
“K-kau, iblis,” Tetua empusa menatapnya tajam. Salah satu tangannya telah putus dan meneteskan darah.
Mungkin, bukan hanya itu saja penampakan menyedihkan mereka. Karena salah satu sosok di antara dua pelukis mantra milik empusa, hanya dibawa kepalanya oleh Capricorn ke dalam sana.
Begitu tragis dan juga mengerikan.
Tapi, kata yang ditujukan pada Blerda tak mengusik emosinya. Kecuali senyum tipis terpancar dari rupa cantiknya. Perlahan disapunya pandangan pada korban-korban di tangan Capricorn.
“Lepaskan mereka.”
Sesuai perintah, jiwa scodeaz (pengendali) berupa kambing itu pun langsung menyentak pegangannya, sehingga korbannya jatuh dengan tidak baik-baik saja. Blerda duduk di salah satu kursi dengan tenangnya.
“Jawab aku. Kenapa kalian mendatangi kawasan terlarang?”
“Sepertinya kau sudah tahu,” Tetua empusa terkekeh sambil melirik Kers dan Aza yang melihat mereka dengan mulut masih tetap mengunyah.
Sepertinya, kedua laki-laki muda itu menikmati tontonan di depannya.
“Kutanya sekali lagi, kenapa kalian mendatangi kawasan terlarang?”
“Sampai mati jangan harap kami akan memberi tahumu!” hardik Sidag tiba-tiba. Dirinya seolah lupa kalau sosok yang dibentak adalah Raja bangsanya.
“Begitu?” ia tersenyum tipis. Sontak saja beberapa mata bergidik menatap ekspresinya. “Kers,” panggilnya tiba-tiba.
Raja hydra yang pipinya membengkak seperti tupai kelaparan, berhenti mengunyah padahal mulutnya masih penuh dengan anggur di dalamnya.
“Baca ingatan mereka,” perintah Blerda sambil meliriknya lewat sudut matanya.
Seketika karena cukup terkejut ia telan bulat-bulat buah-buah itu, namun malah berakhir menyedihkan. “Uhuk! Uhuk! Uhuk! Air-air! Air!” pekiknya karena tersedak.
Aza yang duduk di sebelahnya berbaik hati menyodorkan minuman walaupun tawa mengiringi tingkahnya. “Bodoh!” lanjutnya meledek Raja pemalas itu.
Dalam sekali teguk minuman dalam gelas emas pun habis tak bersisa. “Hah ... hampir saja.”
“Lagi pula kenapa kau pakai tersedak? Bodoh.”
__ADS_1
“Apa kau tidak dengar yang barusan Aza? Blerda menyuruhku membaca ingatan mereka. Blerda, Aza. Blerda! Dia meminta bantuanku? Apa kata dunia?” Kers terkekeh sambil menyombongkan dirinya. Lalu diliriknya sang Raja siren yang menatap tenang ke arahnya. “Ah, baiklah. Akan kulakukan, akan kulakukan. Jadi jangan lihat aku seperti itu,” gumamnya sambil memanyunkan bibirnya.
“Mau apa kau!” pekik kaget Sidag saat melihat Kers yang berdiri tiba-tiba.
“Capricorn. Bungkam dia.”
Selesai perintah Blerda diturunkan, makhluk scodeaz (pengendali) itu langsung memukul punggung Sidag tanpa iba. Membentur keras lantai dan meretakkannya. Pemandangan mengerikan tersebut jelas-jelas membungkam mereka yang dilanda ketakutan.
Tapi, sepertinya melawan bukanlah pilihan. Nasib para buruan mungkin akan sama dengan Sidag kalau menentang. Perintah Blerda itu mutlak, karena ia tak peduli siapa pun sosok di depannya.
“Lakukan Kers. Jangan buang-buang waktu, aku sudah lelah melihatnya,” sahut wanita itu sambil memiringkan wajahnya. Penglihatannya menyapu para mangsa yang terkikis keberaniannya.
“Kau akan menyesal karena sudah melakukan ini pada kami,” ancam Tetua empusa tiba-tiba.
“Tak masalah. Akan kutunggu penyesalan itu jika memang ada,” kalimat Blerda menghujam kesadaran mereka. Gadis itu tak peduli jika dirinya akan terjerat hukum karena menangani Tetua empusa.
Bagaimanapun juga, bahkan bila ia seorang Raja, sosoknya tak punya kuasa untuk mengadili sosok terhormat dari bangsa lain di kawasannya jika belum ada surat persetujuan. Dan tampaknya dirinya telah menetapkan pilihan.
Perlahan Kers menyentuh kepala pak tua di hadapannya. Tapi tiba-tiba mereka dibuat terkesiap. Karena Tetua empusa, menggigit lidahnya tanpa aba-aba. Tentu saja beberapa orang yang menjadi rekannya panik melihat keputusannya.
