
“Hiaah!” pekiknya melayangkan serangan. Kekuatan dari lengan berbentuk bilah itu berhasil membelah empat ular magma yang hendak menyerangnya.
Akan tetapi itu hanya sementara. Sampai akhirnya seseorang muncul di langit-langit mereka dan menghempaskan serangan dari telapak tangannya.
Kuyang pun tertahan sambil menahan tekanan yang hendak menjatuhkannya dari jembatan. “Bocah sialan!”
“Menurut perkiraanku, bukan dia pemilik mata terlarang itu,” gumam Reygan.
Jujur saja, Xavier merasa aneh menatap musuh di bawahnya. Apalagi saat sorot matanya bertemu dengan pria berambut pirang itu.
Ada sensasi dingin merasuk ke raga, seperti berbisik hendak membunuhnya. Dan dia pun terdiam saat mendengar histeris dari tiga orang yang tampak terduduk tak berdaya entah kenapa.
“Kau melihat ke mana?”
“Ugh!” erang Xavier tiba-tiba. Tubuhnya langsung terlempar ke jembatan dan menimbulkan bunyi cukup keras untuk semua.
Terlihat pemandangan tak terduga. Dan laki-laki itu menatap tak percaya pada apa yang baru saja menimpanya. Dirinya kehilangan satu tangannya akibat kemunculan pria berambut pirang di sisinya.
Tampaknya sosok itu juga bisa berjalan di udara seperti dirinya.
“Kau ... tidak. Siapa kalian?” tanya dengan nada menekan.
“Apa kau pikir kau pantas menanyakan itu? Bocah,” sindir Kuyang.
Akan tetapi, hawa aneh berkumandang di sekitar mereka. Kuyang dan Reygan sama-sama menoleh ke belakang Xavier.
Tapi, apa yang mereka dapatkan sungguh di luar perkiraan. Kemunculan ribuan pedang di langit-langit menyentak pandangan.
“I-itu!” pekik Xavier melihatnya.
Dan tanpa aba-aba serangan membabi buta berjatuhan dari bilah itu menuju Reygan Cottia serta Kuyang. Tapi, mungkin mereka berdua memang ada di level yang berbeda.
Serangan dari pedang itu tidak sedikit pun mengenainya. Tentunya sang pemilik kemampuan meradang. Terlebih rupa tak asing yang ia lihat sekarang seakan mencengkeram jantungnya.
“Itu,” lirih Kuyang melihat para pendatang.
Senyuman pun terpatri di bibir pria yang mendaratkan kakinya di sebelah rekannya.
“Luar biasa. Kejutan macam apa ini?” pujinya. Dan hal itu menimbulkan lirikan mata heran sosok di sebelahnya. “Kau, mata dan rambut itu, rupanya masih ada yang tersisa ya? Bangsa phoenix.”
Kuyang agak terkejut mendengarnya. Dan memindai rupa yang dimaksud rekannya.
__ADS_1
Tapi, tawa pelan Reygan jelas-jelas mengusik pendengarannya. Dan pria itu pun melanjutkan ucapannya. “Ah, sensasimu, aku mengingatnya. Kaulah yang memakai mata terlarang. Tidakkah kau menyadari dia siapa? Kuyang,” kekehnya.
“Siapa yang kau maksud?”
Perlahan tangan Reygan menunjuk sosok pemuda dengan rambut hitam kemerahan. Tentunya wanita itu memandang heran dan mencoba mengingat rupa di depannya.
Dan perlahan sensasi aneh ia rasakan. “Dia, energinya—”
“Benar. Olea Zoyaveira.”
Hawa mengerikan pun langsung terpancar dari Kuyang yang mendengarnya. Rahangnya menegang, sorot matanya menajam seolah hendak mengoyak apa pun di depannya.
“Reve! Tuan Aza!” teriak Toz yang akhirnya berhasil menyusul mereka. Bahkan bukan hanya dirinya, Horusca serta Doxia Mero juga turut serta.
“Kalian! Apa yang terjadi?!” pekik Doxia berlari melewati Xavier. “I-ini, hei, a-apa yang, Horusca!”
Dan panggilannya pun mengalihkan atensi semuanya. Sang elftraz (penyembuh) segera menghampiri dan terkesiap melihat pemandangan yang ada. Di mana Riz terisak, dan Rexcel tertunduk tak berdaya. Osmo sang budak tak bergerak lagi dengan darah yang menghiasi sayatan di leher serta pakaiannya.
“B-bo-hong. Tuan Osmo!” Toz pun terperangah dan berlari mendekati mereka.
