh dan menatap marah pada Ratu di depannya.
“Kers! Revtel!” pekik Hydrea yang kebetulan melintas tiba-tiba. Bahkan di sisinya juga ada Revrea.
__ADS_1
Tentunya, selir Raja itu terkesiap dan beruraian air mata mendekati mereka.
“Apa-apaan ini? Apa yang anda lakukan pada mereka?!”
Sang Ratu pun meradang akibat bentakan tiba-tiba. Dan tangannya pun tanpa sadar terangkat hendak menampar Hydrea yang bersuara.
“Ibu!” teriak Kers tiba-tiba.
Tapi, pemandangan tak terduga justru terjadi. Bukan ibunya yang dihadiahi pukulan di pipi melainkan bibinya.
Ibu dari Revtel, menggantikan adiknya untuk menerima amarah sang Ratu yang ringan tangan pada keluarganya.
Perlahan ia menggeleng pada sosok agung di depannya.
“Yang Mulia. Maafkan mereka. Maafkan adikku. Aku mohon tolong maafkan kami semua. Aku mohon tolong maafkan kami,” sahut Revrea tanpa bertanya terlebih dahulu apa permasalahannya.
“Ibu,” gumam Revtel yang menatap tak percaya.
“Maaf? Asal kau tahu saja. Putramu dengan lancang sudah berani memukul Pangeran pertama. Kau pikir, aku akan memaafkan anakmu begitu saja?”
“Bohong! Itu semua bohong!” sela Kers tiba-tiba. “Dia duluan yang memukulku! Dia begitu karena Revtel hanya membantuku! Dia berbohong! Pangeran itu berbohong! Dia pembohong karena cuma ingin menyakiti kami berdua!”
“Kau!” geram sang Ratu mendengar lirihannya.
Tapi tiba-tiba Revrea justru membungkuk memohon pengampunan pada sosok agung di hadapannya.
“Tolong maafkan Kers, Yang Mulia. Dia hanya anak-anak. Tak peduli apa pun yang terjadi antara Kers dan Revtel dengan Pangeran pertama. Hamba mohon ampuni mereka berdua, Yang Mulia. Hamba mohon,” pintanya sambil beruraian air mata.
Tentu saja, hal itu mengundang rasa menyakitkan bagi Hydrea dan juga putra serta keponakannya. Saat melihat Revrea merendahkan tubuhnya sambil menangis demi kebaikan anak dan keponakannya.
Nyatanya, justru seringai yang diberikan sang Ratu juga Pangeran pertama pada mereka.
“Baiklah. Aku akan memaafkan tindakan putra dan juga keponakanmu. Sebagai gantinya, nanti malam datanglah ke ruanganku. Mengerti?”
“Mengerti, Yang Mulia.”
“Bagus. Ayo, Nak. Tak ada gunanya lagi kita bersama dengan para makhluk kotor ini.”
Kalimat Ratu barusan, jelas-jelas menyakiti hati pendengarnya. Sosoknya yang pergi bersama dayang-dayang, ditatap tajam Hydrea serta Kers.
__ADS_1