Death Game

Death Game
Sang Petinggi VS Sang Pemegang Kunci


__ADS_3

“Baguslah, dia marah,” Reve tersenyum remeh.


Horusca hanya menghela napas pelan. Dirinya lalu menatap langit-langit. “Firasatku tak enak,” desisnya sambil mengangkat kedua tangannya.


“Mau apa?” tanya pemuda ular sambil memutar-mutar pedangnya.


“Menyadarkan petinggi magma itu, aku bisa mendengar suaranya.” Tiba-tiba sorot mata Horusca menajam tatapannya. “Abteriov, insanus flos porta (terbukalah, gerbang bunga gila)” dan begitu selesai mengatakannya, kedua tangannya yang terangkat seperti mengeluarkan asap hijau.


“Jangan bilang—” geram Caprio menyadarinya. “Awas!” teriaknya keras tiba-tiba.


Pekikan itu jelas menyentak orang-orang di sana, terlebih tanah yang bergetar dengan rambatan tanaman bangkit secara liar menerjang semuanya. Tak terkecuali pak tua berambut hitam legam atau pengendali serbuk besi yang melawan Aza Ergo juga ikut diserang.


“Kau gila,” ledek Reve yang berdiri di dekatnya.


Jurus gila Horusca itu seperti cambuk tanaman raksasa dalam jumlah banyak, menyerang, mengejar atau ingin melilit apa pun yang diinginkannya. Akan tetapi, sepertinya itu tak berlaku untuk sosok petinggi gila yang kehilangan kendali.


Kemampuan miliknya, benar-benar merepotkan. Bahkan raungannya makin mengeras terlebih retakan di badannya terus-terusan mengalirkan magma.


Perlahan namun pasti, retakan akar di tanah yang sudah ditutupi serangan tumbuhan es Horusca sebelumnya kembali memancarkan sinar merah.


“Dia datang,” Reve bersiap di posisinya.


“Ayo,” Horusca pun menyatukan kedua tangannya yang terangkat dan mengambil salah satu pedang mengambang Reve secara tiba-tiba.


“Kau! Bagaimana—” pemuda ular itu tak percaya, kalau senjatanya baru saja disentuh ahli penyembuh itu.   


“BRAK!” suara ayunan pedang yang beradu dengan tangan magma Aza Ergo. Dirinya menahan serangan tiba-tiba dari sang elftraz yang entah bagaimana sudah tiba di depannya. 


“Dia cepat,” lirih pak tua berambut hitam legam yang sibuk menerjang jurus Horusca sebelumnya.


“Tapi kenapa dia juga menyerang kita?” tanya pengendali serbuk besi mencoba melindungi diri dari cambuk tanaman Horusca yang masih aktif.


Reve terdiam di posisinya. Tarian sang elftraz (penyembuh) dalam menyerang membabi buta pada Aza Ergo berwujud monster benar-benar luar biasa.


Siapa pun pasti takkan menyangka, jika seorang penyembuh yang dilabeli petarung jarak jauh atau menengah justru menari di garda terdepan.


“Elftraz (penyembuh) level bangsawan memang beda ya,” seringai tipis Reve. Tangannya terangkat, perlahan pedang-pedang dari julukan assandia (petarung) langka miliknya bermunculan.


Tanpa ampun, ia hujani sang petinggi gila dari empusa dengan maksud melemahkannya. Karena bagaimanapun Horusca Aste punya cara untuk mengembalikan kewarasan Aza Ergo agar tidak menggila.


Kalau seperti ini terus, kemungkinan petinggi dari area terdekat akan datang dan rahasia mereka yang merupakan buronan bersama petinggi penipu seperti Aza Ergo bisa terbongkar.


“Brengsek!” umpat Caprio tiba-tiba. Reve dan Horusca tersentak menyadari pria berbandana itu berlari cepat ke arah sang elftraz (penyembuh).


DEG!


“BRAK!” suara yang memecah tanah dari duri-duri magma bermunculan.


Horusca mendecih karena duri itu berhasil melelehkan ujung pakaiannya dan juga melukai lengannya. Namun untungnya itu juga mampu menghentikan langkah Caprio mendekatinya.


“Sial, kapan dia akan sadar?” jengkel Reve. Sejujurnya, kemampuannya sangat tidak stabil akibat sekarat sebelumnya. Bahkan tatapannya sebenarnya mulai samar karena kelelahan dan energi yang terkuras.


