Death Game

Death Game
Serangan besar-besaran


__ADS_3

“Mosia?” gumam Zenolea, serta Caspier yang menatap tak percaya. Kalau wanita itu dieksekusi tiba-tiba.


“Pahlawan itu memang selalu datang terlambat,” kekeh Aza dengan santainya. Dan sosoknya, ditatap tajam Dantalion yang mulai murka.


“Agh!” kaget Toyotomi dan Zarca, akibat ayunan tangan sang sepupu Raja Dracula menyerangnya.


Andai bukan karena pelindung magma Aza Ergo, bisa dipastikan badan mereka terbelah dua seperti pepehonan di belakang raga.


Seringai pun tersungging di bibir petinggi empusa, bersamaan dengan munculnya benang-benang berwarna bara dari badannya.


“Ayo menari, Tuan,” Aza Ergo tampak bersemangat melancarkan serangan. Mengejar Dantalion yang terus mundur ke belakang. Begitu cepat gerakannya dan juga lihai. Tapi, sepertinya takkan bisa menggapai sang petinggi dengan mudahnya, karena pemuda itu melebarkan serangan untuk bisa melindungi dirinya juga.


“Zenolea! Abaikan dia! Fokus saja pada Cerberus sekarang!” perintahnya.


Dan laki-laki itu pun tersentak. Lalu memungut kepala Mosia entah untuk apa gunanya.


“Ayo Caspier!” ajaknya. “Zeril! Tamengnya!” perintahnya pada sang pengkhianat yang menjadi rekannya.


Tentunya, sebuah perisai emas tiba-tiba berkobar membatasi mereka. Antara para petinggi dan juga pelaku kejahatan. Dan sekarang, orang-orang itu akan memulai pengendalian.


“Mantranya aman kan?” tanya Thertera tiba-tiba.


“Entahlah. Tapi yang jelas kita sudah menanamkannya.”


“Lalu selanjutnya bagaimana?”


“Ayo kita pergi, tugas kita sudah selesai di sini,” ajak Arigan padanya. Dan mereka pun beranjak dari sana untuk tak terlibat lagi dalam pertarungan yang gila.


Akan tetapi, dalam hiruk pikuk pertarungan yang dihiasi keberingasan Dantalion, beberapa petinggi berhasil dilukainya. Tentunya mereka adalah Reoa Attia, Asus Sevka, Hea Alcendia dan juga Ilhan Leandro.


Andai Hanzo tidak bergerak cepat, leher scodeaz (pengendali) tipe serigala api itu pasti putus oleh sepupu Raja Dracula. Karena Dantalion, merupakan assandia (petarung) tipe pedang ganda dan lebih hebat dari mereka.


“Hea!” panik Gandari melihat rekannya berlumuran darah itu.


Mereka lengah, karena Dantalion muncul tiba-tiba di samping sang petinggi manusia. Sehingga saat ia menghindar, serangan pedang musuh justru menggores dada Hea. Dia terluka cukup parah sampai kehilangan tangan kanannya.


“Kau—” tatap Hea pada Horusca. Penyembuh yang dibawa oleh Aza Ergo dan sedang mengobatinya.

__ADS_1


“Apa-apaan ini? Serangannya tidak terlihat,” lirih Zarca yang memperhatikan pertarungan gila Hanzo dan juga Dantalion.


“Kita harus membantu Hanzo,” Toyotomi membulatkan tekad.


Sementara Estes dan juga Hayato Sarutobi, justru terkurung oleh serangan ghoul. Begitu pula dengan Logan yang akhirnya pulih namun kehilangan begitu banyak tenaga. Butuh waktu baginya untuk bisa membantu mereka.


“Aneh.”


“Ada apa Tuan Orion?” Gandari merasa heran dengan lirihannya.


“Mana Zargion Elgo?”


Sontak saja, wanita itu melirik ke sekelilingnya. “Tunggu, dua orang lainnya juga tidak ada!” kaget Gandari menyadari keberadaan tiga orang musuh sudah tak terlihat di sana.


“Ugh!” Reoa merasakan sakit pada punggungnya. Sayatan memanjang telah melukainya tanpa aba-aba. Bukan hanya dirinya, bahkan Asus Sevka juga merasakan hal serupa. Sehebat itulah skill pembunuh dalam diam Dantalion yang sulit diikuti oleh mata.


“Fokus saja pada luka anda, aku akan lindungi kalian berdua!” Libra Septor sedang berusaha mempertahankan pelindung emasnya dari serangan ghoul serta api Ivailo Stoyan.


Dan dalam pertarungan pengendalian antara Cerberus juga dua laki-laki di depannya, monster legenda itu harus menerima serangan brutal yang luar biasa.


