Death Game

Death Game
Rahasia kuil Dewa


__ADS_3

“S-Si-dag,” gumam Gilles tiba-tiba.


“Gilles! Maaf karena terlambat menyelamatkanmu. Percayalah, sebentar lagi tanganmu pasti akan kita obati,” sambil memeluknya dengan erat.


Wanita itu hanya mengangguk pelan. Sungguh sensasi sakit di kedua tangannya cukup menyiksa, karena magmalah yang memutuskannya.


“Sialan, keparat! Kau ingin membunuh kami?!” pekik Doxia tak terima.


Untung saja kemampuan tanaman Horusca, daya pelindung dan jangkauannya sangat besar apalagi ditambah tameng tankzeas (pelindung) milik Riz. Mereka selamat karena keduanya cekatan membangkitkan kemampuannya.


Jika tidak, bisa dipastikan nasib mereka sama dengan salah satu penulis mantra milik lawan yang sudah tampak mengerikan kondisinya. Kulitnya seakan melebur oleh magma, menampilkan tulang-tulang dan darah untuk dipertontonkan pada setiap mata.


“Yah, sayang sekali ya,” Aza terkekeh melihat pemandangan di depan mata. Cobra pun menatap murka pada muka tenang sang petinggi empusa. “Majulah Cobra. Perlihatkan skill petarungmu yang hebat itu.”


“Jangan termakan perkataannya! Dia, sangat licik Cobra,” sergah pak tua itu.


“Licik? Atau aku sangat hebat? Benar juga. Kau bisa mengendalikan air kan? Ayo maju, Pak Tua. Perlihatkan skillmu yang disanjung-sanjung orang bodoh itu,” cerca Aza sambil menyisir rambutnya ke belakang.


Spontan saja geram tercetus di bibir Pak Tua yang sudah menahan amarah dari tadi.


“Aza!” teriak Reve tiba-tiba.


Sang petinggi pun terkesiap, saat sebuah panah melesat melukai pinggiran lehernya. “Sakit sekali, siapa?” dirinya pun melirik ke belakang.


Aza Ergo terdiam. Walau ketenangannya tak terguncang, tapi ia jelas tak menyangka jika orang yang melukainya adalah sosok di depan mata.


“Apa kau merindukanku? Aza,” lirihnya berjalan mendekat.


Petinggi muda itu tak melepaskan sorot matanya dari pria paru baya itu. Ekspresinya, jelas mengundang tanda tanya beberapa orang karena tak tahu apa hubungan mereka.


“Akhirnya, kau datang juga.”


“Jadi, bagaimana kuncinya?” tanya pria itu pada Tetua empusa.


“Masih belum. Sepertinya, semua benar-benar di luar perkiraan kita.”


“Ya. Ini memang di luar perkiraan. Aku juga tak menyangka, pahlawan dari Hadesia akan muncul di sini. Tidak, apa harus kusebut petaka dari Hadesia? Tempat itu sudah tak bisa ditinggali lagi,” ucapnya sambil terkekeh. Dirinya pun berhenti tepat di hadapan Aza Ergo.


“Apakah aku terlalu dalam melukaimu?” lanjutnya bertanya sambil menyentuh leher Aza yang terluka. Darah mengalir dan melekat di tangan, ia jilat sambil mata bertemu pandang dengan sorotan sang pemuda.


Tentu saja orang-orang terkesiap melihat pemandangan di depan mata. Terlebih kelancangan pria paruh baya itu, benar-benar di luar prediksi mereka.


“Kenapa menatapku begitu, Aza? Sebegitu syoknya dirimu menatap kehadiranku?”

__ADS_1


Tak ada jawaban dari sang pengendali magma. Bahkan jika penglihatan saling beradu entah kenapa guratan tak jelas maknanya terlukis di wajah sang pemuda. Tak yakin apakah dirinya marah, santai, atau jengkel dalam memandangi sosok lancang di hadapannya.


“Mau bekerja sama denganku?”


DEG!


Jantung orang-orang tersentak. Menatap tak percaya akan ajakan pria itu. Apa maksud ucapannya? Apakah dia waras? Orang-orang pun tak tahu.


“Draco! Apa-apaan maksudmu itu?!” sang Tetua menyela dengan nada tak terima.


“Aku hanya mengajaknya bergabung dengan kita. Apa masalahnya?”


“Tapi—”


“Ayolah, Tetua. Lihat siapa yang ada di hadapanku. Dia adalah aset milik empusa. Bukankah akan sangat menguntungkan bila kita bisa bekerja sama? Sebagai gantinya, akan kuberikan apa pun padamu.”


Masih belum ada jawaban dari Aza Ergo. Bahkan jika darah mengalir membasahi leher dan dada, namun tampangnya terlihat tak peduli. Walau jelas hal tersebut menjadi tanda tanya untuk rekan-rekannya karena ketenangan sang pemuda.


