
Dan perlahan pijakan mereka mulai berair tiba-tiba.
“Ini,” gumam Hellbertha menyadari apa yang akan terjadi selanjutnya. Sontak saja ia tumbuhkan pepohonan besar sehingga menyerap air di dekat kakinya. “Jangan pikir kalau aku tidak tahu seperti apa kemampuanmu Orion! Karena bagaimanapun juga, kita sama-sama dari bangsa gyges!” dan terompet di tangan pun segera ia tiup yang membuat mereka terkesiap karenanya.
Tanah mendadak bergetar hebat diiringi tangan-tangan mengerikan yang perlahan muncul di sana.
“Ghoul?!” pekik Hea menyadari siapa tamu selanjutnya. “Mereka terus berdatangan?!”
“Terompetnya, kita harus merebutnya!” Gandari pun menarik sesuatu dari dadanya.
“Kau, assandia! (petarung!)” Hellbertha menyadarinya. Terlebih senjata berupa cincin besar itu terasa aneh baginya.
“Hiaah!” Gandari lalu melempar cincin besar di tangannya. Seketika senjatanya itu berputar hebat dan berselimutkan api ke arah musuh-musuhnya.
“Menunduk Del Aney!” perintah Hellbertha.
Dan senjata berapi itu kembali lagi ke tangan petinggi manusia lalu terpecah menjadi dua. “Aku akan mengurusmu!”
“Kyaa!” teriak Del Aney karena hampir saja wajahnya ditebas wanita di hadapannya.
“Sial!” Hellbertha menatap geram sang petinggi itu. Dirinya ingin membantu Del Aney tapi sosok Beltelgeuse yang sudah membereskan para ghoul barusan mulai memperlihatkan tatapan tidak menyenangkan ke arahnya.
Bahkan jika regenerasi para makhluk iblis itu masih berlanjut, tapi sepertinya takkan menjadi gangguan bagi Ksatria Bintang dalam menghadapinya. Perlahan tangannya meneteskan kristal bening ke pijakan. Tak ada lagi pedang dari air kecuali telapak basah miliknya.
Sepertinya, dia benar-benar murka pada sosok di hadapannya.
“Raguidera (kolam penjara)”
Tapi di tempat berbeda, terlihat pemandangan yang benar-benar luar biasa.
Blerda Sirena.
Dia telah sadar kembali, tapi pipi serta bahu kanannya tampak terluka. Dan di depan matanya, terlihat sosok-sosok yang juga menderita kerusakan serupa seperti dirinya.
Revtel, Heksar dan juga Tuan Criber serta Barca Asera.
“Kerja bagus Trempusa,” puji petinggi siren itu padanya. Dan Raja bangsa empusa, hanya mengangguk sekilas lalu melenyapkan sabit di tangannya. Manik matanya pun bertemu dengan Aza yang tersenyum ke arahnya.
“Dasar gila! Kenapa kau bisa jadi seperti itu?! Kau mau membunuh kami ya! Kenapa kau bisa kerasukan begitu?!” gerutu Heksar sambil menatap kesal pada Blerda.
__ADS_1
Tapi gadis itu tidak mengatakan apa-apa, kecuali sosoknya yang jatuh terduduk memilih memegang kepalanya.
“Yang Mulia, anda baik-baik saja?!” panik Otama.
Namun di lain sisi, para rombongan yang bersama Aza Ergo dan sudah tertangkap basah pun menatap tak percaya pada lukisan di depannya. Di mana kerusakan pertarungan yang berhasil menghancurkan tangan kanan Heksar juga tangan kiri Revtel, membuat Horusca pun terpaksa turut membantu memulihkannya tadi.
“Kemampuan para Raja memang beda, mereka seperti bencana yang berjalan,” sahut Riz tiba-tiba. Akan tetapi, mereka tersentak karena Doxia menyuarakan kata tak terduga.
“Ayo lari!”
“Apa!” sahut Riz dan Toz bersamaan.
“Kita harus lari! Kita sudah ketahuan!” paniknya. Tapi saat ia berbalik, sosok Tuan Criber yang menjadi petinggi bangsa siren pun menatap tajam ke arahnya.
“G-guru!”
“Kenapa buronan seperti kalian bisa ada di sini? Kalian penyusup?!”
“G-guru! Kami bukan penyusup, kami hanya—” kalimat Doxia pun mendadak terpotong karena sebuah sayatan di pipi menghiasi wajahnya tanpa aba-aba. Sebuah tanda kalau angin milik Tuan Criber bergerak cepat untuk membungkamnya.
“Aku tidak bertanya padamu. Yang aku tanyakan kenapa buronan seperti kalian bisa berada di istana ini. Sekarang jawab aku, sebelum anginku memenggal kalian karena mengabaikan pertanyaanku.”
Sungguh sensasinya mencekam sekarang. Karena lingkaran angin besar kembali menyelimuti mereka dan hanya ditatap tenang para Raja juga yang lainnya. Seolah seperti penjara dan takkan menghilang kecuali atas kehendak pengendalinya.
