
Betsheba melirik bingung. Entah kenapa, suasana di Hadesia terasa berbeda. Terlebih parahnya lagi dengan kemunculan gagak pesan dari bangsanya. Sebuah tanda, kalau Aegayon Cottia sang pemimpin sekaligus muridnya benar-benar membutuhkannya.
Terpaksa dirinya menemui Aza. Setelah meminta izin para guru besar karena ada ujian untuk murid-muridnya, putra Maximus pun berhasil ditemuinya.
Mereka sedang berbicara tak jauh dari asrama dengan ekspresi waspada.
“Aku harus kembali ke bangsaku.”
“Lalu aku bagaimana?”
Tangan pak tua itu pun menyentuh bahunya. “Apa kamu tidak keberatan tetap di sini sampai aku kembali?”
“Berapa lama?”
Tetua bangsa gyges terdiam. Terlihat ekspresi keraguan di wajahnya, seolah berpikir keras jawaban apa yang pantas dilontarkan dari mulutnya.
“Aku tak bisa memastikan. Tapi, aku pasti akan melindungimu apa pun yang terjadi,” dan tangannya pun diarahkan ke kening Aza.
Anak itu membeku, menyadari ada sensasi aneh merasuk ke sana. Panas menerpa seluruh tubuhnya. Dan perlahan mendingin seolah menyejukkan raga.
Putra Pangeran perang menengadah memperhatikan rupa pak tua yang terengah-engah aliran napasnya.
“Buka mata dan telinga. Dan berhati-hatilah, walau gagak pesan sudah kutanamkan untuk jaga-jaga tapi kita tidak tahu apa yang ada di sini. Kamu mengerti?”
“Mm,” angguk anak itu.
Dan tiba-tiba, Betsheba Voskha malah memeluknya. Menimbulkan kebingungan anak itu akibat ulahnya.
Aza merasa aneh, akibat sensasi tak biasa. Sampai lantunan harapan ditorehkan pak tua itu untuk masa depannya.
“Semoga kamu selalu dilindungi dan diberkati. Tetaplah hidup apa pun yang terjadi, wahai cucuku Aza Axadion Ergo.”
Akhirnya, mereka pun terpisah. Sosok bernama palsu itu menatap tenang ke arah gurunya. Di mana sorot mata Quisea Sirena seperti melirik sinis ke arahnya.
Mungkin takkan ada satu pun yang menyangka. Kalau Aza, Blerda, Orion, serta Lascarzio, peka dengan pandangan milik guru mereka.
Keempat anak itu menyadari kalau sang guru seperti memendam sesuatu pada pengendali magma.
Sementara sosok putra Tetua dari chimera, menatap tak percaya ke arah cucu angkat ayahnya. Di mana Thertera ternyata wajahnya sudah baik-baik saja tak seperti sebelumnya. Batinnya serta teman-temannya meradang melihatnya. Bertanya-tanya apa yang terjadi kepadanya.
__ADS_1
Namun kesempatan mengganggunya sirna karena ujian yang diadakan para guru di sana.
Memang menyedihkan sebab Thertera Aszeria diperlakukan semena-mena dan tidak dianggap kehadirannya, bahkan terkadang makan juga tak diberikan oleh pihak akademi sebab anak itu bukan tanggungan Hadesia.
Namun teman-teman barunya sangat membantunya.
Siapa lagi kalau bukan Lascarzio serta Blerda yang berbagi makanan kepadanya.
Mungkin ia harus bersyukur walau posisinya menyedihkan di Hadesia, tapi sosoknya diizinkan mengikuti pelajaran para guru dari kejauhan di depan mata.
Asap pun mulai mengepul dari pembakaran di tengah-tengah tanah lapang di sana. Mantra berupa nyanyian malam bloodgrya dilantunkan Vea Krusevka dan August Belmera.
Sementara Belze Brask juga Jascuer Alcendia melingkari pinggiran tanah itu dengan tetesan darah hewan buas milik Hadesia. Sampai akhirnya, aroma asap bercampur anyir semerbak baunya di penciuman semuanya.
Perlahan namun pasti seperti mengambil alih semua pikiran para murid di sana. Mereka pun pingsan tiba-tiba tanpa bisa bersiap sebelumnya.
Dan para guru yang menyaksikan itu pun pergi setelah menyelesaikan mantra terakhir mereka.
“Ayo,” ajak August pada rekan-rekannya.
