Death Game

Death Game
Arti sebuah penglihatan


__ADS_3

“Apakah terlihat seperti itu di matamu?” ucapnya.


Sesosok makhluk sebesar payung manusia dan setinggi singa, dengan cangkang mirip kerang, struktur tubuh seperti kepiting serta memiliki sengat yang mirip ekor kalajengking di tubuhnya, muncul tepat di hadapan Riz.


“A-apa ini? Kalajengking? Wujudnya kepiting, tapi kalau kepiting? Cangkangnya kerang. Makhluk aneh apa ini?” batin Riz waspada.


“Para dewa menyebutku Crabius, sang penjaga gerbang,” sahut sang kepiting campuran seolah tahu apa yang dipikirkan Riz.


“Ah, ma-maafkan aku. Namaku Riz Alea, anda bisa memanggilku Riz.”


Riz pun mengoceh dalam hatinya, “penjaga gerbangnya kepiting campuran ini? Si tengkorak tampak jauh lebih keren bagiku, apa-apaan makhluk di dunia ini? Tak ada satu pun yang beres wujudnya.”


“Gerbang sudah terbuka, saatnya bagimu sudah tiba,” ucap Crabius.


“Ah!” Riz tersadar kalau kalimat Crabius sama dengan makhluk mengerikan sebelumnya.


“Gerbang sudah terbuka? Tapi aku tak melihat apa pun di sini kecuali salib yang melayang,” tunjuk Riz ke langit-langit ruangan.


“Gerbang terbuka, namun tak semua bisa memasukinya. Ada rintangan di depan dan temukan jawaban, maka takdirmu akan ditentukan.”


Riz terdiam, sedikit banyaknya ia paham dengan maksud perkataan Crabius, “jadi apa rintangannya?”


“Ucapkan bleedya (perjanjian), aemus obdeas riad sain (semua dimulai dari sini), maka kau akan temukan jawabannya.”


Riz mengangguk, “bleedya (perjanjian), aemus obdeas riad sain (semua dimulai dari sini)” begitu selesai terucap, tiga salib yang melayang di langit-langit jatuh ke bawah dalam keadaan berdiri tegak di tengah lantai yang ambruk.


Ketiga salib mengambang itu rebah dan membentuk jalan memanjang menyeberangi lantai yang rusak.


Tiga jalan yang saling terpisah dengan asap putih pekat menyelimutinya. Semakin lama, asap itu semakin bersatu membentuk gumpalan dan akhirnya berubah menjadi wujud tak terduga.


Jalan pertama dari kiri, gumpalan putih membentuk seorang anak dengan pisau di tangan. Di hadapan anak tersebut terdapat ular piton sebesar lengannya. Namun, ular itu dalam keadaan terluka karena ada tiga sayatan di tubuhnya.


Pada jalan tengah, telah berdiri seorang anak dengan luka tusukan di perut dan punggung serta kakinya, sambil menggenggam sebuah pedang di tangan. Di depannya terdapat seekor burung kondor andes dengan sebelah mata yang rusak.


Dan di jalan ketiga sebelah kanan, telah berdiri dengan gagahnya seekor singa betina yang sangat indah luar biasa tanpa luka ataupun cacat di tubuhnya. Akan tetapi di hadapan singa betina itu, ada dua anak dengan masing-masing pedang di tangannya.


“A-apa ini? Apakah mereka akan bertarung? Ini benar-benar gila, hei! Jangan lawan singa itu! Atau dia akan membunuhmu!” teriak Riz pada dua anak yang berdiri menghadapinya.


Tak ada balasan, menoleh pun tidak anak-anak yang berdiri di masing-masing jalan tersebut. “Hei! Kita harus membantunya!” tukas Riz pada Crabius.


“Ini adalah asap dewa, bahkan jika mereka tak nyata darah tetap berserakan,” sahut Crabius.


“Hentikan ocehanmu, kita harus membantu atau anak-anak itu akan mati.”


“Apa yang terlihat bukan berarti sebuah jawaban. Bahkan suatu kebohongan yang samar bisa menjadi kenyataan,” sambung Crabius lagi.


“Apa yang kau bicarakan?!” Riz tak memahami maksud ucapannya. “Hentikan itu, kita harus menyuruh mereka untuk menjauh dari singa itu!”


Anak-anak yang saling berhadapan dengan para binatang itu tampak bersiap dengan memasang kuda-kuda hendak menyerang.


“Hentikan!” teriak Riz.


Tanpa ragu ia pun berlari ke arah dua anak yang berhadapan dengan singa.


“Bruaaag!” sebuah dinding kaca muncul di bibir jalan yang akan dilalui Riz sehingga langkahnya terhenti.


“Hei! Apa yang terjadi?! Kenapa ini bisa muncul di sini?! Anak-anak itu bisa mati! Hei kalian! Apa kalian tidak dengar?! Cepat lari atau kalian akan mati!” Tidak peduli seberapa keras Riz berteriak, anak-anak itu seolah tidak mendengarnya.


