Death Game

Death Game
Lingkaran sihir di Hadesia


__ADS_3

Sementara Kers, tak tahu kenapa juga bisa terbang mengikutinya. Sekarang ia yakin, kalau Apophis itu mungkin saja dirinya pada masa dahulu kala.


Dan sosoknya pun terkesiap saat melihat Sang Termulia mendarat di tempat tak terduga.


“Kronos, apa yang kamu lakukan?!” kagetnya.


Sang Titan yang berada di tengah hutan, tampak berlumuran darah di badannya. Dan tangan kanannya, menyentuh sebuah bongkahan besar melebihi tubuhnya.


Lima puluh kepala saling menyatu namun wajahnya mengarah ke segala arah. Milik dari sosok yang bernama Gyges Aedan.


“Aku hanya membereskan pembangkang.”


“Pembangkang apanya? Dia pemuja! Apa yang sudah dilakukannya sampai kamu membunuhnya?!” Apophis terlihat beruraian air mata.


“Dia mengatakan kalau Zeus dan yang lainnya mungkin bisa memerintah kayangan nantinya! Apa kau pikir itu bukan pembangkangan?! Kitalah Rajanya, Apophis! Kitalah Termulia!”


Dewa Kegelapan itu terdiam. Dadanya begitu bergemuruh rasanya, mendengar kalimat konyol yang dikatakan sang Titan.


“Kamu cemburu?”


Kronos pun mendelik tajam. Perlahan di dekatinya Apophis, dan disentuhnya rambut panjangnya.


“Cemburu? Tak ada yang boleh meremehkan tahta kita!”


Tak habis pikir, sebenarnya apa yang ada di otaknya? Apophis pun mengepal erat tangannya. “Tak ada yang meremehkan kita, Kronos! Sebenarnya kenapa kamu seperti ini?! Zeus dan yang lainnya itu anakmu! Anakmu dan Rhea! Kamu berubah Kronos, kamu benar-benar berubah! Karena ramalan konyol itu kamu jadi semakin gila!”


Terkesiap. Apophis terbungkam. Karena selesai mengatakan itu kedua pipinya dicengkeram tangan sang Titan yang berlumuran darah.


“Kamu berani membentakku?” tekannya. Ludah kasar pun diteguk Apophis yang matanya berkaca-kaca. “Jangan lupa, Saudaraku. Kita Yang Termulia. Segala perbandingan termasuk pada penghinaan. Dan bersikaplah sebagaimana mestinya. Bahkan bila kita membunuh, itu sebuah kewajaran dalam berkuasa. Ingat itu!”


Kronos pun pergi meninggalkannya. Apophis yang masih berdiri di sana, perlahan mendekati Gyges Aedan.


Tanpa sadar tangannya merangkul kepala raksasa yang terpenggal itu. Tak bisa di hentikan tangisannya.


“Apa dia benar-benar aku?” gumam Kers melihatnya. Rasanya aneh kalau Dewa itu memang masa lalunya. Mengingat kasih sayang yang dimiliki keduanya sangatlah berbeda.


Bahkan Apophis membuatkan makam untuk Gyges Aedan. Terdiam menyaksikan gundukan raksasa yang ada di hadapan.


“Mau sampai kapan kau menonton?” tanya sang Dewa Kegelapan dengan tatapan sayu namun menekan. Perlahan, sosok di balik pohon mulai menampilkan dirinya. “Osiris.”


“Para Titan terlalu semena-mena.”


Apophis memilih mengabaikan dan meninggalkannya. “Tanpa doa dari para pemuja kita tak ada artinya. Dan dia semena-mena membunuh orang yang paling kamu percaya. Apakah kamu akan diam saja?”


Lawan bicaranya tak peduli dan terus melangkah.


“Apophis!”


“Kau dan mereka sama. Jadi jangan banyak bicara.”


Osiris pun terkejut mendengar nadanya. Tampak olehnya, Dewa di depan mata menyentuh pohon di sebelahnya dan mulai layu keadaannya.


“Apophis.”


“Jangan buta karena tahta. Kalau sampai perang pecah, kalianlah yang akan dirugikan. Karena bagaimanapun mereka orang tua kalian semua.”


Dan dia pun lenyap seketika. Bersamaan dengan layunya tumbuhan di sekitar Osiris. Kemampuan kegelapan yang menelan kehidupan.


Sementara di sebuah istana yang tak dihuni siapa pun juga, terlihat sosok Athena. Melangkah santai dengan pedang di tangan kanan dan perisai di sebelahnya.


Melirik ke sana kemari sambil bersikap waspada. Sampai akhirnya tiba di balkon yang ternyata ada seseorang menantinya.


“Yang Termulia,” sapanya.


Wanita yang memandang keindahan di depan mata pun menoleh ke arahnya. “Cucuku, akhirnya kamu datang,” sambutan Rhea sambil memeluknya.


“Ada apa anda memanggilku?”


Istri dari Kronos itu pun mengelus lembut pipi cucunya. “Aku ingin meminta bantuanmu,” ucapnya tanpa basa-basi.

__ADS_1


“Bantuan, bantuan apa?”


