
“I-ini!”
“Abaikan saja. Kemungkinan ini merupakan lukisan dari orang-orang yang sudah mati,” sahut Bragi Elgo.
Tiba-tiba, gagak yang terbang di depan mereka bersuara. Begitu keras pekikannya. Sampai sebuah pintu di ujung tangga terbuka. Sekarang, tampaklah seorang pria.
Normal dandanannya. Hanya saja gumamannya sangat aneh. Mereka melewati orang itu yang sedang berdiri di bibir pintu.
Dan mungkin inilah jalan akhir menuju Altar Hidea. Di mana ada gerbang batu dan tumbuhan merambat memenuhinya. Berada di tengah-tengah ruangan dan jalannya tampak menuju ke atas.
Mungkin prasasti legenda yang disebut-sebut berada di balik gerbang itu. Tapi, tiba-tiba Bragi Elgo tersentak karena gagak di pandangan bersuara. Terbang cepat ke arahnya, namun menembus ke dalam wajah bocah hydra.
Tentu saja kejadian mendadak itu membungkam mereka. Terlebih lagi sosok di gendongan perlahan mulai bergerak.
“Kers!” semringah Revtel melihatnya.
Hanya saja, pak tua yang menurunkan anak itu tersadar sekarang. Kalau bocah tadi dalam keadaan tidak baik-baik saja. Terlebih manik matanya berwarna gelap sepenuhnya.
“Kers?” Sang adik sepupu tidak bersuara. Memilih berjalan meninggalkan mereka. “Kers!”
Tapi saat akan mencegatnya, orang yang tadi berdiri di bibir pintu menahannya. Dengan sebuah pedang panjang diarahkan tepat ke arah leher Revtel.
“Revtel!”
“Sesuai perjanjian, hanya satu orang yang bisa lewat. Berikan jantungmu untuk memasukinya.”
Keduanya tersentak mendengarnya. Entah apa maksudnya tapi mereka tersadar kalau memasuki gerbang batu di depan jelas tidak mungkin sekarang. Terlebih api tiba-tiba berkobar di dalam ruangan, memaksa Bragi Elgo serta Revtel untuk terus mundur ke belakang. Sekarang, mereka berada di tangga di mana ditemani lukisan menyeramkan para orang mati di sampingnya.
Tentunya laki-laki tadi kembali berdiri di depan pintu seperti seorang penjaga.
“Tuan! Sekarang kita harus bagaimana? Adikku—”
Tiba-tiba terdengar gemuruh yang dahsyat. Tak tahu dari mana sumbernya namun jelas mengusik ketenangan dua orang itu.
Sementara di tempat yang berbeda, sosok Kers sedang melewati jalan terakhir. Di penuhi reruntuhan batu di sisinya.
Matanya yang hitam sepenuhnya, menyiratkan raut wajah berbeda. Seperti ada orang asing di dalam dirinya. Namun sebuah ranting mendadak muncul dan menusuk tepat ke dalam jantungnya.
“Agh!” rintih Kers. Akhirnya, kesadarannya muncul kembali. Sosoknya tampak muntah darah akibat tusukan dari tanaman yang muncul di pijakan.
Dipatahkan dan dicabut dari badannya. Anehnya lukanya mendadak sembuh kembali. Menyiratkan ekspresi sedih di dirinya karena dia tidak mati.
“Mau apa lagi kau ke sini?!” sebuah suara menyela tiba-tiba. Ia tersentak dan melihat ke sampingnya. Di mana ada sebuah batu dengan air mata darah di wajahnya. “Kenapa kau datang lagi ke sini? Karena dirimulah kami harus mati!”
Perlahan, bocah hydra itu tersadar. Kalau suasana di sekitarnya tidaklah normal. Batu-batu yang tampak seperti pagar ternyata melukiskan tubuh orang-orang di matanya. Di mana tangan mereka terulur seolah ingin meminta bantuan.
__ADS_1
“Karena dirimulah kami begini!”
“Kenapa kau datang lagi?!”
“Kau seharusnya sudah disegel, Yang Termulia!”
“Gara-garamu ambrosia menjadi tidak suci!”
“Pengkhianat!”
“Pembunuh!”
“Dewa terburuk!”
“Penghancur kayangan!”
“Kau bukanlah Dewa! Kau hanyalah malapetaka!”
“Kau pilih kasih kepada kami semua!”
“Kau menghancurkan ras-mu sendiri demi para pengkhianat!”
“Kaulah sumber kehancuran semuanya!”
“Bunuh dirimu, Yang Termulia! Kau dan mereka, penjahat terburuk yang pernah ada!”
