Death Game

Death Game
Pemulihan


__ADS_3

“A-anda! Tuan Aza!” pekik senang Riz menyambutnya. “Ini, ini, bukan mimpi?”


Tiga sosok di depan mata mengibarkan senyum padanya. Tiba-tiba Laravell maju dan menyentuh bahu Riz Alea.


“Terima kasih.”


“Eh.”


“Siapa yang bisa mengira jika bocah yang menangisi beruang dulu ternyata seorang ahli kunci? Kami melihatnya, kejadian itu walau hanya dalam mimpi,” ucap Horusca.


Riz menatap tak percaya. Ya, hanya sekejap mata, semuanya langsung berubah seketika. Para orang mati telah hidup kembali. Para penyimpang seperti berada pada masa lalu mereka. Dan juga, bangsa yang dibantai seolah tak mengalami apa-apa.


Pemulihan.


Mantra terlarang yang disepakati pada era kuno dahulu kala, hanya bisa dipakai seorang ahli kunci untuk mengatur keadaan. Di mana dirinya bisa memerintahkan dunia untuk menjadi apa yang ia inginkan.


Dan tentunya, semua fenomena yang di dapati oleh penghuni tiga dunia adalah kehendak dari Riz.


Kehendak dari hatinya yang menginginkan kedamaian.


Keinginan dari nuraninya karena tak sanggup lagi melihat darah berserakan.


Tentunya setiap pilihan ada konsekuensi sebagai jawaban. Dan itu adalah sisa dendam di mana ingatan masa lalu masih tertinggal.


Para tokoh yang terlibat, sekarang banyak diam merenungi keadaan.


Seperti Reve salah satunya, sosoknya yang merupakan keturunan bangsa phoenix, justru berada di dunia manusia. Bersekolah layaknya remaja biasa, dan Near yang selalu menemani tak lagi ada.


Butuh sejenak waktu baginya untuk memahami keadaan.


“Lalu,” Toz menyela tiba-tiba. “Bagaimana keadaan semua orang yang ada di dunia Guide?” tanyanya penasaran.


Laravell pun tersenyum memandanginya. “Karena itulah kami datang kemari. Apa kalian ingin melihatnya?”


Sontak saja Riz Alea juga Toz mengangguk secara bersamaan. Walau sang pemuda yang mengaktifkan mantra, ia hanya ingat pada perubahan keadaan. Namun bagaimana nasib semua orang sosoknya tak tahu apa-apa.


Cemas mendera berharap kalau tidak ada yang menderita.


“Senka porta (gerbang bayangan)” ucap Laravell tiba-tiba.


Dan sebuah gerbang besar mulai muncul di depan mereka. Memamerkan garis-garis ukiran kuno pada pintunya. Perlahan namun pasti, jalan masuk itu terbuka. Mengepulkan asap dari dalamnya untuk menghantam siapa pun di sekitar.


Ellio terperangah. Tapi yang lebih membuatnya terkejut adalah ketika Riz Alea menyentuh lengannya.


“Maafkan aku, karena sempat melihat masa lalumu. Tapi terima kasih karena sudah melindungiku di saat terakhir. Aku mohon, tetaplah jadi sahabatku, Ellio,” ucapnya dengan senyum hangat di sana.

__ADS_1


Pemuda itu juga tersenyum serupa, dan mengangguk padanya. “Maafkan aku untuk semuanya, Riz.”


Dan mereka berdua memasuki gerbang terlebih dahulu sekarang.


Sementara Toz juga Reve, tatapan mereka dibuyarkan oleh rangkulan petinggi empusa.


“Kenapa diam saja? Aku tak keberatan untuk menendang kalian ke dalam,” kekehnya tiba-tiba.


“Sialan!” Reve menyeringai dan menepis tangannya. Masuk ke gerbang bersama Horusca.


“Mm ... Tuan Aza,” sosok pengendali magma melirik ke arahnya. “Apa semua benar-benar sudah baik-baik saja?”


Petinggi muda itu diam. Sejenak ia mengedarkan pandangan.


“Kalau penasaran masuklah.”


Dengan langkah ragu, Toz melewati jalan itu. Ia tersentak, saat mendapati dunia yang sangat berbeda. Di mana di langit-langit banyak hewan raksasa berterbangan. Mulutnya menganga seakan-akan baru pertama kali melihatnya.


“Eh!” pekiknya tiba-tiba.


“Ada apa, Toz?!” kaget Riz mendengarnya.


“Itu! Itu!” tunjuknya ke atas.


“Itu kodok?” Reve dibuat bingung. “Apa dia betina?” bingungnya.