Anak-anak di masing-masing jalan pun menyerang binatang di hadapan mereka, pertarungan sengit yang berdarah pun mulai terjadi di sana. Riz bisa menyaksikan dengan jelas pemandangan mengerikan yang terjadi di depannya. Pemandangan di mana masing-masing makhluk hidup mencoba untuk bertahan.

__ADS_1


“Crabius! Kenapa kau diam saja?! Lakukan sesuatu atau mereka akan mati!” pinta Riz padanya.


Crabius menatap ke arahnya, “bahkan jika itu suatu tipuan, darah tetap akan berserakan.”


“Apa maksudmu? Jadi kau bilang pertarungan mereka itu tipuan?! Apa kau tidak lihat kalau mereka sudah terluka?! Mereka hanya anak-anak, apa kau pikir aku akan percaya dengan perkataanmu?!”


“Bahkan jika bisa melihat, jangan biarkan itu membutakanmu. Lihatlah, semua makhluk hidup itu. Mereka bertarung hanya untuk bertahan hidup. Tidak peduli seperti apa wujudnya, harapan mereka bukanlah suatu kebohongan,” lirih Crabius.


“Kau bisa menyelamatkannya. Tapi kau hanya bisa memasuki satu jalan dan memilih satu makhluk untuk diselamatkan,” lanjutnya.


“Satu jalan dan satu makhluk? Apa kau bercanda?!” balas Riz penuh emosi.


“Ya.”


“Apa kau tidak lihat?! Anak-anak itu sudah terluka!”


“Bahkan para binatang juga terluka.”


Riz terdiam, ia kembali menatap ketiga jalan. Sebuah pemandangan mengerikan di mana masing-masing anak dan para binatang saling menyerang.


Sang ular yang melilit mangsanya, namun tubuhnya dipenuhi luka sayatan. Burung kondor andes cacat yang salah satu kakinya terluka, mencoba terbang untuk menghindari sabetan pedang.


Dan singa yang memamerkan taring serta cakarnya, sama-sama terluka dalam menghadapi dua anak yang ingin membunuhnya. Jadi siapakah yang harus diselamatkan Riz?


“Apa kau bercanda?! Mereka akan mati jika terus seperti ini.”


“Apa hanya itu yang terlihat di depan


matamu? Apakah dirimu lupa jika kau harus temukan jawaban dari rintangan yang berdiri di gerbangmu?” tanya Crabius bernada tenang.


“Itu!” Riz kembali tersadar dengan permasalahan awalnya. Seingatnya ia harus mencari jawaban dari rintangan yang terlihat. “Apa ini rintangannya? Yang benar saja! Tak ada yang normal di sini!” pekik hatinya.


“Mereka adalah rintangan, dan salah satu adalah jawaban. Lihatlah semuanya dan kau akan tahu jawabnya.”


Riz bergidik ngeri, “ini benar-benar rintanganku?” batinnya masih tak terima.


“Jadi apa jawabannya? Aku tak melihat jawaban apa pun di sini.”


Crabius tak lagi menjawabnya kecuali menatap pada pemandangan berdarah di depannya. “Hei Crabius!” panggil Riz yang tak diacuhkan.


“Apa ini?! Dia mengabaikanku? Aku sama sekali tak mengerti dengan semua ini,” ocehnya dalam hati.


Riz kembali memutar otaknya. Apa gunanya dia dapat beasiswa jika tak bisa menggunakan otaknya dengan benar. Ia pun mengatur pernapasannya untuk menenangkan diri.


Tak ada gunanya ia berteriak atau meminta bantuan Crabius karena binatang itu mengabaikannya. Bahkan walaupun ia maju, dinding kaca akan muncul menghalangi jalannya.


Ia tatap ketiga jalan yang penuh kebisingan karena teriakan makhluk-makhluk yang berdiri di atasnya. Mereka sama-sama terluka dan saling menyerang.


“Ini rintangan? Lalu apa jawabannya? Aku bahkan tak tahu apa pertanyaannya,” batinnya bergumam.


Ia kembali mengingat apa saja yang dikatakan Crabius dan menatap lekat pada semuanya. Pandangannya menyapu bersih pada semua tontonan di depan mata. Semuanya mengerikan dan tragis baginya.


“Deg!” Riz tersentak kaget.


“Bahkan jika bisa melihat, jangan biarkan itu membutakanmu. Lihatlah, semua makhluk hidup itu. Mereka bertarung hanya untuk bertahan hidup. Tidak peduli seperti apa wujudnya, harapan mereka bukanlah suatu kebohongan,” ucapan Crabius sebelumnya ini terasa aneh baginya.


“Ada yang berbeda dari semua ucapan Crabius. Sepanjang ia berbicara, tak ada satu pun kalimatnya yang terasa membedakan makhluk di depannya,” tukas Riz dalam hati.


“Gerbang sudah terbuka, ada rintangan dan jawaban. Tapi aku tak melihat gerbang kecuali tiga jalan dengan tontonan mengerikan ini. Dia bilang rintangan bukan? Lalu apa yang harus kulakukan? Aku tak tahu maksud dari ini semua,” lanjut batinnya.

