
“Ma-mati aku!” batin Riz.
Raksasa yang mulai marah karena ucapan Riz pun membalikkan badan ke arahnya. “Brak!” pijakan kaki kanan. “Braak! Braak! Braaak!” raksasa itu pun sekarang mengejarnya.
“Aaaahh ...!” jerit Riz.
Rasa takut benar-benar menghantuinya sampai ia tak tahu lagi sekarang sedang berlari ke arah mana.
Serigala hitam pun mengeluarkan sihir apinya yang melayang cepat di udara untuk mengejar sang raksasa. “Bwuush!” api itu berhasil menghentikan langkah raksasa dan mengelilingi tubuhnya.
“Arrgh!” erang marah raksasa. Ia mengayunkan ke enam tangannya memukul-mukul api itu agar lenyap. Sementara Riz yang sudah cukup jauh posisinya sekarang berhenti berlari dan menengok ke belakang.
“Apinya,” gumam Riz yang menatap lekat ke sumber pemiliknya. Serigala hitam hanya berdiri tenang, namun aliran api dari pijakan kakinya tampak bekerja keras untuk melawan raksasa. Dua serigala lain juga ikut membantunya sambil menyerang secara frontal di sudut mati yang takkan terjangkau raksasa.
“Hmmh! Hmmh! Akan kubunuh! Akan kubunuh! Akan kubunuh kalian semua!” emosi raksasa itu semakin menjadi-jadi.
Ia pun mengangkat keenam tangannya ke langit-langit, tak menghiraukan serangan api hitam yang masih mengerubungi untuk membakarnya secara perlahan.
“Hiiaaah!” teriak raksasa itu menyerang tanah tempat ia berpijak secara kasar. Dalam sekali serangan, keenam tangan itu berhasil meretakkan hampir setengah area yang bahkan mencapai posisi di mana Riz berdiri sekarang.
“Tu-tunggu, jangan bilang ...” Riz menyadari ada yang tidak beres.
“Aaaah!” teriaknya begitu tanah tempat Riz berpijak retak dan hancur, sehingga hampir saja membuatnya terpuruk ke lubang-lubang kalau tidak digigit serigala ungu yang tiba-tiba datang menyelamatkannya.
“Ini buruk!” ucap serigala ungu itu.
“A-apa maksudmu?” mata Riz masih fokus pada lubang-lubang di tanah akibat retakan yang tampak seperti black hole.
Belum sempat menjelaskan, raksasa itu sudah berlari ke arah mereka. “Kami akan mengambil alih, kau kaburlah!” perintah serigala hitam sambil memasang kuda-kuda bersiap.
Cakarnya tampak menajam melebihi sebelumnya, dengan taring mengerikan yang akan mudah mengoyak tubuh lawannya. Tapi itu tak berarti apa-apa, karena tubuh sang raksasa jauh lebih besar dan keras dibanding kulit makhluk hidup pada umumnya.
“Pergi!” perintah serigala itu.
“T-tapi!”
“Tak ada gunanya pecundang sepertimu membantu kami!” jelas serigala ungu.
Perkataannya benar-benar menyinggung perasaan Riz walau itu memang kenyataannya.
“Cepat pergi!” ulangnya sekali lagi. Sang serigala pun berlari ke arah raksasa yang juga mendatanginya.
Pertarungan begitu sengit, tampak dua serigala yang tadi sibuk menepi ikut berlari ke arah mereka. Siapa lagi kalau bukan serigala hijau yang memiliki kemampuan elftraz (penyembuh) dan serigala merah yang merupakan scodeaz (pengendali).
Tiba-tiba, serigala hijau dan hitam pun melolong panjang yang memekakan telinga. Riz tersentak kaget, karena ini pertama kalinya ia mendengar lolongan serigala yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Sebuah pemandangan luar biasa dan mengerikan pun menari di depannya. Di mana tanaman raksasa muncul di tanah dan meliuk-liuk mengikat dan mencengkeram tubuh raksasa bersamaan dengan api hitam yang membakarnya.
“He-hebat!” Riz terpana dan lupa dengan perintah serigala yang menyuruhnya segera pergi.
Raksasa itu tampak kesakitan dan menjerit sejadi-jadinya. Teriakannya bahkan melebihi lolongan serigala tadi. Riz yang semula terpana mendadak ketakutan. Tubuh coklat raksasa mendadak berubah menjadi merah dan meledak seketika.
“A-apa yang terjadi?! Rak-raksasa itu sudah mati?!” tatap Riz penuh penasaran.
__ADS_1
Tapi asap putih yang ditimbulkan ledakan justru memberikan jawaban berbeda. Bayangan hitam dengan dua belas tangan dan tanduk mirip hewan karibu justru menyambut semuanya.
