Death Game

Death Game
Buku ramalan Orfeus


__ADS_3

Selesai mengatakan itu Blerda pun berlalu menuju jendela.


“Benarkah jaminan untuk kita? Atau hanya dirimu saja?”


Langkah sang Ratu pun terhenti dan ia menoleh ke belakang. Mendapati adik seperguruan masih belum memegang pisau di atas ranjang.


“Untukku dan juga kalian,” lirihnya sambil diakhiri senyuman.


Helaan napas kasar pun terlontar dari sosok petinggi muda. “Aku tak tahu apa yang ada di otakmu. Sejak dulu, tak satu pun dari kami bisa memahami tujuanmu.”


Alih-alih melompati jendela yang sudah ia buka, gadis itu memilih duduk di pinggirannya. Tak ada lagi senyuman. Ekspresinya tenang namun menekan.


“Tujuanku hanya kedamaian kita.”


“Apakah sekarang kita masih belum damai? Setelah kau jadi Raja?” Sang Ratu pun menyipitkan matanya. “Dasar wanita ambisius.”


“Apa kau percaya dengan ramalan?” jawabnya yang tidak ada sangkut pautnya itu


“Entahlah.”


Blerda tersenyum mendengar responsnya. Perlahan ia angkat tangan untuk memperhatikan kukunya.


“Tahukah kau kalau sirena keturunan Orfeus sang penyair legenda?”


“Entahlah.”


Lagi-lagi Ratu muda itu tersenyum. Tapi sekarang tampangnya seolah meremehkan. Semakin tidak menyamankan Aza namun sang petinggi memilih duduk di sofa.


“Sebelum mati, Orfeus menulis sebuah buku yang berisi kumpulan syair ramalan. Kutipan para Titan yang diterjemahkan oleh leluhur empusa dan juga naga.”  Aza Ergo tidak mengatakan apa-apa. Hanya saja cukup aneh mendengar gadis yang pelit suara sekarang mengoceh banyak di depannya. “Salah satunya mimpi Dewa Apollo yang kita dengar dalam ujian kemampuan.”


“Kalau begitu sekarang di mana bukunya?” tanya Aza tanpa basa-basi.


“Antara tanah makam para Vortha atau di tangan bangsa naga.”


Seketika Aza Ergo terdiam. Nama yang tak asing menurutnya, terlebih memberikan sensasi aneh karena teringat lagi dengan sosok Dokter gila sebelumnya.

__ADS_1


“Dari mana kau tahu?”


“Megalodon.” Sang petinggi pun membuang muka. Ia mulai jengah karena ocehan Blerda terasa tak berguna. “Sayangnya aku hanya membaca setengahnya.”


“Benarkah?” Aza menanggapinya dengan malas. Tapi lagi-lagi gadis itu tersenyum kepadanya. Namun sekarang lebih aneh ekspresinya. Benar-benar tidak menyenangkan untuk dilihat oleh sosok pengendali magma. “Apa?”


“Aroma dunia mengambang di udara, segala kejadian yang akan terjadi. Pisau-pisau di jalanan, itu pertarungan. Suara bagai hujan, teriakan. Gerbang kelam mulai terbuka, penjara penyimpang. Kristal biru memekarkan bunga, kebangkitan pelarian phoenix. Amukan merah dari tiga taring, itu kamu bukan? Dan juga kegelapan yang bersemi, menurutmu apa?”


Pernyataan Blerda pun mengundang raut muka masam adik seperguruannya. Jelas sekarang Aza Ergo tak senang mendengar ocehannya. Dia yang biasanya santai seperti ingin merobek mulut Blerda agar tak lagi bicara.


“Amukan tiga taring, memang aneh rasanya. Bahkan butuh waktu lama bagiku untuk mengetahuinya. Kalau ternyata itu merupakan wujud sesungguhnya dari sosok dekatku selama ini,” lanjutnya.


Selesai mengatakannya, sang Ratu mendekat ke arah adik seperguruannya. Berdiri di hadapan Aza sambil menyentuh dagunya. Sehingga pemuda itu terpaksa menengadah menatapnya.


“Jika orang-orang tahu, akan seperti apa responsnya? Saat mengetahui kalau petinggi jenius yang diakui empusa, ternyata bocah dengan tiga garis keturunan khusus.” Perlahan tangan Blerda naik mencengkeram pipi sosok di depannya. “Empusa, tradio, dan juga naga. Kau monster yang disegel wujud dan kemampuannya. Aku benar bukan? Aza Axadion Ergo.”


Langsung saja sentuhan wanita itu ditepis sang petinggi muda. Blerda menyeringai tipis berlainan dengan orang di depannya. Di mana Aza menatap dingin ke arahnya.