__ADS_1


“Kenapa dia bicara begitu? Aku harus tenang. Lihat dengan benar, mungkin saja ada petunjuk di sana.”


Semakin ia memandang semakin pilu hati Riz. Ini lebih seperti pertarungan hidup dan mati bagi mereka yang melakukan. Tak peduli apa jawaban yang harus ia cari, rasa sesak karena kasihan memang menyelimuti dirinya.


Entah itu anak-anak atau para binatang, mereka sama-sama terluka parah. Tanpa sadar Riz menitikkan air mata. Tampaknya pertarungan di salah satu jalan akan berakhir. Seorang anak yang berhadapan dengan ular mulai memperlihatkan hasil akhirnya.


Riz tak bisa mengalihkan pandangan dari sana, karena hatinya merasa sakit saat melihatnya. Anak itu berhasil melukai ular yang melilit kakinya. Ia menyayat ekor ular itu hingga putus dan tertawa.


“Hentikan!” pekik Riz saat anak itu akan memotong kepala ular yang mulai tak berdaya.


Tapi anak itu tak mendengar. Saat sang anak memegang kepala ular tersebut, tanpa sadar Riz berlari ke arah jalan di mana mereka berada.


Sayang, saat akan menerobos masuk, langkahnya dihentikan dengan adanya dinding kaca yang menghalangi.


“Hentikan! Apa yang kau lakukan?! Ular itu sudah tak berdaya!” teriak Riz padanya.


“Kenapa? Dia sudah melilit tubuhku sampai memar begini. Kenapa aku tak boleh membunuhnya?!” tiba-tiba anak itu menjawabnya sambil tersenyum.


“Walau begitu, ular itu sudah terluka parah!”


“Ya, tapi dia akan segera mati. Aku hanya ingin membantunya dengan hukuman seperti itu,” jawabnya.


“Hentikan, aku mohon hentikan!” pinta Riz padanya.


“Apa itu berarti kamu memilihnya?!” tanya anak itu.


“Apa maksudmu?!”


“Kami adalah rintangan dan juga jawaban. Jika kamu memilih ular ini dan jalan ini berarti itulah yang akan kamu temukan. Apa itu berarti kamu memilihnya?”


“I-itu.”


Anak itu menatapnya datar, “jika memilih ini, maka yang lain akan lenyap.”


Riz benar-benar tak tahu harus menjawab apa, ia hanya merasa kasihan pada ular itu. Tapi jika ia memilihnya, maka anak-anak yang sedang melawan singa itu akan mati bersama.


Jika ia memilih ular? Itu hanyalah hewan biasa yang terluka parah. Bahkan ular itu sebentar lagi akan mati, tetapi kenapa? Nalurinya menolak keadaan ular yang akan dibunuh secara mengenaskan.


Ia pun menatap lekat kepala ular yang dipedang anak itu. Ular tersebut masih menggoyang-goyangkan tubuhnya secara pelan walau terluka parah. Binatang itu benar-benar terlihat menyedihkan.


“Ah,” ucap Riz tiba-tiba. “Apakah aku berhalusinasi? Ular itu ... menangis,” lirihnya dalam hati.


Dengan ekspresi syok, ia pun memutar sorot matanya menatap pertarungan yang lainnya. Apa yang paling mengganggunya adalah anak-anak yang bertarung dengan singa. Mereka sama-sama terluka parah. Salah satu anak kehilangan tangan kanannya sementara singa kehilangan kedua telinganya.


Pada jalan tengah, anak yang terdapat luka tusukan masih mengayunkan pedangnya, sementara burung kondor andes itu masih beterbangan walau salah satu kakinya putus.


Dan terakhir? Sang anak baik-baik saja. Sekujur tubuhnya hanya memar karena ada bekas jeratan dari ular piton yang melilitnya. Tapi itu berbeda dengan kondisi sang ular yang sudah terluka parah.


Riz menutup matanya sejenak, “aku sudah menentukannya.” Ia menatap anak yang memegang ular itu secara kasar. “Aku memilih jalan ini dan akan menyelamatkan ular itu.”


“Begitu? Apa kau yakin?” balas Crabius tiba-tiba.


“Ya!” Riz mengatakannya dengan penuh keyakinan. Dinding kaca yang menghalangi Riz pun lenyap seketika.


Riz tersentak kaget, lalu berjalan mendekat sambil memegang tangan anak tersebut untuk melepaskan ular yang dicengkeramnya. Ia menggendong ular itu seperti seorang bayi dan mengelusnya.


Anak kecil yang berdiri di depannya tersenyum, “ini pilihanmu. Pilihan yang akan membawamu pada jawaban, dan jawaban akan membawa pada takdir. Takdir pun akan mengantarkanmu pada perjalanan hidup, semoga dirimu beruntung dengan apa yang kau pilih anak manusia,” anak itu lenyap seketika bersama dengan ular di tangan Riz.


Tak hanya mereka, makhluk hidup di dua jalan lainnya juga ikut lenyap.

__ADS_1


“Terima kasih,” ucap sang ular piton padanya sebelum lenyap sepenuhnya.


__ADS_2