
“Tak peduli di mana pun kamu berada. Semoga kamu selalu dilindungi, anakku.”
Tersentak. Riz Alea terperangah. Ia terjaga dari pingsannya. Matanya terbelalak mendapati seorang laki-laki duduk di sebuah kursi di depannya. Bahkan yang lebih mengejutkannya lagi, di sekitar ada rekan-rekannya. Kecuali Aza Ergo, sang petinggi tak terlihat di mata.
“Sudah sadar?” orang asing itu menyapa.
“S-siapa?”
Dia hanya tersenyum. Tipis namun menawan. Rambut peraknya agak acak-acakan tapi tak melunturkan keindahan. Satu hal yang pasti sosoknya benar-benar mencolok di pandangan.
Kulitnya pucat, begitu pula warna matanya yang senada surainya. Ada anting berbentuk air mata di telinga, serta mahkota kecil serupa ular hitam melilit dahinya. Mengenakan pakaian biru mirip bangsawan asing di dunia Guide.
“Maaf, anda siapa?” tanya Riz sekali lagi mengulangi pertanyaannya.
Tak ada jawaban, kecuali orang itu berdiri sekarang. Perlahan kursi yang di dudukinya memudar seperti bulu-bulu beterbangan. Ia melirik ke arah Reve Nel Keres dan melontarkan kata tak terduga.
“Bencana akan tiba.”
“Apa!” kaget Riz.
Sosok itu mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah bongkahan yang tak jauh dari mereka.
“Yang bernyawa pasti mati. Sampai bertemu lagi, kalian semua.”
Selesai mengatakannya, tubuh orang itu berubah jadi kumpulan bulu perak dan terbang mengudara.
Riz terkesiap, namun masih mencoba bersikap sewajarnya, karena otaknya menyakini kalau orang barusan telah menyelamatkan mereka.
Sekarang ia pun menoleh ke arah kuburan yang tak jauh darinya. Berjalan pelan ke sana sambil terbelalak menyaksikan nama terukir di nisan yang ada.
Osmo.
Ya, budak yang mereka selamatkan dan membuat Riz serta rekan-rekannya sempat dianggap sebagai pembangkang.
Pria dengan harapan dan masa lalu kelam telah terbebas dari garis kekejaman namun tertanam di bawah nisan.
Tewas di tangan penyimpang yang sudah mengeksekusinya. Terkadang, kematian memang tak dapat diperkirakan kehadirannya. Tak disambut menyapa tiba-tiba, ditunggu tak kunjung datang memeluk para penantinya. Dan Dewa kematian selalu bersiap dengan senjatanya. Di antara mereka, Osmolah yang lebih dulu dijemputnya.
Air mata pun terurai di wajah Riz Alea. Seketika ia teringat kejadian mengerikan sebelumnya. Tepat di hadapannya mantan budak itu disayat lehernya oleh Kuyang.
Dadanya sesak akan rasa kehilangan yang menerpa. Dan tangannya pun menggenggam tanah makam sebisanya.
Rasa bersalah menyeruak bersamaan dengan raungan keras di mulutnya. Dia begitu hancur karena kematian sosok yang sudah seperti teman baginya juga penyelamatnya. “A-aku takkan pernah memaafkannya,” isaknya sambil mengingat rupa Kuyang sebelumnya.
__ADS_1
Di satu sisi, keadaan Trempusa benar-benar aneh. Laraquel Hybrida, ya salah satu pemegang kunci itulah yang telah menyelamatkan Lascarzio sebelumnya. Namun sekarang dirinya terpaksa menahan serangan sabit gila Raja empusa.
Entah apa yang terjadi, laki-laki itu seperti dirasuki sesuatu sehingga menyerang rekan seperjanjiannya.
“Sabitnya berbahaya!” keluh Laraquel yang terus menghindari tebasan Trempusa.
Lascarzio yang sudah berusaha keras mendudukkan tubuhnya menatap tak berdaya tidak jauh dari pertarungan. Tapi ia malah tersenyum simpul melihat pertempuran.
Dan Castroz Keres yang juga datang ke sana, sekarang membantu Raja gyges. Memapahnya menuju Izanami Forseti juga Sif Valhalla.
“Terima kasih,” gumam Raja bangsa raksasa padanya.
Tak ada jawaban dari Castroz, kecuali rahangnya menegas dalam menyaksikan kondisi menyedihkan para rekannya.
“Kalian baik-baik saja?”
Sif Valhalla hanya tersenyum kecut kepadanya. Mulai membalik tubuh agar terlentang dan menatap langit-langit berkondisi suram.
“Organ dalamku terluka, tenagaku menguap, dan langit sepertinya akan hujan.”
Tiga orang di sekelilingnya menatap aneh padanya.