Tapi, jika dirinya pingsan maka itu akan berdampak buruk bagi Horusca dan Aza. Bagaimanapun sang elftraz (penyembuh) adalah nyawa kelompok mereka dan petinggi empusa merupakan pilar sekaligus ujung tombak baginya.


Di dunia guide yang kejam dan penuh rahasia, menjaga kekuatan dan kesatuan kelompok sangatlah penting saat ini juga.


“Horusca!” teriak Reve memanggilnya. Entah apa yang direncanakan laki-laki tersebut, tapi seringai tipis di bibirnya itu bukanlah pertanda baik. Dan tak disangka-sangka pemuda berambut merah menyadari sesuatu lalu berlari ke arahnya.


Tiba-tiba, Reve Nel Keres mencengkeram mata pedang dan menyayat tangannya sehingga darah segar berjatuhan.


“Nigel (muncullah)” sambil menancapkan pedang ke tanah. “El rugit de l’espasa plou! (raungan hujan pedang!)”


Selesai mengatakan itu, awan di langit menggelap dengan gemuruh angin besar berhembus tanpa batasan. Semua terjadi akibat ribuan pedang yang bermunculan di udara seperti hendak menghujani mereka.


“A-apa-apaan itu?!” pekik salah satu penghuni kawasan di sana karena penasaran dengan kegemparan di hutan.


“Lakukan,” gumam Reve dengan tangan gemetar di gagang pedang dan kedua lutut yang menyentuh tanah.  

__ADS_1


Sontak, ribuan pedang di langit mereka segera menghujani area itu seperti hujan yang tak kenal ampun rintikannya. Meluluh-lantakkan daratan hutan akibat dahsyatnya serangan assandia (petarung) langka karena sepak terjangnya.


Bahkan raungan tak jelas terdengar dari sang monster bara. Entah ia terluka atau tidak Reve tak peduli karena yang penting adalah Aza Ergo cepat sadar dan bisa disembuhkan Horusca.


Bagaimanapun titik terdalam daratan bawah hutan telah digenangi retakan besar magma, dan Reve tahu itu dari ular kesayangannya. Jika tetap dibiarkan maka kawasan ini akan tenggelam dengan kemampuan tak kenal ampun milik sang petinggi empusa.


Julukan jenius dan gila memang pantas disandangnya. Bukankah konyol jika kegilaannya yang kehilangan kendali itu ikut membunuh rekan-rekannya?


Reve tak bisa menerima itu semua. “Selanjutnya kuserahkan padamu, Ho-rus-ca,” gumamnya pelan sebelum akhirnya jatuh pingsan.


Di sekelilingnya, telah dilindungi tanaman kokoh Horusca Aste memakai mantra dan darahnya.


Di antara lima kemampuan, para elftraz (penyembuh) satu-satunya yang diberkahi keahlian pengendalian tanaman luar biasa serta penyembuhan tak terbatas tergantung tingkatannya. Bahkan mereka adalah pemilik energi kekuatan terbesar yang tak bisa dibandingkan dengan merlindia (penyihir), tankzeas (pelindung), assandia (petarung), ataupun scodeaz (pengendali).


Karena itu, dalam pertarungan atau perperangan, mereka diincar lebih dulu sebab merupakan nyawa bagi sosok-sosok di depannya. Sebuah fakta, mengingat para elftraz (penyembuh) memiliki kemampuan terburuk yang dibenci para dewa akibat para pengkhianatan dari penyembahnya.


Dan sekarang, sang elftraz (penyembuh) level bangsawan berdiri tenang menatap keadaan sekelilingnya.


Suara napas terengah dari sosok yang masih bertahan melindungi diri masing-masing mulai terlihat nyata.


Redena, dengan kaki berhias pesakitan akibat serangan Aza Ergo sebelumnya tampak dilindungi sosok dari bangsa chimera.


Caprio.


Dialah orangnya. Pria berbandana dan berambut pirang itu memperlihatkan wujud scodeaz (pengendali) tingkat tinggi yang selalu disembunyikannya. Wajahnya hampir menyerupai singa, namun juga seperti manusia. Akan lebih tepat jika disebut siluman kalau melihat perawakannya. Energinya mengerikan, walau luka-luka dari serangan hujan pedang Reve Nel Keres menyiksanya tapi tak memberikan efek dalam pada tubuhnya.


Izanami Forseti. Sosok misterius yang memegang rahasia kunci penjara Reygan Cottia. Kendali darah sebagai serangannya, membuktikan kalau dirinya seorang merlindia terlarang. Walau tubuhnya tercabik-cabik akibat serangan barusan, itu tidak menolak kenyataan akan darahnya yang bergerak sendiri di udara seperti punya kehidupan.


