Death Game

Death Game
Sekaratnya para Raja


__ADS_3

 


Tapi hanya tampang arogan yang dipamerkan Blerda Sirena.


Sementara Sif Valhalla juga Aegayon Cottia, sedang berada di dekat tempat pengungsian. Tentnya Serpens terperangah melihat kedatangan Rajanya.


“Yang Mulia!” pekiknya keluar dari gerbang perlindungan. “Apa yang terjadi?!” kagetnya melihat kondisi tak berdaya sosok di depannya.


“Dia terluka, kami butuh elftraz (penyembuh) sekarang,” Sif Valhalla pun bersuara.


Sontak saja Serpens menoleh ke belakang. Mencari-cari bala bantuan. “Reoa!” teriaknya tiba-tiba. Dan orang yang dipanggil pun memalingkan wajah ke arahnya.


“Itu, Yang Mulia?!” syok Beltelgeuse Orion melihatnya. Dirinya dan juga Reoa pun langsung keluar dari gerbang. “Yang Mulia, apa yang—”


“Reoa! Tolong obati Yang Mulia,” potong Serpens tiba-tiba.


Tentunya orang tersebut langsung setuju. Tanpa berlama-lama mantra bola hijau disebutkan dan langsung mengelilingi Aegayon juga Sif Valhalla. Jujur saja, Reoa tak pernah melihat wujud pimpinannya, terlebih menyaksikan sosok yang ditutupi topeng juga jubah tersebut membuatnya penasaran.


“Apa yang terjadi? Bagaimana dengan area pertempuran?” tanya Serpens padanya.


“Maafkan aku,” ucap Aegayon tiba-tiba.


“Yang Mulia.”


“Maafkan aku, tak bisa melindungi tanah kita. Aku benar-benar minta maaf pada kalian semua.”


Serpens dan dua petinggi itu terdiam mendengarnya. Begitu pula sosok yang membawa Aegayon, dia hanya melirik diam rekannya. Mengingat pertarungan ini pasti menjadi hantaman berat untuk sang penguasa.


“Yang Mulia, ini bukan salah anda. Semua sudah ditakdirkan untuk kita, karena itu mari tetap semangat menghadapinya.”


Katakanlah, sang Raja gyges pasti senang memiliki Wakil seperti Serpens. Walau wajahnya tertutup topeng, sosoknya tak henti-hentinya memamerkan senyum di baliknya. Merasa puas karena memiliki bawahan pengertian yang tak pernah menyalahkannya.


Bagaimanapun dunia pasti tahu kalau dirinya merupakan keturunan berdarah Reygan Cottia.


Tapi, bunyi ledakan keras yang mengusik pendengaran berhasil mengalihkan perhatian mereka.


“Sensasi ini,” kaget Beltelgeuse tiba-tiba.


“Orion, ada apa?” Serpens menatap cemas ke arahnya.


“Bohong, i-ini tidak mungkin. M-mereka,” syoknya sambil menatap lengannya yang bergetar.


“Orion, ada apa?” Reoa Attia juga khawatir melihatnya.


“Sial!” pekiknya tiba-tiba dan pergi dari sana.


“Orion!” teriak Serpens namun sang petinggi mengabaikannya. “Aku akan mengejarnya!”


“Jangan!” cegat Aegayon. “Tetaplah di sini. Biar aku dan Sif yang ke sana.”


“Tapi—”


“Kau adalah Wakilku, Serpens. Itu berarti kau penggantiku. Tetaplah hidup, kalau seandainya terjadi sesuatu padaku. Aku berharap padamu,” ucapannya yang sangat menusuk perasaan membuat sang bawahan tak bisa berkata-kata.


“Yang Mulia.”


“Ayo, Sif,” ajak sang Raja pada rekannya.


Seolah penyembuhan sudah selesai baginya, keduanya pun pergi dari sana. Bagaimanapun juga, tekanan energi yang aneh di udara sungguh mengusik kesadaran mereka. Sebagai tanda kalau pertempuran mungkin berat sebelah sebenarnya.


Dan di sinilah, Orion. Gemetaran saat menyaksikan penampakan mengerikan di depan mata. Tak pernah terbayangkan olehnya, keadaan yang jauh lebih mengerikan dari pada insiden Cerberus sebelumnya.


Revtel, telah tergeletak tak berdaya di depan mata. Dihiasi aliran darah yang menggenangi tanah. Es menyeruak dari lengan sang Wakil Raja hydra. Tapi faktanya kaki juga lehernya telah digorok Reygan Cottia.

__ADS_1


Raguel Exon Vortha. Hangus badannya dan kehilangan satu mata. Bersandar pada reruntuhan dalam keadaan tidak sadar.


Heksar Chimeral. Raja bangsa chimera. Sang scodeaz level monster yang diakui kemampuannya. Tapi nyatanya sekarang telah kehilangan sayap dengan luka menganga di perut hingga bahunya. Sosoknya jelas sekarat di sana.


Izanami Forseti, pedangnya tertancap dari punggung hingga menembus tanah dalam keadaan terduduk. Mirip kondisi Aegayon sebelumnya, bahkan terlebih parahnya lagi, kedua kakinya hangus keadaannya.


