
“Besok, aku akan mengambilnya. Jangan kecewakan aku, Sirena,” dan Kers pun pergi meninggalkannya.
Sungguh sebagai tamu dirinya begitu berani mengusik kamar istirahat Raja. Entah apa tujuannya, tapi sepertinya ia sangat serius dalam masalah peliharaan para Dewa.
“Near, apa kamu lapar? Dari kemarin kamu tidak mau makan,” Reve bersuara sambil menyodorkan daging ke depan ularnya.
Tapi sang hewan melata, malah memilih mengalungkan badannya ke leher pemuda itu.
“Reve, ada apa?” tanya Toz yang datang menghampirinya.
Dan sosok berambut hitam kebiruan itu pun meliriknya. “Near tak mau makan sejak kemarin.”
“Apa mungkin dia sakit? Kalau begitu kan harus diobati.”
“Ah, mana Horusca?”
“Dia ada di balkon.”
Reve Nel Keres pun pergi ke sana. Benar saja, di balkon memang ada Horusca yang sedang bersama Riz Alea.
“Horusca, tolong lakukan penyembuhan pada, Near.”
“Memangnya ularmu kenapa, Reve?” Riz menimpali.
“Near tak mau makan sejak kemarin.” Tangannya pun sibuk mengelus lembut sang black mamba. Tampaknya, ular itu begitu tak bersemangat dalam menjalani hidupnya.
“Mungkin dia mau mati.”
Sontak saja pernyataan Horusca membuat Reve menyipitkan matanya. Entah kenapa suasana mendadak aneh dan Riz pun berusaha memperbaikinya.
“Ayolah, Horusca. Jangan bercanda lagi, kasihan Near dia harus diobati,” bujuk Riz agar sang elftraz (penyembuh) mau mengeluarkan skillnya.
“Liaythax Nehriem Miaglea (bola hijau nehriem)” ucapnya dan seketika bola tak seberapa besar itu muncul mengelilingi Near yang ditaruh Reve di hadapan bocah penyembuh tersebut.
Tapi Near masih saja tampak lelah dan tidak bersemangat, sehingga Reve kian cemas. “Bagaimana?”
Cukup lama bagi Horusca untuk menjawabnya. Bahkan bila bola hijau yang menjadi kemampuannya telah memudar, rupanya masih belum berpaling dari sang ular.
“Dia baik-baik saja. Tapi aku tak tahu apa yang salah dengannya.”
Hanya itu lirihan kata Horusca. Dan membuat Reve mengernyitkan dahi bingung karenanya. Dipeluknya Near sambil mengusap-usapnya.
“Lalu apa yang harus aku lakukan? Kau kan ahli dalam penyembuhan. Apa kau tidak punya saran?”
“Entahlah. Karena ini binatang jadi aku tak paham. Kalau dia manusia dan bisa bicara, mungkin aku dapat menemukan solusinya.”
Suara helaan napas jengah pun mengiringi langkah Reve yang cukup cemas. Karena bagaimanapun juga, perkataan elftraz (penyembuh) berwajah datar itu ada benarnya. Andai Near bisa bicara, bukankah dia bisa menemukan solusi masalahnya?
__ADS_1
Seketika otaknya meradang karena teringat seseorang.
“Apa ada yang melihat Aza?” tanyanya pada sosok-sosok yang duduk di sofa.
“Bukankah dia ada di ruangannya?” balas Doxia. Mau tak mau Reve pun pergi dari sana untuk menemui petinggi empusa. “Ada apa dengannya?”
“Near sakit, karena itu.”
“Si ular?” tanya Rexcel sambil melirik Toz yang bersuara.
“Iya.”
“Jadi hewan itu juga bisa sakit? Pertama kalinya kulihat dia secemas itu,” Doxia pun tertawa pelan karenanya.
Dan di perjalanan, Reve masih saja memperhatikan sekelilingnya. Terkadang, Near bisa bersuara lewat telepati dengannya. Tapi akhir-akhir ini sang hewan melata jarang melakukannya. Tentu saja dirinya cemas, takut ular itu kenapa-kenapa.
“Mau ke mana?”
Langkahnya pun terhenti. Perlahan, wajahnya menoleh ke samping dan tampaklah sosok wanita yang menawan namun angkuh di pandangan.
Blerda Sirena.
Dirinya mengenakan yukata semerah darah. Berhiaskan bunga lily di sudut-sudut lengan dan kaki, serta sebagai penghias di sisi kanan rambutnya.
“Aku ingin bertemu, Aza,” jawabnya tenang.
Jujur Reve bisa merasakan sensasi tak biasa dari sosok di depan mata. Terlebih Near sang ular, juga tampak ketakutan akan kedatangan sang gadis muda. Memilih bersembunyi di dalam bajunya.
“Terima kasih.”
