
“Blerda?” kaget Orion saat keluar dari kamarnya. Blerda yang berpapasan dengan anak dari bangsa gyges itu pun terbelalak melihatnya. Gugup mendera dan gemetar memeluk tubuhnya. “Kamu habis dari mana?”
“Cari angin segar. Aku ke kamar dulu,” pamitnya.
Dan sosok yang ditinggalkan cuma menatap bingung pada gadis barusan. Tapi, Orion tidak terlalu memikirkan. Mengingat lapar sudah melanda perut untuk segera diisi makanan.
Di tempat lain, Aza Ergo terdiam.
Perpisahan yang tiba-tiba diucapkan Laravell lewat surat begitu menusuk perasaan. Mengundang air mata untuk menangisi sosoknya. Anak itu meraung dengan keras. Akibat sesak di perasaan karena ditinggalkan.
Sungguh dia sangat tersiksa dengan ulah kakaknya.
Tak peduli apa pun yang terjadi, kamu tetaplah adikku. Maafkan aku Aza, karena pergi tanpa memberitahumu terlebih dahulu. Aku tidak punya pilihan, adikku. Aku tidak ingin kamu ikut denganku. Karena bagaimanapun juga, aku sangat menyayangimu.
Suatu saat nanti, aku pasti akan datang menjemputmu. Tunggulah aku, Aza. Karena kepergianku demi kita berdua. Aku akan menjadi kuat untuk bisa melindungimu, dan juga berdiri di sisimu. Karena itu, aku hanya pergi untuk sementara.
Apa pun yang terjadi aku pasti akan datang menjemputmu. Tetaplah hidup Aza, tetaplah hidup demi ayah dan ibu kita. Tetaplah hidup sebagai adikku yang berharga.
Jadilah kuat adikku sayang. Bahkan jika dunia ini sangat kejam, tetaplah hidup demi ayah dan ibu kita. Walau sakit menghadang, bahkan jika rasanya sangat kesepian, tapi ingatlah bahwa aku sangat menyayangi dirimu. Apa pun yang terjadi, tetaplah hidup adikku. Karena aku sangat-sangat menyayangi dirimu.
Tetaplah hidup sampai kita bertemu. Dan bila saat itu terjadi, hajarlah aku untuk melampiaskan amarahmu. Karena aku pergi demi masa depan kita suatu saat nanti.
Maafkan aku adikku tersayang.
Aku melakukan ini karena sangat menyayangi dirimu.
Laravell Axadion Ergo.
Tak dapat dihentikan. Tangisan begitu keras berkumandang. Dari mulut Aza Ergo yang merasa kehilangan.
Sepucuk surat yang diberikan sangatlah tidak berperasaan. Karena sosoknya sekarang merasa sendirian.
Sampai akhirnya batuk berdarah termuntahkan dari mulutnya akibat sakit di dada yang di deritanya.
“Kamu!” kaget Betsheba yang mengawasinya. Segera dihampirinya, diusapnya punggung Aza dengan maksud menenangkannya.
Miris baginya saat menyaksikan nasib putra-putra muridnya. Mereka diburu oleh empusa atas kesalahan yang disebabkan oleh keluarga ayahnya.
Di mana cinta melahirkan tragedi untuk keluarga Maximus dan juga keturunannya. Karena Olea Zoyaveira, memiliki kemampuan yang sangat digilai oleh para bajingan di tanah bangsa setengah Dewa.
Dan mereka berhasil mendapatkan darahnya namun ternyata tidak berarti apa-apa. Karena wanita itu, sudah membagi kemampuannya pada kedua buah hati juga suaminya.
__ADS_1
Di mana hal tersebut justru membuat Maximus dan Aza menderita sakit keras sebagai efek sampingnya. Berlainan dengan Laravell yang malah baik-baik saja.
Entah karena dia bukan anak kandung mereka, atau karena sosoknya yang merupakan bocah dari tradio, tak ada satu pun dari para empusa tahu kebenaran jati dirinya.
Selain Raja dan Ratu empusa yang sebelumnya mati di tangan Maximus. Ayah dan ibunya, juga sang adik tersayang Aza Ergo.
Hanya mereka yang tahu kebenaran tentang dirinya. Walau beberapa orang cuma mengetahui sosoknya sebagai anak angkat sang Pangeran perang. Termasuk Betsheba Voskha dan juga Bragi Elgo.
Sekarang, Aza Ergo duduk di lantai sambil bersandar pada pinggiran ranjangnya.
Jujur dirinya masih bertanya-tanya, kenapa sang kakak tega meninggalkannya? Apa karena ia sakit-sakitan seperti ayahnya? Atau karena dia menyusahkan? Segala pemikiran justru seperti menyalahkan sosoknya.
