Death Game

Death Game
Dua Cottia


__ADS_3

“Izaria Neras Armera (Memanggil sang penjara)”


Sekarang, justru peti yang disentuh Kuyang beraksi. Bergetar hebat seolah ingin membangkitkan sosok tertidurnya. Tapi kenyataannya sangatlah berbeda.


Sebuah lingkaran sihir muncul dari sana dan pecah memenuhi semuanya. Serpihannya pun bergerak menuju gerbang sehingga terciptalah pintu besi di depan mata.


Aneh wujudnya, karena ukiran yang memenuhi permukaannya adalah kumpulan tengkorak sambil mengulurkan tangan. Seolah meminta bantuan atau ingin menggapai sesuatu jika disaksikan.


“Exdoza vailhera nad tearzaria (Dengan keringat dan air mata)”


Kumpulan tengkorak di pintu gerbang berteriak tiba-tiba. Bersamaan dengan kristal bening menetes membasahi sekujur tubuhnya.


Jujur Kuyang benar-benar tak menyangka, jika gerbang mengerikan seperti inilah yang digunakan untuk menyegel Reygan Cottia.


“Agua bleedya nad soulkazia (Juga darah dan jiwa)”


Serigala di belakangnya pun melolong tiba-tiba. Akibatnya jiwa-jiwa yang ada di perutnya keluar semuannya, wanita itu terpekik dan syok menyaksikannya. Karena kumpulan nyawa yang berwarna hijau tersebut bergerak menuju mulut tengkorak di pintu gerbang sana.


Tapi dia tak menghentikan pembacaan mantranya.


“Thretaria cradya keysavana (tiga belas ahli kunci)”


Dan tiga belas pasang mata sosok-sosok pemegang kunci pun bersinar hijau semuanya. Bahkan erangan beberapa dari mereka yang masih sadar sangat mengejutkan pendengarnya.


Seperti jeritan dikuliti hidup-hidup, itulah yang dilihat Caprio pada Izanami Forseti di depannya. 


“Ovena roomara ensa levarian (Membuka ruang yang bernyawa)


Perlahan tengkorak-tengkorak yang sudah memakan jiwa itu bergerak. Mencoba menyatu agar garisan pintu muncul di tengah-tengahnya.


“Eathera nas damonea redas hugarebas (Menelan sang pendosa dalam pelukannya)


Dan bunyi seperti reruntuhan batu muncul ketika garis tersebut kian melebar karena pintu gerbang terbuka.


“Ixiakey vestra nad ragna, re armurus insuy soulkazias til aseka, re endds loseven levaria cradya keysavana, stazia sleephera re sain, Reygan Cottia (Kusegel nama dan ragamu, di penjara sunyi jiwamu tak mati, di akhir penghabisan nyawa ahli kunci, tetaplah terlelap di sini, Reygan Cottia)


Akhirnya, gerbang itu terbuka lebar dan menampilkan isi di dalamnya. Awalnya gelap namun mulai memudar dengan kemunculan rantai di sana. Kuyang tak habis pikir akan apa yang disaksikannya.


“Abteriov (terbukalah)”


Bola api yang terkurung dalam penjara berantai itu pun mendadak berkobar dengan hebatnya. Begitu panas sampai-sampai Kuyang menjerit karena perih yang dirasakannya.


Dan beberapa saat kemudian muncullah sebuah siluet dari gemuruh terbakar itu. Semakin lama terus memperlihatkan wujud sempurna penghuninya.


Di mana seorang pria yang kedua tangannya terantai pada salib begitu mengenaskan kondisinya. Hampir seluruh tubuhnya di penuhi tusukan pedang.


Dan wajahnya ditutup dengan kain hitam.


Dialah Reygan Cottia salah satu penyimpang yang keji menurut sejarah Dunia Guide.


“Reygan.”


Tapi saat Kuyang akan bergerak setelah melepaskan sentuhan pada peti mati, dia pun mengerang kesakitan. Karena baru sadar kalau rantai yang muncul dari serigalanya masih terhubung dengan raganya.


Mau tidak mau dia berusaha menarik itu walau nihil hasilnya.

__ADS_1


“Apa ini efek samping karena aku bukan ahli kuncinya?”


Tiba-tiba ia terkesiap. Karena mendengar rintihan aneh seseorang. Sontak saja Kuyang menoleh ke arah gerbang. Mengira mungkin orang itulah yang bergumam.


“Reygan?”


“S-su ...” tak lagi terdengar apa-apa.


“Reygan?” ulang wanita itu memanggilnya.


“Suara itu, Kuyang.”


Gadis itu pun menyeringai karena senang. “Kau!” Tapi ia lagi-lagi tersadar kalau dirinya tak bisa bergerak sekarang.


“Apa yang terjadi? Kau di sini? Kupikir aku sudah mati.”


“Belum. Kau belum mati, Reygan. Kau di penjara oleh orang-orang keparat itu!” jelasnya dengan berapi-api.


Tawa pelan pun berkumandang dari sosok yang terikat. “Keparat, ah, tiga belas ahli kunci. Aku mengingatnya. Orang-orang itu benar-benar luar biasa.”