“Dasar bodoh!” umpat Ellio memukul kepala pemuda berambut biru kehitaman itu.


“Sakit brengsek!” keluh Reve sambil mengusap-usap kepalanya.


Akan tetapi, ada sesuatu yang lebih mengejutkan dirinya. Di mana di area kiri terdapat gerbang raksasa dari kristal biru pekat yang menyala.


Dadanya berdesir aneh, dan sosoknya tanpa ragu langsung melangkah ke sana.


“Reve!” panggil Riz dan Toz bersamaan.


Tapi, sang pemuda mengabaikan teriakan. Dan terus masuk ke dalam sana untuk mendapati pemandangan yang tak disangka-sangka di balik gerbang.


Dirinya pun tersentak ketika sambutan yang tak pernah terkira ternyata telah menantinya.


“Reve,” sebuah suara lembut menusuk pendengaran.


“I-i ... ibu?” tubuhnya gemetar seketika.


Dan air mata pun terurai dari rupa wanita yang ia panggil itu. Tanpa peduli pasang mata yang menatapnya, dengan mengabaikan segala perasaan yang berkecamuk di dada, pemuda dengan netra sebiru samudera itu berlari tergesa-gesa ke arah perempuan di depan mata.

__ADS_1


“Ibu!” teriaknya begitu pelukan terjadi di antara mereka.


Rekan-rekan yang lainnya terdiam. Menyaksikan kejadian mengharukan di depan mata. Di mana seorang Reve Nel Keres yang sangat menyebalkan, terisak di rangkulan seorang wanita.


Sosok indah yang telah melahirkannya ke dunia.


“Aku tak pernah menyangka akan bisa melihat ibunya di sini,” ucap Toz tiba-tiba.


“Ibunya sangat cantik,” Riz bahkan mengatakan hal tak terduga yang membuat Ellio juga Toz mendelik kaget ke arahnya.


Wajar jika sosoknya berkata seperti itu. Para penghuni bangsa phoenix, identik dengan rambut biru kehitaman. Begitu pula matanya, dan siapa pun yang menatap mereka secara lekat, terkadang merasa tenang atau tenggelam dalam keindahan.


Sensasi biru pekat seolah berada di dalam lautan.


Dan pesona ibunya Reve Nel Keres, ibarat seorang dewi. Rambut ikal panjang hampir melewati paha. Garis wajah bak pahatan tiada cela. Senyumannya, mampu membuat sosok-sosok dari dunia Guide sekalipun ikut terlena.


Parahnya lagi, dirinya juga masih sangat muda. Akan sangat aneh jika ia disandingkan sebagai ibu Reve walau begitulah kenyataannya.


“Jadi mereka teman-temanmu?” tanya wanita itu setelah ia selesai melepas rindu dengan sang putra.


“H-halo, Bibi,” sapa Toz mengulurkan tangan.


Tentunya perempuan itu bingung akan ulah yang dilakukan Toz Nidiel. Mengingat sosoknya tak paham dengan gaya perkenalan dunia manusia.


“Bungkukkan tubuhmu jika ingin berkenalan bodoh,” tanpa aba-aba Reve mendorong kepala temannya sehingga hampir saja tersungkur.


“Sialan! Reve! Kamu—” tapi umpatan Toz terhenti karena tatapan menenangkan ibu temannya itu.


“Salam kenal, Nyonya. Saya Ellio, anak manusia dan merupakan putra teman anda,” sosoknya menyela sambil membungkukkan tubuh secara sempurna.


“Ellio? Kamu bisa memanggilku ibu,” balasnya.


“Ah, kalau saya Riz Alea, Nyonya.”


Ibunya Reve tersenyum dan mengelus lembut kepala putranya. “Ibu tak pernah membayangkan kita akan bertemu seperti ini. Dan sekarang kamu, membawa teman-temanmu. Syukurlah, karena kamu bukan anak yang kesepian, Nak,” pelukan lagi-lagi dihadiahkan wanita itu. Benar-benar membuat iri teman-teman putranya.


“Ah, kalau dia bukan ibu Reve, aku tidak keberatan memuja bibi itu,” bisik Toz tiba-tiba pada Riz.


Tentunya sang teman terperangah, tak menyangka akan mendengar guyonan konyol darinya. Akan tetapi harus Riz akui, kalau ibu Reve itu memang sangat luar biasa.


“Kenapa kalian melihat ibu seperti itu? Kalian berdua terlihat seperti kucing buas, Riz, Toz,” sela Ellio tiba-tiba. Dan ucapannya berhasil membuat Reve yang berwajah malas menatap tajam kedua temannya. 


   


 

__ADS_1


__ADS_2