Death Game

Death Game
Jiwa dari Tengu sang penjaga


__ADS_3

Thertera Aszeria.


Berselimutkan energi merah di tubuhnya. Jari-jari dihiasi cakar serupa pisau dan lengan berselimutkan sisik dari baja. Ada pedang besar di tangannya. Di mana bilah itu lebarnya melebihi tubuh guider. Diiringi sayap gagak di belakang punggungnya.


Ia tampak gagah di mata, terlebih wajah hancurnya sudah tidak ada lagi berkat pengobatan darah yang dipersembahkan Lascarzio.


Akan tetapi, tentu saja harga yang dibayarkan tidaklah murah. Di mana mereka terikat akan sebuah janji sampai dibawa mati.


“Roh dari tengu ya. Scodeaz (pengendali) yang mendapatkan jiwa murni sang penjaga gunung kayangan. Apakah aku harus bertepuk tangan untukmu? Wahai keturunan berdarah bangsa chimera.”


Thertera terkejut dibuatnya. Perlahan, wujud yang terpaksa ia munculkan akibat serangan dari anjing doberman mulai memudar penampilannya.


Kekuatannya begitu terbatas dalam mempertahankan itu semua.


Sampai akhirnya laki-laki di depan mata muncul tiba-tiba di hadapannya.


“Tahukah dirimu bahwa keberuntungan sangat memihakmu?” sambil tangan menyentuh wajah anak itu.


Thertera terbungkam. Ekspresinya menegang, merasa waspada akan serangan yang mungkin tiba-tiba dilancarkan oleh lawannya.


“Kau sudah lulus ujian guider, jadi kenapa dirimu datang kembali? Wahai pembawa jiwa Tengu.”


“Aku terpaksa karena ada ujian, sehingga tanpa sadar masuk lagi ke tempat ini.”


Laki-laki itu tersenyum, lalu duduk di atas salah satu anjing yang tadi menyerang Thertera. “Ingin kuberikan ramalan tentangmu?”


“Ramalan?”


Tangannya pun menyentuh dagu putra chimera. “Jantungmu akan dihujam oleh amukan tiga taring yang membara.”


Rasanya tak dapat dilukiskan. “Jantungku? Tiga taring? Apa itu berarti aku akan mati?”


“Sampai berjumpa lagi saat itu terjadi, wahai pembawa jiwa sang Tengu yang luar biasa.”


Thertera tersadar. Terdiam sejenak sambil menatap punggung tangan dalam posisi rebahan. Tiba-tiba terdengar olehnya sebuah suara, di mana Kers memanggilnya.


“Sepertinya, memang cuma orang berbakat saja ya yang sadar,” kekehnya.


Anak itu pun terdiam saat melihat wajah sang pembicara, Orion, Trempusa serta Blerda tak jauh darinya.


Ia pun menerka kalau keempat anak itu mungkin saja sudah lulus ujian masing-masingnya.


Namun suasana berbeda dilukiskan oleh Revtel. Sayatan besar mengoyak perutnya akibat serangan tiba-tiba dari jarum es yang muncul di bawah kakinya.


Sakit mendera seolah kematian sebentar lagi ingin memeluknya. Dan suara laki-laki berwajah hancur menghiasi pendengar sekarat anak haram Raja bangsa hydra.


“Takdirmu sudah ditentukan.” Perlahan, Revtel merasakan dingin di sekujur tubuh. Es mulai membekukan lukanya, juga menyelimuti permukaan kulitnya. “Kemampuan merlindia (penyihir) sangat menyukai jiwamu.”

__ADS_1


Samar-samar kesadaran kakak sepupu Kers itu mulai memudar fokusnya.


“Aku akan memberikan ramalan untukmu. Darahmu, suatu saat nanti akan memicu kegelapan. Napasmu takkan berhenti dengan mudah sehingga pisau menangis untuk menyentuh jantungmu. Keberuntungan keji memberkati dirimu. Sampai bertemu lagi di ujian selanjutnya, wahai pembawa darah beracun bangsa hydra.”


Revtel yang mendengarkan itu pun perlahan menutup mata.


Aza Axadion Ergo.


Dia mengeksekusi mati sosok anak kecil yang mirip dirinya. Melakukan hal keji itu saat memeluknya. Dan menggigit leher kembaran asingnya dengan taring yang memenuhi dalam mulutnya.


Mata ruby indahnya telah tercemar. Tangan serupa cakar hewan serta tanduk besar di kepala bagian kanan menyeruak ke permukaan.


Dia terkekeh sambil melirihkan kata tak terduga.


“Tak peduli apa pun yang terjadi, aku takkan mati sampai bertemu kakakku. Bahkan jika sakit ini ingin membunuhku, tapi aku akan terus terjaga dan membantai kalian semua yang ingin menghalangi jalanku. Semoga tenang di alammu, makhluk asing yang menyerupai diriku.”


