Death Game

Death Game
Pertemuan di kamar Raja Hydra


__ADS_3

Sang Raja terdiam. Perlahan sosoknya berdiri dan berjalan menuju belakang sofa Blerda. Disentuhnya bahu gadis itu tiba-tiba.


“Boleh kubaca ingatanmu?”


Tapi, justru sorot mata tajam yang dilontarkan wanita itu kepadanya. Begitu Blerda Sirena menoleh, tangan rekan seperguruannya putus tanpa aba-aba.


Di mana Capricorn serta Megalodon muncul tiba-tiba dan mengarahkan senjatanya ke arah leher Hydragel Kers.


“Wah, dia memotong tanganku,” kekeh laki-laki itu melihat potongan yang mengalirkan darah di lantai kamarnya. Perlahan ia pungut penggalan tangannya dan diayunkan seperti bukan apa-apa. “Untung bukan kepalaku,” tampangnya begitu meremehkan sekarang. “Pertama kalinya aku bertemu tamu kejam sepertimu. Di mana sopan santunmu? Blerda.”


Tapi, pintu kamar mendadak terbuka dan mengalihkan perhatian keduanya.


“Wah, apa aku terlambat?” dan sosok itu pun terkekeh sambil memasuki ruangan.


“Apa-apaan ini?!” geram Revtel melihat penampakan berdarah di depannya.


Xavier yang berdiri di samping Kers bersandar di punggung sofa yang di duduki Blerda. “Aku merasakan energi aneh, tapi tak kusangka kalau itu kamu,” ucapnya dan melirik sang Ratu lewat sudut matanya.


“Sepertinya aku terlambat.”


Dan mereka pun menoleh ke arah balkon. Di mana seorang laki-laki dengan gaya rambut berantakan namun memamerkan aliran listrik di pijakan berdiri gagah di sana.


“Raguel Exon Vortha.”


Esoknya menjadi hari keberangkatan Aza dan kawan-kawan. Tanpa berpamitan pada Trempusa, mereka pergi dari kawasan empusa.


Tentunya tiga sekawan Arigan Arentio, Thertera Aszeria, serta Zargion Elgo tetap tinggal di kastil sang pengendali magma. Mengingat mereka masih dilabeli sebagai pengkhianat akibat insiden cerberus sebelumnya.


“Menurutmu, mereka akan ke mana?” tanya Arigan pada Zargion. Tapi laki-laki itu hanya meliriknya. Dan berlalu begitu saja sehingga menimbulkan jengkel sang penanya. “Dasar ghoul sialan.”


“Dia empusa.”


“Aku juga tahu itu,” kesal Arigan akibat Thertera menyelanya.


“Lalu kenapa kamu sebut dia ghoul?”


“Kan dia pengendali ghoul! Ah sudahlah, memang susah bicara dengan orang plin plan sepertimu. Jadi menurutmu mereka akan ke mana?”


 Thertera terdiam sejenak. Perlahan menghela napas kasar dan mengedarkan pandangan. “Entahlah.”


“Dia kan rekanmu, masa kamu tidak tahu?”


“Itu tak ada hubungannya dengan aku tahu atau tidak dia mau ke mana.”


Arigan yang punya tingkat ingin tahu level tinggi itu semakin geram mendengar ocehan Thertera.


Di satu sisi, kelompok Aza Ergo yang sudah melewati perjalanan lumayan jauh akhirnya sampai di depan pintu masuk kawasan Hadesia. Gerbang penyambutan dengan pemandangan luar biasa di depan sana. Di mana di antara jalanan panjang di tengahnya di hiasi kolam magma berair dangkal serta daratan es di kiri kanannya.

__ADS_1


Begitulah lukisan jalan masuk kawasan pelatihan dingin yang tinggal nama.


“Ini,” gumam Reve melirik ke arah cairan magma. “Mirip dengan kemampuanmu.”


“Begitulah,” jawab santai Aza seolah tak tertarik.


“Apa jalan ini aman?” Doxia tampak gugup melewatinya. Mengingat di kirinya magma di kanannya es.


“Sepertinya aman. Lagi pula jalanan ini tidak hancur walau diapit begini,” Rexcel menimpalinya.


“Jangan sentuh es nya,” sela Aza tiba-tiba sambil menoleh ke belakang. Sehingga mengejutkan Toz yang hampir menyentuh dedaunan beku itu. “Atau kau akan mati,” lanjutnya namun terus berjalan.


Toz pun langsung meneguk ludah kasar. “Bagaimana dia tahu kalau aku akan menyentuhnya? Padahal Tuan Aza jalan di depan,” bisiknya pada Riz. Tapi rekannya hanya mengangkat bahu sekilas sebagai jawaban.


“Dari cerita yang kudengar, ini terjadi karena ulah anda dan juga Tuan Revtel dari hydra. Apa itu benar?” tanya Rexcel Sirenca.


Aza hanya meliriknya sekilas. “Tidak juga,” sahutnya apa adanya.


“Tapi pemandangannya cukup mengerikan. Mm? Tengkorak?” langkah Reve terhenti karena mendapati penampakan aneh di atas pohon.


Unik sebenarnya, walau tanah sudah ditutupi cairan magma tapi ada beberapa pepohonan di area kiri yang masih berdiri kokoh. Dan tentunya sebuah salib dihiasi tengkorak ada di atas salah satu dahan di sana.


