
Separuh wajah Wakil Raja hydra pun memamerkan es. Tampaknya serangan mengejutkan Reygan yang mengoyak organnya tak berlaku lagi sekarang.
“Luar biasa. Kau membekukan organmu,” pujinya seolah tahu apa yang menimpa.
Revtel tak membalas ucapan kecuali mengangkat tangan padanya. Hanya dengan mencengkeram udara, es muncul tiba-tiba di tempat Reygan Cottia.
Dan Heksar Chimeral pun juga ikut melancarkan pukulannya. Akhirnya pertarungan mereka menjadi tanda semakin hancurnya tanah gyges di sana.
“Dasar gila!” pekik Kuyang. Dia yang masih dilawan Megalodon merasa kesal jadinya, sebab tersudutkan oleh sosok dari kayangan itu.
“Apa-apaan sabitnya itu?!” pekik Laraquel yang hampir tertebas Trempusa. Walau kemampuan bersenjata mereka seimbang, tapi Raja empusa lebih unggul darinya. Sebab sabit itu merupakan benda milik Dewa kematian.
Di satu sisi, Revtel berhasil membekukan pedang Reygan sampai akhirnya tawa pelan berkumandang dan menyentaknya.
“Sudah cukup, main-mainnya.”
Selesai mengatakan itu, api biru menyeruak kasar dari bilah Reygan Cottia. Menimbulkan ledakan besar sampai-sampai para pemegang kunci terpekik melihatnya.
“Bohong! Bagaimana bisa?!” kaget Laraquel karenanya.
“B-bukankah kemampuannya sudah disegel?” syok Izanami melihatnya.
Karena bagaimanapun juga, wujud Reygan tak lagi seperti sebelumnya. Dua wajah baru telah hadir di kepala. Memamerkan ekspresi yang berbeda, marah dan juga sendu.
Berlainan dengan rupa asli yang tampak menyiratkan raut menikmati keadaan.
“Apa-apaan itu?” Heksar menatap aneh padanya. Tapi baru saja menyelesaikan kalimat, Reygan telah muncul di hadapannya, begitu tiba-tiba dan mencengkeram wajahnya.
“Yang Mulia!” teriak Revtel melihatnya.
Capricorn pun muncul memotong tangan sang penyimpang yang menyerang Raja chimera.
“Dia!” geram Heksar. “Ugh!” erangnya jatuh terduduk sambil menutup mulutnya. Sensasi sakit yang menyeruak tiba-tiba di tubuh, membuatnya muntah darah begitu saja.
Dan kejadian mengejutkan bersenandung di depan mata. Akan pulihnya tangan Reygan serta kehadirannya yang tak disadari setiap pasang mata.
“Aku akan mulai darimu.”
Capricorn pun langsung melayangkan tebasan, tapi hilangnya Reygan menimbulkan keterkejutan. Saat menyadari kalau sosok itu sudah berdiri di belakang pelayan Dewa dan mengayunkan pedang.
Dalam satu kali serangan yang tak bisa dilihat mereka, kepala Capricorn pun jatuh menggelinding di dekat Raja chimera. Seketika sensasi dingin menyeruak memeluknya.
__ADS_1
“Selanjutnya kau.”
Spontan saja, Heksar menangkis pedang dengan lengannya. Tapi sayang, sabetan yang dikira mengarah ke leher justru menghujam perutnya.
Reygan pun menyeringai melihatnya. “Kau sangat berbahaya, karena itulah kau duluan.” Dan tangannya langsung menggerakkan pedang sehingga luka memanjang dari perut ke bahu menganga lebar di tubuh Raja cebol yang luar biasa.
“Heksar!” pekik Revtel menyaksikannya. Tapi saat sorot matanya beradu dengan sang penyimpang, sensasi menakutkan menusuk tulangnya. Tubuhnya gemetar begitu saja tanpa aba-aba.
“Awas!” Raguel memperingatkan. Tapi, Reygan yang sudah muncul di dekatnya agak terperangah dengan aksi Blerda. Di mana sang Ratu menggunakan gravitasi untuk menarik Revtel agar menjauhinya.
“Kau,” tekannya sambil tersenyum tipis ke gadis itu. Dan tiba-tiba aliran petir muncul di pijakan mereka. Mengejutkan para murid Hadesia. Namun lenyap begitu saja saat pedang Izanami Forseti juga Castroz Keres tertancap ke tanah. “Kalian—”
“Lama tak berjumpa, Guru,” sapa sosok yang memiliki rambut biru kehitaman juga manik serupa samudera yang terdalam.
“Castroz. Akhirnya kau maju. Tentunya aku tak menyangka kau juga ikut, Iza.” Mantan petinggi tradio itu menggigit bibir bawahnya karena sapaan pria di depan mata. “Kulihat Laraquel di sana kesusahan. Bagaimana jika kalian ajak dia ke sini? Aku juga merindukannya.”
“Tutup mulutmu,” kesal Castroz karenanya.
Tawa pelan pun tersembur dari mulut Reygan Cottia. “Pertama kalinya kau melihatku seperti itu. Padahal dulu kau begitu histeris saat berhadapan denganku.”
“Kau!”
