
Seketika pandangan Reygan Cottia tertuju pada sosok aneh yang tertutupi kain hitam sepenuhnya. Berdiri di udara tak jelas bagaimana wujudnya. Tapi Serpens tersentak akan kehadirannya.
“Y-Yang Mulia?”
Beltelgeuse Orion terperanjat mendengarnya. Menatap tak percaya pada sosok yang tak memperlihatkan wujud aslinya itu.
“Aegayon Cottia.” Deru napas tak beraturan terlukis dari Wakil Raja serta petinggi gyges itu. “Sudah lama, anakku. Aku, merindukan sosokmu,” lirihan Reygan pun membuat mereka bergidik ngeri mendengarnya.
Tapi, tak ada jawaban dari orang itu. Kecuali kain hitam yang menyelimutinya mulai bergerak membentuk siluet manusia. Dan akhirnya, terciptalah sosok tanpa sedikit pun kulit terpamer di sana.
Sang Raja bangsa raksasa, pakaian serba hitam serta jubah senada membalut raganya, dihiasi topeng aneh di wajahnya.
Sepertinya, memang akan sulit bagi siapa pun untuk melihat wujud aslinya. Bahkan surai pirang yang melegenda tak bisa disaksikan siapa pun juga. Begitulah Aegayon Cottia menutupi wujud aslinya.
Akan tetapi, tangannya tiba-tiba terangkat. Hal itu disaksikan Reygan dengan lirikan tenang, sampai akhirnya sebuah cahaya merah menyeruak dari sana dan menuju langit-langit begitu dahsyatnya. Meledak, membentuk lingkaran api di atas kawasan gyges.
Seperti suar raksasa untuk dunia guide.
“Kau,” pria penyimpang itu menyipitkan mata akan ulah putranya.
Namun yang mengejutkan bukan hanya itu saja. Melainkan hal serupa juga terjadi di beberapa belahan daratan.
Suar merah. Mirip seperti yang dilakukan oleh Aegayon Cottia. Dan semua berasal dari para pemegang kunci penjara.
Bragi Elgo.
Izanami Forseti.
Barca Asera.
Noa Krucoa.
Sif Valhalla.
Castroz Keres.
Laraquel Hybrida.
Termasuk Aegayon Cottia, hanya mereka yang menggunakan suar merah itu di dunia guide. Suar lingkaran api, sebagai tanda bahaya sekaligus lambang keberadaan mereka di dunia. Ajaran dari Reygan Cottia untuk para muridnya.
“Tak pernah kusangka, kalau kalian akan mengkhianatiku seperti ini.”
“Kau bersalah, dan pantas mendapatkannya, Ayah.”
“Mulutmu kurang ajar, Aegayon.”
Perlahan Raja gyges mulai mendarat di tanah kekuasaannya. Berdiri tegak sejajar pria mengerikan di depannya.
__ADS_1
“Kurang ajar,” entah kenapa setiap berbicara suaranya mampu menenangkan hati para bawahannya. “Benar, aku memang anak kurang ajar. Karena aku berharap kau mati bukan di penjara, Ayah.”
Sensasi mengerikan tiba-tiba menyeruak dari tubuh Reygan Cottia. Para pasukan kerajaan sontak saja gemetaran dan tak sanggup melanjutkan langkahnya, walau keberadaan orang-orang itu jauh dari sang penyimpang yang menjadi pelakunya.
Bahkan Serpens serta Beltelgeuse Orion yang jelas-jelas ada di sana juga serupa penampakannya. Mereka jatuh terduduk sambil memegang dada akibat takut yang dirasa.
Aegayon Cottia pun mendadak muncul di hadapan mereka. “Pergilah Serpens, Orion. Beritahukan pada semua pasukan untuk melakukan evakuasi sekarang. Kawasan gyges akan hancur, tapi setidaknya para penghuninya bisa diselamatkan.”
“Yang Mulia,” kaget Wakilnya mendengarnya.
“Pergilah. Karena aku tak bisa menjamin keselamatan kalian jika tetap di dekatku.”
Dua orang pendengar itu meradang. Memang seperti perkataan pimpinan mereka, bahkan berdiri di sana saja tidak mampu apalagi ikut membantu pertarungan Raja gyges.
Perlahan Serpens menganggukkan kepala dengan berat hatinya. “Tetaplah hidup, Yang Mulia.”
Sosok bertopeng di hadapan keduanya pun menoleh ke belakang. Walau rupanya tak tampak di mata, tapi Serpens dan Orion yakin pada firasat mereka. Kalau Sang Raja tersenyum padanya.
Dengan terpaksa Wakil Raja serta sang petinggi itu pun menjarak dari sana. Memberitahukan siapa pun untuk melakukan evakuasi sekarang. Karena dari kalimat Aegayon tersirat jelas, kalau daratan gyges akan hancur karena pertarungan.
“Terima kasih sudah menunggu, Ayah.”
Reygan Cottia masih memandang dingin putranya. Mendadak sosoknya menengadah, akan lingkaran suar api di langit atas sana yang berubah menjadi kobaran berwarna keemasan.
“Apa kau meminta bantuan?”
“Ya.”
“Aku seorang Raja, Ayah. Kau adalah musuh seluruh bangsa, dan gyges masih belum punya pengganti sebaik diriku. Setidaknya aku belum boleh mati saat melawanmu.”