“Menurut anda, siapa yang akan terbangun duluan?” pertanyaan Jascuer memperlambat langkah masing-masingnya.
Sementara dua lainnya tidak mengatakan apa-apa. Namun beberapa detik kemudian, August Belmera menyuarakan apa yang mengganjal di hatinya.
“Ayo telusuri area pembunuhan, karena mungkin saja ada jejak pembunuh Helgida dan Romario yang bisa kita dapatkan.”
Semuanya pun mengangguk menyetujuinya.
Sekarang, Thertera Aszeria terdiam. Dia yang tadi pingsan tiba-tiba sekarang terjaga di tempat antah berantah. Ada lima patung di depan mata, melambangkan kemampuan yang sudah pernah dilihatnya saat akan menyandang status sebagai guider pemula.
Tapi di sana, tak ada Crabius yang bertugas sebagai penjaga.
Sehingga sosoknya menjadi bingung ujian Hadesia seperti apa yang baru saja dimasukinya.
Perlahan, desiran aneh berkumandang dari dalam tanah. Seolah ingin membangkitkan sesuatu namun permukaan tampak tenang di penglihatan.
Sampai akhirnya suara gonggongan hewan menyentak kesadarannya. Thertera pun menoleh lalu mendapati laki-laki yang wajahnya hancur seperti dirinya sebelumnya ditemani dua anjing doberman di sisinya.
Anak itu menyipitkan mata akibat sensasi tak biasa dari sosok di depannya.
__ADS_1
Beltelgeuse Orion.
Dia terjaga di atas sampan. Seperti terombang ambing di danau namun permukaan air diselimuti bunga melati. Dan diujung sana sebuah daun teratai raksasa mengapung dengan gagahnya sambil memamerkan sesosok laki-laki berwajah hancur disertai dua anjing di kedua sisinya.
Pemuda dari gyges pun menyipitkan mata saat sorot matanya bertemu pandang dengan rupa asing yang tersenyum ke arahnya.
Blerda Sirena.
Menengadah kepalanya. Dia berdiri di bawah pohon akasia namun berhias salju di dahannya. Tak peduli sejauh apa mata memandang hanya ada dia dan batang di depan mata yang menjadi lukisan di kawasan itu.
Tapi, hembusan angin pelan mengantarkan aroma darah ke arahnya. Sampai ia berbalik dan mendapati lima patung besar mengarahkan senjata di tangan kepadanya.
Jantung gadis itu pun berhenti berdetak akibat serangan tak terduga menghantam kesadarannya.
Dan sosok laki-laki berwajah hancur pun tersenyum menyaksikan pemandangan yang menimpa gadis itu dari kejauhan.
Trempusa Revos.
Sensasi dingin menusuk tulang. Tubuhnya bergetar hebat saat menyaksikan di mana dirinya. Di tanah pemakaman, dengan banyaknya kuburan yang menemani.
Tapi yang mengerikan bukanlah kesendiriannya, melainkan banyaknya tangan dari dalam gundukan itu seolah ingin bangkit ke permukaan.
Perlahan namun pasti ada suara samar mulai terdengar. Seperti lolongan tapi Trempusa tidak tahu itu ada di mana. Sampai akhirnya sorot matanya menangkap rupa seorang pria dan dua anjing di depan salah satu makam besar di ujung penglihatan.
Revtel Elkaztas.
Semua yang ia lihat hanya gundukan es. Seperti berada di dalam goa namun sensasi membekukan tak menyelimuti dirinya. Dan sosoknya pun terkesiap saat melihat dua ekor anjing berdiri berdiri tepat di bawah kakinya.
Seolah mereka terpisahkan oleh dua dunia yang sangat berbeda. Tiba-tiba langkah kaki seseorang mengalihkan perhatiannya.
Laki-laki berwajah hancur namun terkurung dalam bongkahan es berjarak lima meter dari posisinya.
Hydragel Kers.
Mungkin dialah yang terparah. Takkan pernah terpikirkan olehnya kalau ada rantai dari dalam tanah tertanam ke kedua lengan dan juga dada. Begitu membuka mata, lukisan menyedihkan ini menghiasi dirinya.
Bahkan kalung aneh juga mengikat lehernya. Seperti budak namun lebih parah kondisinya. Dan dia dikelilingi lima patung besar dengan lambang kemampuan di masing-masing dada.
Perlahan namun pasti langit-langit mulai bergemuruh iramanya. Menyanyikan petir sebagai pemandangan di atas sana.
__ADS_1