“Kenapa kau diam saja Aza? Aku tahu, kalau ada sesuatu yang sangat kamu inginkan. Apa kamu benar-benar tidak tertarik untuk menerima tawaranku?” sambil tangan terangkat kembali dan mengelus lembut wajah Aza.


Sang petinggi muda, hanya memiringkan wajahnya sehingga sentuhan tangan Draco agak berjarak darinya.


“Jawab aku. Apa yang kalian inginkan di sini?”


Mereka benar-benar terlarut dalam pemikiran dan juga penantian jawaban untuk pertanyaan yang dilontarkan. .


Bahkan ular-ular yang tadi menjadi daya serang Aza Ergo, sudah menguap sejak pertama kali ia dilukai anak panah lawan.


Draco, sepertinya sangat senang bisa berbicara dengannya.


“Menurutmu, kenapa orang-orang dilarang memasuki kawasan terlarang ini?”


“Apa yang kalian inginkan di sini?” tanya Aza sekali lagi.


“Medusa.”


Seketika, keterkejutan jelas menyentak pendengaran. Aza menatap tak percaya akan satu nama namun bermakna mengerikan terpampang jelas di hadapannya.


“Draco!”


Dan pria paruh baya yang dihardik hanya tersenyum pada pak tua di belakangnya.


“Me-medusa?” kaget Rexcel mendengar nama yang terucap oleh sosok pria berperawakan tegas namun berkepala botak itu. Aroma di tubuhnya, jelas-jelas memancarkan bau dari bangsa siren.  

__ADS_1


“Jadi kau ingin bilang kalau di tempat ini tersegel medusa?” tekan Aza akhirnya.


“Benar. Kau memang pintar,” Draco tampak puas.


“Dan itu di dalam Kuil Dewa?”


“Ya. Bukankah ini sangat menarik?”


“Mau apa kau dengan medusa?”


“Mau apa kau dengan medusa?” pria itu tertawa pelan mendengar pertanyaan Aza. “Menurutmu, Medusa bisa digunakan untuk apa?”


Sontak saja mata sang petinggi berkedip dengan tanda terkaget. Pernyataan pria di depannya, jelas menyiratkan rencana berbahaya jika apa yang dibayangkan Aza itu benar.


“Dan kau pikir, kau bisa menaklukannya?”


“Jika tidak, mana mungkin kami kemari? Lagi pula jika kau membantu, itu akan sangat luar biasa. Bukankah tawaran ini sangat menarik? Kita sama-sama tahu seperti apa medusa di mata dunia Guide. Dan juga, keberadaannya untuk membantu semua tujuanmu. Bukankah kau ingin membalas dendam? Atas apa yang terjadi di Hadesia.”


Sontak Aza Ergo pun langsung tersenyum remeh. Perlahan diusap kasarnya darah di leher yang mengalir itu. Tak peduli rasa sakitnya, sepertinya keputusan akhir sudah berada di dalam mulutnya.


“Kers, apa kau dengar? Mereka menginginkan wanita ular itu.”


DEG!


Orang-orang pun dibuat tersentak mendengar pernyataannya itu.


“Kers?! Apa maksudmu?! Siapa yang kau bicarakan?!” Draco menggeram.


“Siapa lagi? Tentu saja aku.” Terbungkam. Orang-orang menatap tak percaya pada sosok yang berdiri di atas batang pohon tak jauh dari mereka. Kehadirannya yang tiba-tiba, benar-benar seperti hantu bagi mereka. “Dasar menjijikan. Gara-gara kalian, aku harus bersusah payah menipu Revtel untuk bisa kesini.”


“Hydragel Kers?” Tetua dari bangsa empusa benar-benar syok melihat keberadaannya.


“Lancang. Kalian pikir, kalian pantas memasuki tempat ini?” seringainya.


“Sial! Dasar brengsek kau Aza!” pekik Draco tiba-tiba. Bahkan busur raksasa langsung muncul di tangannya dan ia tarik panah tak terlihatnya.


“Gawat,” Aza pun langsung mengayunkan tangannya.


“Kejutan ...” ucap Kers tiba-tiba muncul di belakang Draco. Bahkan tanpa sempat melepaskan panah tak berbentuk itu, tangan sang pemimpin hydra sudah menembus dada dan mengeluarkan jantung sang bangsawan siren.


Tentu saja hal itu menjadi tontonan mengerikan orang-orang sekitar yang bertulang lemah. Karena takut dan masih tak percaya jika pemimpin bangsa hydra tersebut benar-benar muncul di hadapannya.


Dan perlahan, tangan yang menggenggam gumpalan berdetak milik pria paruh baya itu pun ditarik Kers sambil menyeringai menatapnya. “Datang-datang tapi tanganku sudah kotor dibuatnya. Menyebalkan,” lalu ia buang tepat di dekat kakinya dan diinjak sebagaimana mestinya.

__ADS_1


 


__ADS_2