“Selidiki apa yang direncanakan Zeus dan juga saudaranya. Kamu, bisa membantuku bukan?”


Tersentak. Permintaan apa yang baru saja dilontarkan neneknya? Menyelidiki ayah dan ibunya sendiri? Apa wanita ini sadar dengan perrnyataannya?


“Kenapa Athena? Apa kamu tidak bisa melakukannya?”


Tak tahu kenapa tapi setiap melihat tatapan Rhea, Athena seolah tak punya kekuatan untuk membantahnya. Sehingga ia terpaksa mengangguk sebagai balasannya.


“Akan kulakukan.”


“Bagus. Itu baru namanya cucuku.”


Walau senyum terus dikibarkan Yang Termulia, tapi ia tahu jika Athena sangat berat hati menerima permintaannya. Di mana dirinya harus mematai-matai Zeus dan Metis yang merupakan orang tuanya.


Tapi di satu sisi, Kers terkesiap saat melihat sosok yang berdiri di samping Apophis. Siapa lagi kalau bukan Dewa Loki.


Sosok yang membuatnya bisa pergi ke masa lalu saat ini. Tiba-tiba, sang Dewa Pengacau itu meliriknya dan menyeringai tiba-tiba.


Bersamaan dengan itu hujaman kasar pun langsung menerpa. Di mana Kers muntah darah dan tersadar di lokasi yang berbeda.


“Bagaimana?” kekeh sosok itu kepadanya.


Bocah hydra benar-benar terbelalak sekarang. Saat mendapati sosoknya ternyata berada di aula prasasti Hidea.


“Kau! Apa yang kau lakukan?! Aku masih belum selesai melihatnya!”


Loki pun menyentuh wajah Kers. “Batasmu sudah habis. Para Dewa tidak boleh tahu kalau kau berada di sini.” Dan tangannya tertahan di kening bocah itu. “Nigel! (Muncullah!)”


Seketika ingatan aneh dari Loki pun terputar cepat di otak Kers. Seperti sebuah tontonan, melukiskan masa lalu dari nama Cindaku Aftoria. Serta era perang Para Titan dengan Dewa-Dewa dan juga pemujanya.


Bahkan, upacara kehancuran Kronos serta saudaranya yang dikirim ke penjara Tartaros juga terlintas di sana.


Kers pun sampai mimisan menahan kesadarannnya. Dan sekarang dia menutup mata akibat sakit dari ingatan Loki di dirinya. 


Mengingat darah masa lalunya merupakan salah satu kunci yang menyegel rantai Atlas sang pemimpin para Titan. 


Hadesia.


Terjadi ketegangan sekarang. Akibat kedatangan mencolok dari seorang anak muda ke sana. Tampan rupanya dan merah rambutnya. Ia menatap lekat sosok yang berdiri di hadapan.


Sang guru besar Belze Brask.


“Aza Ergo? Tak ada murid bernama seperti itu di sini.”


“Aku yakin adikku berada di tanah ini,” lirihnya. Dan sorot matanya pun melirik tenang ke arah mayat murid-murid yang gagal pada ujian.


Tentunya diakibatkan oleh pertarungan melawan monster laut dalam. Sehingga kehadiran sosok itu sangat mengganggu sang guru besar. Mengingat dirinya merasa tertangkap basah oleh orang luar.


“Cih!” tiba-tiba Belze pun melancarkan serangan. Membuat Laravell yang menjadi mangsanya melompat tinggi untuk menghindar. Di sela-sela kelincahannya, tangannya pun melepas ayunan dengan energi yang mengerikan. Sehingga menghempaskan permukaan air danau di mana lokasi pertarungan terjadi.


Terpaksa anak berambut merah itu melompati pohon-pohon dengan lincahnya. Agar tak tertangkap kemampuan tanaman Belze yang tampak menggila. Sampai akhirnya ia mendarat di tempat tak terduga.


Di mana sebuah lingkaran sihir dari darah yang dipagari kepala tanpa tubuh murid-murid Hadesia, menakuti dirinya.


Bahkan ada yang sudah menjadi tengkorak dan mungkin sudah berusia lama.


“Apa ini?” kagetnya.


“Kau!” marah Belze yang berhasil menyusulnya.


“Kalian!” geram Laravell. “Jangan bilang tempat in— agh!” erangnya tiba-tiba. Karena sebuah pedang menembus tubuhnya.


Belze tersentak menyadari siapa pelakunya. Dan itu ternyata merupakan August Belmera sang guru besar dari bangsa Chimera.


“Tuan!”


“Aku tak tahu apa yang terjadi, tapi siapa ini?”

__ADS_1


Laravell pun langsung maju ke depan agar pedang di badan terlepas dari tubuhnya. Ia sentuh erat jejak luka di perut sambil darah terus merembes dari sana.


“Aku tak tahu siapa anak ini, tapi yang jelas dia bilang adiknya ada di sini dan bernama Aza Ergo.”


“Begitu?” tanggap santai August.


“Sekarang kita harus bagaimana? Anak ini jelas-jelas sudah menangkap basah tindakanku.”


“Ayo penjarakan dia dan cari adiknya.”