Dan ia pun jatuh tersungkur di depan mata mereka.
Pertanyaan itu hanya dibalas ekspresi tajam oleh para buruan. Sepertinya jawabannya sudah jelas bagi mereka.
“Sepertinya kalian meremehkanku. Apa kalian pikir, aku tidak bisa membaca ingatan bahkan bila mangsaku mati? Dasar arogan,” ia lalu terkekeh. Raja hydra pun berjongkok dan langsung menyentuh kepala Tetua yang sudah meregang nyawa. “Encanteri prohibit, que devora imatges de memoria (mantra terlarang, pelahap bayangan ingatan).”
Dan kepala pak tua itu langsung berasap akibat sentuhan Hydragel Kers. Benar-benar di luar prasangka, karena sepanjang rumor yang mereka dengar Raja hydra hanya bisa membaca ingatan dari orang hidup, bukan yang mati.
“Agh!” pekik Sidag tiba-tiba. Semua dikejutkan oleh kepala Tetua empusa yang pecah tiba-tiba. Mencipratkan darah ke sekitarnya bahkan pada pakaian dan wajah Kers. Tentu saja kemampuan Sang Raja penyebabnya, namun ia hanya tertawa. Dari bernada rendah hingga meninggi oktafnya.
“Apa yang lucu?” Aza memiringkan wajah karena bingung akan sikap kakak seperguruannya.
“Lancang.”
Satu kata, bermakna tak jelas bagi pendengarnya.
__ADS_1
“Kers?” panggil Aza Ergo sekali lagi.
“Kalian benar-benar lancang,” ia tertawa remeh menatap Sidag dan juga rekan-rekannya.
“Bagaimana?” sela Blerda sehingga fokus laki-laki itu teralihkan.
“Medusa, hanya pengalihan. Tujuan mereka yang sebenarnya adalah cerberus.”
“Apa!” pekik Sidag dan Bleria tiba-tiba. Adik perempuan Blerda itu masih di sana, tetap dalam posisi terduduk karena hatinya terluka melihat kondisi Gilles pujaannya.
“Cerberus?” Blerda memastikan pernyataan sang Raja.
“Ya. Sepertinya, mereka tidak tahu jika tujuan Tetua dan yang lainnya bukanlah medusa. Licik, karena pergi ke kawasan terlarang sebagai pengalihan, sisanya ke Kuil Nagagini untuk memanggil cerberus.”
“Tidak mungkin! Tetua tidak mungkin berbohong! Dia sendiri yang mengatakan akan melepaskan medusa. Tapi kenapa malah cerberus?” Sidag masih tak percaya akan apa yang diucapkan Kers di hadapan mereka.
“Kebodohan kalian karena tertipu olehnya. Pemimpin yang licik, tega menjadikan kelompoknya sebagai tumbal untuk mengalihkan perhatian. Kita sudah jatuh dalam perangkapnya,” Kers terkekeh sambil menatap Blerda.
“Siapa dalangnya?” tanya Pimpinan siren.
“Efaseus, Ivailo Stoyan, Aquila Ganymede, Hellbertha, Thertera Aszeria, Zargion Elgo, Zeril Septor dan juga Arigan Arentio.”
“Woah, dalangnya sebanyak itu? Beberapa nama tak kukenal,” Aza menimpali.
“Entahlah. Lagi pula, aku bisa mengetahuinya karena pak tua ini memanggil mereka dalam pertemuan. Jadi? Bagaimana?” tanyanya pada Blerda.
Gadis itu tak meliriknya sama sekali kecuali tetap menatap orang-orang dari bangsanya dan juga empusa.
“Sebelum itu, jawab aku. Kenapa kalian menginginkan medusa?” tanyanya dengan nada tenang pada mereka.
Sidag hanya menatap tajam. Perlahan ia tertawa, entah apa yang lucu sampai mengundang heran rekan-rekannya. “Sampai mati takkan kukatakan!” ekspresinya jelas meledek pimpinan siren di depannya.
“Apa kamu ingin dia kuurus juga?” Kers menawarkan dirinya.
“Tidak perlu,” tolaknya. “Capricorn,” panggil Blerda tiba-tiba. Sehingga makhluk itu berjalan mendekatinya. “Penggal mereka lalu gantung kepalanya di alun-alun kota. Dan badannya, potong menjadi beberapa bagian sebagai kiriman untuk bangsa-bangsa. Aku akan selipkan surat sebagai hadiah untuk semuanya.”
__ADS_1
Selesai mengatakan itu, dirinya beranjak dari posisinya. Melangkah pasti walau menyiratkan angkuh dalam keanggunannya. Padahal, ia baru saja memberikan hukuman mati untuk orang-orang di sekelilingnya.