Tanpa terasa Kers pun meneteskan air mata. Tapi anehnya, bukan kristal bening yang mengalir di pipi. Melainkan air hitam membasahi wajahnya.
Dirinya yang menyadari keanehan itu semakin terbungkam saat setetes demi setetes tangisannya menembus batu yang menjadi jalannya. “Apa ini!”
“Kami membencimu!”
Seketika teriakan itu mengalihkan fokus Kers. Ia yang tak tahan lagi menyentuh patung berisik di sampingnya.
Sampai hal tak terduga terjadi di depan mata. Patung itu langsung menghitam dan hancur di tangannya.
“Kau malapetaka! Kau membunuhnya! Kau pembawa sial! Kau pembawa kehancuran untuk semu—”
“Apa yang dilakukan sosok mengerikan sepertimu di sini?” ucap seorang laki-laki asing yang memotong teriakan sang batu.
Kers menyernyitkan wajah bingung saat melihat sosok menawan di depan matanya. “Jangan melihatku seperti itu. Kau selalu membuatku takut, Yang Termulia.”
“Siapa?”
“Sepertinya segelnya masih aktif. Apakah kau tidak mengenaliku?” kekehnya.
__ADS_1
“Aku tak punya kenalan mencolok seperti dirimu.”
Lawan bicara Kers itu tersenyum remeh. Perlahan mendekat ke arahnya, dan menundukkan tubuhnya agar sejajar dengan bocah hydra yang lebih pendek darinya.
“Tapi aku sangat mengenal baik dirimu. Salah satu Yang Termulia yang mengkhianati semuanya.”
Lagi-lagi label dan panggilan itu. Entah kenapa Kers sangat tak suka mendengarnya. Dirinya memilih melewati sosok di depannya.
“Apakah dirimu ingin membuka segel? Butuh darah dari sembilan Yang Termulia untuk melakukannya. Thor,” langkahnya mengikutinya. “Poseidon,” ia tertawa pelan. “Hades,” dirinya merentangkan tangan. “Odin, Susanoo,” Kers tidak menanggapinya. “Siwa, Athena,” sekarang anak itu berbalik menatapnya. “Osiris, dan juga Zeus.”
“Merekalah yang menyegelmu bersama kedua orang itu. Tiga Termulia yang menjadi pahlawan dalam perang namun dijatuhkan dari singgasana. Apakah kamu tidak marah? Saudaraku.”
“Saudaraku hanya Revtel. Aku tidak ingat pernah memiliki kakak sepertimu. Jadi jangan ikuti aku lagi,” ucapnya sambil mengibaskan tangan seolah mengusirnya.
Tawa pelan pun tersembur dari sosok yang mengekorinya. “Sekarang aku mengerti. Kenapa Apollo dan Tsukuyomi sangat membencimu. Kau benar-benar menyebalkan.”
“Terima kasih.”
Dan sekarang, Kers pun tiba di aula nan besar. Tak tampak altar di dalamnya, bahkan prasati juga tidak ada.
Lalu bagaimana caranya agar ia bisa melepaskan mantra yang mengikat Cindaku Aftoria?
“Tak ada apa pun di sini.”
“Sepertinya segel itu mematikan inderamu. Ingin kubantu?”
Entah kenapa, Kers tidak merasakan sensasi jahat dari sosok di sampingnya. Ia mengangguk pelan dan mendapati kejadian tak terduga.
Di mana laki-laki itu tiba-tiba menebasnya.
“Aaagh!” erang Kers karenanya. Sungguh ia kesakitan, rasanya seperti dihujan pedang dengan kejam.
Sosoknya pun menggeliat kesakitan. “Sayang sekali, tempat ini butuh darah untuk membangkitkan altarnya. Jadi silakan tunggu sampai darahmu habis untuk melubangi genangan mantranya,” kekehnya sambil menunjuk ukiran yang ada di lantai.
Kers yang mulai merasa hilang kesadaran hanya bisa mengumpatinya dalam hati.
Benar-benar laki-laki bajingan. Saat kondisinya sudah baik-baik saja ia bersumpah akan membalas perbuatannya.
“Jangan menatapku begitu. Padahal hanya aku teman terbaikmu,” gumamnya sambil mengelus kepala Kers. “Kamu tahu? Aku akan rebut darah orang-orang itu untukmu, asal kamu membalas kebaikanku. Aku, ingin dirimu membunuh Thor untukku. Setimpal bukan? Wahai saudaraku.”
“S-si-apa k-ka-u?”
Perlahan, seringai tipis kian melebar di bibir laki-laki yang menyentuh kepala Kers. “Loki, itulah aku, temanku.”
__ADS_1