Raja siren pun jalan duluan. Sepanjang langkah, keduanya tak saling berbicara. Tapi Reve, tak melepaskan sorot matanya. Memandangi gadis itu dari atas ke bawah. Tak terlihat keanehan di dirinya, namun entah kenapa dia memancarkan tekanan seperti lubang besar di pandangan.
Seolah akan membuatnya tenggelam dan sesak napas jika berdekatan dengannya.
“Darah yang pekat. Bermandikan kristal biru dan juga teriakan, aroma mengerikan untuk seorang pelarian.”
Reve tersentak. Karena gadis itu bersuara tiba-tiba. “Apa kalimat itu, ditujukan untukku?”
Dan perlahan, Blerda pun membalik tubuhnya. “Kenapa kau datang ke Guide?”
“Bukankah siapa pun yang menginginkan kekuatan pasti mendatangi dunia ini?”
“Tanah biru. Tanah ternoda akan pembantaian. Tak ada satu pun yang tersisa di sana. Kecuali serpihan kekejaman. Namun seorang pelarian yang tak diketahui dunia muncul lagi di sini. Jadi, kenapa kau kemari?”
“Tak ada keharusan bagiku untuk menjawabnya.”
“Tahukah kau kenapa tanah biru sangat dikagumi?” Blerda pun berjalan ke arahnya.
__ADS_1
Tapi, tak ada jawaban. Reve memilih diam dan memperhatikan sosok rupawan yang mendekatinya. Saling bertatapan, sampai akhirnya tangan kanan gadis itu terarah ke pipinya.
“Karena mereka indah, dan melambangkan keabadian. Darah yang ditumpahkan akan menjadi sumber energi bagi sang pemakan.”
Reve pun menyipitkan matanya. “Apa maksudmu?”
“Deru napas mereka kehidupan. Detakan jantungnya menjadi lambang kehangatan, dan tangisannya berujung pada kegelapan. Sang legenda yang dihapuskan dalam sejarah karena tragedi berdarah. Tahukah kau kalau sosokmu mungkin saja satu-satunya yang tersisa? Guide akan gempar jika mengetahui pelarian itu telah muncul di sini. Di hadapanku, berkeliaran dengan eksekutor keji untuk tujuan tertentu.”
“Sepertinya, Para Raja tak bisa dibohongi,” sambil memamerkan seringai tipis di bibirnya. Perlahan Reve pun mundur selangkah dan menyentuh ujung rambutnya. “Padahal sudah tidak biru lagi, bagaimana caraku menutupi semuanya?”
Blerda Sirena pun berbalik badan. Melangkah kembali sehingga terkesan meninggalkan sosok yang berbicara kepadanya. Tentu saja Reve menjadi bingung. Gadis itu mulai duluan namun sekarang ia mengabaikan. Entah apa tujuannya berkata begitu namun sekarang tindakannya serasa menyebalkan.
“Ini kamarnya.”
Dan Raja siren pun berlalu meninggalkannya. Tubuh belakangnya, masih saja ditatap Reve Nel Keres sebelum akhirnya memasuki ruangan di depannya.
Tak dikunci, jadi bocah ular bisa dengan leluasa memasukinya.
“Mau apa kau ke sini?”
Terlihat. Aza Ergo sedang duduk di atas sofa, membaca buku yang entah ia dapatkan dari mana.
“Near tidak mau makan.”
“Lalu apa masalahnya.”
“Bisa saja dia sakit.”
“Kalau begitu suruh hewan itu istirahat.”
“Dia sudah istirahat sepanjang hari, dan saatnya makan.”
“Lalu apa? Kau ingin aku memberinya makan dengan melubangi tubuhnya?”
“Aku ingin kau membawaku pada Raja hydra.”
“Kers? Kenapa?”
“Kau bilang dia bisa membaca ingatan bukan? Aku ingin dia membaca ingatan Near.”
Tiba-tiba senyum remeh terpatri di bibir Aza Ergo. “Kau yakin, Nak? Kau akan membiarkan dia membaca rahasiamu?”
“Apa maksudmu?”
“Ini hewan sihir. Mungkin saja kau punya rahasia bersamanya. Dan kau akan membiarkan semuanya terbongkar begitu saja?”
Tapi, malah tawa pelan yang tersembur di bibir pemuda itu. Entah apa yang lucu, sampai-sampai ia memiringkan wajah dengan angkuhnya.
__ADS_1
“Mana mungkin aku membiarkannya? Lagi pula, dia takkan bisa membaca ingatan Near sejauh itu. Karena aku punya koneksi dengannya. Terima kasih sudah mengatakan itu padaku. Tapi aku harus tahu, apa yang dilihat Near sehingga dirinya memilih diam semenjak datang ke tempat ini. Kau, bisa membantuku kan?”