
“Sepertinya dia marah,” gumam Raguel menatap punggung Xavier yang mulai menjauh dari pandangan. “Reygan Cottia, sebenarnya apa alasan Aza melakukannya? Walaupun dia bersama pelarian bangsa phoenix, tindakannya jelas-jelas tidak masuk akal.”
“Aku memang sudah curiga saat melihatnya berkeliaran dengan bocah tanah biru di istana merah.” Pintu kamar terbuka tiba-tiba, dan menampilkan sosok Revtel yang bersuara tadinya. Raut wajahnya tampak dingin dan menekan suasana. Memasuki ruangan dan berdiri di hadapan sang Raja yang masih sibuk makan. “Kau pasti sudah tahu itu semua kan? Kers.”
Laki-laki itu menoleh dan pipinya tampak menggembung. Bahkan mulutnya terbuka yang memamerkan anggur belum dikunyah di sana. Tampangnya benar-benar menyebalkan sampai-sampai Revtel mengepalkan tangan dan memukul kepalanya.
“Jangan lihat aku dengan tampang bodohmu itu!”
“Aduh!” pekik Kers setelah memuntahkan anggur-anggur dari dalam mulutnya.
“Ya ampun,” Raguel pun geleng-geleng kepala melihat pemandangan menjijikan di depannya.
“Bodoh! Apa yang kau lakukan?! Kau mau membunuhku ya!” kesal Kers lalu memungut lagi anggur-anggur yang tadi keluar dari mulutnya.
“Sialan! Kau menjijikan Kers!”
“Ah! Anggurku!” pekik sang Raja akibat wakilnya menginjak buah itu. “Hei! Masih belum lima menit!”
“Diam bodoh! Dasar rakus!” tapi Revtel semakin menghancurkan anggur yang ada di lantai itu. Sehingga Kers pun menatap sebal kepadanya.
“Lagi pula kenapa kau marah? Apa pun yang dilakukan Aza tak ada hubungannya dengan kita.”
“Tidak ada hubungannya?” nada suara wakilnya terdengar menekan.
“Ya. Lagi pula, apa yang bisa dia lakukan? Reygan Cottia di penjara di Kaspera! Mana mungkin dia punya kuncinya?! Tak ada yang bisa membebaskannya kalau bukan orang-orang yang menyegelnya!”
Semuanya pun tersentak dan menatap tak percaya ke arah Kers.
“Kau, bagaimana bisa kau tahu di mana penjaranya?” raut wajah Revtel berubah menjadi lebih menakutkan.
“Kaspera, bukankah itu kawasan yang tak jauh dari Hadesia? Penjahat itu di penjara di sana?” Raguel ikut syok mendengarnya.
“Sepertinya kau juga tahu di mana kuncinya, padahal itu rahasia yang hanya diketahui segelintir orang saja,” Lascarzio ikut menimpali.
__ADS_1
Sementara Kers yang menyadari kebodohannya, sekarang hanya bisa menutup mulut dengan tangan kanan akibat tindakannya. Dia benar-benar keceplosan mengatakannya.
Padahal hanya para pemegang kunci yang tahu di mana penjaranya. Dan dia sebagai orang asing justru membocorkan rahasia yang bahkan tak banyak diketahui para Raja atau rakyat di bangsa-bangsa.
“Kers, bagaimana bisa kau tahu di mana penjaranya?” Seketika bulu kuduk Raja hydra berdiri. Semua karena Revtel bertanya sambil memegang bahu kanannya. Seolah ada sensasi dingin menusuk tulang yang merasuk lewat sana. “Kers?”
“Mm ...” terlihat kalau laki-laki itu gelagapan. Mendadak bungkam karena bingung harus mengatakan apa. Mengingat sosoknya mengetahui penjara Reygan lewat ingatan Dewa Loki yang pernah di bacanya.
“Sepertinya memang ada yang kau sembunyikan sejak bertemu dengannya di daerah pinggiran.”
Tapi adik sepupunya hanya menyengir kepadanya. “Ayolah Revtel. Apa pun yang ingin dilakukan Aza, tak ada hubungannya dengan kita. Entah monster atau iblis sekalipun yang ingin dibebaskannya, maka dia sendiri yang akan membayar harganya. Jangan cemas, kalaupun Reygan kembali mengamuk, bangsa-bangsa punya ksatria yang bisa menghentikannya bukan? Dan itu termasuk kamu.”