Tangannya pun terangkat ke arah Reygan Cottia. Memancarkan sinar emas yang menghantam pedang ayahnya, begitu dahsyat tekanannya sampai-sampai pijakan penyimpang itu tenggelam ke tanah.
“Suar emas, permintaan bantuan dari seorang Raja?” gumam Ragraph Revos yang menyaksikannya di tanah empusa.
“Arah itu, kawasan gyges,” gumam Revtel ikut melihatnya.
Sementara perisai emas mulai tercipta di kawasan bangsa raksasa. Sebagai tameng berlapis untuk para rakyat agar tak terkena dampak pertarungannya. Tampaknya para tankzeas (pelindung) harus siap berkorban nyawa kalau seandainya terjadi apa-apa.
“Sinar itu, tak kusangka Yang Mulia akan turun langsung. Apa benar semua yang anda katakan? Tuan. Kalau penyimpang terkutuk itulah yang datang ke tanah kita.”
Pertanyaan dari Komandan Ksatria tidak dijawab Serpens. Selain sosok itu memamerkan ekspresi tak baik-baik saja di wajahnya.
Bagaimanapun juga, kawasan gyges dipenuhi teriakan orang-orang yang mengumandangkan evakuasi, agar tak bersinggungan dengan lokasi pertarungan dua Cottia.
Sementara di satu sisi sudah banyak anak-anak dan wanita yang mati. Tentunya menjadi santapan Kuyang dalam memenuhi hasrat kelaparannya.
“Reygan ya. Tak kusangka bangsa ini memiliki guider sehebat itu. Siapa lawannya ya?” seringainya. Sosoknya yang melayang pun bergerak menuju tempat di mana pertarungan dengan tekanan luar biasa terjadi.
__ADS_1
Dan di Hadesia, para guider yang tubuhnya tergeletak tak berdaya dan tampak menyedihkan itu mulai dimakan oleh seekor ular black mamba.
Lenyap di dalam mulutnya, bergerak dengan santai membawa seluruh beban di perutnya. Ular tersebut terus melata entah ke mana.
“Aku harus membantu Aegayon,” ucap Izanami tiba-tiba.
“Aku akan ikut denganmu.”
“Tidak,” sosok itu menatap lekat rekannya. “Tetaplah di sini Caprio. Bagaimanapun lebih baik aku saja yang pergi.”
“Tapi—”
“Caprio,” potongnya tiba-tiba. “Dia seorang monster. Keberadaanmu juga pak tua serta Redena hanya akan jadi penghambatku,” ucapnya tanpa keraguan. Tentunya sang rekan tersentak dan merasakan kecut di dada saat mendengarnya. “Kalian benar-benar akan jadi penghambatku. Karena aku, tak bisa kehilangan kalian kalau sampai terjadi sesuatu. Jadi aku mohon, tolong pahami situasiku.”
Pernyataan Izanami Forseti pun membuat pendengarnya terbungkam. Kecut di dada berganti dengan rasa tak terlukiskan. Kalau mereka begitu berarti bagi sosok yang merupakan mantan petinggi tradio itu.
“Suar emas, bagaimana menurutmu? Kers.”
Pertanyaan yang dilontarkan Revtel belum ditanggapi Rajanya. Kecuali sosok itu tertunduk sambil tetap memakan anggurnya.
“Aku akan ke sana,” ucap Blerda tiba-tiba.
“Kenapa? Apa karena kau merasa bersalah?” pernyataan Revtel sontak saja mengundang tatapan semua. “Aku benarkan? Kau juga merasakannya. Kalau itu kemungkinan monster yang dilepaskan Aza. Entah cara apa yang digunakannya, tapi sepertinya mereka mungkin sudah melakukan hal tak terduga.”
“Kurasa bukan mereka,” Raguel menyelanya.
“Bagaimana kau bisa yakin?”
Sosok itu menyipitkan mata dan kembali menatap telapak tangan yang sempat memamerkan sinar hijau terang sebelumnya.
“Entahlah. Satu hal yang pasti, ada yang tidak beres dengan peti mati Raja elf, jadi aku akan ke sana.”
Empat orang yang bersamanya saling berbagi pandangan sekarang. Dan Blerda memegang pembatas balkon berhiaskan ukiran mewah itu.
“Aku duluan,” ucapnya tiba-tiba sambil melompati pagar yang ada. Begitu pula dengan Raguel, sosoknya juga melakukan hal serupa.
Sekarang, tersisa Lascarzio Hybrida serta Revtel juga Kers di sana.
“Kau tidak ikutan?”
Sosok berkulit eksotis itu tersenyum mendengar pertanyaan Wakil Raja hydra. Tiba-tiba sayap terkepak dari punggungnya lalu meninggalkan dua sosok penting bangsa ular.
“Cih, apa yang akan terjadi selanjutnya? Aku bahkan bisa merasakan tekanan aneh sampai kemari,” jengkel Revtel sambil tetap menatap suar berbentuk lingkaran api di langit gyges di ujung sana. “Kers, apa kita juga harus pergi?”
Tapi, sosok itu malah memiringkan wajah padanya. Menyeringai tipis yang membuat saudara sepupunya menjadi heran karenanya.
__ADS_1