“Jangan pikir kalian bisa menangkapku!” tiba-tiba putra Maximus pun membangkitkan auranya. Meledakkan tempat itu sehingga dua guru besar tersebut kehilangan jejaknya. Tentunya mereka terperangah dengan ekspresi yang masam di rupa.


“Sial!” marah Belze. Bahkan dengan kemampuan pendengaran sebagai anggota bangsa dracula, ia masih tidak bisa melacaknya. Membuat geram di dada kian menegangkan otot-otot di wajahnya.


“Beritahukan pada semua kalau ada penyusup di sini!”


“Baik!”


Belze pun pergi meninggalkannya. Dan perlahan pak tua itu menoleh ke belakang, memandang lekat lingkaran sihir mengerikan di depan mata.


“Tak peduli apa pun yang terjadi, persembahan ini akan selalu menjadi milik anda, wahai Ratuku Helga Nevaeh dan Dewa kami para Titan,” ucapnya sambil bersimpuh dan mengambil sikap sempurna.


Dan Hydragel Kers yang sudah terjaga, tersenyum senang sekarang. Mengingat perjanjiannya dengan Cindaku Aftoria telah terlaksana sehingga Revtel tak perlu mati.


Siapa sangka, kalau Loki yang berwujud palsu itu menggendongnya untuk bertemu dengan Bragi Elgo serta kakak sepupunya. Bahkan meminjamkan dua kuda terbang bagi mereka untuk bisa kembali ke Hadesia.


Walau Kers jengkel padanya, namun tak bisa dilupakan semua kebaikannya. Di mana sosok itu berbagi ingatan masa lalu dengannya. Walau bukan seluruh kenangan secara sempurna, tapi setidaknya bocah hydra sudah bisa menarik kesimpulannya.


Kalau dia memang terlibat dalam kehancuran para Titan serta kematian beberapa Dewa akibat ambisi sosok-sosok pemuja.


Pantas saja ia disegel dahulu kala. Karena tindakan yang dicap pengkhianatan itu sudah menodai dunia kayangan di atas sana.


Tapi setidaknya ia tahu kalau ada dua orang lagi yang dihukum bersamanya. Namun dirinya lupa siapa mereka atau namanya.


“Sekarang apa pun yang terjadi, jangan buat aku cemas lagi,” Revtel pun memeluk Kers. Mereka berdua berada di jalan masuk menuju gerbang Hadesia.


Di mana kuda terbang dan Bragi Elgo sudah mengantar dirinya. Pak tua itu terpaksa harus segera kembali ke Kerajaannya. Mengingat gagak pesan dari Komandan Ksatria yang terpisah dengannya begitu mengejutkan.


Tentang ulah para Tetua yang mengusik aturan di bangsanya.


Anehnya, entah kenapa suasana di Hadesia terasa berbeda.


Kers menyadarinya namun tidak dengan saudaranya. Terlebih ada banyak bau anyir yang bertebaran di sekeliling mereka.


“Ini—”


“Ayo temui Guru dulu dan baru kembali ke asrama,” ajak Revtel pada adiknya.


Sementara Aza, sedang rebahan di kamarnya. Sampai akhirnya pengumuman aneh dari para beo mengganggu pendengaran.


“Ada apa ini?” gumam Trempusa. Terlebih semua di minta untuk hadir di lapangan


Tentunya hal tersebut menjadi tanda tanya.


“Kers! Revtel! Kalian dari mana saja?!” tanya Beltelgeuse Orion melihat kedatangannya. Keduanya tidak bersuara dan menampilkan ekspresi aneh di rupa. “Kalian, ada apa?”


Tapi, belum sempat mereka menjawab, interupsi dari Quisea Sirena menganggu semuanya.


“Dengar semuanya! Hari ini, telah terjadi insiden yang sangat mengerikan!” Para murid pun mengernyitkan wajah bingung mendengarnya. “Tadi, dua guru besar kita yaitu Helgida Septor serta Romario Stoyan ditemukan mati di tepi danau! Bukan hanya itu, bahkan beberapa murid juga ditemukan tewas bersamaan dengan lingkaran sihir aneh di tengah hutan. Tak diragukan lagi, penyusupnya diperkirakan dua orang dan salah satunya bernama Aza Ergo! Tak peduli siapa pun dia, bahkan jika kau bersembunyi para guru besar pasti akan menangkapmu! Karena itu jangan pikir kau bisa lari setelah semua kejahatanmu ini!”


Selesai mengatakannya, perisai emas sebanyak tujuh lapis pun menghiasi langit di atas sana. Membentuk pelindung di sepanjang area Hadesia.


Para tankzeas (pelindung) tampaknya begitu berjuang dalam melakukannya. Berharap tak ada satu pun yang bisa lari dari sana.


Sementara sang murid sekaligus petinggi termuda, hanya diam memperhatikan semua. Jujur ia terkejut dan tak menyangka, jika guru besar itu mengetahui namanya dan tak tahu siapa pemiliknya.


Tapi, penyusup lain yang disebutkan jelas mengusik hatinya. Menerka-nerka siapa sosok kedua selain dirinya di Hadesia.


 

__ADS_1


__ADS_2