
Berat dan menekan.
Begitulah situasi sekarang.
Bunyi ayunan pedang yang saling beradu berisik memecah keadaan. Tak ada yang mau mengalah, bahkan jika pertarungan telah melukai keduanya.
Bahkan jika tubuh penuh luka Izanami terus dihujani sayatan pedang membara Aza, tapi ia takkan peduli. Walaupun pedang darah menjejakkan sakit di luka-luka menganga sang petinggi empusa, namun dirinya takkan berhenti.
Mereka sudah gila karena pertarungan dengan alasan masing-masingnya.
Redena terus merintih, walau mantra rahasia yang tadi makin melebarkan lubang di kakinya telah berhenti bergerak, rasa sakitnya masih tetap tersisa.
Dirinya ingin menangis, tapi ia juga tak bisa apa-apa. Ingin memotong kakinya sendiri ia juga tak bisa. Harapan hanya tergantung pada sang elftraz (penyembuh) milik musuh.
Horusca sudah memberikan pilihan. Tapi apa yang bisa dilakukan? Izanami Forseti seperti orang kerasukan dan tak mendengarkan himbauan.
“Sakit sekali,” keluh Aza Ergo begitu pedang darah Izanami menggores pipi dan telinganya. Dirinya mundur beberapa langkah dan menyentuhnya. Darah segar tampak di depan mata, namun hanya ia jilat dengan santainya. “Mau berhenti?”
Sosok misterius yang diinginkan hanya diam. Bahkan jika tampangnya berantakan, tapi sorot matanya enggan menyiratkan kasihan.
“Kenapa kau keras kepala? Permintaan kami tidak sulitkan?” lanjut Aza.
Tatapan Izanami kian menajam. Diiringi angin kasar menerpa kulit mereka dan memperlihatkan pesona murka dari dia yang ditanya.
“Tutup mulutmu. Kau tak perlu khawatir, karena aku akan membunuhmu dan juga kawananmu.”
Aza Ergo tertawa pelan. “Kau memang hebat. Sempat membuat kami sekarat. Tapi hal yang sama takkan terjadi lagi, karena aku sudah bisa mengikuti pola seranganmu,” sambil menancapkan pedang magma ke tanah.
“Kenapa petinggi sepertimu mengkhianati empusa?” Aza Ergo memiringkan wajahnya. “Apa yang kau inginkan?” pertanyaan Izanami sontak membuat petinggi itu menghela napas kasar.
“Kapan aku begitu? Aku cuma ingin membantu rekanku.”
“Pelarian itu?”
Aza Ergo terdiam sejenak. Perlahan sorot matanya melirik Reve Nel Keres yang masih pingsan dan beralih pada lawannya. “Aku juga tidak punya pilihan.”
“Kau gila dan kalian pembawa bencana.”
Sontak saja hal tersebut mengundang tawa keras Aza Ergo. Entah apa yang lucu, sampai matanya berair karena sikapnya itu.
“Tidak sekali dua kali aku mendengar itu. Katakan saja apa susahnya? Setelah itu kami akan menyembuhkanmu dan juga teman-temanmu itu,” bujuk Aza sambil menunjuk ke belakang badannya.
Izanami bisa melihat pak tua berambut hitam legam serta Caprio yang masih tak melepaskan pandangan darinya. Bahkan rintihan Redena juga menyusup masuk ke telinga. “Jika aku serius, aku bisa membunuhmu dan menyeret keparat tanaman itu.”
“Silakan. Aku tak masalah, kecuali kau ingin keberadaanmu terbongkar.”
Guratan di wajah Izanami kian jelas karena emosi terpendam. Perlahan, Aza Ergo melangkah mendekatinya. Semakin kakinya berpijak, semakin lelehan magma bermunculan. Cairan itu bergerak untuk menjadi tontonan, lalu secepat kilat membentuk bola besar dan memenjarakan mereka berdua.
“Iza!” pekik Caprio melihatnya.
Tapi terlambat, sang petinggi empusa dan sang pemegang kunci Reygan sudah terkurung di dalamnya.
Izanami melirik sekelilingnya. Tak ada celah untuk lewat dan senyum tipis pun bermekaran di bibirnya.
“Ini keuntungan. Kau rupanya benar-benar ingin mati ya,” tato di telapak tangan Izanami berasap, bahkan darah di permukaan tubuhnya makin bergerak mengudara seperti bersiap untuk menyerang.
“Pertama kalinya aku melihat seseorang mengendalikan darah.”
“Takjub?”
Aza Ergo tertawa pelan. “Bragi Elgo, Sif Valhalla dan Izanami Forseti. Tiga orang yang menjadi incaran, aku sudah tahu kalau ini takkan mudah.”
