
Sepertinya, pertarungan yang sesungguhnya akan dimulai.
“Sif,” panggil Aegayon tiba-tiba. Laki-laki itu pun menatap lekat ke arahnya. “Siapa?”
“Ayahmu,” ucapnya tanpa keraguan dan menarik pedang yang memiliki desain serupa dengan punya Reygan Cottia.
“Kau sudah memutuskannya ya,” sang Raja gyges tersenyum tipis karenanya.
Sif Valhalla pun mulai mencengkeram erat gagang pedangnya. “Sayang sekali. Tapi, memang sudah menjadi tugas kita untuk menghukumnya. Bukankah itulah artinya? Menjadi murid dari gyges terkuat di dunia guide.”
“Kau benar,” sosok bertubuh ringkih pun berdiri dari duduknya. Ikut menarik senjatanya, dan tiba-tiba Sif Valhalla menghilang begitu saja. Menimbulkan keterkejutan Laraquel Hybrida yang masih menyaksikan mereka.
“Kalian,” gumamnya.
Dan bunyi keras akibat hantaman senjata yang beradu pun memekakan telinga pendengarnya. Reve terkesiap akibat gangguan muncul tiba-tiba di sela-sela serangannya.
“Orang itu,” kagetnya.
Sif Valhalla. Dialah pengganggu yang mengacaukan pertarungan Reve Nel Keres dengan Reygan Cottia.
“Akhirnya. Apa kau akan mulai serius?” sang penyimpang tertawa di akhir kata.
“Ya. Ayo, Guru,” sambil memainkan pedang, serangan tak terduga pun menggores salah satu wajah Reygan Cottia. Dirinya tersenyum dengan tangan mengusap luka di pipinya.
“Sang ksatria sunyi, aku menantikan seni pedangmu, Sif Valhalla.”
Pujian aneh itu pun membuat laki-laki itu mengernyitkan dahi menatap gurunya. Tak butuh waktu lama baginya melancarkan serangan lanjutan. Namun sosok-sosok yang tak mengenal dirinya jelas kagum pada keahliannya.
Karena bagaimanapun juga di antara para pemegang kunci, sosok dari bangsa hydra itu merupakan pemilik seni pedang terindah di dunia Guide. Setiap gerakannya seperti dedaunan yang berjatuhan. Tebasannya melambangkan musim gugur dalam keheningan. Dan dampak serangannya begitu menakutkan untuk orang yang tak memahaminya.
Tapi sayang, bagaimanapun juga Reygan Cottia lah pemoles keahlian muridnya. Bersamaan dengan pedang Sif yang berhasil ditepisnya, senjatanya pun berhasil melukai wajah laki-laki itu. Andai refleksnya tidak cepat, bisa dipastikan lehernya lah korban keganasan gurunya.
Sif Valhalla pun mundur beberapa langkah untuk mengambil senjatanya.
“Kau anak yang pemalas. Kenapa tidak tidur saja?” Reygan menatap hangat muridnya. “Bahkan tak ada nilai-nilai keadilan dalam dirimu, Sif Valhalla. Kenapa kau juga ikut menentangku?”
Hening pun berkumandang tiba-tiba. Butuh beberapa saat bagi sosok dari bangsa hydra untuk menjawabnya. Perlahan Sif menggerakkan maniknya, untuk menyapu pandangan di sekitar.
Dan tatapannya pun berhenti pada Castroz Keres yang mengenaskan kondisinya. Untung saja rekan seperguruannya itu sedang diobati elftraz (penyembuh) di ujung sana.
__ADS_1
“Sejujurnya, aku juga tidak ingin melawanmu.”
“Lalu?” tatapan Reygan pun berubah menekan.
“Tapi aku juga tidak bisa membenarkan tindakanmu. Karena bagaimanapun juga, kau sudah melukai perasaan temanku.”
“Bahkan jika aku gurumu?”
“Ya. Bahkan jika kau guruku dan sudah seperti orang tua bagiku. Aku tetap tidak bisa mengampunimu. Karena itu, aku mengarahkan pedang ini kepadamu. Karena aku, sangat menyayangimu dan juga teman-temanku.”
“Sayang sekali. Padahal kukira kau bisa memahami aku,” Reygan pun mengangkat senjatanya.
“Maafkan aku, Guru.”
Dan Sif Valhalla pun melancarkan serangan kasar dalam satu kali ayunan. Bersamaan dengan Reygan Cottia, tekanan dari dua pedang yang serupa pun menghempaskan angin kasar ke sekitarnya.