Sementara di asrama di Hadesia, terlihat sosok Aza Ergo sedang berdiri di depan makam kakaknya. Duduk santai tanpa mengalihkan perhatian dari nisan di sana. Entah apa yang ia pikirkan tapi sosoknya jelas memendam sesuatu nan berat di otaknya.
“Aroma apa ini?” gumam Toz tiba-tiba. Sosoknya sedang berjalan-jalan di luar ruang peristirahatan. Merasa bosan sehingga menjelajah menjadi pilihan. “Aneh, apa sebelumnya ada yang tinggal di sini?” ucapnya sambil memperhatikan jendela.
Di mana kacanya bersih mengkilat seolah bangunan itu diurus dengan baik.
“Tunggu, suara ini—” ia pun menoleh ke segala arah. “Orang menangis?” Dengan mengedarkan pandangan, dirinya memfokuskan penglihatan pada satu titik.
“Sepertinya ada banyak ruangan, tapi hanya satu tempat yang dipakai. Mungkin ini dulunya asrama,” lirihnya saat melewati beberapa pintu yang terbuka. Di mana ada banyak penampakan seperti tempat peristirahatannya di lantai atas.
Dan ia pun sampai di depan pintu tertutup yang menjadi sumber asal tangisan.
Lancang, dibuka tanpa aba-aba. Dan pemandangan berupa lorong memanjang dihiasi obor-obor di pinggiran menyambut mata.
Tanpa merasa takut Toz Nidiel melewatinya. Karena ia merupakan bocah dengan tipe penasaran tingkat tinggi.
“Darah?” tangannya menyentuh dinding yang dihiasi cakaran. “Apa mungkin bekas pertarungan?” saat menatap sekelilingnya. Dan pandangannya terhenti saat menoleh ke belakang. Di mana tempat yang menjadi pintu masuknya barusan. “Apa aku ajak Riz saja ya? Kalau aku tersesat bagaimana?” sosoknya tampak berpikir sejenak. “Sudahlah. Sudah terlanjur di sini lebih baik aku lanjut saja.”
“Apa kalian lihat Toz?” tanya Riz Alea pada orang-orang yang sedang bersantai di ruangan asrama akhir.
“Katanya jalan-jalan,” balas Rexcel sambil tangan membalik buku bergambar aneh yang ada tadinya di nakas.
“Jalan-jalan? Ke mana?”
__ADS_1
“Entahlah. Dia tidak bilang.”
Riz tak lagi menanggapi ucapan Rexcel. Sosoknya memilih berlalu dari sana, dan bertemu dengan Aza Ergo di pintu masuk.
“Mau ke mana?”
“Cari Toz, Tuan.”
“Bocah serigala? Jangan bilang dia berkeliaran sendirian?”
“Ah,” kaget Riz mendengar responsnya. Sontak saja Aza Ergo berbalik dan meninggalkannya. “Tuan? Anda mau ke mana?”
“Mencari bocah itu.”
“Lho, anda akan membantuku mencarinya?”
Aza pun melirik tankzeas (pelindung) itu lewat sudut matanya. “Sebenarnya aku malas. Tapi tempat ini bukan arena jalan-jalan. Jadi lebih baik dia segera ditemukan sebelum bertindak bodoh atau terjadi hal aneh kepadanya.”
Riz mengangguk dan memilih berjalan di sampingnya.
Tapi, mungkin pilihan Aza Ergo dan Riz Alea untuk mencarinya memang keputusan yang bijak. Karena Toz Nidiel, sedang di hadapkan pada pemandangan tak terduga. Napasnya tercekat, saat memasuki ruangan aneh yang ia temukan di lantai bawah.
Tempat seperti ruang tamu namun dihuni oleh sosok-sosok di luar nalarnya. Di mana di sana ada beberapa tubuh tak bergerak tapi seperti sedang bersantai di dalamnya. Hanya saja mereka memiliki kepala yang normal. Akan tetapi dari leher ke bawah tinggal tengkorak dan semua menatap ke arahnya.
Benar-benar mengerikan dan membuat tubuhnya gemetaran.
“A-apa ini? M-mayat?” lirihnya saat matanya bertemu pandang dengan salah satu di antara mereka.
Kepala seorang wanita. Rambutnya tampak panjang sepinggang dan wajahnya dipenuhi bekas jahitan buruk rupa. Tubuhnya yang tengkorak itu seperti merentangkan tangan.
Tanpa aba-aba ia menyeringai sehingga Toz pun bergidik ngeri melihatnya.
__ADS_1