“Sudah selesai bicaranya?” Dan dirinya pun berdiri sehingga Ratu itu mundur selangkah. “Jika kau mengoceh lagi, akan kurobek mulutmu itu.”


“Aku sudah selesai. Jangan lupa gunakan pisau itu untuk Reygan. Memang tak mudah tapi kau akan melakukannya bukan? Karena lawan kalian iblis dunia Guide.” Dan Blerda pun langsung berbalik menuju jendela. Perlahan memutar tubuh untuk menghadap Aza Ergo. “Kutunggu hasilnya, saudara seperjanjianku tersayang.”


Kecuali kupu-kupu merah beterbangan di udara yang tak tentu arah.


“Bagaimana bisa kau yakin kami akan membebaskannya? Apa kau sudah tahu kalau aku mengetahui kuncinya? Blerda,” gumam Aza Ergo sambil mengepal erat tangannya. “Apa semua karena buku dan peliharaan keparatmu itu?”


Sementara di ruangan yang berbeda.


“Mm? Kupu-kupu?” bingung Riz Alea yang menatap keluar jendela. Dia tak bisa tidur sehingga memilih melihat pemandangan.


Respons berbeda ditampilkan Horusca Aste dan juga Cley Vortha. Walau berada di kediaman yang berbeda, kedua sosok elftraz (penyembuh) itu samar-samar bisa merasakan tekanan dari energi sang Ratu siren yang mulai menghilang di kawasan empusa.


“Besok kita akan pergi,” ucap Aza Ergo tiba-tiba saat mereka berkumpul untuk sarapan.


Para penghuni kastilnya sedang berada di ruang makan yang besar dan mewah. Tentunya Thertera Aszeria, Zargion Elgo, Osmo, Riz Alea, serta Toz Nidiel lah yang memasak untuk semuanya. Mengingat mereka ringan tangan dalam membantu bukan memukul lawan.

__ADS_1


“Pergi? Pergi ke mana?” tanya Doxia Mero.


“Tentu saja melakukan tujuan kita,” timpal Reve tiba-tiba.


Sementara Aza sibuk mengunyah apel hijau pagi itu.


“Ah, padahal aku masih ingin bersantai di sini,” keluh Doxia tak terima. “Ah, terima kasih,” sahutnya akibat dijamu Zargion yang menaruh makanan di depannya.


Sementara Rexcel Sirenca, tak henti-hentinya memandang takjub akan kebaikan Zargion serta Thertera yang menjamu mereka. Padahal kedua orang itu tamu di kastil Aza Ergo, tapi pelayanannya begitu luar biasa.   


“Kenapa memandangku begitu?” tanya sang petinggi pada Arigan Arentio yang dari tadi menatapnya sambil tersenyum.


“Aku hanya mengagumimu.”


“Oh,” balas singkat Aza lalu berdiri dari duduknya.


“Mau ke mana?” tanya Doxia.


Tapi cuma senyuman yang dibalaskan petinggi itu sebagai jawaban. Sementara Horusca, Reve, juga Zargion, melirik Aza Ergo dengan tatapan tak jelas maknanya.


Di satu sisi Hydragel Kers terdiam saat mendapati sosok Blerda Sirena sedang duduk santai di sofa kamarnya.


“Lancang. Sejak kapan kamu di sini?” tanya laki-laki itu sambil duduk di hadapan sang Ratu. Sayangnya cuma senyuman yang ditorehkan gadis itu di bibirnya. Dan tangannya menyodorkan keranjang berisi anggur di atas meja. “Sebelumnya Xavier, sekarang kamu. Apa nanti orang-orang sialan itu juga akan kemari?” keluhnya.


“Empat peliharaanku selalu gemetar saat berhadapan denganmu,” ocehnya tiba-tiba.


Raja ular itu memandang heran ke arahnya. “Tidak perlu basa-basi. Mau apa kamu ke sini?”


“Kegelapan yang bersemi. Itu kamu kan? Sang Raja hydra.”


Mendengarnya, Kers pun tertawa pelan jadinya. “Sang Ratu punya banyak waktu untuk melakukan lelucon ya. Pulanglah Blerda, tidak baik bagi pemimpin sepertimu berkeliaran begini.”


“Dalam buku ramalan yang ditulis Orfeus, kamu akan mengamuk dan mengundang kedatangan para Dewa.”


Seketika tawa Kers sirna. Raut wajahnya santai tapi tak jelas apa arti tatapannya pada Blerda. “Benarkah? Apa sekarang ini pekerjaanmu? Menyampaikan pesan-pesan konyol leluhurmu.”

__ADS_1


“Dan aku serta Revtel, akan celaka di tanganmu.”


 


__ADS_2