Tak ada kesempatan bagi Reve untuk ikut ambil bagian. Padahal dia sudah berniat membunuh sang penyimpang yang sudah memusnahkan bangsanya.
Sementara Xavier Lucifero memilih membantu Kers bersama Aegayon Cottia. Di hadapan mereka, telah berdiri Leduo Perseus, juga Jion, dan Ellio.
“Dua anak manusia. Apa kalian ingin mati?” tanya Xavier tiba-tiba.
Sampai ucapan Kers mengejutkan sosoknya.
“Kalau kau khawatir, silakan pergi. Perang ini bukan untuk anak baik seperti dirimu,” Raja hydra mengangkat sebelah alisnya saat memandang pemuda itu.
Ellio tersentak. “Khawatir? Kau meremehkan kami?” Jion menatap tak suka ke arahnya.
Sementara Leduo Perseus ikut melirik dua pemuda di sampingnya. “Sebaiknya kalian menjauh. Karena ini pertarungan berbahaya.”
“Lho, bukannya anda bilang kalau aku harus membantu? Dengan begitu aku punya kesempatan untuk menjadi pemimpin manusia di sini.”
Kalimat Jion pun membuat Kers juga Xavier tersenyum remeh jadinya.
“Pemimpin manusia?” sang Raja pemakan anggur memiringkan kepala. “Luar biasa. Di antara banyaknya manusia yang kutemui, kaulah yang paling bermulut besar. Orang tuamu pasti bangga mendengar itu.”
“Tutup mulutmu, Keparat! Aku tidak bicara padamu!” begitu congkak sikap Jion kepadanya. Mengingat baginya, pak tua yang sudah berubah menjadi pria perkasa di sisinya adalah sosok paling hebat di sana.
“Aku tak tahan dengan mulutnya. Akan kubunuh dia,” tekan Xavier akhirnya. Tangannya tiba-tiba terangkat dan diarahkan pada Jion begitu saja.
__ADS_1
Membuat sang pemuda tersentak. Apalagi saat gelombang aneh muncul di depannya namun langsung ditepis senjata Perseus. Dua buah kapak, namun tidak memiliki gagang selain rantai panjang berduri sebagai penggeraknya.
“Jangan buru-buru. Dia hanya anak tak berdosa,” kekeh putra Zeus pada mereka.
“Kau sudah mati,” ucap Aegayon tiba-tiba.
Perseus yang mendengarkan itu pun tersenyum. “Lelucon apa yang kau katakan? Sejujurnya, aku cukup sedih harus melukai putra sahabatku. Biar kuberitahukan satu hal. Sudah bertahun-tahun diriku bersembunyi, dan ini saatnya bagi kami untuk mengambil alih dunia ini.”
“Terserah,” Kers tersenyum miring padanya.
Dan lagi-lagi Xavier menghantamkan gelombang kejut pada sosok di depan mata. Membuat Jion terpekik seperti wanita yang menyebalkan di telinga.
Pertarungan berdarah antara Sif Valhalla melawan Reygan masih belum menemui titik terang. Mengingat tangan laki-laki itu akhirnya putus akibat sang guru mencengkeram lengannya.
Namun di satu sisi, kondisi Aza Ergo masih belum baik-baik saja. Bahkan jika Toz di sana hadir untuk membantunya, raga sang petinggi tak bisa dilepaskan dari batu yang menghujamnya.
“Sial! Kenapa susah sekali?!” pekik Arigan. Dirinya benar-benar terperangah dibuatnya.
Usaha mereka yang sia-sia, akhirnya membuat Thertera menatap keanehan pada sang petinggi muda.
“Ini!”
“Ada apa?” kaget Arigan akan suaranya.
Tanpa keraguan sosok dari bangsa chimera itu pun menyentuh tanda tak biasa yang menghiasi leher juga wajah Aza.
Tapi mereka terkesiap oleh serangan tiba-tiba. Ekor magma yang menyeruak dari tubuh eksekutor berdarah empusa, tanpa ampun menusuk perut Thertera.
Sepertinya, mantra yang ditanamkan Reygan itu merupakan tanda terkutuk untuk kendali jurus Aza.
“Thertera!” pekik Arigan melihatnya.
Toz yang menyaksikan itu pun tak berkutik dibuatnya. Terlebih saat tujuh ekor magma muncul di belakang punggung Aza dan menghancurkan batu yang menghujam fisiknya.
Orang-orang di sekitar para Raja muda terluka pun menatap tak percaya akibat teriakan Arigan Arentio di ujung mata.
“Akhirnya, aktif juga ya,” kekeh Reygan Cottia melirik sang petinggi empusa.
__ADS_1