“Castroz!” Izanami memperingatkan.
Tapi Reygan sepertinya sangat senang melihat ekspresi muridnya. “Di antara semuanya, pasti kaulah yang paling menderita. Apa kau takkan maju? Mengingat pedangku sudah bermandikan darah bangsamu,” sambil ujung jarinya menyentuh bilah pedangnya. “Sungguh tak bisa kulupakan, teriakan ayahmu.”
“Kau!”
“Castroz!” teriak Izanami. Tapi terlambat, emosi sudah memenuhi teman seperguruannya. Bagaimanapun juga, itu tak menolak fakta kalau dia pasti terluka. Mengingat Reygan Cottia muncul di depan muridnya sambil membawa kepala ayah dari sosok yang diajarinya.
Tak bisa dibayangkan seperti apa perasaan Castroz Keres. Karena gurunya sendiri yang memenggal ayahnya dan membantai bangsa serta tanah kelahirannya.
Tawa pun berkumandang dari mulut Reygan Cottia. “Benar, seharusnya kau seperti ini, Nak. Serang aku dengan semua amarahmu, dan selanjutnya aku pasti akan membunuhmu.”
“Diam kau keparat! Sampai kapan pun aku takkan pernah memaafkanmu!” ayunan pedang pun terus membentur senjata Reygan Cottia. Sampai akhirnya pedang darah muncul dari tanah dan melukai salah satu wajahnya.
“Kau—” tatap dinginnya ke arah Izanami. Terlihat olehnya, benang darah dari telapak tangan kiri laki-laki itu. Terhujam ke tanah dan menyeruak di dekatnya. Perlahan, cairan merah yang mengalir pada luka di pipi pun dijilatnya. “Serangan sembunyi-sembunyimu, kau tahu aku tak menyukainya, Iza. Lawan aku dengan seluruh kemampuanmu.”
Entah kenapa terlihat keraguan dari sosok itu. Sampai akhirnya ekor magma menjulang tinggi di hadapan mereka dan mengejutkan Reygan Cottia.
Hantaman keras pun menggetarkan tanah bangsa gyges. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Aza Ergo. Kemampuannya barusan, ia gunakan untuk memukul sang penyimpang. Tapi sayang Reygan memotong semua ekor magmanya.
__ADS_1
“Padahal aku sudah melukai organ kalian. Tapi sepertinya masih kurang. Baiklah, majulah.”
Memang seperti perkataannya, Aza juga Castroz menyerang bersamaan. Duri magma bermunculan di tanah diiringi serangan pedang murid Reygan. Bahkan bukan hanya itu saja, hujan es turut memburu sang penyimpang sampai gravitasi Blerda menghentikan langkahnya.
Izanami pun ikut memamerkan serangan dari benang darahnya yang menggila.
Dan ledakan luar biasa yang memamerkan hempasan angin kasar pun menyapu sekitarnya.
Terperangah, semuanya tak bisa berkata-kata. Saat mendapati kenyataan kalau Reygan Cottia baik-baik saja. Terlebih pedangnya dihiasi api biru yang menyelimutinya.
“Kalau begitu terus, tenaga kita bisa habis sia-sia,” keluh Revtel tiba-tiba.
Tapi sepertinya Aza Ergo punya rencana. Mengingat sebuah pedang ia tarik dari dalam mulutnya. Bilah berwarna merah yang memancarkan asap di sekitarnya.
“Pedang magma ya? Harus kuakui, kau punya kemampuan yang menarik. Sepertinya akan sangat bagus jika aku bisa memilikinya.”
Senyuman pun terpatri di bibir Aza Ergo. “Kalau begitu cobalah untuk merebutnya.” Ayunan kuat pun ia layangkan ke arah Reygan Cottia. Suara bilah yang saling beradu, diiringi sensasi panas menyeruak dari pertarungan mereka.
Harus diakui kalau Aza Ergo memiliki kemampuan bertarung yang luar biasa. Bukan sekadar bergantung pada sihir magmanya, tapi pertempuran jarak dekat juga menjadi keahliannya.
“Seni berpedangmu begitu berantakan,” ucap Reygan sambil memegang rambutnya yang terpotong. “Tapi juga akurat secara bersamaan. Tak seperti Olea, kau menodai skillnya.”
Sang petinggi pun terkekeh pelan karenanya. “Mau bagaimana lagi? Ibuku sudah mati sebelum aku mempelajari skillnya itu.”
“Sayang sekali.”
Dan tangan Reygan putus begitu saja. Membuat pedang yang digenggam terjatuh ke tanah. Tentunya membungkam para penontonnya karena mereka tak tahu siapa pelakunya.
“Sayang sekali. Aku, hanya bisa memotong tanganmu,” seringai Aza karena separuh wajahnya mulai membentuk gumpalan benang merah.
Kupu-kupu pun beterbangan dari tubuh Blerda bersamaan dengan gravitasi yang dikeluarkan tiba-tiba.
Tangan Reygan serta pedang putih yang menjadi incaran pun akhirnya tertarik untuk diinjak di bawah kakinya.
“Benar-benar kurang ajar,” lirih sang penyimpang dengan raut muka dinginnya.
__ADS_1