“Reygan Cottia bukan lelucon. Dunia Guide akan gempar dan bangsa-bangsa harus menumpahkan darah kembali untuk menghentikannya!” marah Izanami.
“Lalu?” tanggapan santai Aza Ergo membuat pengendali darah itu tidak habis pikir.
“Sepertinya karena kau masih muda, jadi kau tidak tahu apa-apa. Tak ada satu pun yang boleh mendekati kuncinya! Dia itu mimpi buruk! Dendam seorang pelarian tak ada artinya di dunia ini. Bangsa-bangsa akan memburu kalian begitu mendapatkan kuncinya!”
Raut wajah santai Aza masih tertera jelas. Perlahan ia mainkan poni hitam kemerahannya, entah apa yang dipikirkan petinggi empusa itu sekarang.
“Apa kau tahu di mana peri amarilis?”
Seketika ekspresi Izanami berubah. “Apa lagi sekarang?”
“Aku membutuhkan darahnya. Jika kau tahu di mana keberadaannya mungkin aku akan dengan senang hati melupakan kunci penjara itu.”
“Heh, apa karena itu kau bekerja sama dengan pelarian itu? Bantuan untuk darah dan juga kunci. Sekarang aku mengerti alur kalian.”
“Tahu atau tidak?”
“Entahlah.”
Jawaban Izanami yang ambigu mulai menggelitik emosi sang petinggi. Dirinya pun melebarkan seringai tipis dan membuat sosok di depannya memamerkan tampang bingung.
“Bragi Elgo, Sif Valhalla, Izanami Forseti, Barca Asera, Noa Krucoa, Aegayon Cottia, Zeus Vortha, dan enam hantu itu, kalian memang hebat dalam menyimpan rahasia.”
DEG!
Jantung Izanami tersentak, dadanya bergemuruh akan nama-nama yang disebutkan sang petinggi empusa. “Kau—” seakan pisau bermata dua baru saja menusuk jiwanya.
__ADS_1
“Kau pikir aku bodoh? Menipu dan melukis sejarah seperti itu. Siapa pemegang kunci Reygan yang sesungguhnya?” tekannya. Perlahan, mata Aza Ergo menghitam bersamaan dengan tato aneh yang muncul di dahinya.
“Kau! Kau empusa kan? Kenapa mantra tradio bersamamu?!”
Aza Ergo tertawa pelan. “Kenapa? Kau penasaran?”
Dada Izanami naik turun. Walau tatapannya menyiratkan amarah, tapi masih ia tahan. “Kau dan pelarian itu, apa sebenarnya tujuan kalian?”
Aza Ergo tertawa. “Namanya Reve Nel Keres. Berhenti menyebutnya pelarian. Bagaimana jika kau salah? Orang-orang akan salah paham.”
“Salah? Mata biru dan aura biru? Mereka yang tahu legenda pasti juga sepemikiran denganku.”
“Tragedi tanah biru sudah lama berakhir. Menurutmu masih ada yang tersisa?”
“Sepertinya kau bekerja sama dengannya karena sudah tahu siapa dia. Tujuan kalian, bisa saja membawa petaka nantinya.”
“Jika dia benar-benar pelarian, maka tujuannya pasti ingin membunuh Reygan. Dan aku hanya ingin darah amarilis. Kau sudah tahu tujuan kami, di mana kunci penjara itu?”
“Tak ada yang bisa pergi. Tidak satu pun informasi kunci itu bisa berkeliaran di permukaan ini,” seketika darah yang bergerak mengudara di sekitar Izanami membentuk banyak pedang.
“Lihat Reve? Tujuanmu benar-benar menyebalkan,” gumam Aza sambil tertawa pelan.
Sontak saja, pedang-pedang darah itu memburu Aza Ergo secepat kilat. Tapi beruntung, karena dinding yang memenjarakan mereka berdua adalah jurus petinggi itu, sehingga magmanya bergerak melindunginya tanpa memberikan celah sedikit pun.
Aza melangkah pelan keluar dinding dan membiarkan Izanami terkurung di dalamnya.
“Kau! Mana Iza!” pekik Caprio menyadari ketiadaan sosok temannya.
“Ayo Horusca, kita kembali,” ajak Aza Ergo tiba-tiba.
“Kau!” geram pria berbandana itu menyerang sang petinggi. Akan tetapi, hanya seringai tipis yang dipamerkan Aza, dan tato aneh serta mata menghitamnya sudah tidak terlihat lagi sejak ia keluar dari dinding.
