Death Game

Death Game
Yang bersalah harus membayar harganya


__ADS_3

“Guide ini seperti hukum rimba. Siapa yang buas dia yang berkuasa. Apa katanya itu perbuatan bawahannya. Dan yang bersalah harus membayar harganya. Jangan bicara tentang ikatan darah denganku, bahkan ibuku harus mati walau dia berdarah biru.”


Tuan Criber pun terbungkam karenanya.


“Dia berhubungan dengan Gilles. Pengkhianat dari bangsa ini. Bukan sekadar terlibat dalam rencana kotor mereka, tapi juga bercinta dengannya. Anda tahu apa artinya, kisah sesama jenis itu terlarang untuk kita semua.”


“Blerda!” hardik Tuan Criber karena tak percaya kalau Ratunya akan membuka aib keluarganya sendiri. Dan itu berhasil membuat orang-orang sekitar mereka membisu.


Cukup mengejutkan, tapi tak terlibat tetap menjadi pilihan. Bagaimana pun konflik yang terjadi merupakan masalah internal bangsa siren.


“Maafkan aku, Tapi semuanya, apa kalian bisa tinggalkan kami?” pinta Tuan Criber pada sosok-sosok yang tadi datang bersamanya.


“Kenapa mengusir mereka? Biarkan mereka menonton ini.”


“Blerda,” kaget pak tua itu padanya.


“Cukup Tuan Criber. Menurutmu, kenapa aku membiarkan mereka di sini?” Tapi tak ada jawaban yang bisa diberikan petinggi itu. “Mereka akan menjadi saksi, dalam langkahku mengubah hukum di bangsa ini.”


Benar-benar menyentak pendengaran orang-orang di sekelilingnya. Tapi, hanya Hydragel Kers yang tidak terkejut karenanya. Mengingat Blerda Sirena, mulai tidak ragu memperlihatkan kekuatannya di hadapan keramaian.


Dia bahkan juga memulai pertemuan tanpa peduli pertentangan yang datang. Sosoknya masih sangat muda, namun pesonanya sebagai seorang pemimpin memang harus diakui para penontonnya.


Terlebih lagi dalam pertarungan nyata, kemampuannya mampu memutuskan tangan Revtel dan Heksar tanpa iba. Sebagai tanda kalau Sang Ratu juga punya kehebatan yang bisa disandingkan dengan mereka.


“Mengubah hukum? Apa yang akan kamu lakukan?”


“Yang bersalah harus membayar harganya. Hanya itu.”


Bleria pun menatap tak percaya pada sang kakak yang melirihkan kata tak terduga. “K-kakak, a-apa maksudmu?”


“Kau terbukti bersalah adikku. Kau terlibat dengan para pengkhianat walau kau tidak turun langsung bersama mereka. Jadi aku akan mencabut statusmu, sebagai petinggi dan juga pemegang kekuasaan di salah satu sudut kawasan siren.”


“Tidak bisa begitu Kakak! Aku Sirena! Aku juga keturunan murni seperti dirimu! Kamu tidak bisa mencabut kekuasaanku tanpa persetujuan tetua lainnya! Tanpa rapat para bangsawan keputusanmu itu sia-sia!” tentang Bleria dengan suara lantangnya.


Tapi Blerda hanya tersenyum. Tak peduli pada guratan yang dilukiskan dua petinggi siren padanya walau sang adik akan menyandang status yang berbeda.

__ADS_1


“Lalu? Bukan hanya dirimu. Aku juga akan cabut jabatan para tetua dalam politik bangsa ini. Segala sesuatu yang berkaitan dengan keputusan Raja, kalian tidak berhak mencampurinya lagi. Akan aku kukuhkan keputusan tertinggi hanya di tangan dia yang memegang singgasana, sehingga kalian para bangsawan ataupun tetua tidak bisa mengibaskan ekor sesuka hati.”


“Blerda, kamu—”


Kalimat Tuan Criber pun terpotong karena seringai tipis tersungging di bibir sang gadis. Benar-benar membungkam suasana, bahkan jika dia salah satu Raja muda, pernyataannya berhasil menyadarkan Noa Krucoa.


Kalau Raja siren, akan melakukan perubahan besar-besaran di tengah konflik yang terjadi.


“Tidak perlu kaget begitu. Aku baru berbicara, belum melakukan aksinya. Karena jika kalian tidak suka, ambil senjata dan penggal leherku seperti ulah penjahat kita. Bagaimanapun kekerasan memang sudah mendarah daging untuk semuanya.”