Raksasa yang penuh pesakitan tadi, sekarang justru berevolusi menjadi lebih mengerikan. Taring seperti **** pun juga ikut memperburuk penampilannya.
“Serang!” teriak serigala kuning tiba-tiba.
Tanpa menunggu jeda, semuanya langsung menyerang raksasa yang sudah berubah secara membabi buta. Bahkan serangan dari sudut mati sudah tak ada artinya, karena kedua belas tangan itu memanjang layaknya karet dan mengejar serigala-serigala lincah itu.
Tak butuh waktu lama, dua dari mereka berhasil tertangkap. Raksasa itu tak pandang bulu dan langsung mencengkeram erat serigala ungu dan hitam dengan keras sampai suara remukan tulangnya bisa terdengar jelas oleh Riz.
Keringat dingin yang membasahi wajah dan leher Riz seperti tak ada artinya.
Pemandangan di mata begitu mengerikan, kedua hewan yang sudah terkulai lemas itu pun dilempar kasar sehingga berguling-guling menyedihkan di tanah.
Lolongan pelannya terasa seperti menangis kesakitan. Riz merasa kematian sudah mendatanginya, padahal ia hanya berdiri diam tanpa ikut bertarung. Serigala hijau pun berlari cepat ke arah serigala ungu yang terluka parah.
Sementara serigala hitam dilempar ke tempat yang lebih jauh posisinya. Dua serigala tersisa masih bertarung dengan bersusah payah. Pemandangan itu begitu buruk karena telinga serigala merah berhasil kena serangan dari raksasa.
Riz benar-benar ketakutan, namun di satu sisi ia juga merasa seperti pecundang. Riz tak tahu harus berbuat apa kecuali menonton dari jarak yang jauh dengan badan menggigil.
Apa yang bisa dilakukan oleh calon guider sepertinya. Kemampuan saja tidak punya, bahkan jika ia ingin ikut membantu, fisiknya yang buruk juga tak mengijinkannya. Riz hanya akan mati sia-sia bahkan sebelum ia sempat mencoba.
“Lari!” perintah serigala hijau itu sekali lagi.
“Bahkan jika kau gagal di sini, jangan sampai kau mati!” ucapnya tegas.
Riz terkesiap mendengarnya, perkataan serigala merah mengingatkannya akan sesuatu.
Kenapa serigala itu berkata begitu? Dan kenapa ia harus lari? Bahkan jika serigala-serigala itu mati, selanjutnya raksasa itu mengincarnya. Kenapa ia harus lari? Kenapa ia berada di sana? Apa alasan yang membuatnya terdampar di tempat indah namun menakutkan ini? Untaian pertanyaan itu mulai mengelilingi Riz.
“A-apakah ini ujian terakhir dan eksekusi untukku?” lirihnya.
Teriakan dari serigala seolah lolos di telinga Riz. Derap langkah raksasa yang mulai menghampirinya membuat Riz tersadar kalau ia dalam bahaya.
“Awas!” pekik serigala kuning melindunginya.
Sebuah tameng emas terpancar dari sang serigala, namun itu semua sudah terlambat. Ia kalah cepat dari dua tangan raksasa yang sudah menghujam tubuhnya dengan pukulan keras. Serigala itu pun terlempar tepat melewati Riz.
“A-aa-a-” Riz terbata-bata.
Ia pun menoleh ke belakang, pemandangan memilukan di mana serigala yang melindunginya tergeletak tak berdaya begitu saja. Kakinya pun dilangkahkan secara perlahan, sampai akhirnya pijakannya memburu dan sampai dengan napas terengah-engah.
Riz menyentuh pipi sang serigala yang terkapar, “a-aku mohon, bertahanlah,” lirihnya sambil menitikkan air mata.
“P-per-gi-lah,” pinta serigala itu sambil menggerakkan bola mata menatapnya.
Mata binatang itu begitu jernih, dibalik tatapannya Riz bisa merasakan kehangatan yang tak terlukiskan. Sementara empat serigala lainnya sibuk bertarung dengan sengit, di mana mereka benar-benar sangat terpojok sekarang.
“Per-gi-lah,” ucap serigala itu sekali lagi.
Raungan serigala lain pun tiba-tiba memecah suasana, membuat Riz berpaling menatapnya. Mulutnya terbuka lebar, sebuah pemandangan memilukan menanti Riz dengan air mata tak terhentikan.
Di mana serigala hijau diinjak kasar oleh sang raksasa, dan di tangannya terdapat serigala ungu yang tampak sudah pasrah tak berdaya. Aliran darah yang keluar dari kedua serigala menghiasi tanah sebagai bukti perjuangan mereka.