Caprio makin tak bisa membendung emosinya, mengingat cairan magma yang membentuk pusaran seperti angin melindungi Aza. Kemampuan petinggi itu sangat menyebalkan dan juga menyusahkan.
“Sampai bertemu lagi,” selesai mengatakan itu, magma yang melindunginya pun menggulung tubuhnya bersamaan dengan magma yang muncul di sekitar Horusca serta Reve. Mereka bertiga hilang tak bersisa.
“Ugh!” erang sebuah suara tiba-tiba, begitu penjara magma yang tadi mengurungnya menghilang bersamaan dengan pemakainya.
“Izanami! Kau baik-baik saja?!” Caprio pun tersentak lalu berlari menghampirinya. Terlihat jejak-jejak magma di kulit temannya, namun untung saja ia memiliki kendali darah yang bisa melindunginya.
Perlahan, darah yang bergerak mengudara itu menyapu magma Aza Ergo yang telah melukai dan melelehkan kulitnya.
“Ayo kita ke penginapan dan minta pengobatan di sana,” ajak Caprio sambil memapahnya.
Di bibir hutan Lagarise yang jauh dari area kotanya, terlihat gumpalan magma besar muncul ke permukaan lalu pecah tiba-tiba.
“Uhuk ... uhuk!” batuk sang petinggi empusa. Tak disangka, mulut cerewetnya itu memuntahkan darah segar di telapak tangan yang menahannya.
“Kau baik-baik saja?”
“Menurutmu?” petinggi itu terkekeh.
“Liaythax nehriem miaglea (bola hijau nehriem)” selesai mengatakan itu, bola hijau besar pun mengelilingi mereka bertiga.
“Ah, memang menyenangkan jadi elftraz (penyembuh),” lirih Aza dengan nada meledek.
Horusca pun melirik sekelilingnya karena magma yang tadi membungkus ketiganya sudah menghilang.
“Apa yang kau lihat?”
“Mereka memberi tahuku, kalau retakan magma di dasar tanah sudah lenyap.”
“Kau ingin tenggelam dan tinggal tulang?”
Tampak pemuda berambut merah itu memiringkan wajahnya. “Jika pengendalinya di sini, bukankah kita bisa selamat?”
“Kau meremehkan magmaku? Dia takkan pandang bulu untuk melelehkan siapa pun.”
“Bukankah kita baik-baik saja? Buktinya aku dan dia tak terluka,” sambil menunjuk Reve dengan dagunya.
“Itu karena aku sudah mendinginkan magmaku. Kalau tetap panas, bisa-bisa aku cuma membawa mayat kalian.”
“Yang namanya petinggi memang hebat ya.”
Sontak Aza Ergo dan Horusca menoleh ke arah sumber suara.
“Kau sudah sadar?”
“Berkatmu,” lirih Reve pada Horusca. “Ah, kita masih hidup ya.”
Aza Ergo pun mengusap darah kering di bibirnya. “Izanami Forseti itu memang sialan. Aku yakin kita pasti mati jika dia benar-benar serius.”
“Jadi dia belum serius?” tanya Reve dengan santainya.
“Kau gila? Jika dia serius, kita takkan kabur dengan selamat begini.”
“Kita kabur?”
“Menurutmu?” Aza Ergo mulai jengkel.
__ADS_1
“Jadi kita gagal?” Sang petinggi dan penyembuh itu terdiam. “Sepertinya adu kekuatan memang mustahil ya,” Reve pun merebahkan tubuhnya. Menatap langit-langit, di mana salju berjatuhan lembut seperti dandelion yang berterbangan. “Bagaimana caraku mendapatkan kuncinya?”
“Kenapa kau sangat menginginkan kunci penjara Reygan?”
Aza dan Reve sama-sama menoleh pada Horusca. “Dari mana kau tahu? Kupikir aku belum bilang,” gumam bocah ular itu seperti menerawang.
“Kau lupa? Kau sendiri yang mengatakannya saat kita bertemu dengan pimpinan hydra. Kau juga bukan manusia.”
“Oh, sepertinya aku mulai pelupa,” tanggap santai Reve kembali memandang langit-langit. Sejenak kemudian, “aku harus membebaskannya.”
“Hei, kau serius? Kupikir kau ingin membunuhnya,” sela Aza Ergo dengan tampang meledek.
“Membunuhnya ya,” gumam pelannya. Entah apa yang dipikirkan Reve Nel Keres sekarang, sosoknya seperti sedang kehilangan arah.
“Apa kau pelarian tanah biru?” pertanyaan Horusca sontak mengundang lirikan mata Reve.
“Apa terlihat seperti itu?”
“Mata biru dan aura biru, beberapa orang akan langsung tahu kau itu berasal dari mana.”