Tiba-tiba tangannya berubah menjadi retakan bara dan menghancurkan kepala sosok yang mirip dengannya.


Tak peduli ekspresi seperti apa yang diberikan laki-laki berwajah hancur di ujung sana, karena bagi Aza Ergo dia hanya harus membunuh para pengganggunya.


Kesepian akibat ditinggalkan sang kakak memenuhi otak di wujud kecilnya.


“Ingin kubacakan ramalan untukmu?”


Sang pengendali magma pun tersenyum mendengarnya. “Ramalan?”


“Tak diragukan lagi. Helgida dan Romario pasti dibunuh oleh seseorang yang punya kemampuan meleburkan,” tukas August Belmera. 


“Tapi siapa? Kemungkinan terbesar hanya scodeaz dan merlindia.”


“Siapa di sini yang memiliki kemampuan seperti itu?” tanyanya pada Jascuer.


“Bagaimana dengan Besheba?” sela Vea Krusevka.


“Jika aku tidak salah, pak tua itu seorang assandia (petarung) dengan tombak,” Belze Brask ikut menimpali.


“Tunggu, bukankah muridnya seorang merlindia? (penyihir?)” Jascuer tersentak tiba-tiba.


“Benarkah? Apa kamu yakin?”  


“Ya. Karena Tuan Remus dan Ireas yang memberitahuku.”


“Jadi, apa kemampuannya?” Belze menatap guru besar di sampingnya.


“Entahlah. Tapi kata Ireas kemungkinan berkaitan dengan benang.”


“Apa kita pastikan saja?” tanya Belze pada tiga orang di depannya.

__ADS_1


“Bagaimana menurut anda? Tuan August,” tanggap Vea sambil melirik tenang ke arahnya.


“Baiklah. Biar aku sendiri yang memeriksanya.”


Semuanya pun tampak sepakat dengan keputusannya. Sementara Lascarzio Hybrida, sosoknya yang berada di pinggiran sungai dengan sayap rusak menatap tak percaya. Kalau sebuah roh berwujud bola api baru saja menemuinya.


Api itu tampak mengitari laki-laki berwajah rusak tersebut.


“Sudah saatnya anda hentikan permainan ini, Yang Mulia.”


Bocah berkulit eksotis itu pun tersenyum dibuatnya. “Sepertinya, memang susah bagiku untuk bersantai ya.”


“Akan kubukakan gerbangnya untuk anda,” sahut bola api itu dan berkobar besar penampakannya. Perlahan lubang hitam muncul dari tengah-tengahnya seperti membentuk pusaran air.


“Apa ada pesan yang ingin anda sampaikan?” tanya laki-laki berwajah rusak itu pada Lascarzio.


“Mm ... kupikir, aku akan merindukan teman-teman semuku,” kekehnya. Dan sosoknya pun memasuki lubang hitam berhiaskan api di pinggirannya. Lenyap seutuhnya dari sana, meninggalkan laki-laki dengan dua anjing doberman di belakangnya.


“Aneh,” gumam Thertera tiba-tiba.


“Aneh apanya?” bingung Kers melihatnya.


“Mana Lascarzio?”


Sontak saja Kers dan Blerda menoleh ke sekelilingnya. Memang tak terlihat pakaian mencolok dari bocah berkulit eksotis itu. Tapi, kebangkitan Aza mengalihkan perhatian mereka.


Di mana anak tersebut terjaga dengan pose yang luar biasa. Mengerikan, sebab dia seperti patah tulang di mata mereka. Kekehannya itu pun berhasil membuat bulu kuduk para pendengar berdiri tanpa aba-aba.


“K-kau!” syok Kers melihatnya.


Akhirnya, setelah melewati ujian kemampuan yang diritualkan para guru besar, bisa dikatakan seluruh muridnya berhasil mendapatkan salah satu dari lima cincin.


Tapi siapa yang bisa mengira kalau esoknya mereka diizinkan untuk pulang ke rumah masing-masingnya. Sebelum pelatihan terberat bagi semuanya dimulai di tanah Hadesia.


“Cih, akhirnya kita pulang juga. Selanjutnya tak masalah kan kalau kita tidak kembali?”


“Sayang sekali adikku, tapi kita pasti akan kembali apa pun yang terjadi,” gumam Revtel sambil berlalu pergi meninggalkannya.


Esok harinya, mereka kembali ke tanah masing-masingnya. Kecuali Aza Ergo, Lascarzio Hybrida dan juga Blerda Sirena.


Anak berkulit eksotis itu muncul tiba-tiba tanpa bisa disangka-sangka.


Sementara Thertera Aszeria, lagi-lagi dia harus merasakan pahit dalam hidup akibat ditindas majikannya.


Putra Tetua itu merasa marah akibat tindakannya yang menghilang tiba-tiba. Tentunya pukulan mentah dilayangkan padanya. Membuat memar di raga sebagai hiasan pulang ke kampung halamannya.


 

__ADS_1


__ADS_2