__ADS_1
Riz yang tak tahan melihatnya pun mengepalkan tangan, “a-aku, aku mohon! Lepaskan serigala itu! Aku mohon!” teriak Riz akhirnya.
Raksasa itu berpaling padanya, sambil
menyeringai aneh yang tak terlukiskan. Riz bergidik ngeri saat makhluk itu semakin meremukkan badan serigala di tangannya.
Matanya semakin memerah, jantung yang berdetak cepat dan panas mulai memburu dirinya. Ekspresi Riz yang sendu pun berubah dengan amarah terpendam di rautnya, “aku membencimu,” ucapnya tiba-tiba.
“Aku membencimu, aku membencimu, aku membencimu, aku membenci kalian yang sudah menginjak-injak kami yang tak berdaya. Aku membencimu, sampai kapan pun aku membencimu!” teriak Riz emosi.
Ia pun berlari ke arah raksasa itu dengan amarah di dada, melupakan dirinya yang tak bisa apa-apa.
“Jangan ke sini! Cepat lari!” ucap serigala merah padanya.
Riz tak mendengarkan, sementara raksasa yang menyeringai itu melempar mangsa di tangan ke sembarang arah, dan berjalan ke arah Riz.
“Kita harus menghentikannya!” ucap serigala merah pada serigala hitam yang masih bertahan.
Tapi sayang, raksasa itu menyadarinya, ia pun menendang serigala hitam karena tahu akan diserang. Serigala itu pun terlempar jauh dari pandangan mereka.
“Br*ngs*k! Dasar br*ngs*k!” teriak Riz emosi.
“Deg!” jantungnya tersentak.
“Jangaaaan!” pekik Riz tiba-tiba saat menyadari apa yang akan terjadi di depannya.
Tanpa di duga, sebuah kristal kuning muncul tepat mengurung serigala merah sebelum sempat dipukul, sehingga serangan raksasa itu berhasil dihentikan.
Riz terdiam, ia tak bisa berkata apa-apa, saat menatap aliran cahaya emas yang melindungi serigala merah terhubung jelas ke tubuhnya.
“I-ini,” Ri mengepal tangan kanannya dengan ekspresi tak percaya.
“Kau seorang tankzeas (pelindung)? Dasar makhluk keparat!” emosi raksasa itu.
Ia memukul kristal kuning yang melindungi serigala itu secara bertubi-tubi.
“Hentikan!” sergah Riz, tapi ia sadar kalau serangan raksasa ternyata tak mempan pada kristal kuning itu.
“Keparat! Keparat! Keparat!” umpat raksasa itu tetap memukuli kristal pelindung dengan tangan yang remuk dan berdarah-darah.
“Kenapa? Kenapa ia masih menyerang? Padahal tangannya sudah hancur dan sedikit pun tak berhasil menggores kristal itu.” Pemandangan ini terasa aneh bagi Riz, ia tak mengerti kenapa sang raksasa masih mencoba menyerang serigala.
“Kenapa kau masih menyerangnya? Bahkan tanganmu tak berhasil menggores kristal itu. Jika kau marah, kau bisa melampiaskannya padaku, tapi tolong lepaskan serigala itu,” tukas Riz padanya.
Akan tetapi, suara pukulan yang keras dan meremukkan tangan raksasa sepertinya telah menelan kata-kata Riz sehingga seperti tak terdengar olehnya.
Sejujurnya Riz sedikit gugup, berharap cemas jika kristal itu hancur dan tak mampu lagi melindungi serigala. Ia memutar otak, memikirkan ide terbaik agar raksasa berpaling dan mengejarnya. Sehingga serigala merah pun bisa terbebas dari sana.
“Ke-” Riz tak melanjutkan ucapannya. Raksasa itu berpaling padanya dengan ekspresi yang sangat mengejutkan.
“Kenapa? Kenapa semua ini harus terjadi? Apa salahku? Aku hanya ingin bahagia? Tapi kenapa? Kenapa tak ada satu pun yang bisa mengerti? Aku cuma ingin bahagia,” ucap raksasa berderaian air mata.
Riz terbungkam, ia tak bisa berkata apa-apa. Ini terlalu mengejutkannya, raksasa yang berwajah mengerikan itu menangis di depannya. Menangis dengan raut yang merobek hati. Pupil mata Riz bergetar, jejak air mata di pipi yang telah kering terasa meremang akibat udara.
__ADS_1
“Kenapa? Kenapa rasanya sesakit ini?” batin Riz berbicara. Kristal bening yang menggumpal pun jatuh meleleh ke pipinya