
“Aku Aza. Jadi, di mana Peri Amarilis?”
Reve pun sekarang berdiri di samping Dokter Cley. Tiba-tiba kekehan pelan terlontar dari sosok itu.
“Sepertinya kau benar-benar tidak pernah belajar sopan santun ya? Bocah magma.”
Sekarang pandangan Reve pun teralihkan pada rekan seperjalanannya. “Bahkan orang gila ini mengenalmu. Sepertinya kamu benar-benar luar biasa.”
“Tentu saja, aku kan petinggi jenius,” balas Aza dengan sombongnya.
“Asal kau tahu saja. Kejeniusanmu tak ada apa-apanya di bandingkan denganku. Aku Dokter, bahkan bangsa gyges dan dracula mengemis-ngemis agar aku ikut bersama mereka,” lanjut Dokter Cley dengan nada seolah tak terima.
Dan Aza yang mulai jengkel pun memamerkan ekor magmanya. “Cukup ocehanmu pak tua, di mana Peri Amarilis?” tanyanya.
“Padahal kupikir kalian sebaya,” bingung Reve sambil menyaksikan wajah dua orang itu.
Tapi, entah kenapa sang Dokter malah berjalan mendekati petinggi di depannya. Perlahan disentuhnya bahu Aza. “Aku tak tahu siapa yang mengatakan omong kosong itu, tapi aku tak punya apa pun yang kau butuhkan, Nak.”
Aza Ergo pun memiringkan wajahnya. “Kalau begitu mari kita ubah pertanyaannya. Jika kau tak tahu di mana Peri itu, lalu bagaimana dengan Zeus Vortha?”
Senyum remeh langsung terpancar dari bibir sang Dokter setelah mendengarnya. “Kau, aneh.”
Dan ia pun pergi dari sana. Menimbulkan bingung Reve serta Aza karena mendengarnya.
“Kenapa dia mengataimu aneh?”
Sang petinggi pun menggelengkan kepalanya.
“Ugh,” risih Riz saat melihat Dokter Cley sudah kembali ke sana. “Anca, apa kamu baik-baik saja?”
“Ya, memangnya kenapa?”
“Tidak. Aku hanya kaget melihatmu bisa datang bersama Dokter itu.”
Bocah yang pernah satu asrama dengannya pun mengerutkan dahi bingung akan ucapannya. “Memangnya ada apa? Dia orang yang baik.”
“Kau yakin?” kaget Riz mendengarnya. “Dia it— agh!” erangnya tiba-tiba. “Apa yang anda lakukan? Kenapa anda memukulku?!”
“Tentu saja karena kau menggosipkanku bocah,” tekan sang Dokter hendak menjewernya.
Akan tetapi, suara pekikan seekor gagak membuyarkan tatapan mereka. Terlebih lagi hewan itu terpecah jadi dua dan mendarat di bahu Trempusa serta Aza yang baru datang.
“Gagak pesan?” gumam Doxia.
Sang petinggi muda dan Rajanya pun langsung melirik setelah hewan tersebut hancur menjadi serbuk di depan mereka.
“Ragraph. Ayo kita kembali,” ajak kakaknya.
“Mm. Hei, ayo pergi,” anak kedua Revos berbicara pada Dokter gila yang juga memandangnya.
“Cih ... aku merasa jadi seperti anak buah. Hei, bocah laknat kau tidak ikut?” tanyanya pada Anca.
“Ah ya, mm ... Toz, Riz, Reve, aku pergi dulu. Sampai jumpa,” pamitnya.
“Ah ya,” angguk Toz sambil melambaikan tangan. “Apa Anca memang banyak bicara? Dia bukannya pendiam?”
Riz pun menggelengkan kepala. Dia tak tahu harus mengatakan apa selain memandang lekat pada kepergian empat orang itu.
“Pesan dari siapa?”
“Blerda,” jawab Aza seadanya.
Reve pun mengangguk paham. “Selanjutnya bagaimana? Dokter gila itu tampaknya mengetahui sesuatu.”
“Ya, dia memang tahu.”
“Apa langkah kita selanjutnya?”
Aza pun memijat pangkal alisnya. “Kita pikirkan nanti. Ayo istirahat dulu,” ajaknya. Sebagai orang terakhir yang memasuki kastil, tiga sosok menyebalkan pun sudah menyambut sang petinggi dan Reve.
“Aku melihat Trempusa tadi.”
“Lalu? Kenapa kau tidak menemuinya?”
__ADS_1
Thertera pun menutup buku yang dibacanya. “Zargion malas menemuinya.”
Sang petinggi jadi terkekeh mendengarnya. “Apa hubungannya dengan tukang diam itu? Kau dan Trempusa kan saudara seperjanjian.”
