
“Aah, tanganku!” Reve menggoyang-goyangkan lengannya yang hangus akibat sambaran listrik. Mereka sudah sampai di kamar penginapan. “Andai saja aku elftraz (penyembuh), maka ini akan selesai dengan mudah,” ocehnya.
Toz yang tak punya pengalaman apa pun dalam mengobati luka seperti itu jadi bingung, dan memilih keluar kamar untuk menemui pelayan penginapan.
“Ada apa Tuan? Anda tampak terburu-buru,” sela lelaki yang pertama kali memandu mereka ke kamar.
“Ah! Kebetulan sekali kita bertemu di sini, ada yang ingin aku tanyakan padamu.”
“Silakan Tuan.”
“Aku butuh obat untuk luka.”
“Luka?”
“Iya luka, seperti luka hangus akibat sambaran listrik,” jelas Toz dengan ekspresi kelabakan.
“Baiklah, saya mengerti. Tolong tunggu sebentar. Saya akan ambilkan obatnya, silakan anggap ini sebagai bagian dari pelayanan di penginapan,” ucap lelaki itu membungkuk sopan.
“Benarkah? Terima kasih Tuan! Terima kasih,” balas Toz bernada girang.
Tak begitu lama menunggu, lelaki itu kembali lagi sambil membawakan sedikit air dari wadah karet kecil. Toz memandang wadah itu tanpa berkedip.
“Ini?”
“Ini air suci. Walau tak banyak, tapi ini akan membantumu. Tolong jangan beri tahu siapa pun karena ini sangat rahasia,” pungkas laki-laki itu sambil menempelkan jari telunjuk ke bibir sebagai tanda meminta Toz untuk menutup mulutnya.
“Baiklah, aku mengerti. Aku takkan memberi tahu siapa pun!” tukas Toz bersemangat.
“Toz?” panggil sebuah suara tiba-tiba. Ia dan lelaki pelayan itu pun menoleh pada sumber suara yang memanggilnya.
“Riz?”
“Toz? Ini, ini benar-benar kamu?”
“Riz? Riz!” Toz pun berlari ke arahnya dan memeluknya.
Kedua teman yang sempat terpisahkan oleh dadu gerbang sekarang bertemu lagi. Pemandangan haru yang hanya disadari oleh mereka berdua pun mengabaikan tatapan dari orang-orang sekitarnya.
Horusca yang tadinya menatap kebahagiaan antar dua pemuda pun beralih pandangan ke arah pelayan yang berdiri tak jauh di depannya. Pelayan itu tersenyum, sambil menyembunyikan kedua tangannya sehingga air suci yang ia sebutkan tak lagi tampak.
“Kamu ada di sini? Sejak kapan?” tanya Riz padanya.
“Sejak beberapa hari yang lalu. Kamu sendiri?”
“Aku baru datang ke sini,” jelas Riz senang. “Kamu menginap di sini?”
“Iya.”
“Aku juga begitu. Aku akan menginap di sini bersama rekan-rekanku,” sahut Riz memandang ke arah tiga orang yang bersamanya.
Toz ikut melirik memperhatikan wajah ketiganya, namun tatapannya terhenti saat bertemu mata dengan Rexcel. Wajah lelaki itu tak begitu asing baginya.
“Apa ini? Dia temanmu? Energi pecundang kalian terlihat sama,” sela Doxia memudarkan pandangan Toz.
“Apa!” Riz tak terima mendengar perkataan Doxia.
“Ah, sudah-sudah. Tenanglah Riz,” ucap Toz menenangkannya.
“Ha-hai Tuan, salam kenal. Aku Toz, seorang calon guider,” lirihnya memperkenalkan diri.
“Mmm ... aku Doxia, guider assandia (petarung) level komandan.”
“Rexcel, aku juga assandia (petarung) level komandan dari bangsa siren.”
“Siren?” Toz memiringkan wajah penasaran.
“Kamu tidak tahu bangsa siren?”
Aku cuma tahu bangsa dracula dan kurcaci.”