Padahal nyatanya, tujuan Laravell berbanding terbalik dengan terkaannya. Karena bagaimanapun juga, dia sangatlah menyayangi adiknya. Dan kepergiannya demi kebaikan Aza Ergo nantinya.
Itulah kebenaran yang sesungguhnya.
Di Hadesia, raungan keras menerpa para muridnya. Di mana mereka dipaksa berjalan di atas tanah namun seperti berduri permukaannya. Tanpa satu pun alas, ini jelas-jelas penyiksaan.
Namun, lantunan berupa ketegasan dan nyanyian para guru masih berkumandang. Mengatakan kalau latihan ini merupakan metode penguatan fisik bagi mereka.
Mau tidak mau, para murid terpaksa menurutinya. Agar tidak mempermalukan nama orang tua masing-masingnya.
Akan tetapi, bagi Blerda ini tak ada artinya. Bahkan jika kakinya serasa sakit dan mulai mati rasa, sorot matanya masih saja melirik sekelilingnya.
“Kenapa kepalamu seperti capung begitu?”
“Cih!” decih Blerda tiba-tiba. Dan hal itu berhasil membuat bocah dari hydra berkedip kaget mendengarnya.
“Apa kamu baru saja mendecih padaku?”
“Diamlah Kers, jangan ganggu aku.”
“Hei! Bagaimanapun juga aku ini lebih tua darimu. Jadi perlihatkan sopan santunmu.” Anak perempuan itu mengabaikannya. Kecuali melirik sinis ke arah sepupu Revtel yang terbelalak melihatnya. “Apa-apaan dia itu?”
Sementara Revtel, dirinya melewati jalanan neraka itu bersama Trempusa. Semakin waktu berlanjut, keduanya menjalin keakraban yang tidak disangka-sangka. Dan tentunya hal tersebut menimbulkan pergunjingan dari sosok Pangeran bangsa hydra ataupun para utusan empusa.
“Cih! Lihatlah anak haram itu. Sepertinya dia sudah punya teman.”
“Trempusa?” balas Pangeran kedua. Bukankah dia anak campuran? Kudengar keluarganya bangsawan miskin di empusa.”
Mendengar perkataan adiknya, tentu saja menimbulkan seringai tipis di bibir Pangeran pertama. Entah apa yang ia rencanakan, tapi jelas-jelas itu bukanlah hal baik di otaknya.
Mengingat dirinya, sangat benci pada Revtel karena memiliki ikatan darah dengannya.
Pelatihan melewati tanah mengerikan itu sudah berhasil dilalui para murid Hadesia. Tapi sayangnya, ada sekitar empat murid yang tampak tersiksa.
__ADS_1
Langkah mereka terhenti di pertengahan jalan akibat tak sanggup lagi melewati semuanya.
Dan beberapa guru tampaknya menyusul untuk membantu mereka.
“Blerda?” panggil Orion yang memudarkan fokus gadis itu. “Ada apa?”
Rahang putri siren pun menegang dibuatnya. Jujur saja, di antara beberapa anak yang ditemui Blerda, Beltelgeuse Orion lah paling peka.
Gadis itu hanya menggeleng sekilas tanpa memberikan respons apa-apa. Sampai akhirnya, pemberitahuan dari Remus Eterno mengalihkan perhatian mereka.
“Dengar semuanya. Mulai besok pelatihan akan ditiadakan. Karena seminggu lagi, ujian akan dilakukan. Jadi bersiaplah semuanya,” selesai mengatakan itu ia pun pergi meninggalkan murid-muridnya.
“Apa itu berarti kita sudah bebas?!” sorak bahagia salah satu murid dari bangsa chimera.
“Apanya yang bebas? Kita akan ujian seminggu lagi bodoh!” balas anak lainnya.
Dan perdebatan pun terjadi di antara mereka yang masih sanggup mengoceh dengan kerasnya. Sementara sisanya memilih berlalu dari sana.
Termasuk anak-anak yang asramanya dihuni oleh Revtel dan juga lainnya.
“Kers? Kamu mau ke mana?”
“Pipis,” ucapnya tanpa basa-basi dan meninggalkan Revtel serta Trempusa begitu saja.
“Cepat kembali.”
“Iya cerewet!” Sosoknya yang sebal akibat sakit di kaki pun menggerutu sepanjang jalan. “Sialan! Latihan macam apa ini? Bahkan lukaku saja belum sempat diobati!” jengkelnya sambil menatap lekat sayatan memanjang di lengan kirinya.
Sampai akhirnya pijakannya terhenti di pinggiran danau yang menyemburkan aroma aneh menurutnya.
“Apa ini?”
“Kamu—”
__ADS_1