Sungguh sikap yang luar biasa. Dia tampak arogan di mata namun tak ada satu pun yang mampu menyelanya. Kecuali tenggelam dalam pemikiran masing-masing atas pernyataannya.


“Dan tak ada lagi kemudahan untuk kalian yang berkuasa. Bahkan jika itu bangsawan, bahkan jika itu rakyat jelata, bahkan jika itu tetua, bahkan jika kalian sekalipun keluarga Raja, yang bersalah harus tetap membayar harganya. Kalian akan dihukum seadil-adilnya.”


“Agh!” Del Aney memekik tiba-tiba. Bunyi patahan tulang, bersamaan dengan tangisan bercambur erangan melukiskan kondisi mengenaskannya.


“Blerda!” pekik Orion dan Tuan Criber bersamaan.


Sampai akhirnya, kejadian mengenaskan menghiasi penglihatan mereka.


Del Aney.


Bermandikan darah dari lubang-lubang yang ada di badannya. Begitulah siksaan Sang Ratu Blerda, sebagai hukuman atas kejahatan karena telah membunuh petingginya.


Dan Bleria Sirena serta Hellbertha pun mulai merasakan ketakutan di sudut hatinya.


“Lalu apa jawabanmu? Gyges.”


Sang tabib bangsa raksasa pun terkesiap melihatnya. Terlebih lagi Del Aney yang sudah menjadi mayat itu dilempar Ratu Blerda dengan mudahnya.


“Kau memang berada di naungan bangsamu. Tapi kau juga terlibat dalam pembunuhan petinggiku. Kau pengkhianat, dan kau berada di siren untuk hukumanmu.”


“Blerd—” tapi ucapan Orion pun terpotong karena Serpens mengangkat tangan tiba-tiba. Ke arah dadanya, seolah meminta sang petinggi untuk tidak melanjutkan kalimatnya.


Sampai akhirnya Ksatria Bintang itu tersadar akan makna gelengan yang diberikan Wakil Rajanya. Sebuah tanda kalau gyges membiarkan Blerda Sirena mengambil keputusan untuk menangani tabib bangsa mereka.

__ADS_1


“Ah, sepertinya aku memang akan mati di tanganmu,” bahkan jika dia tampak menyedihkan, tapi Hellbertha masih bisa tersenyum senang. Membuat miris Orion karena merasakan beban di hati yang terdalam.


“Apa tak ada kalimat terakhir darimu? Aku akan melunak jika kau lontarkan isi otakmu.”


Hening berkumandang. Sepertinya, sosok tabib itu sedang menerawang. Entah apa ujaran yang akan keluar dari mulutnya, benar-benar membuat penasaran.


“Kalian akan mati. Karena Raja yang sesungguhnya, akan datang kembali.”


Seketika hal itu berhasil membuat orang-orang di sana terkejut luar biasa.


“Apa maksudmu?!” Tuan Criber meneriakinya. Sayangnya, hanya tawa yang disemburkan Hellbertha. Membuat pak tua itu kian murka memandanginya. “Jawab aku! Jangan tertawa saja! Apa maksudmu?!” ulangnya sambil mencengkeram dia yang terluka.


“Waktunya pasti sebentar lagi.”


“Kau—”


Dan suara aneh pun berhasil membungkam mereka tiba-tiba. Seperti irama patahan, dari tulang tabib yang tertawa.


Hellbertha.     


Akhirnya tewas tanpa aba-aba dengan kemampuan Dewa kematian yang berwujud siren muda. Blerda Sirena, dialah tukang eksekusi.


“Blerda, kenapa kamu—”


“Tak ada gunanya. Dia tidak akan berbicara. Terlalu buang-buang waktu untuk mendengarkannya.”


Serpens dan Orion sama-sama menyipitkan mata akibat ucapan sang Ratu yang menyusup masuk ke telinga. Tapi lain halnya Bleria, dia tiba-tiba bergumam ketakutan apalagi saat pandangannya bertemu dengan Blerda.


Sepertinya selanjutnya gilirannya.


“Blerda!” Tuan Criber tiba-tiba menghadangnya dengan berdiri di hadapan adiknya. “Aku mohon Blerda, pikirkan lagi semuanya!”


“Minggir.”


“Dia adikmu, Blerda. Dia salah satu sirena murni yang tersisa! Apa kau ingin menghancurkan garis keturunan keluargamu?!”

__ADS_1


“Yang bersalah harus membayar harganya. Semua memudar setelah kematian ibuku. Dan aku akan membangkitkan lagi hukum tua itu. Yang melindungi penjahat juga akan membayar harga serupa. Apa anda juga ingin begitu? Tuanku.”


 


__ADS_2