“Ho ... banyak juga kenalanmu,” timpal Doxia. “Ah, kau belum kenalan dengan si rambut merah kan? Dia Horusca, seorang elftraz (penyembuh) gila,” lanjut Doxia melambatkan suaranya. Berpikir takkan didengar Horusca, tapi pemuda itu langsung menoleh begitu kata gila bertambah di sana.
“Hei, jangan menatapku begitu! Aku cuma bercanda,” Doxia memanyunkan bibirnya.
Sementara mereka sibuk mengoceh, tampaknya keberadaan sang pelayan terabaikan. Padahal ia masih berdiri di sana dengan wadah karet yang menyimpan air suci untuk Toz.
“Ah!” pekik Toz tiba-tiba.
“Ada apa Toz?” tanya Riz padanya.
“Aku kelupaan sesuatu. Itu, aku ...” ia bingung melanjutkan ucapannya. “Riz, kamu akan menginap di sini kan? Kalau begitu ayo kita bertemu lagi,” pinta Toz padanya.
“Memang ada apa? Kamu mau ke mana?”
“Itu, aku ... ada urusan penting. Sampai jumpa lagi Riz,” kilah Toz meninggalkannya. Ia juga menarik pelayan yang tadi bersamanya pergi begitu saja.
“Ada apa dengannya?” tanya Doxia memandang heran.
Di belokan jalan yang berbeda. “Tuan, maafkan aku sudah membuat anda menunggu lama. Padahal anda sudah membantuku dengan memberikan air ini.”
“Tidak apa-apa. Selama tamu nyaman, kami dengan senang hati menunggu lama,” ia pun menyodorkan wadah karet berisi air suci itu.
“Ini ....”
“Hanya perlu disiramkan saja pada luka bakar. Mungkin menyakitkan, tapi anda bisa percaya pada khasiatnya.”
Toz pun tersenyum. “Terima kasih banyak Tuan. Aku takkan pernah melupakan kebaikan anda.” Toz menerimanya dan membungkuk hormat padanya.
“Sama-sama Tuan. Selama anda senang itu tidak masalah,” jelasnya sambil tersenyum.
Toz juga mengulas senyum sebagai balasan. Ia pun pamit untuk kembali ke kamar, di mana Reve saat ini berada. “Reve,” panggil Toz begitu masuk ke dalam.
Tampak pemuda itu sedang memperhatikan sebuah botol kristal yang berisi cairan aneh di dalamnya. Di atas ranjangnya, juga terdapat busur emas, terompet tanduk dan perisai berwarna hitam.
“Ini,” gumam Toz menatapnya.
“Dari mana?” tanya Reve.
“Ah, aku habis dari bawah.”
“Oh,” Reve mengalihkan pandangan dan kembali menatap botol kristal itu.
“Oh ya Reve, aku membawakan sesuatu untukmu,” Toz pun mendekatinya.
__ADS_1
“Apa itu?”
“Ini, air suci.”
“Air suci?”
“ Ya.”
“Benarkah? Kau dapat dari mana?”
“Dari pelayan yang kemarin mengantarkan kita ke kamar. Ayo, obati dulu lukamu,” Toz menyodorkan wadah itu ke arah Reve. “Biar aku siramkan.”
Reve pun menyodorkan tangannya. Toz lalu menyiramkan cairan itu ke lengan Reve. Perlahan, air yang membasahi lengan pun berasap dan menimbulkan urat-urat merah menjalar ke seluruh tubuhnya.
“Uugh ... ini!” Reve meringis kesakitan.
“Apa yang terjadi? Orang itu bilang memang akan sedikit sakit, tapi bukan begini jadinya!” Toz berubah panik dan mengipas-ngipaskan tangan ke arah lengan Reve.
Lambat laun rasa sakitnya memudar, membuat keduanya menatap lekat ke lengan Reve. Bunyi desiran aneh seperti kulit terbakar muncul di sana. Lalu hangus di lengan pun berubah warna menjadi seperti semula.
“Ini,” ucap keduanya. Lengan Reve sudah sembuh kembali dan tak ada lagi rasa sakit di sana.
“Reve! Syukurlah! Cairannya memang manjur!” lanjut Toz berwajah senang karena obat yang ia bawa berhasil menyembuhkan Reve.