“Dan contohnya adalah kau, si gila ini, pimpinan hydra serta Izanami, begitu? Kalian lebih hebat dari petinggi yang kutemui di bukit Kristal.”
Tak ada yang menjawab. Perlahan Aza Ergo mengangkat tangannya, di mana jejak darah di bibirnya tadi sudah tidak ada. “Dari mana kau dapatkan informasi kunci itu?” tanyanya tiba-tiba.
“Entahlah.”
“Kita sudah bekerja sama. Apa kau tidak bisa terbuka?”
“Tak semuanya harus kukatakan.”
“Maka kau takkan dapatkan kuncinya.”
“Kenapa?”
Aza Ergo menyeringai. “Karena bisa saja bukan Izanami yang mengetahui kuncinya.”
Reve langsung bangkit dan memandang tajam petinggi itu. “Apa maksudmu?”
“Maksudku? Kau bisa bilang kalau aku punya informasinya.”
Rahang di wajah assandia (petarung) langka itu kian menajam. “Dan kau tidak mengatakan apa pun?”
“Karena kau masih terlihat mencurigakan,” petinggi empusa itu terkekeh.
“Cih!” decih Reve membuang muka.
“Yah, tenang saja, Nak. Karena informasi itu tak begitu penting bagiku jadi akan kuberi tahu.”
Pernyataan sombong Aza Ergo jelas mengundang kejengkelan di hati bocah ular. Berbeda dengan Horusca yang tenang, dirinya antara peduli atau tidak pada informasi petinggi itu.
“Di dunia ini, sebenarnya ada tiga belas orang yang diperkirakan sebagai sumber informasi Reygan Cottia. Mereka Bragi Elgo, Sif Valhalla, Izanami Forseti, Barca Asera, Noa Krucoa, Aegayon Cottia, Zeus Vortha, dan enam hantu tanpa nama.”
“Barca Asera dan Noa Krucoa?”
“Ah, bukankah kau sudah bertemu dengannya? Petinggi yang menjual rongsokan itu Barca Asera. Tentu saja yang satunya pemimpin bangsa kurcaci.” Raut wajah Reve berubah masam. “Kenapa? Apa karena kau kecewa si pak tua itu tak mengatakan yang sebenarnya?”
Reve terkesiap, tak menyangka kalau petinggi itu seperti mengetahui kejadian yang sebenarnya.
“Kenapa kaget? Saat Logan memberi tahuku tentangmu, aku jadi tahu kalau informasi kunci ini pasti kau dapatkan dari pedagang rongsokan itu. Dan rupanya aku benar. Yah, walau tak kusangka dia hanya menyebutkan tiga nama tapi apa boleh buat.”
Tangan Reve pun terkepal erat. “Jadi dia berbohong?”
“Dia tidak bohong, tapi tak mengakui semuanya. Lagi pula itu hal yang wajar, siapa pun takkan sudi membiarkan monster seperti Reygan berkeliaran bebas.”
“Dan dari mana kau mengetahui semua itu?”
Aza Ergo hanya tersenyum. “Aku sudah memberi tahumu, jadi ayo kita kembali.”
Sementara di tempat berbeda, di sebuah penginapan dekat danau tampak seorang elftraz (penyembuh) level prajurit berusaha keras menyembuhkan luka-luka pengunjungnya.
Siapa lagi kalau bukan orang-orang yang tadinya melawan komplotan Aza Ergo. Ini cukup menyusahkan, karena penyembuhan memakan waktu lama mengingat luka serta skill dokternya.
“Iza?” panggil pelan Caprio. “Kau baik-baik saja?”
Sosok yang ditanya hanya tersenyum.
“Mereka meminta kunci apa?”
“Entahlah. Mereka selalu bilang kunci, dan aku juga tidak tahu itu kunci apa.”
Caprio terdiam mendengarnya. Semenjak mengenal Izanami Forseti, ia tahu kalau pemuda itu penuh misteri. Dirinya tak pernah menanyakan apa pun, kecuali satu hal yang pasti, jika laki-laki tersebut merupakan mantan petinggi dari bangsa hantu.
Tradio.
Bangsa yang dihuni oleh keluarga pemakai sumpah terlarang. Entah di mana keberadaan mereka atau seperti apa wujud yang lainnya tak ada yang tahu.
Hanya Izanami Forseti yang muncul ke permukaan, dengan wujud palsu itu berkeliaran dan berteman. Seperti apa sosok aslinya masih menjadi misteri, Caprio tak ingin tahu karena tak mau keberadaan temannya yang bersembunyi itu terbongkar.
Para penyandang darah tradio memang sedang dicari.
__ADS_1