“Begitu pula denganmu, Aza.” Sang pemilik rumah cuma mengangkat bahu sekilas sebagai jawaban. “Sudah dapat pesan dari Blerda?”
“Sudah.”
“Katanya Raguel akan datang.”
“Tak ada hubungannya denganku.”
“Xavier juga akan kemari.”
Langkah Aza Ergo langsung terhenti begitu mendengar nama itu. “Dia belum mati?” tanyanya sambil memiringkan wajahnya.
“Kamu—”
“Hai!” potong Arigan Arentio tiba-tiba. “Apa yang sedang kalian bicarakan? Mm?”
Tentunya petinggi empusa menatap hangat kepadanya. “Masih di sini?”
Tawa pun langsung tersembur dari sosok yang merangkulnya. “Kenapa? Kau tidak suka?”
“Aneh saja melihat rumahku jadi tempat perkumpulan.”
“Terserahlah. Aku nyaman di sini,” Arigan pun meninggalkan mereka.
Sementara Revtel, menatap tak percaya pada sosok yang ada di depannya. Tangannya terkepal erat serta dadanya bergetar hebat.
“Lho? Revtel? Senang bertemu denganmu!” kekeh laki-laki itu sambil merentangkan tangan. Tapi, sosok yang disambut cuma mendecih melihatnya, dan menimbulkan tawa Kers jadinya.
“Ayolah Revtel, duduklah di sini,” ajak sang Raja pada kakak sepupunya.
“Kau masih belum mati?” jengkel pengendali es itu pada tamu mereka.
“Sayangnya belum. Kau merindukanku ya,” Xavier pun menyandarkan tubuhnya. Menatap remeh pada sosok yang sejak dulu memang tidak begitu akur dengannya.
Sementara darah telah berserakan dari sosok Blerda Sirena. Di mana serangan Abertio wakilnya sedang menghujamnya. Pria itu telah membunuh cerberus yang dikirimkan untuknya.
“Apa kau bercanda?!” geramnya. Tangannya masih mencengkeram erat kerah baju Ratunya.
“Tuan, hamba mohon tolong hentikan, Tuan. Bagaimanapun insiden ini di luar kendali kita,” Otama mencoba melerainya.
“Di luar kendali kita? Apa kau bercanda?! Atasanmu ini seorang Raja! Dia bahkan punya kemampuan untuk memusnahkannya tanpa aba-aba. Dan sekarang, kau lihat hasilnya?! Kita kehilangan banyak bangsawan juga Tetua!”
Sontak saja dihempaskannya Blerda. Sehingga gadis itu membentur dinding dengan kasarnya. Tapi, ekspresinya tenang-tenang saja. Seolah tidak marah akan kelancangan yang dipancarkan bawahannya kepadanya.
“T-tuan,” khawatir Otama melihat Ratunya.
“Sudah selesai bicaranya? Kalau begitu silakan keluar,” ucap Blerda tiba-tiba.
“Kau,” tekan Abertio. “Jika sampai kau merencanakan sesuatu yang akan menghancurkan bangsa kita, kupastikan akan membunuhmu!”
Dan sosoknya pun pergi dari sana.
“Yang Mulia, anda baik-baik saja?!” cemas bawahannya.
“Ya. Tolong tinggalkan aku, Otama.”
“T-tapi—” ucapan anak buahnya pun terpotong karena gadis itu memamerkan tatapan dinginnya. “Baik, Yang Mulia.”
Perlahan namun pasti, senyum tipis pun terlukis di bibir Blerda. Entah apa maksudnya yang jelas raganya dihiasi kupu-kupu nan berterbangan. Tentunya hewan itu muncul dari bekas hujaman Abertio kepadanya.
Di satu sisi, dalam gelapnya malam seseorang sedang menyelinap dengan santainya. Berjalan melewati lorong-lorong yang minim cahaya.
Senyum hangat terpancar dari bibirnya sampai akhirnya sosoknya tiba di depan pintu entah milik siapa. Tanpa keraguan ia ketuk pelan di sana.
“Cih! Makhluk kurang ajar mana yang menggangguku malam-malam begini?!” jengkel sang penghuni. “Kau, mau apa kau di sini bocah sialan?”
Aza yang memamerkan tampang ramah pun melesat masuk tanpa aba-aba.
“Kau, sepertinya benar-benar minta kudidik ya,” tekan Dokter Cley melihat kelancangan tamunya.
__ADS_1
“Di mana peri Amarilis?”
“Apa kau tuli? Aku tidak tahu. Sekarang keluar dari kamarku sebelum kuhukum,” perintah sang Dokter dengan tangan menggerak-gerakan pintu. Sebagai tanda menyuruhnya keluar.