Castroz Keres. Cucu dari mantan Raja phoenix terdahulu. Entah masih hidup atau tidak, satu hal yang pasti, dia kehilangan kedua tangannya dan juga pedang miliknya menghujam tubuh dalam keadaan terlentang.


Aza Axadion Ergo, seolah disalib pada dinding reruntuhan. Parahnya lagi, area perut hingga dada tertusuk oleh batu besar berujung tajam. Dan luka-lukanya memancarkan darah bercampur magma. Dilehernya terdapat segel pelumpuh milik Reygan Cottia.


Terakhir, Blerda Sirena. Tubuhnya telah terpisah menjadi dua. Perut hingga kakinya tergeletak tak jauh dari Raguel Exon Vortha. Sementara area hingga kepala rambutnya dijambak dan diseret Reygan Cottia.


Dia tersenyum pada Orion juga Aegayon serta Sif Valhalla yang baru datang ke sana.


“Selanjutnya kalian,” seringainya.


Terlebih parahnya lagi, tiga wajahnya itu dua di antaranya memamerkan aliran listrik di dalam mulut. Sementara rupa asli Reygan Cottia menampilkan senyuman menakutkan. Tak peduli apa pun yang disentuhnya, semua akan hangus akibat jurus petirnya.


Dan pedang putih yang memamerkan api biru itu mulai menyemburkan teriakan pelan lewat batu mengerikan di gagang pedang. Pertanda jiwa-jiwa para phoenix sedang bersemayam dan menyuarakan kebencian. Mereka masih hidup walau terkurung di dalam sana.


“Kau!” geram Aegayon menyaksikannya.


Tapi, justru jurus air Orion yang bergerak lebih dulu. Memburu sang penyimpang tapi ditepis seolah bukan apa-apa. Baru kali ini sosoknya menampilkan ekspresi mencekam. Pertanda kalau petinggi gyges tersebut memendam marah menyaksikan lawannya.


Sementara di tempat berbeda, Laraquel sibuk menangani Trempusa. Sampai akhirnya Lascarzio muncul tiba-tiba dan memukul rekannya dari belakang. Sang Raja empusa pun hampir tumbang. Tapi langsung pingsan begitu saudara seperjanjiannya menghantamkan dirinya dengan lentera. Benda tersebut pecah dan menyeruakkan rantai yang mengikat sosok pengendali sabit juga senjatanya.


“Kau—”


“Begini jauh lebih baik,” ucapnya sambil tersenyum pada sosok berwajah setengah tengkorak itu.


Dan akhirnya, Laraquel pun menoleh untuk memandang lokasi mengerikan di mata. Di mana para penantang Reygan Cottia telah sekarat tak berdaya.


Dirinya pun memilih ikut bergabung bersama Aegayon serta Sif Valhalla.


Di satu sisi Riz Alea terdiam. Langkahnya terhenti sekarang, saat perjalanan mereka terhenti oleh kehadiran sosok-sosok tak terduga.


Tangan terkepal erat dan tampang tak bersahabat terlukis di rupa Toz Nidiel.


“Siapa bajingan ini? Dia sangat kurang ajar,” Doxia pun menimpalinya.


“Aku duluan,” Reve tiba-tiba bersuara. Saat kakinya akan beranjak pergi, langkahnya pun tertahan oleh orang di depannya.


“Mau ke mana kau? Ayo reuni, bocah gila,” Jion tampak bersemangat mengganggunya. “Lho, mana ularmu? Bukankah dia terus bersamamu?”


“Kau mengenalnya?” Ellio bersuara tiba-tiba.


“Tentu saja. Dia kan anak donatur di sekolah kita. Yah, tak heran jika kau tidak tahu, lagi pula orang tuaku juga donatur seperti dirinya.”


“Sudah selesai mengocehnya? Minggir,” Reve pun mendorongnya. Tapi lengannya justru dicengkeram Jion.


“Kau pikir kau siapa? Berani memerintahku seperti itu.”


“Lalu kau siapa? Pulang sana dan menyusu pada ibumu.”


“Kau!” marah Jion akhirnya.


Reve hanya menyeringai melihatnya. “Aku benarkan? Bocah di bawah ketiak orang tuanya.”


“Brengsek!” kapak besar pun menyeruak dari tubuh Jion. Langsung ia ayunkan pada Reve Nel Keres sehingga sang pemuda menangkisnya.


“Assandia? Yah sesuai untuk bocah tak berguna sepertimu.”


“Tutup mulutmu, brengsek!” dan Jion semakin kesal lalu membabi buta menyerangnya. Tapi, ribuan pedang pun mendadak muncul di langit-langit sehingga membuat terperangah orang-orang yang baru pertama kali melihatnya. “A-apa i—”

__ADS_1


Belum sempat menyelesaikan kalimat, kemampuan Reve sudah menghujani Jion. Menimbulkan keterkejutan karena kehadiran sang penyelamat di antara mereka.