Seketika semuanya pun menoleh pada sosok yang bersuara. Menatap tak percaya atas kegilaannya mengatakan hal itu di depan mereka semua.
“Mereka buronan? Dan kau membawanya ke sini?” Heksar menyipitkan mata ke arahnya. “Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Para pengkhianat, pertemuan, ramalan dan sekarang ini?! Tolong jelaskan padaku agar aku bisa memahaminya,” tekannya sambil berjalan ke arah petinggi empusa.
“Aza,” lirih Trempusa yang masih tak menyangka akan ulah adik seperguruannya. Menolak ikut berburu, dan menyuruhnya meminum darah yang tak jelas maknanya lalu membuatnya pingsan. Dan sekarang, menyebutkan kenyataan di luar bayangannya.
“Aku membawa mereka ke sini karena mereka teman seperjalananku. Hanya itu. Kejadian yang terjadi tak ada hubungannya dengan mereka, jadi tolong jangan salah paham.”
“Aza, kau tidak lupa kan kalau mereka buronan? Mereka sudah mengacaukan hukum di dunia Guide karena membebaskan seorang budak! Dan kau ada saat kejadian itu terjadi! Tapi sekarang kau malah bilang mereka teman seperjalananmu?!”
“Ya,” jawabnya tanpa ragu pada Tuan Criber yang murka.
“Sudah kuduga, kalau kau memang sangat mencurigakan!” Heksar pun tiba-tiba menarik kerah baju sang petinggi muda. “Kers, baca ingatannya! Ayo kita pastikan apa dia memang jujur atau tidak.”
“Apa yang mau dibaca? Aku tidak melihat keanehan, karena mereka tak ada hubungannya dengan para pengkhianat itu,” Aza masih saja membela diri.
__ADS_1
“Dia kau bocah! Biar Kers yang mengurusmu selanjutnya,” Heksar pun menyentak tangannya sehingga cengkeraman pada kerah baju Aza terlepas dan pemuda itu mundur beberapa langkah. “Kers! Kenapa kau diam saja?! Kau tuli!” gerutu Raja chimera saat melihat Raja bangsa hydra hanya tersenyum kepadanya.
“Kers,” Revtel juga ikut bersuara jadinya. Dan sorot matanya pun bertemu dengan Raja yang dilayaninya.
“Mm ... kupikir aku tidak perlu melakukan itu. Karena aku akan menjamin orang-orang yang dibawa Aza kemari.”
“Kers!” hardik Heksar dan Revtel bersamaan.
“Yang Mulia! Apa yang kau katakan?!” Tuan Criber pun menatap tak percaya ke arahnya.
“Aku sudah dengar tentang ulah mereka di Bukit Kristal. Jadi aku akan menggunakan kekuasaanku sebagai Raja hydra untuk membersihkan namanya. Jadi sekarang masalah sudah beres kan? Mari lupakan ini semua dan kita fokus saja pada pengkhianat.”
“Kers, kau!” Heksar mulai geram kepadanya.
Akan tetapi, tiba-tiba seekor kupu-kupu melewati wajah Heksar. Memancarkan serbuk merah saat mengepakkan sayapnya.
Perlahan, kupu-kupu sewarna darah dan bergaris kehitaman itu mulai membanyak jumlahnya. Ada sekitar lima ekor di sekeliling mereka.
“Ini!” pekik Tuan Criber tiba-tiba.
Tapi di lokasi yang berbeda hal serupa juga terjadi.
“Kupu-kupu?!” heran Hellbertha saat memperhatikan hewan kecil yang mengudara di sekitarnya. Bahkan salah satunya mendarat di atas pasir yang berada di atas jubah Toyotomi. Membuat laki-laki itu mengernyitkan wajah bingung di balik mata sembabnya.
“Blerda?” lirih Thertera Aszeria saat melihat tiga kupu-kupu merah kehitaman terbang mengudara di sekitarnya.
“Blerda? Apa maksudmu?” Ivailo Stoyan menatap bingung pada rekan seperjalanannya.
Namun di satu sisi, pemandangan tak biasa memang sedang terjadi pada sosok sang pemilik nama.
Blerda Sirena.
Dia yang tadinya kerasukan, sekarang justru dikelilingi oleh kupu-kupu aneh itu. Dan membuat perdebatan tentang para pembangkang langsung sirna begitu saja.
“Blerda?” Trempusa juga ikut memanggil namanya. Namun tak ada respons dari gadis itu kecuali muka diamnya. Dan sorot mata tenang yang menjadi ciri khasnya menghiasi wajahnya.
“Hei, kenapa dia diam saja? Apa jangan-jangan dia kerasukan lagi?!” panik Heksar sambil menarik lengan Kers tanpa sadar.
“Y-Yang Mulia?” bahkan Otama juga takut kepadanya. Karena sosok membisu itu memancarkan energi yang benar-benar mengerikan sekarang.
__ADS_1
“Arjuna,” lirih Blerda tiba-tiba.