Death Game

Death Game
Gemini


__ADS_3

Horusca membisu. Apa yang dilihatnya bukanlah suatu kewajaran. Darah berserakan, suara erangan, aroma mengerikan, serta penampakan menjijikan, bersenandung ke dalam inderanya.


Monster, tubuhnya dipenuhi bulu hitam pekat. Dengan tinggi 5 meter yang sedang memakan bangkai. Miris, karena itu adalah orang namun entah dari bangsa mana dan terpotong-potong menjadi beberapa bagian.


Diperkirakan mereka ada sekitar dua puluh orang yang akan menjadi santapan untuk mengenyangkan perut pemangsanya.


Dan Horusca, hanya diam memperhatikan apa yang ada di depannya.


“Nyanyikan lagu kematian untukku,” sahut seseorang tiba-tiba. Dia memegang trisula besar dan berdiri tepat di sebuah gerbang yang berselimutkan api.


Beltelgeuse tak berkutik, mengingat banyaknya panah mengambang yang mengarah kepadanya. Seperti sedang menunggu waktu, untuk menghujani Ksatria Bintang sebagaimana semestinya.


Tapi di satu sisi, pekikan aneh sedang berkumandang. Seperti tawa atau tangisan yang campur aduk untuk di dengarkan. Dan Lucian Brastok, dengan sorot mata sayu memperhatikan dengan tenang seorang bayi di depannya.


Seperti bayi manusia, namun mirip zombie jika diibaratkan bentuknya. Bukannya meminum susu, tapi sosoknya malah memakan kepala jenazah di sampingnya.


Sesekali mengaungkan tangis dan tawa bersamaan.


Sehingga sang pemimpin dracula pun hanya bisa memancarkan rupa masam di tampangnya.


Darah.


Mengalir secara pelan. Dari tangan Toz Nidiel yang putus tanpa aba-aba. Penampakan Dewa Susanoo di depan mata, ternyata tak lebih dari sekadar ilusi belaka. Itu adalah monster yang menyerupai rupa menawannya.


Ada banyak tentakel dari belakang punggungnya, namun memiliki mata pedang di setiap garis pinggirnya.


Dan sang pemuda scodeaz (pengendali) pun harus bertaruh nyawa untuk mengalahkannya.


“Kemarilah.” Toz pun menyipitkan mata waspada. “Bunuh aku, Nak. Atau aku yang akan membunuhmu.”


Air di rawa mulai bergelombang permukaannya. Sang pemuda pun terkesiap, karena ada getaran aneh pada tangga awan di pijakannya. Sampai akhirnya ia tersadar kalau apa yang ada di bawahnya, tak lain dan tak bukan ternyata ekor panjang sang monster di depannya.


“Uhuk! Uhuk! Uhuk!” batuk dari petinggi empusa. Mata kanannya hancur dan mengalirkan darah dari sana.


Di mana itu disebabkan oleh sang gadis bercambuk petir di hadapannya. “Berikan aku jantungmu,” pintanya sambil menggerakan senjata yang mulai menekan alirannya.


Dan Aza pun menyeringai sambil menyentuh darah yang hampir jatuh dari dagunya.


“Kenapa aku harus melakukan itu? Kalau kau mau, maka cobalah untuk mengambilnya.”


Dan hempasan kasar dari cambuk gadis itu langsung memburu petinggi muda. Sehingga Aza pun melompat dari menara sambil menjatuhkan tubuhnya pada kolam lahar.


Ia berhasil mendarat di atas daun teratai, tapi sepertinya ini bukan saat keberuntungannya. Mengingat gadis itu, tiba-tiba sudah berdiri di belakang dan melubangi dadanya.

__ADS_1


Sontak, napas Aza pun tercekat dibuatnya. Sensasi kejam seperti yang pernah dilakukan Izanami Forseti sebelumnya, berhasil menusuk ingatannya. Dan retakan aneh pun langsung membelah wajah tampannya.


“Sial!” jengkel Reve Nel Keres akhirnya. Pedang mengambangnya hanya tersisa tiga saja. Tapi musuh masih saja bangkit tanpa iba, seolah ingin mengikis sisa kekuatannya tanpa sisa. “Ini, benar-benar membuang-buang waktuku,” keluhnya.


Ayunan cepat pun langsung terlepas ke arahnya. Berhasil melukai pipi sang pemuda sehingga mengalirkan darah segar untuk di pertontonkan wajahnya.


Reve mendengus sebal sambil mengusap kulit yang terluka. Dan tanpa ragu pun memperhatikan keanehan karena sayatan di dirinya.


Darah yang menempel di punggung tangan, entah kenapa berwarna hitam kemerahan serta berhiaskan serpihan biru bak pecahan berlian.


Kaget, tentu saja. Tanpa berpikir panjang ia sentuh kilauan di darahnya, sampai akhirnya serangan tanpa aba-aba menghujam dirinya.