“Ya. Karena murid dan anakmu juga ikut serta.” Sungguh sosok yang masih tak terlihat wajahnya itu benar-benar tidak bisa menghentikan tawanya. Membuat Kuang mengernyitkan dahi bingung karenanya. “Apa yang lucu?”


“Kupikir, aku akan bisa melihat mereka lagi.”


“Jangan mimpi. Beberapa sudah terkurung di peti mati.”


“Benarkah?”


“Ya, salah satunya ini,” gumam wanita itu sambil melirik kotak besar di sampingnya. “Aku benar-benar hampir kehilangan nyawa hanya karena mengambil petinya.”


“Mantan Raja bangsa elf, Zeus Vortha.”


“Ah, monster bermuka dua itu ya?”


“Ya. Tapi aku tak tahu apa dia benar-benar sudah mati atau belum. Mengingat petinya tak bisa dibuka karena terkunci.” Suasana pun mendadak hening untuk keduanya. Tentunya Kuyang menatap bingung pada sosok yang tak lagi bicara. “Reygan?”


Suara helaan napas pun terdengar dari pria itu. “Cukup menyusahkan. Padahal kalau petinya terbuka, bisa saja kita menyerap informasi dari otaknya. Mengingat dia sosok agung yang ditakuti oleh semua.”


“Nyatanya bangsa elf hancur di masa kepemimpinannya.”


“Ya. Dan dia juga membiarkannya.” Sekarang mereka tak lagi berbicara. Wanita itu melirik ke arah rantai di belakangnya. Entah kapan benda itu akan lenyap sebab ia sudah tak tahan ingin bergerak dari sana. “Apa kau tak akan membebaskanku?”


“Membebaskanmu?” wanita itu tersenyum remeh. “Benar juga. Kau tak bisa melihat apa-apa ya. Seharusnya kau saksikan seperti apa kondisiku karena sudah bersusah payah membantumu.”


“Ceritakanlah. Mungkin aku akan membalas budi.”


Senyum tipis pun terpatri di bibir Kuyang.


Sementara sosok-sosok yang berkaitan dengan penjara Reygan atau peti mati Zeus Vortha, semuanya pingsan.


Tentu saja orang-orang yang kebetulan berada di dekat mereka menatap tak percaya pada apa yang disaksikannya.


Caprio pun tersentak dan berusaha menyadarkan Izanami di depannya.


“Iza! Bangun Iza! Bangun!” ucapnya sambil menepuk pelan pipi laki-laki itu.

__ADS_1


Akan tetapi, memang butuh waktu untuk menyadarkannya. Dan kondisi berbeda diperlihatkan oleh Cley Vortha di kawasan bangsa empusa.


“Hei! Apa kau baik-baik saja?” Ragraph terlihat khawatir.


Tapi Dokter jenius yang aneh itu tidak mengatakan apa-apa. Mengingat sosoknya bukanlah ahli kunci jadi tak ada ukiran di lengannya.


Namun telapak tangannya yang bersinar tadi masih menyisakan perih di sana. Pertanda kalau ada sesuatu yang sudah terjadi berkaitan dengan peti mati kakeknya.


“Hei! Kau mau ke mana?”


Sang Dokter pun tersenyum kepadanya. “Sepertinya, ada yang ingin kuberi pelajaran.”


Di satu sisi, Aegayon Cottia tersadar lebih cepat. Semua tentu saja karena suara Serpens yang terus mengganggunya. Dan dengan susah payah dibangkitkannya tubuh lemahnya. Duduk dengan benar sambil mata mengarah pada lengannya.


“Yang Mulia.”


“Mm.”


“A-anda baik-baik saja?”


“Tidak.”


“A-apa yang terjadi?”


“Monster sudah kembali.”


“Apa!” pekik Wakilnya akibat kaget mendengarnya.


“Serpens.”


“Ya, Yang Mulia?”


“Keluar.”


Laki-laki itu pun terkesiap mendengarnya. Tapi apa mau di kata. Dia terpaksa mengikutinya. “Baik. Kalau begitu saya undur diri dulu. Jika ada yang anda butuhkan silakan beritahu saya nantinya.”


“Mm.”


Seperginya Serpens dari kamarnya, sosok itu perlahan menurunkan kakinya menginjak lantai dingin di ruangan.


Anehnya, walau ruangan itu gelap dengan sinar samar dari celah-celah gorden di jendela, tapi fisik sang Raja benar-benar tak disangka.


Tak seperti para bawahannya. Bisa dikatakan fisiknya ringkih dan seperti pemuda kurus kurang asupan. Padahal usianya tiga puluh tahunan, namun tak seusai kenyataan. Tubuhnya dibalut pakaian mirip jubah tidur yang kedodoran.


Tapi satu hal yang pasti, rambut panjangnya memang berwarna pirang nan indah. Serta memancarkan serbuk emas ke sekitarnya.


Dialah sang Raja gyges yang masih tak jelas seperti apa wajahnya.  


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2