“Horusca, t-tolong, tolong sembuhkan Tuan Osmo, aku mohon,” pinta Riz sambil memegang lengan baju pemuda itu.
Tapi rahang menegas dan bibir bawah yang ia gigit melukiskan jawaban dari sosok berambut merah. Pertanda kalau sang budak telah mati sebelum mereka datang ke sana.
Sang petinggi tampak tenang, sementara Reve Nel Keres begitu murka. Tubuhnya bergetar hebat karena tak sanggup lagi memendam dendam yang ia punya.
Tiba-tiba ia tarik sebuah pedang dari tengkuknya. Berjalan dengan langkah pasti menuju dua sosok asing yang mendatangi Hadesia. Tujuannya hanya satu, membunuh pria di depan mata.
“Reve,” Toz menatap tak percaya pada ekspresi dingin rekan seperjuangannya.
“Horusca, sembuhkan dia,” Aza tiba-tiba bersuara dengan pandangan mengisyaratkan agar sang elftraz (penyembuh) membantu Xavier. Perlahan dirinya melangkah mengikuti Reve Nel Keres yang sudah maju ke depan.
“Mereka monster.”
“Lalu?” sang petinggi tersenyum pada saudara seperjanjiannya. Sosoknya pun berdiri tepat seperti pelindung orang-orang di belakangnya.
“Kau, sepertinya kau ingin menyerangku. Apa kau yakin? Phoenix.”
Tapi Reve Nel Keres tidak mengatakan apa-apa. Selain terus maju menuju mereka.
“Dasar bocah sombong!” marah Kuyang tiba-tiba. Lengan pedangnya pun langsung melayangkan serangan. Bersamaan dengan Reve mengayunkan bilah di tangan. Dalam sekali gerakan, serangan wanita itu berhasil ditepisnya. “Dia!”
__ADS_1
“Mundurlah Kuyang. Sepertinya—” Reygan tiba-tiba menjilat bibit bawahnya. “Bocah ini perlu hiburan,” ia pun menyeringai tipis sambil melebarkan pandangan.
Reve yang mendengar itu pun langsung lari ke arahnya dan mengayunkan pedang dengan brutalnya.
Terkesiap, penonton dibuat terdiam. Karena bunyi dari aduan bilah tajam milik Reve bersinggungan dengan senjata Reygan. Walau pedang putih itu muncul tiba-tiba tapi sensasinya jelas tak biasa.
Karena Reve merasakan keanehan pada gagang pedang musuh di depannya.
“Kenapa? Kau merasa tidak asing?” sang pemuda terpukul mundur akibat serangan pria itu. “Tentu saja kau merasa aneh, karena jiwa-jiwa phoenix sudah terkumpul di dalam batu ini,” kekehnya sambil menyentuh batu ruby yang menghiasi senjatanya.
“KAU!” marah Reve melihatnya.
“Abteriov (terbukalah)” Selesai menggumamkan itu, hempasan angin kasar pun muncul dari pria tersebut.
Tak disangka, wujudnya berbeda dengan yang sebelumnya. Rambutnya begitu panjang hampir menyentuh tanah. Dan juga tato misterius di dahinya membuat siapa pun bergidik ngeri menyaksikannya.
“Memang lebih menyenangkan bertarung habis-habisan. Tidakkah kau berpikir begitu? Phoenix.” Seringai lebar tercetak di bibirnya, bersamaan dengan pedang yang ia angkat tiba-tiba. “Ayo, perlihatkan padaku tarianmu!”
Jembatan bagian Reve dan rombongannya pun langsung terbelah menjadi dua. Bukan hanya itu saja, beberapa kawasan Hadesia yang berada dalam jangkauannya ikut memamerkan belahan memanjang serangan Reygan.
Benar-benar mengerikan kemampuannya.
Reve terkesiap, saat menyadari dirinya sekarang berdiri di seberang. Tentu saja semua karena bantuan Horusca sehingga mereka tak jatuh ke bawah jembatan.
Dan Reygan, berdiri dengan tenang di udara. Lain halnya Kuyang yang menginjak jaring laba-laba miliknya.
Tapi sepertinya pria itu masih ingin bermain-main dengan serangannya. Dengan memegang pedang di depan dada, energi aneh berkumpul di senjatanya.
Tentunya menyentak orang-orang yang memiliki kepekaan luar biasa di daratan luas Guide ini.
“Tak mungkin, sensasi ini!” pekik Izanami menyadari aura menakutkan yang selama ini ia hindari.
“Reygan, apa kau benar-benar—” Bragi Elgo menatap tak percaya ke arah di mana sumber mengerikan itu berada.
“Reygan Cottia,” gumam sang Raja gyges dengan dinginnya.
__ADS_1