Kecerobohan yang ia lakukan, berhasil membuat mayat bergerak itu menusuk perutnya dengan tangan kosong salah satunya.


Sang pemuda ular yang merasakan sakit tiba-tiba pun tanpa sadar malah beruraian air mata.


“Menarik,” ucap pria itu. Sosok yang memancarkan kematian di dirinya, menatap puas pada Raja hydra di depannya.


Bahkan bila puluhan sayatan menghiasi tubuhnya, tapi Hydragel Kers tak merasakan sakit apa-apa. Kecuali tetap berekspresi santai, sambil memakan anggur yang ada di tangannya.


Dia pun memiringkan wajah dengan angkuhnya.


“Aneh. Tidak ada satu pun seranganku yang mempan. Siapa kau sebenarnya?”


Dan pria yang memakai mahkota berhias duri itu pun melempar helm besinya. Menggelinding tepat ke hadapan Kers, sehingga Sang Raja mengernyitkan dahi bingung pada wajah menawannya.


“Rongsokan ini, untukku?” tanyanya tanpa dosa. Sayangnya, cuma sorotan mata tenang yang diberikan pria itu sebagai balasannya. “Kau tuli?”


“Para Dewa memang kejam, karena menghapus ingatanmu sampai ke titik ini.”


Kers pun tersentak dan memberikan tatapan masam karenanya. “Apa maksudmu?” dengan senyum yang terukir cerah.


“Benar-benar, baik dulu maupun sekarang, wajahmu memang sangat menyebalkan.”


Tiba-tiba, raungan keras pun berkumandang dari balik kabut di sekitar mereka. Beberapa pasang mata merah menyala, bergerak tak tentu arah mengelilingnya. Kers waspada, berhati-hati akan serangan selanjutnya.


Karena bagaimanapun juga luka yang ada pada tubuhnya, disebabkan oleh monster itu tadinya.


Dan di lokasi Revtel terdampar, stepa yang menjadi saksi bisu kemampuannya pun harus tertutupi daratan es dengan kejamnya.


Bahkan ada bongkahan berwarna merah darah di sana, namun ditatap tenang oleh sang pemilik kekuatan es. Wakil Raja hydra tanpa kacamata di dirinya, memancarkan sensasi mengerikan untuk dilihat dia yang berpijak di belakangnya. Salah satu patung raksasa berlambang merlindia (penyihir), itulah sosok lawan beratnya.


“Kembalikan padaku. Kembalikan kekuatan itu kepadaku!” marah patung itu.

__ADS_1


Akan tetapi, Revtel hanya menoleh dan menyorotnya lewat sudut matanya.


“Sungguh patung yang tak tahu diri rupanya.” Seketika serpihan es pun bermunculan di sekelilingnya.


Mengerikan.


Begitulah kata yang pas untuk di tanah makam.


Salib-salib dengan tengkorak terikat sebagai teman hidupnya, di datangi oleh gagak yang jumlahnya tak bisa dibayangkan di depan mata.


Mungkin lebih dari ribuan, terbang mengudara sambil memekikkan suara kejamnya. Aliran darah pun menetes pelan dari telinga Trempusa, serta sensasi menekan juga terpancar dari dirinya.


Sosoknya dan juga kemampuan mengerikannya, sedang bersiap untuk tarian pertarungan selanjutnya.


Kuning keemasan. Warna ciri khas dari tameng milik para tankzeas (pelindung). Menjadi dinding sekaligus perisai untuk serangan yang menghajar Riz Alea.


Hutan larangan, semua pohon tanpa dedaunan bergerak dengan gilanya. Seperti hujan dahan, hendak merobek apa pun yang ada di depannya.


Hutan dingin, ikut memamerkan kekuatan tanpa iba. Salju yang berasal dari sana, bergerak seperti ribuan jarum seperti ingin melubangi musuh-musuhnya.


Riz pun kesusahan. Napasnya terengah-engah, diiringi ketakutan yang menggelora serta doa juga ikut dikumandangkannya. Berharap, sosoknya yang sedang berada di sana tidak mati begitu saja.


Heksar Chimeral.


Sang pemegang tahta tertinggi sosok chimera. Pilar bangsanya sekaligus salah satu pemegang tombak penting di dunia Guide. Dan ia pun sedang menyeringai akan lukisan di depan mata.


Gemini, sang rasi bintang kembar.


Merupakan sosok yang tinggal di langit-langit kayangan. Sebuah tempat sekaligus saksi kehidupan para Dewa. Dan para bintang adalah pelayan mereka.


Sepasang laki-laki dan perempuan. Taring-taring seperti gergaji, penglihatan serupa lautan, dan tanduk ibarat ujung pedang.


Merekalah yang sedang menghadang.


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2