“Pak tua!” Jion berteriak melihat sosok yang membantunya.


“Kau,” gumam orang itu saat melihat Reve Nel Keres. “Bukan sekadar assandia biasa ya?”


“Sepertinya kau juga. Merlindia lumpur ya? Jarang sekali melihat seorang pak tua menggunakan sihir sejenis itu. Mau bertarung denganku?”


“Tidak. Lebih baik kau pergi jika memang ada urusan.”


“Tidak bisa!” sela Jion tiba-tiba. “Dia sudah menghinaku jadi aku harus menghukumnya!”


“Bocah menyebalkan. Tidakkah dia begitu arogan?” Xavier yang dari tadi hanya menonton ikutan kesal.


“Hentikan,” pak tua itu menimpalinya. “Aku tak tahu kau ada dendam apa padanya, tapi lebih baik kau hentikan semuanya. Lihat sekelilingmu,” suruhnya. Dan Jion pun menuruti perkataannya. “Orang-orang yang bersamanya bukan sekadar guider biasa. Ada yang setara petinggi bersamanya,” lirihnya sambil menatap Xavier juga Horusca secara bergantian.


“Cih!”


“Ayo pergi,” ajak Rexcel akhirnya. Dan mau tidak mau Jion diam saja melihat mereka melewatinya. Tapi saat berpapasan dengan Riz, kalimat tak terduga pun tersembur dari mulutnya.


“Tunggu saja pembalasanku. Kau dan juga ibumu.” Terkesiap. Semuanya terkejut karenanya. Akibat pukulan yang tiba-tiba dilancarkan Toz Nidiel kepadanya. “Kau—” Tapi tak berhenti sampai di situ saja, sang scodeaz (pengendali) juga melancarkan tendangan yang menghantam Jion. “Agh!”


“Hentikan Toz! Hentikan!” Riz melerainya.


“Jangan halangi aku, Riz! Bahkan dia sudah berani membawa-bawa ibumu! Bajingan ini harus dihabisi agar tidak lagi mengganggu!”


“Toz!”


Tiba-tiba lumpur menghalangi pukulannya dan membuat Toz mengerang kesakitan. Sontak saja Rexcel, Doxia, Reve, serta Horusca, memamerkan kemampuan mereka yang diarahkan ke leher pak tua itu.


Ellio yang menyaksikannya terdiam tak berkutik dan juga tak berniat membantunya.


“Kuharap, kalian benar-benar tidak serius untuk membunuhku.”


“Seharusnya kau urus bocah cerewet yang bersamamu,” tekan Doxia.


“Hei, ayo pergi. Tak ada gunanya mengurus sampah seperti ini,” ajak Xavier tiba-tiba. Dia pun jalan duluan meninggalkan mereka. Diiringi Reve selanjutnya, sampai akhirnya Riz juga Toz memilih mengabaikan Jion namun sorot mata keduanya tertahan pada Ellio.


Pertanda kalau ada sesuatu yang mengganjal di hati masing-masingnya.


“Brengsek! Brengsek! Brengsek!” kesal Jion sambil memukul tanah. “Kenapa kau diam saja?! Seharusnya kau juga membantuku Ellio!”


“Lawan kita banyak, yang ada kau dan aku akan cepat mati jika terus melawan.”


“Persetan dengan itu keparat!” sambil mencengkeram erat kerah baju Ellio. “Jangan lupa, kalau kau bisa di sini karena aku! Seharusnya kau bersyukur karena keluargaku sudah membantu orang tuamu yang miskin itu!”


Dan Ellio yang tak mengatakan apa-apa hanya menatap tenang ke arahnya. Sampai akhirnya pak tua yang menonton mereka melerai keduanya. 


“Tapi dia benar. Seandainya mereka serius, kita bertiga pasti sudah mati,” gumam pak tua itu dengan sorot mata memandangi punggung-punggung lawannya yang sudah menjauh.


“Cih!” Jion pun mendorong Ellio akhirnya. “Mati? Bukankah anda sangat kuat? Mereka pasti tak ada apa-apanya jika melawan dirimu.”


Pak tua itu pun tersenyum padanya. “Ya, mereka memang bukan tandinganku.”


“Lalu kenapa tidak bertarung saja?!”


Sekarang, tatapan orang itu beradu pandang dengan Jion yang terlihat masih kesal. “Karena pengikutnya, jauh lebih berbahaya dari yang terlihat. Jika dia serius, maka kita pasti akan tamat.”


Ellio pun melirik aneh sang pembicara lewat sudut matanya. Entah siapa yang dimaksud, namun pemuda itu terus merasa tidak nyaman. Saat pak tua di pandangan bersuara dan berekspresi berlawanan.


Seolah bermuka dua jika diperhatikan dengan benar.


“Near? Kamu lapar?” gumam Reve karena sang ular muncul dari dalam bajunya. Hewan itu hanya mendesis dan melingkari lehernya. Lalu menyandarkan kepalanya pada bahu majikannya dengan malas.

__ADS_1


Seolah ingin tidur sambil diterpa udara yang cukup menyejukkan.


 


__ADS_2