Blades, begitulah sebutan bagi mereka yang mengenalnya. Pak tua berambut hitam legam dari bangsa siren. Guru Redena, sekaligus assandia (petarung) yang sangat hebat. Terbukti dari serangan Reve Nel Keres tak begitu memberikan efek walau dirinya masih tetap terluka.


Izakiel. Sosok asing penghuni penjara Lagarise. Pemilik tongkat ranting yang memiliki kendali tingkat tinggi akan serbuk besi. Atau lebih tepat disebut sebagai seorang merlindia (penyihir) dari bangsa manusia.


Dirinya tersenyum, walau tangannya putus dan meneteskan darah segar di sana tapi guratan itu masih belum memudar. Horusca hanya diam memperhatikan, sosok aneh dan mencurigakan jika dilihat ekspresinya.


Terakhir Aza Ergo. Petinggi cerewet dari bangsa empusa. Sosok gila dan tersangka berdarah dalam pelatihan dingin Hadesia. Merlindia (penyihir) magma dengan daya serang seperti lautan yang ombaknya menggila. Ujung tombak sekaligus pilar dari kelompok buronan yang dibawanya.


Sekarang, terdengar tawa pelan dari mulut sang pengendali magma yang tadinya kehilangan kontrol akan dirinya.


Tubuh aslinya, telah kembali namun bermandikan cairan merah yang menyala. Ekspresi santainya, menyiratkan seberapa hebat kemampuan di dirinya. Dan tato aneh di dahinya, melukiskan kalau kendali terlarangnya sudah kembali ke wujud normal.


Dia sudah sadar.


“Aza Ergo,” gumam Horusca.


“Ah, terima kasih karena sudah menyembuhkan luka di dadaku,” seringai tipisnya sambil menarik tanaman dari balik bajunya.


Orang-orang terdiam. Tentu menjadi suatu tanda tanya, bagaimana cara Horusca menyembuhkan luka di dada Aza Ergo karena dia tak terlihat memakai kemampuan penyembuhan padanya.


 Elftraz (penyembuh) berambut merah itu memang penuh rahasia.


Perlahan, sang petinggi empusa berjalan mendekati rekannya. “Oh, dia pingsan ya,” lirihnya sambil menusuk-nusuk pinggang Reve Nel Keres.


“Dan itu gara-garamu.” Aza tertawa lalu melirik sekelilingnya. Tetesan-tetesan magma yang membasahi tubuhnya lambat laun menghilang seiring tato di dahinya. “Jurus apa yang kau gunakan?” tanya Horusca masih tetap memandanginya.


“Hexlama (kutukan kegelapan).”


“Kau empusa kan? Kenapa mantra bangsa tradio ada padamu?”


Sang petinggi menyeringai begitu lirikan matanya bertemu dengan Caprio dan Izanami. “Kenapa ya? Aku juga ingin tahu,” tangannya lalu menyentuh permukaan tanah. Seketika, lima gumpalan magma bermunculan dan membentuk rupa singa.


“Brengsek!” umpat Caprio melihatnya.


“Bahkan setelah terluka dan mengamuk, kau masih saja punya energi sebesar ini,” ucap Izanami tiba-tiba.


“Mungkin karena aku terlalu hebat? Rupa tampanmu sekarang tragis. Kenapa tak kau katakan saja? Setelah itu kami akan pergi.”


Lirikan mata Izanami kian menajam. “Tutup mulutmu empusa.”

__ADS_1


Aza tak bisa menghentikan senyum di bibirnya. Perlahan, magma berupa singa itu melangkah ke tempat orang-orang yang masih sanggup berdiri.


Sementara Redena, salah satu kakinya yang sempat dilubangi duri magma sang petinggi kian merasakan sakit tak terkira. Tulang dan kulitnya, mulai meleleh karena serangan sialan itu. Dia merintih dan juga mengucurkan keringat dingin di tubuhnya.


“Redena!” Caprio agak cemas melihat kondisinya.


“Kenapa perempuan itu?”


“Kena serangan gilamu,” jelas Horusca.


Aza tersenyum remeh. Entah apa yang ia gumamkan tanpa suara, tapi tiba-tiba teriakan keras pecah di bibir Redena. Sisa-sisa magma di kakinya kian memakan habis daging dan tulangnya.


“Kau!” geram Caprio menoleh pada petinggi di belakangnya.


 “Redena!” pak tua berambut hitam legam pun menghampiri muridnya yang tampak kesakitan itu.