“Ya. Terima kasih Toz,” Reve tersenyum padanya.
“Ah,” wajah Toz memerah malu karena mendengar ucapan terima kasih Reve. Terlebih lagi ia jarang mendengar Reve menyebut namanya. Reve pun menyodorkan sesuatu padanya. “Apa ini?”
“Itu untukmu.”
“Untukku? Tapi kamu yang mendapatkannya!”
“Bukankah kau menginginkannya? Aku tak butuh ini,” tangan Reve masih memegang busur emas yang disodorkannya.
“Ini, benar-benar untukku?”
“Ya.”
Mata Toz perlahan berkaca-kaca, tangannya terangkat namun bergetar. Secara lambat menyentuh busur emas yang diberikan Reve padanya. “Ini benar-benar untukku?”
“Iya!” Reve mulai memperlihatkan wajah malas padanya.
Toz mengambil busur itu sambil meneteskan air mata.
“Kenapa kau menangis bodoh?”
“Tentu saja aku menangis karena terharu!” gerutu Toz. Ia masih tak percaya sudah diberi hadiah yang berkilau seperti itu.
“Itu busur sihir. Kau bisa memakainya tanpa panah,” jelas Reve.
Dengan air mata yang berserakan, Toz pun menghapus kasarnya sambil mengucapkan terima kasih berulang-ulang pada Reve. Sampai pemuda itu jengkel mendengar dan melihat tampangnya.
“Sudah bodoh! Aku muak mendengarnya!” Reve pun memukul kepala Toz agar dia berhenti menangis.
“Sakit!” erang Toz sambil mengelus-elus kepalanya. “Perisai ini, aku baru pertama kali melihatnya.”
“Ya, warna hitamnya aneh. Sepertinya ini dibuat oleh pandai besi yang sangat ahli,” Reve menyentuhnya sekilas.
“Kalau terompet ini untuk apa?”
“Bukankah kamu pemiliknya?” sahut Toz berwajah bingung.
“Tapi bukan berarti aku akan memakainya. Dari pada tak berguna, lebih baik kuberikan pada orang yang benar-benar membutuhkan.”
“Wah ... kamu benar-benar pemuda yang dermawan Reve. Kamu pasti populer dikalangan para wanita,” ucap Toz sembarangan.
“Hah ... omong kosong.” Reve memasang tampang datar. “Near, makan semuanya,” perintah Reve pada sang ular peliharaan. Ular itu pun membuka mulutnya lebar-lebar dan melahap segala macam hadiah besar ke dalam perutnya.
“Luar biasa, dia memakannya. Padahal tubuhnya sekecil itu, bagaimana bisa? Apa barang-barang itu takkan jadi makanan atau kotoran di perutnya?” tanya Toz berwajah polos.
“Jangan samakan dia denganmu. Perut Near itu suci, jadi apa pun yang dia makan akan tersimpan di sana.”
“Sialan! Perutku juga suci! Apa kau tidak tahu apa pun yang kumakan jadi nutrisi untuk pertumbuhanku?”
“Tidak, yang aku tahu itu jadi kotoran di perutmu,” balas Reve dengan konyolnya.
Pembicaraan mereka pun berlanjut pada perdebatan tak masuk akal yang berujung pada pencernaan.
Di kamar yang berbeda. “Ah, padahal aku baru bertemu dengan Toz, tapi sudah harus terpisah lagi.”
“Sepertinya kau sangat akrab dengannya,” timpal Rexcel.
“Ya, itu karena dia temanku.”
“Dia anak yang polos, sama denganmu.”
“Be-begitu?” Riz tersipu mendengarnya.
“Itu bukan pujian bodoh! Sudah jelas kalau dia mengataimu lemah,” potong Doxia tiba-tiba.
“Diam kau! Jangan samakan aku denganmu!”
“Hah? Aku juga tak sudi disamakan dengan pecundang sepertimu!” Doxia mendekatkan wajahnya pada Rexcel dengan tampang menyebalkan.
“Pecundang? Sudah jelas kau yang pecundang.”
“Kau itu yang pecundang! Kalah dari bocah lemah itu!”