“Andai Danzo dan Zeus di sini, kita pasti bisa menangani kemampuan udaranya,” lirih Izanami yang mengusap darah di sudut bibir dengan tangan bergetar.
Castroz perlahan melirik ke arah pertarungan Reygan juga Capricorn. Lalu menoleh ke sekitar, menyaksikan beberapa orang asing yang tumbang.
“Sial,” kekeh Sif Valhalla mendengarnya. Tapi tiba-tiba ia terbatuk dan memuntahkan darah dari mulutnya. Raja gyges yang melihatnya dengan mata sayu memilih diam saja.
“Aegayon, lukamu,” kaget Izanami karena hujaman di dada putra Reygan kian mengucurkan darah segar yang banyak.
“Tenang saja,” ucapnya dengan tangan mulai merangkak menyentuh dada. “Aku tidak akan mati.”
Walau wajahnya tertutup topeng, ketiga rekannya meyakini kalau laki-laki bertubuh ringkih itu pasti tersenyum. Sampai akhirnya bunyi aduan pedang yang lumayan keras mengalihkan perhatian mereka.
“D-dia,” syok Raguel melihatnya. Karena Reygan berhasil memotong tangan kanan Capricorn walau keadaannya juga harus sama.
Sementara Blerda sang pemilik dua makhluk kayangan pun harus merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Karena serangan dalam diam Reygan sebelumnya juga tekanan memakai Capricorn serta Megalodon jelas-jelas menghabiskan banyak tenaga.
Tapi, semuanya tersentak akan pancaran energi aneh dari seorang laki-laki. Sayapnya yang terkulai mulai terkepak dengan gagahnya. Membuatnya bangkit tiba-tiba sambil memamerkan muka masamnya.
Siapa lagi kalau bukan Heksar Chimeral.
“Dia siapa? Energinya mengerikan sekali,” Laraquel terperangah di sela-sela pertarungannya dengan Trempusa.
__ADS_1
“Itu,” kaget Izanami melihatnya.
Raja bangsa chimera spontan saja memiringkan wajah sehingga terdengar bunyi aneh di lehernya. “Kupikir akan mati. Pantas saja dia disebut sebagai bencana,” ucapnya berjalan ke arah Reygan Cottia.
Dan tiba-tiba sosoknya lenyap begitu saja.
Bersamaan dengan pertarungan senjata Reygan Cottia juga Capricorn, Heksar pun muncul sebagai pengacaunya. Membuat dua sosok itu terpukul mundur karena pukulannya.
“Kau.”
“Cukup buang-buang waktunya.” Heksar pun membabi buta melancarkan pukulan pada sang penyimpang. Begitu beruntun serangannya, tak peduli dengan ayunan pedang dari ayah Aegayon Cottia, bahkan jika itu menggores tubuhnya dia terus menghajarnya.
Sampai-sampai sayapnya tiba-tiba terkepak lebar dan kulit Reygan mengeluarkan darah karenanya.
“Aku tak tahu kau scodeaz (pengendali) jenis apa. Tapi kau memang berbahaya,” ucapnya mulai mengulurkan tangan di sela-sela ayunannya.
Blerda yang melihat itu tak menyia-nyiakan kesempatan. Perintah diturunkan dan Capricorn pun muncul sebagai pahlawan. Memotong tangan Reygan Cottia sehingga membuat pria itu mengerang karenanya.
“Kau!” Sensasi dingin langsung terasa di belakang punggungnya. Karena ternyata Heksar Chimeral melayangkan pukulan padanya. “Senka Porta! (Gerbang bayangan!)” pekiknya.
Energi petir pun menyeruak dari tubuh pria itu dan membuat Heksar terhempas begitu saja. Bahkan alirannya begitu kuat sampai menggapai posisi Blerda.
Tapi, keuntungan jelas memihak Ratu siren karena dia memblokirnya dengan gravitasi.
“Kau, benar-benar meremehkanku.”
“Blerda!” pekik Raguel akibat kemunculan tiba-tiba sosok itu di samping sang Ratu.
Dan Reygan langsung memotong tangan sang gadis muda sehingga menghancurkan kemampuan gravitasinya.
“Sayang sekali, gravitasimu hanya berlaku di satu sisi.” Dan pedangnya pun diarahkan ke leher Blerda. Tapi belum sempat mencapainya, es muncul di udara untuk menahan serangan.
Bersamaan dengan mendinginnya suasana sekitar diiringi salju yang berjatuhan. Blerda pun melirik tajam ke belakang.
“Lama.”
Singkat padat dan menekan, begitulah sensasi yang tertoreh saat Blerda bersuara.
“Aku butuh waktu untuk mengembalikan tenaga,” Revtel pun menarik kacamata dan membuangnya.
__ADS_1