Death Game

Death Game
Kejujuran Aza Ergo


__ADS_3

Teriakan keras yang menyentak pendengaran pun memenuhi asrama. Luar biasa, bergema sampai menggetarkan kaca jendela.


Sosok-sosok yang sedang bersantai terkesiap mendengarnya. “Teriakan? Teriakan siapa itu?” oceh Doxia.


Horusca menoleh, melirik ke sekelilingnya. Di mana hanya ada dirinya, Doxia, Rexcel, dan Osmo di sana.


Sementara Reve yang menikmati pemandangan di halaman bersama Near juga ikut mendengar teriakan itu. Tanpa keraguan ia masuk untuk memastikan siapa sumbernya.


Dan di sinilah Aza serta Riz. Mereka tersentak saat mendapati Toz Nidiel lari tunggang langgang seperti orang kesetanan ke arah mereka.


“Toz?! Apa yang terjadi?!” kaget Riz melihatnya.


“Setan! Ada setan, Riz! Ada setan!” pekiknya.


Aza melirik ke belakang pemuda itu dan tak ada apa-apa. “Kau mengigau?”


“Tidak! Aku seirus! Salah! Serius! Ada setan! Mereka banyak! Tengkorak! Kepalanya utuh! Wajahnya dihajit! Eh, dijahit! Pokoknya mereka setan!” tunjuknya berapi-api ke belakang.


Riz ikutan panik melihat Toz yang histeris begini. Sementara Aza, akhirnya melangkah ke arah sana.


“Eh! Mau ke mana?! Di sana ada setan!”


“Aku akan melihatnya.”


“Jangan! Kau mau mati?!” cegat Toz seolah lupa kalau orang ini seorang petinggi terhormat.


Aza tertawa pelan. “Bukannya bagus? Kita jadi terhibur kan,” kekehnya. Bahkan ia menarik kerah baju Toz Nidiel untuk mengikutinya. “Ayo lihat, seperti apa setan yang membuatmu histeris begini.”


Walau meronta, tapi tetap saja sia-sia. Toz dan Riz terpaksa mengikutinya. Dan ketiganya memasuki ruangan yang tadi dihuni orang-orang setengah tengkorak itu.


“Tak ada apa-apa,” gumam Riz sambil melirik ke sekelilingnya.


“Aku serius! Tadi ada orang di sini! Mereka tengkorak! Kepalanya utuh tapi wajahnya mengerikan!”


“Mana?” tanya Aza sambil memamerkan tampang meremehkan. Tapi raut wajahnya berubah saat melihat tetesan darah berjatuhan ke arah bahu Riz Alea. Dia pun mendongak dan mendapati pemandangan tak terduga.

__ADS_1


Seketika teriakan kembali berkumandang di sana. Bersamaan dengan magma muncul tiba-tiba dan menari di udara. Seolah mencoba melindungi tiga pemuda itu dari serangan tak terduga.


Memang seperti perkataan Toz Nidiel. Ada makhluk setengah tengkorak di sana. Lebih parahnya lagi sekarang mereka berjalan seperti laba-laba. Di mulutnya terdapat robekan kulitnya.


Bisa dipastikan kalau mereka kanibal jika melihat kondisinya.


“Sejak kapan ini ada di sini?”


“Awas!” teriak Riz memudarkan fokus sang petinggi. Untung saja dirinya seorang tankzeas (pelindung) sehingga bisa melindungi mereka bertiga.


“Apa yang terjadi?!” pekik Doxia muncul tiba-tiba.


Reve Nel Keres serta Horusca Aste pun langsung mengeluarkan serangan mereka. Membabat habis kanibal tengkorak itu dengan mudahnya.


Aneh, pada saat terkena magma Aza Ergo seolah mereka tidak terpengaruh. Tapi begitu disembut jurus dua pemuda itu makhluk-makhluk tersebut langsung punah. Tentunya menimbulkan heran sang petinggi karenanya.


Sementara di tempat lain, di tanah para Kaspera, atau makhluk-makhluk serupa burung garuda, telah muncul sesosok wujud aneh di sana. Kepalanya melayang, rambutnya panjang, tiada tubuh berwujud nyata, selain organ-organ tersusun sempurna dan mengambang mengikutinya. Dialah Tukak Kuyang adik dari Bartolomeo Kuyang.


Kekehannya begitu membuat bulu kuduk berdiri. Mulutnya dihiasi tetesan darah tanpa henti. Perlahan siluet aneh muncul untuk menutupi organ-organnya. Secara paripurna membentuk fisik seorang wanita. Dan dia cantik tiada duanya.