“Tengkorak?!” kaget Doxia, Riz dan Toz bersamaan.


“Abaikan. Tujuan kita bukan untuk melihat-lihat ini,” Aza membuyarkan pandangan mereka.


Tanpa basa basi sang petinggi melirik ke sebuah makam yang masih bagus kondisinya. Di dekati sambil mengusap nisan bertuliskan L.A.E di sana.


“Makam siapa?”


“Kakakku,” ia menjawab pertanyaan Riz tanpa keraguan.


Semuanya pun tersentak dan terdiam. Tiba-tiba Horusca mengulurkan sekuntum bunga mawar putih yang entah muncul dari mana.   


“Siapa namanya?” tanyanya dan menaruh bunga itu di dekat nisan.


“Laravell Axadion Ergo.”


“Woah, nama yang bagus,” puji Doxia.


Aza hanya tersenyum mendengarnya. Dan berlalu dari sana memasuki asrama. “Kita istirahat di sini dulu, besok baru ke tanah Kaspera.”


Tapi semua pemandangan di dalam asrama masih sama. Tak peduli berapa lama waktu berlalu, bahkan jika bangunan retak namun masih layak di huni.


Di sinilah mereka. Di dalam ruangan asrama akhir yang menjadi saksi hidup singkat Aza di Hadesia. Entah kenapa tak ada sedikit pun debu di sana. Aneh sebenarnya namun sang petinggi tidak begitu ingin memikirkannya.


Bagaimanapun juga ia sudah lelah berjalan jauh sebenarnya.

__ADS_1


Dan di istana bangsa hydra, beberapa murid yang terikat perjanjian persaudaraan berkumpul di kamar sang Raja.


“Mau sampai kapan kalian di sini?” keluh Revtel melihatnya.


Raguel tertawa, sementara Xavier Lucifero dan Kers sibuk mengunyah di sana. Berbeda dengan dua orang lagi yang memamerkan rupa tenangnya.


“Hei! Apa kalian tuli? Sebenarnya mau apa kalian di sini? Cepat pulang ke rumah kalian masing-masing!” jengkel Wakil Raja hydra.


“Ayolah Pangeran. Kapan lagi kita berkumpul seperti ini? Nikmati saja sebelum kami berkeliaran lagi,” gurau Xavier sambil menggerakkan apel di tangannya.


Suara decihan pun terlontar dari Revtel yang jelas tak menyukai kehadiran mereka.


“Blerda. Kau Raja, lebih baik kau kembali ke tanahmu sebelum siren berteriak kehilangan,” suruhnya.


Tapi cuma lirikan yang dipamerkan wanita itu sambil membaca buku di tangannya. Di satu sisi laki-laki berkulit eksotis hanya memandang tenang tanpa bersuara.


“Benar juga, apa tak ada darah? Tuan Lascarzio pasti kelaparan melihat kita makan,” sela Xavier tiba-tiba.


“Kamu bisa sodorkan lehermu untuk di hisapnya.”


Ocehan Kers yang diiringi tawa pelan itu ditanggapi dengan tampang malas sosok di depannya.


“Lascarzio, apa kamu lapar? Xavier sepertinya bersedia membiarkan darahnya dimakan olehmu.” Sekarang Raguel yang bersuara.


Laki-laki dracula di seberang Blerda hanya memiringkan wajah sebagai balasan padanya.


“Hei, kau bukan Zargion Elgo jadi bersuaralah,” cerca Xavier yang jengah karena orang itu hanya diam saja. “Dan kau Blerda, kenapa kau di sini kalau kerjamu hanya membaca buku? Kita sudah lama tidak bertemu jadi ayo ikut berbincang,” ucapnya sambil menoleh ke belakang.


Tapi sang Ratu yang duduk di atas sofa dekat ranjang memilih mengabaikannya.


“Lihatlah. Dia memang seenaknya. Sama seperti insiden cerberus itu,” Xavier tampak mencibirnya.


“Bukankah karena Blerda banyak Tetua dan bangsawan yang mati? Kupikir kita harus berterima kasih.”


Kalimat Raguel itu justru menyentak Revtel yang masih berdiri sambil bersandar pada dinding dekat pintu masuk. Entah kenapa raut mukanya menegang dan tampak menyeramkan.


Hal itu pun disadari Lascarzio serta Kers yang bersikap cuek pada sekelilingnya.


“Apakah itu hal yang harus disyukuri?” Revtel menyela tiba-tiba. Ucapannya berhasil membuat para penghuni di ruangan Kers meliriknya. “Bangsa-bangsa kehilangan orang-orang berharga mereka.”


“Itu lagi,” Kers menghela napas pelan karena lelah mendengarnya.


“Tak peduli apa yang sudah dilakukan mereka, para Tetua dan bangsawan merupakan rakyat yang seharusnya dilindungi. Apa aku salah?”


Akan tetapi, selesai mengatakan itu justru tawa pelan yang tersembur dari bibir Blerda Sirena.


“Kita memang tidak sepaham. Mau saling bunuh denganku? Pangeran,” tantang Blerda dengan buku hampir menutupi separuh wajahnya.

__ADS_1


 


__ADS_2