Meraung keras, bahkan lubang itu kian melebar hendak melahap kaki Redena. Ekspresi Aza benar-benar puas dalam menyiksanya.


“Hentikan mantramu!” teriak lantang Caprio sambil berlari ke arah Aza.


Sontak saja cambuk tanaman yang tadi tumbuh dan masih bergerak di udara tanpa menyerang siapa pun, mulai membentuk barisan pagar pelindung. Mencoba menjadi pembatas, agar tak ada satu pun yang mendekat pada Aza, Horusca dan Reve Nel Keres.


“Pilihlah, berikan apa yang kuminta atau kubakar habis kakinya,” ancam Aza sambil melirik raut muka dingin Izanami.


“Kau!” geram Redena di sela-sela teriakannya. Dia benar-benar marah sambil mencengkeram erat mata kakinya. “Potong kakiku guru!” pinta wanita itu tiba-tiba.


Ucapannya jelas membuat sang guru dan Caprio terbelalak.


“Bakar kakinya, dan kutukanku pada bocah yang kabur tadi juga akan bangkit. Kehilangan kaki dan juga nyawa, mana yang menurutmu lebih berharga?” lirih Izanami dengan tatapan menantang.


Horusca serta Aza terdiam. Seketika mereka teringat dengan Riz Alea yang tadi hampir mati.


Tapi, bukan Aza namanya jika dia akan menyerah. Tatapan pun diedarkan pada sekeliling, sampai akhirnya beradu pandang dengan sosok merlindia (penyihir) pengendali besi. Entah kenapa, dia yang kehilangan sebelah tangan itu tersenyum aneh padanya.  


Aza Ergo pun mengernyitkan wajah bingung.


“Memang tak ada gunanya lagi bicara,” pandangannya pun teralihkan menatap Reve Nel Keres yang pingsan dekat kakinya. “Aku juga tak butuh kunci itu. Tapi janji tetaplah janji, karena itu aku akan mendapatkannya,” ucapnya sambil mengangkat sebelah tangan.


Energi di telapaknya memanas dan menimbulkan aura merah. Orang-orang terdiam, begitu juga Horusca yang berdiri di sebelahnya. Sampai akhirnya siluet membentuk pedang dari magma muncul di sana dengan gagahnya.


“Espasa de magma (pedang magma)” gumamnya.


“Begitu ya,” balas Izanami Forseti. Sebelah tangannya juga terangkat dan memunculkan pedang darah di sana.


Sama-sama berwarna menyala namun juga beraura berbeda. Kedua sorot mata sang petinggi dan pemegang kunci, menguarkan tekanan yang serupa.


Udara pun mendingin karenanya.


“Iza!” sela Caprio tiba-tiba. Akan tetapi, itu tak memudarkan keseriusan sosok misterius yang mulai paham dengan situasinya.


“Perhatikan punggungmu,” Aza Ergo memperingatkan Horusca sambil meliriknya lewat sudut matanya. 


Perlahan, hembusan angin menerpa permukaan daun-daun yang masih mencoba bertahan di posisinya. Sampai akhirnya hempasan terakhir menguat dan melepaskan ikatan untuk melayangkan mereka.


Aza Ergo serta Izanami Forseti pun menghilang di posisi masing-masingnya.


“TRANG!”


Suara ayunan pedang yang saling beradu. Urat-urat di tangan keduanya memperlihatkan dengan jelas seberapa kuat tekanan kekuatan pada senjata.


Ini benar-benar tontonan luar biasa. Kemampuan berpedang keduanya seimbang walau Aza berhasil melukai bahu lawannya sementara Izanami telah menodai lengannya. Bahkan pijakan di tanah makin tenggelam saat sang pemegang kunci menghujani petinggi empusa dengan serangan yang membabi buta.


Tapi, mereka berdua memang gila.


“Apa harus begini?” tanya pak tua berambut hitam legam melirik Horusca. “Apa yang kalian inginkan?” tanyanya.


Sepertinya suara itu takkan sampai pada Aza Ergo dan Izanami yang sibuk bertarung. Seolah tuli telah memakan pendengaran mereka selain tampang petarung gila di kedua wajahnya.

__ADS_1


Caprio dan Redena yang kesakitan hanya bisa terdiam melihat sosok temannya, memperlihatkan ekspresi seperti itu untuk pertama kalinya.


“Yang kami inginkan?” gumam Horusca. Tangannya pun terangkat dan menunjuk ke arah Izanami. “Tanyakan padanya, setelah itu kalian akan kusembuhkan sebagai gantinya.”  


__ADS_2