Karena Carpier sang Ksatria tidur, memotong ekornya sehingga membuat hewan itu memekik keras tak terhingga.


Dan ternyata, seekor cerberus pun bebas dari tubuh induknya.


“Gawat!” pekik Zeril menyadari kejadian di belakangnya.


“Fokus saja pada tamengmu, Tuan! Jangan sampai mereka menembusnya!” Ivailo memperingatkan tankzeas (pelindung) yang panik itu.


Entah apa yang digumamkan Zenolea, hewan yang dijerat lehernya begitu ingin memakannya, tapi Caspier dengan gilanya menyerang dua tubuh cerberus itu tanpa berjeda.


Dan dari kepala Mosia yang dipegang laki-laki itu, terpancar aura hitam tak biasa. Bahkan bukan hanya kepalanya, tapi tubuh tergeletaknya juga mengeluarkan sensasi serupa.


Perlahan, mayat itu pun berubah menjadi gumpalan kabut gelap yang bergerak mengudara. Mulai terbang, ke arah monster legenda. Sampai akhirnya menyusup masuk lewat mulut cerberus yang terbuka lalu mengendalikannya.


Zenolea tersenyum menyaksikan keberhasilannya.


“Ini!” Beltelgeuse Orion terkesiap akibat firasat tak terduga. “Jangan bilang!” dirinya pun menoleh pada monster di dalam perisai sambil menumpas ghoul yang mendekatinya.

__ADS_1


Tapi di satu sisi, Zarca Asera menyadari hal yang tak terduga. Kalau petinggi dari empusa, tidak berdiri lagi di belakangnya.


“Abteriov (Terbukalah)” Zenolea terdiam saat mendengar sebuah gumaman. “Gaiden smokea (gerbang kabut)”


“Kau!” kaget laki-laki itu menyadari siapa yang membuka gerbang kabut bangsa tradio.


Seketika, suasana dalam perisai emas berubah warnanya. Tak lagi menampilkan sosok cerberus atau dua penakluk serta satu pengendali tamengnya.


Tapi hanya penampakan putih berupa asap yang tak bisa ditembus mata.


Beberapa yang menyadari perubahan di dalam kendali jurus Zeril Septor dibuat tak percaya, karena mereka tak tahu apa yang sedang terjadi di dalam sana.


“Itu!” Dantalion menoleh ke kirinya.


Sementara Hanzo sang petinggi bangsa chimera, mengusap kasar darah yang mengalir lewat sudut bibirnya. Akibat hantaman keras dari gagang pedang sepupu Raja dracula, tentunya telah berhasil membuat organ dalamnya terluka.


“Hanzo!” teriak Logan menyaksikan kekalahan rekannya itu. Bagaimanapun juga, pertarungan satu lawan satu petinggi memang tidak akan seimbang dengan Dantalion.


Karena dia sangat cepat dan juga sulit diprediksi pola serangannya.


“Mau apa kau?” tanya Zenolea dengan tampang tidak bersahabatnya.


Tapi sosok yang sekarang ada di atas Cerberus hanya tertawa pelan, sambil tangan menyentuh keningnya dan menyisir rambut ke belakang dengan sombongnya.


Dia menatap remeh dua orang yang ada di depannya.


“Harus jadi tujuh ya? Tugas ini sangat menyebalkan.”


“Apa maksudmu?” Zeril Septor tampak tidak paham.


“Tiga kepala,” lirihnya lalu melirik monster legenda di bawah kakinya. “Untung saja satu sudah bebas dengan mudahnya,” seringai pemuda itu diiringi mata terarah pada seekor cerberus yang sedang dilawan Caspier. “Baiklah, kalau begitu aku hanya perlu memecah ini menjadi enam lagi,” dan tangannya pun terangkat ke atas.


“Mau apa kau?! Apa maksud—” kalimat Zenolea tidak dilanjutkan karena sosok di depan mata mengeluarkan ekor dari magma. “Kau!” 


Tanpa di duga-duga, Aza melilitkan ekor magmanya pada tubuh serta tiga kepala cerberus. Melancarkan serangan besar-besaran seolah ingin menyiksa monster legenda. Sampai akhirnya, ia berhasil memisahkan dua kepala dari tubuh induknya.


Goncangan dan pekikan keras dari dalam perisai menyentak orang-orang di sekitar mereka. Karena tak tahu kejadian apa yang terjadi di sana, namun hanya bisa memastikan satu hal.

__ADS_1


Kalau di depan mereka, mungkin saja pertarungan mengerikan sedang terjadi sehingga cerberus pun berteriak seolah ingin membelah daratan di pijakan kakinya.


 


__ADS_2