“Bocah itu licik! Makanya aku bisa kalah! Kalau bukan karena tipuannya, pasti aku sudah menang!” bantah Rexcel.
“Yang namanya kalah tetap saja kalah bodoh!” Mereka berdua pun juga terlibat dalam perdebatan yang tak tentu arah.
“Reve, aku lupa menceritakan tentangnya pada Toz,” gumam Riz memandang keluar lewat jendela.
Esok harinya, Reve bangun tidur duluan dari Toz. Selesai bersiap ia pun menuruni tangga untuk mencari makanan. Akan tetapi, ia berpapasan dengan seseorang yang menarik bahunya.
“Kau! Bukankah kau pemenang sayembara kemarin?!” Rexcel menatap lekat wajahnya.
“Iya lalu?”
“Kau juga menginap di sini?”
Reve menyipitkan matanya. “Kau cuma ingin bicara itu? Minggir, aku lapar,” perintah Reve sambil mendorong pelan tubuh lelaki itu agar menepi.
__ADS_1
“Woah! Hampir saja,” ucap Doxia karena hampir bertabrakan dengan Reve. “Loh, bukannya ini si pemenang?”
“Reve?” panggil seseorang.
Reve melirik ke arah orang yang memanggilnya. “Bukankah ini si bocah sekamar? Kau di sini juga?”
“Iya. Bagaimana keadaanmu? Kulihat kemarin lenganmu hangus,” Riz memandang ke arah lengan Reve.
“Baik-baik saja. Senang bertemu denganmu.”
“Ah iya, aku juga senang bertemu denganmu Reve." Riz pun tersenyum. "Oh ya, bagaimana kabar Near?”
“Kau masih ingat dengannya?”
“Tentu saja, justru aneh jika aku tak mengingatnya.”
“Dia sehat.”
“Oh ya Reve, aku juga bertemu Toz di sini. Apa kamu sudah pernah bertemu dengannya?”
“Ya. Dia bersamaku.”
“Apa? Bersamamu?” tanya Riz.
“Ya, dia ada di kamarku.”
“Benarkah? Apa aku boleh bertemu dengannya?”
“Kalau begitu belikan kami makanan. Aku lapar,” perintah Reve tiba-tiba. “Pintu kamarku yang pertama di lantai dua. Jika kau tidak bawa makanan jangan harap bisa bertemu dengannya,” ujar Reve pergi meninggalkannya.
“Oi, oi, apa-apaan bocah sombong itu? Bisa-bisanya dia bersikap seperti bos begitu,” Doxia memasang wajah jengkel menatapnya.
“Baiklah, kalau begitu aku akan pergi membeli makanan. Ah! Tunggu dulu! Uangnya bagaimana?!” jerit Riz tiba-tiba.
“Itu, bukankah yang di tanganmu koin emas?” sela Rexcel tiba-tiba.
“Ah, ini! Sejak kapan?” Riz memandang kaget. Lalu menatap bingung ke arah Rexcel dan Doxia.
Sesampainya di lantai dua, Reve berpapasan dengan Horusca, pemuda berambut merah yang merupakan rekan sekamar Riz saat ini.
“Aneh,” ucapnya tiba-tiba membuat langkah Reve terhenti.
“Kau bicara padaku?”
“Aku tak merasakan apa pun,” Horusca berbalik menatapnya.
“Apa yang kau gumamkan?”
“Tak ada energi apa pun. Bukankah seorang assandia (petarung) akan memancarkan energi di tubuhnya? Kenapa aku tak merasakan keberadaan apa pun? Apa kau sudah mati?”
Perkataan Horusca langsung mengundang raut muka masa dari Reve. Ia pun mendekatinya, “apa yang kau bicarakan? Jangan mengatakan omong kosong yang kurang ajar begitu. Kau masih normalkan?” Reve mendekatkan wajah dengan ekspresi dingin.
“Itu bukan omong kosong. Aku tak merasakan apa pun. Bagiku ini terasa seperti energi orang mati,” ia memandang tajam Reve. Mata ruby Horusca pun bertemu dengan mata biru gelap Reve.
“Aroma ini, kau ...” ekspresi wajah Reve langsung berubah.
