
“Tuan Aza! Reve!” pekik kaget Toz melihatnya.
Reygan tiba-tiba mengacungkan pedangnya ke atas. Bersamaan dengan gemuruh keras di langit seolah ingin menjatuhkan bahaya.
Dan benar saja, walau serangan hujan petirnya telah tiada, tapi sekarang muncul lagi ke arah dua pemuda yang tergeletak tak berdaya. Semuanya pun tersentak melihatnya.
“Gawat!” teriak Riz melihatnya.
Bunyi dentuman keras yang menimbulkan api di dua titik pun mengejutkan penontonnya. Reygan menggeram, saat mendapati kenyataan tak terduga.
“Horusca! T-tuan!” Toz menatap tak percaya pada kejadian di depannya.
“S-sialan! Hampir saja!” jengkel Xavier yang berhasil menyelamatkan Aza. Bahkan bukan hanya dirinya, Horusca juga melakukan hal serupa untuk Reve. Sang elftraz (penyembuh) pun tertegun saat tangannya sekarang bermandikan darah dari arah dada pemuda itu. “Hei sialan! Kau tidak mati kan?!” panik sosok itu.
Tapi, masih tak ada jawaban dari sang petinggi muda empusa.
“Hei Aza, kau dengar aku kan?! Hei! Bangun bodoh! Bangun!” bagaimanapun juga dia jelas gelagapan terlebih lagi sekarang Reygan Cottia berjalan ke arahnya.
Dan tanpa keraguan sang penyimpang itu mengayunkan senjata dari jarak yang lumayan ke arah mereka.
Membuat Xavier terpaksa memasang gelombang kejutnya walau pertahanannya hampir saja dirobohkan.
“Aku akan mulai darimu,” tekan Reygan Cottia.
“Aza, keparat sialan brengsek! Bangun bodoh!” laki-laki itu pun mengguncang kasar tubuhnya.
Akan tetapi, serangan tak terduga muncul menyela mereka yang berasal dari sang scodeaz (pengendali) serigala.
“Toz!” pekik kaget Riz melihatnya.
“Kau,” Reygan memiringkan kepalanya. Sementara pukulan yang dilayangkan Toz tak begitu berpengaruh padanya. Dalam sekali hempasan pemuda itu terpental walau sosoknya tidak tumbang.
Dan Toz pun menatap lekat ke arah Xavier. Bersamaan dengan lirikan mata berlalu pada Horusca yang sedang menyembuhkan Reve.
“Dia,” gumam Xavier menyadari maksud tatapannya.
“Toz!” pekik Riz sekali lagi karena masih tak percaya. Kalau teman terbaiknya itu membangkitkan kemampuannya sehingga matanya menjadi empat dan bermanik keemasan.
Reygan yang melihat itu pun langsung tertawa kepadanya. “Memang seharusnya aku tak bermain-main seperti ini.” Dan tiba-tiba sosoknya mengangkat lengan yang putus itu.
Lambat laun asap putih dari pedangnya semakin berkobar, membuat Toz tak habis pikir akan kejadian selanjutnya. Tapi yang muncul bukanlah serangan, melainkan lengan putus itu diselimuti asap dari bilah Reygan lalu sembuh seperti semula.
Orang-orang pun terperanjat menyaksikannya.
“Tak perlu buang-buang waktu lagi. Kuyang!”
Wanita yang sibuk bertarung dengan Reygan pun menoleh. “Ah, baiklah. Aku mengerti.”
Tiba-tiba, darah mengalir dari mata scodeaz (pengendali) bertipe laba-laba itu bersamaan dengan Reygan yang tubuhnya memancarkan asap. Dan sosoknya lenyap seketika.
“Toz!” teriak Riz melihatnya. Karena pria berambut pirang itu muncul tiba-tiba dan memotong tangan temannya. Bersaman dengan itu, Toz Nidel pun mengerang kesakitan akibat lehernya dicekik.
__ADS_1
“Mati kau!” teriak Doxia. Sosoknya yang mendadak muncul di sana dan melayangkan kapak ke leher Reygan menatap tak percaya pada apa yang ia dapatkan. Di mana senjatanya tak bisa menyayat leher sang penyimpang.
“Kau, juga ingin ikut bermain?”
Pertanyaan itu pun membuat Doxia bergidik ngeri. Tapi, kemunculan tiba-tiba Rexcel berhasil mematahkan ketakutannya, namun mereka tersadar kalau ini bencana. Mengingat pedang sosok dari siren tersebut tak bisa memotong tangan Reygan yang sedang mencekik Toz sekarang.
“Sepertinya, kalian memang ingin mengantarkan nyawa.”
Terkesiap. Begitu cepat kejadiannya.
Di mana Reygan menebas ketiganya. Berhasil menggores perut orang-orang di sekelilingnya. Dan Toz pun mengerang akan luka yang di derita. Tapi tendangan tanpa ampun Reygan membuatnya terpental jauh hampir mencapai asrama.
“Toz!” panik Riz melihatnya.
Dan gelombang kejut pun menghantam Reygan yang lengah. Sayangnya ternyata tak berefek apa-apa. Dirinya menyeringai ke arah Xavier di sana.
“D-dia,” lirih Rexcel sambil memegang perutnya.
Akan tetapi, saat matanya beradu dengan sorotan Reygan sensasi dingin menghujam dadanya dan ia pun tersadar kalau pedang sudah menembus tubuhnya.
Sosok-sosok yang masih sadar tak bisa berkata-kata dibuatnya.