“Akhirnya, setelah sekian lama. Kita akan bertemu lagi, saudaraku,” gumamnya. Setiap melangkah, bau amis tertinggal di jejak kakinya.


Kuyang tak peduli. Dia tak takut dengan apa pun yang ada di tempat ini. Karena tujuannya hanya satu, membangkitkan salah satu tokoh penting dari sekte Hadesia. Siapa lagi kalau bukan Reygan Cottia. Pembantai berdarah yang mengenyahkan bangsa tanah biru seolah tak ada artinya.


Sementara di satu sisi, Xavier Lucifero dengan lompatan luar biasanya melewati udara. Tujuannya hanya satu, ke tempat Aza Ergo yang gila. Dirinya benar-benar tidak bisa membiarkan bocah itu melakukan kejahatan tingkat dewa. Di mana membebaskan Reygan merupakan kesalahan terbesar karena bisa menghilangkan banyak nyawa di dunia Guide.


Dan sosok yang sedang dikejar, menatap bingung ke arah kumpulan tengkorak yang sudah tak bergerak.


Perlahan Aza menyentuh salah satu di antara mereka, yaitu jejak jahitan buruk rupanya dan menimbulkan keanehan di dirinya.


“Sepertinya mereka korbn eksperimen. Tapi, siapa yang tega melakukannya?” Horusca bersuara tiba-tiba.


“Pantas saja tempat ini bersih tak ada debunya. Mungkin masih ada monster yang tinggal di sini. Bagaimana kalau kita pergi saja?” ajak Reve tiba-tiba.


Aza masih diam di posisinya. “Tetaplah di sini. Ada sesuatu yang harus kupastikan.” Dia pun beranjak pergi.

__ADS_1


“Kau mau ke mana?”


“Berkeliling. Dan kalian kembalilah ke tempat peristirahatan sebelumnya. Nanti aku akan ke sana,” suruhnya lalu berlalu di hadapan mereka.


Reve Nel Keres yang tadi bertanya hanya menyipitkan matanya. Walau akhirnya semua menyetujui ucapan Aza Ergo, tapi tidak dengannya. Dirinya pun mengikuti sang petinggi dan tak disadari siapa pun kecuali Horusca.


Di sinilah Aza Ergo. Di dalam perpustakaan yang di datanginya bersama Reve tadinya. Masih ada tiga mayat mengantung di langit-langit ruangan. Dan diabaikan karena tujuannya bukanlah memeriksanya.


“Apa yang kau cari?”


“Bukankah kau kusuruh ke tempat peristirahatan?”


“Sayangnya aku penasaran.”


Aza Ergo pun tertawa pelan. Dilewatinya rak-rak buku, diambilnya salah satu dan diperiksa. Nyatanya buku itu kosong isinya. Begitu pula dengan yang lainnya, tak sedikit pun tulisan atau gambar tertera di sana.


“Sebenarnya apa yang terjadi di tempat ini?” Reve tetap saja mengekorinya.


“Entahlah.”


“Bukankah kau bekas murid di sini?”


“Ya.”


“Lalu?”


Aza pun membalik tubuhnya dan melempar buku kosong pada bocah pengendali ular. “Tak ada yang menarik. Tempat ini dulunya dipakai untuk melatih para calon Raja atau petinggi. Tapi—” lanjutannya yang tertahan jeda, membuat Reve menyipitkan mata. “Nyatanya, semua hanya kebohongan. Hadesia, dengan kata lain sekte Hadesia, merupakan aliran yang dibangun Helga Nevaeh untuk pujaan hatinya sang Titan. Dengan harapan, bisa membebaskan sosok itu dari penjara Tartaros.”


“Apa itu? Aku baru dengar hal yang seperti itu.”


“Ya. Karena itu tak diceritakan pada semua. Melainkan hanya orang-orang tertentu yang mengetahuinya,” jelas Aza dan terus berlanjut memeriksa buku-buku di sana.


Dan yang kosong isinya ia buang sembarangan begitu saja.


“Lalu bagaimana kau bisa tahu?”

__ADS_1


Sang petinggi pun tersenyum tipis. “Sejujurnya, ibuku salah satu dari tiga belas pemegang kunci.” Reve pun terkesiap mendengarnya. Dia masih tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan sosok di depannya. “Enam hantu tanpa nama, ibuku ada di dalamnya.”


“Kau—” bocah bermata biru itu pun mengepal erat tangannya. “Jadi selama ini kau membohongiku?”


__ADS_2