“Kalian di sini?” sebuah suara muncul tiba-tiba di balik pintu kamar. “Loh? Bukankah ini tuan Horusca yang kemarin? Aku benar bukan?”
“Oh, kau mengenalnya?” Reve menyunggingkan senyum tipis ke arah Toz.
“Ah iya, dia kemarin bersama Riz. Ah benar juga! Riz juga ada di sini! Aku lupa memberi tahumu tentang itu,” jelas Toz kelabakan.
Akan tetapi, sorot mata Horusca masih tak beralih dari mata biru Reve yang tak menatapnya. Reve pun menyadarinya dan melirik Horusca. “Ah, benar juga. Karena kita sudah bertemu, bagaimana jika berkenalan sekalian? Aku Reve, Reve Nel Keres,” Reve pun menyodorkan tangan ke arah Horusca.
“Horusca Aste,” jawabnya membalas jabat tangan Reve.
“Horusca Aste ya. Baiklah, senang bertemu denganmu. Aku senang bisa berbincang bersamamu,” Reve melepaskan tangannya. Horusca pun mengepal tangan yang sebelumnya menjabat Reve, melirik diam ke sana lalu kembali menatap pemuda di depannya.
“Senang bertemu denganmu,” balas Horusca tak merubah ekspresinya.
Tiba-tiba, terdengar suara berisik di tangga. Mereka sama-sama menoleh dan mendapati tiga orang menyebalkan bagi Reve muncul di sana. “Loh, kalian di sini? Horusca juga ada,” tanggap Riz melihat kebersamaan mereka.
“Ah Toz!” panggil Riz dengan wajah senang.
“Riz! Kamu juga di sini?” Toz memamerkan tampang bodohnya.
“Tentu saja, aku membawakan makanan untukmu,” sahut Riz dengan bangganya.
“Benarkah? Kamu mentraktirmu? Kamu tahu aku ada di sini?!”
“Tentu saja!”
“Ya, memakai uangku,” timpal Reve.
“Uangmu?”
“Kau tidak sadar? Koin emas itu milikku.”
“Kapan kamu memberikannya?”
“Saat kau sibuk mengoceh,” Reve pun berlalu pergi meninggalkan mereka ke kamarnya.
“Ah, aku benar-benar tidak menyukainya. Anak itu sangat menyebalkan,” sambung Doxia.
Riz pun tertawa pelan mendengar perkataan Doxia. “Ah, ayo kita makan. Bagaimana jika kita makan di kamar Reve? Kita membeli ini kan pakai koinnya,” ajak Riz.
Begitu memasuki kamar, Riz pun dibuat terpana melihat besarnya ruangan yang dipakai Reve dan Toz untuk menginap.
“Kamar ini besar sekali, sepertinya kamu punya banyak uang Toz.”
Toz pun tertawa kecut. “Sayang sekali, tapi aku menumpang pada Reve,” terang Toz menggaruk-garuk kepalanya.
“Oi-oi, apa-apaan ini? Kenapa ada ular di sini?” Doxia menampilkan ekspresi jijik pada peliharaan Reve yang berdiam diri dengan anggunnya di atas ranjang.
“Near akan memakanmu jika kau meledeknya.”
“Hah? Kau bicara seolah-olah ular ini paham. Dia kan bukan manusia,” ledek Doxia.
“A-anu Tuan, mari kita makan dulu,” Toz mencoba menengahi pembicaraan mereka. Karena ia takut jika tiba-tiba Near menggila dan menerkam Doxia yang tak tahu apa-apa.
“Tidak peduli berapa kali pun kulihat, matanya memang menakutkan. Hai Near, kita bertemu lagi,” sapa Riz pada ular sombong itu. Near pun memalingkan kepalanya enggan menatap wajah Riz.
“Hah?”
__ADS_1
“Sepertinya kamu jelek baginya,” timpal Horusca tiba-tiba.
“Apa?! Memangnya kamu paham dengan bahasanya?” Riz memandang tak percaya atas ucapan Horusca. Sementara, Reve sudah menyantap makanan yang dibawa Riz duluan tanpa memedulikan keberadaan para pengganggu di kamarnya.