“Kau!” marah Doxia melihatnya.
Namun sensasi panas langsung menghampiri Reygan Cottia. Dan itulah Aza Ergo sebagai penyerangnya.
“Sudah sadar? Bocah keparat,” dirinya menatap remeh pada sang petinggi yang belum sembuh sepenuhnya.
Sampai akhirnya petir dari langit turun kembali dan membuat sang petinggi lari menghindarinya.
Tapi ia tersentak saat melihat Reygan sudah mengangkat senjatanya tinggi-tinggi.
“Tunggu, dia!” Xavier pun langsung menyerang pria itu dengan gelombang kejutnya. Namun berhasil ditepis dengan mudahnya. Bersamaan dengan kebangkitan Reve, ia pun mengeluarkan hujan pedang di sana.
Menyerang tanpa henti Reygan Cottia.
Dan orang-orang pun tersentak akan erangan tiba-tiba yang muncul dari Horusca serta Reve yang masih bersama.
“Kalian melihat ke mana?” kekeh seorang wanita tiba-tiba.
Dialah Kuyang, berwujud kepala dan organ. Namun ada dua lengan pedangnya yang mengambang tanpa ikatan dan menusuk mereka secara diam-diam.
Sontak saja Reve melirik ke arah sang Dokter jenius. Di mana sosok itu ternyata sedang di hadapkan pada pertarungan dengan serigala milik Kuyang.
“Kau—”
“Mati kalian!”
Tapi tanaman Horusca muncul tiba-tiba dari tubuhnya dan mengejar wanita jejadian yang lari dengan lihainya.
Sementara di satu sisi, Riz sedang mencoba menyelamatkan Toz. Mengingat temannya terpental cukup jauh tadinya.
__ADS_1
Namun sepertinya, situasi sulit benar-benar dirasakan para anggota kubu Aza. Di mana sang petinggi itu dan juga Xavier tampak kewalahan menghadapi Reygan Cottia.
Dan akhirnya, serangan kasar dilancarkan pria mengerikan itu. Dalam sekali ayunan, hempasan yang ia berikan mampu melemparkan Aza Ergo. Sehingga pemuda tersebut hampir saja tumbang olehnya.
“Abteriov senka Porta, el rugit lightning of judgment (Terbukalah gerbang bayangan, raungan petir penghakiman)”
Tiba-tiba, gemuruh disertai badai berkumandang di langit Hadesia. Semuanya pun terpekik melihatnya. Terlebih lagi, di daratan juga muncul sensasi petir yang tak biasa. Dan dalam sekejap mata, ledakan biru yang keras pun menghantam mereka.
Dari atas dan bawah, seperti itulah kegilaan petir Reygan Cottia.
Sekarang, bisa dikatakan Hadesia semakin porak-poranda. Es abadi milik Revtel sudah binasa begitu pula magma Aza yang menguap karenanya. Dan di depan mata pria berambut pirang itu, para korbannya telah hangus tak berdaya.
Semua dari mereka sudah tumbang dan tak jelas hidup dan juga matinya. Petir penghakiman Reygan Cottia telah melumpuhkan para guider yang berada di Hadesia.
“Sialan! Hampir saja kau membunuhku!” marah Kuyang dalam wujud makhluk jadi-jadian.
Tapi Reygan yang tampak terengah-engah hanya tersenyum kepadanya. “Setidaknya, mereka sudah mati.”
Dan Kuyang pun menyapu pandangan pada sekitarnya. Mungkin memang seperti perkataan Reygan Cottia, ke mana pun matanya memandang semua orang tampak menyedihkan. Hangus dan tak bergerak lagi. Mungkin sudah mati.
Lirikannya pun beradu pada tubuh yang tergeletak lumayan jauh darinya. Di mana sang Dokter sombong juga bernasib serupa. Mengerikan dan mungkin takkan bangkit lagi.
“Ayo kita pergi.”
“Apa kau baik-baik saja? Kau pasti sangat kelelahan bukan? Terlebih energimu juga terkuras habis karena jurus barusan.”
“Tak masalah. Lagi pula aku tak ingin buang-buang waktu lagi,” dan dengan fisik yang jelas-jelas tak bertenaga, sosok Reygan Cottia pun pergi dari sana.
Bergerak sambil berjalan di udara, mengabaikan mayat-mayat tak berguna yang sudah dibantainya. Mungkin sosoknya benar-benar yakin kalau jurus mengerikannya barusan telah berhasil membunuh semuanya.
“Petir penghakiman,” gumam Aegayon Cottia. “Apa kau akan kemari? Ayah.”
Sosoknya pun menatap tajam ke arah jendela tertutup itu.
Sementara di satu sisi di kota Lagarise, gemuruh menakutkan tadi jelas-jelas bisa dilihat dari kota itu. Bahkan bukan dari sana saja, melainkan hampir di daratan dunia Guide. Seperti itulah kengerian yang dimiliki sang penyimpang Reygan Cottia. Dan dirinya termasuk tokoh sekte Hadesia dengan kemampuan di luar nalar lawan-lawannya.
“Petir barusan,” gumam Revtel yang berdiri di balkon lantai tiga.
Bukan hanya dirinya, para saudara seperjanjiannya juga sama. Masing-masing menyiratkan ekspresi yang berbeda. Kecuali Kers tetap sibuk memakan anggurnya. Sempat-sempatnya ia membawa keranjang buah dari kamarnya untuk ikut hadir di balkon menyaksikan kejadian tadinya.
__ADS_1