“Kalau Zeus Vortha?”
“Cih! Hanya karena nama kami sama, kau pikir aku tahu siapa dia? Kau benar-benar keras kepala.”
Sayangnya Aza tak peduli dengan ocehannya. Sorot matanya masih menatap laki-laki yang sebaya dengannya itu. Dokter Cley tak setua ocehannya. Dia masih berusia dua puluh tahun dan sebaya sang petinggi di depan mata.
“Kenapa melihatku seperti itu?” lanjutnya.
“Apa yang kau ketahui tentang kunci Reygan.
Tiba-tiba, sang Dokter membanting pintu kamarnya. Ditatap lekatnya laki-laki itu dan dihampirinya.
“Ah, Zeus Vortha. Apa karena itu kau mencarinya?”
Aza hanya tersenyum kepadanya.
“Jika kulaporkan pada bangsa-bangsa, menurutmu apa respons mereka? Kau akan tahu akibatnya.”
“Kau tahu sesuatu. Bangsa elf memang luar biasa. Tak heran mereka dimusnahkan.”
Sang pendengar hanya terkekeh karenanya. Disentuhnya dagu sosok yang setinggi dirinya. “Baiklah. Aku akan memberimu pilihan bocah. Amarilis, kunci Reygan atau tubuhmu? Aku yakin kalau kau sadar dirimu sedang sekarat.”
Tanpa memalingkan tatapannya, Aza melontarkan kata tak terduga. “Kunci Reygan.”
Seringai pun langsung tercipta di bibir Dokter Cley. “Kau yakin? Jangan bilang kau ingin membangkitkan monster itu?”
“Kuncinya.”
“Si anak Donatur, dia makhluk tanah biru. Melihat dirinya bersamamu aku jadi tahu ke mana arah kencan kalian. Kau dan dia berbau kotor sekarang.”
Aza pun menyipitkan mata karena merasa alergi mendengar istilan kencan. Tapi sosoknya akan memakluminya, kalau pria yang ada di depannya ini gila.
“Kuncinya.”
“Kau yakin? Padahal kau bisa memintaku melakukan sesuatu dengan jiwamu yang bermasalah.”
Sang petinggi terbungkam. Sorot matanya menajam, sungguh kalimat laki-laki di depan mengusik perasaan.
“Tak perlu sekaget itu,” lanjut Dokter Cley kepadanya. “Para elftraz (penyembuh) dari bangsa elf memang selalu begitu. Mata kami tidak bisa ditipu.”
“Kau mengakuinya.”
“Tentu saja. Kenapa orang jenius sepertiku harus takut? Kalian takkan bisa membantaiku,” kekehnya. Dan dirinya pun menyentuh rambut Aza sehingga sang pemuda merasa aneh saat melihatnya.
“Kalau begitu di mana kuncinya?”
“Petinggi yang tidak sabaran ya?” Dokter Cley berbalik dan duduk di sofanya. “Apa yang kau ketahui tentang kunci itu?”
“Aku tahu ada tiga belas orang yang memegangnya. Dan aku juga tahu kalau memakai kunci itu akan mengorbankan nyawa.”
Sang pendengar pun memiringkan wajahnya. “Hanya itu?”
“Tiga belas orang yang tersebar entah ke mana.”
“Jika kukatakan kuncinya, apa bayarannya?” Aza pun terdiam. “Kau tidak berpikir itu gratis kan? Informasi itu bahkan lebih berharga dari nyawa seorang Raja.”
“Dan kau mengetahuinya.”
Tentunya Cley Vortha tertawa pelan mendengarnya. “Tentu saja, karena aku cucu Zeus Vortha yang membagikan mantra pada para pemegang kuncinya.”
Terkesiap. Rahang sang petinggi pun menegang. Ia tak menyangka, informasi yang sangat dibutuhkan Reve Nel Keres ada pada orang di depannya.
“Kau—”
“Kau tak perlu repot-repot mencari dua belas orang itu. Karena kakekku mengetahui masing-masing mantranya,” balas sang Dokter dengan tampang meremehkan. “Jadi, apa bayarannya?”
Aza pun dibuat bingung sekarang. Jika Dokter aneh di depannya memang mengetahui semua kunci Reygan maka itu akan menjadi keuntungan baginya. Di mana sosoknya tak perlu lagi mencari para pemegang kunci lainnya.
Tapi apa yang bisa ia tawarkan? Dirinya berpikir keras sekarang.
__ADS_1
“Begini saja, bagaimana jika sedikit darah dari para murid yang selamat dalam Hadesia? Itu bukan bayaran yang buruk.”