Death Game

Death Game
Bukit Kristal


__ADS_3

Hari terakhir yang dinantikan pun tiba. Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya tiga jam lagi Toz dan Reve akan sampai di pintu masuk kawasan bukit Kristal.


Dari tebing tempat mereka berdiri sekarang, sudah terlihat kawasan kota yang sekelilingnya ditutupi kristal putih tinggi menjulang.


“Hah ... hah ... hah ... akhirnya kita sampai juga. Tapi itu masih jauh,” napas Toz terengah-engah menatap kilauan cahaya dari pemukiman yang masih jauh di depannya. “Apa kita akan istirahat dulu?”


“Ya,” Reve pun berjalan sambil menghentak-hentakan kaki ke tanah pinggir tebing.


“Apa yang kamu lakukan?”


“Kita akan menuruninya.”


“Tapi ini curam, kita bisa mati!” tentang Toz padanya.


Reve berbalik dan menatapnya, “pegang aku.”


“Hah? Maksudmu?”


Reve pun mendekat dan meraih pinggang Toz. “Hei, kamu mau apa pegang-pegang tubuhku?!” pekik Toz.


“Aku juga tak sudi menyentuhmu bodoh. Kita akan melompat, jadi jangan teriak atau kau akan mati.”


“Tu-tunggu! Ap-” mulut Toz langsung ditutup Near yang melilit kepalanya. Tanpa aba-aba, Reve memegang erat pinggang Toz dan mereka berdua melompat ke bawah. Ingin rasanya berteriak, sensasi jatuh ke bawah membuat Toz menangis tanpa bisa apa-apa.


“Mati! Kita akan mati! Kita akan mati! Ayah ibu ... maafkan aku sudah menjadi anak tak berguna!” batin Toz berdoa di balik sapuan angin kencang yang menyelimuti kejatuhannya.


“Nigel (muncullah),” ucap Reve tiba-tiba.


Tak disangka, puluhan senjata mengudara muncul di bawah kaki mereka membentuk piringan.


“Kraang!” kaki Toz dan Reve langsung mendarat di atas piringan senjata yang mengambang.


Sampai akhirnya piringan itu jatuh ke bawah karena beban berat yang menimpanya. Sekitar satu meter di atas permukaan tanah, senjata itu berhenti jatuh dan berhasil menahan keduanya agar tak mencium dasar jurang yang agak kelam.


“Ku-ku-kupikir kita akan mati,” gumam Toz sambil diselimuti keringat gugup.


Reve langsung mendorong bocah itu jatuh ke bawah sehingga Toz tersungkur ke tanah.


“Apa yang kau lakukan bodoh?! Kau ingin membunuhku?!” umpat Toz.


“Cih, aku sudah menolongmu,” tanggap Reve dengan ekspresi santai. Ia masih berdiri di atas piringan senjata yang mengambang di udara.


“He-hebat,” Toz terpana melihatnya. Perlahan piringan itu turun dan senjatanya menghilang satu-persatu sampai akhirnya Reve menapaki tanah. “Itu kemampuanmu? Padahal kupikir kita akan mati, tak kusangka kamu bisa terbang.”


“Terbang? Ini hanya kebetulan senjataku bisa melayang,” Reve bertampang meledek.


“Luar biasa sekali, apa assandia (petarung) memang bisa mengeluarkan banyak senjata?”


“Tidak juga, hanya aku yang bisa melakukannya.”


“Benarkah?”


“Ya, karena aku sangat istimewa,” ucap Reve sambil melangkah ke arah di mana posisi bukit Kristal berada.


“Cih, sombong!” batin Toz jengkel. “Bukankah kita akan beristirahat?”


“Ya, kita akan istirahat setelah menemukan pohon yang cukup menarik.”


“Hah ... baiklah,” Toz mengikuti langkahnya.


Satu jam kemudian mereka menemukan pohon yang dimaksud. Beristirahat di sana, sambil menatap pemandangan langit malam yang dipenuhi bintang-bintang. Dua buah bulan besar tampak memancarkan sinarnya, mencoba bercerita kalau merekalah penguasa sesungguhnya.


“Apakah gerbangku akan terbuka?” lirih Toz tiba-tiba.


“Kenapa kau mengatakan itu?”


“Karena aku penasaran, apakah aku bisa mendapatkan kekuatan begitu datang ke tempat baru.”


Tak ada jawaban dari Reve, karena itu adalah ketentuan dari dunia Guide. Sebesar apa pun harapan seseorang, belum tentu angan sesuai takdir yang dilukiskan. Bahkan jika kita sangat menginginkannya, nasib hanya akan tertawa dan tetap pada pendirian.


Waktu istirahat mulai mencapai tahap akhir. Akan tetapi, pandangan Toz masih tak teralihkan dari langit malam yang menyapanya.


“Ayo kita turun!” ajak Reve.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan yang lebih merepotkan, di mana tanah pijakan bergelombang dan licin akibat aliran air sungai meluap.


“Uuh ... aku tidak suka ini,” keluh Toz.


Sesekali ia melirik pada ular di leher Reve.


“Reve,” panggil Toz.


“Mmm ....”


“Setelah sampai di bukit Kristal, apa yang akan kita lakukan?”


“Menemukan pembuat kaca.”


“Pembuat kaca, aku jadi penasaran orang seperti apa itu,” gumam Toz.


Dengan kaki yang basah, mereka akhirnya sampai di jalan menuju gerbang masuk bukit Kristal. Di depan, tampak tangga raksasa yang terbuat dari kristal mengarah ke pintu gerbang.


“Wah ... indah sekali,” Toz menatap terpana.


“Ayo,” ajak Reve.

__ADS_1


Mereka berdua pun menapaki jalanan menuju tangga.


“Kita seperti berada di dunia lain.”


“Kita memang di dunia lain,” jawab Reve berwajah malas.


Begitu sampai di depan gerbang, tampak dua raksasa menutup jalan masuk dengan tombak besarnya. “Siapa kalian!”


“Guider dan calon guider,” ucap Reve sedikit mendongak.


“Apa tujuan kalian datang kemari?”


“Kami ingin menjelajahi bukit Kristal.”


“Silakan melewatinya,” kedua raksasa itu memberi jalan dengan menarik senjata ke sisi kanan dan kiri tubuhnya. Sehingga memunculkan kaca di antara senjata yang saling bertumpu ke lantai kristal.


“Ayo,” Reve mengangguk pada Toz. Tanpa ragu, keduanya memasuki jalan kaca yang membuat langkah pertama merasakan debaran jantung luar biasa.


“Apa yang barusan itu?” tanya Toz menoleh ke belakang. Mereka baru saja melewatinya namun tak terjadi apa-apa.


“Entahlah, mungkin itu tanda bahwa kita sudah menjadi salah satu penghuni tempat ini.”


Akan tetapi, pemandangan yang menanti mereka di depan mata sangatlah luat biasa. Beberapa jalan kaca mengambang di langit-langit, membuat tempat itu tampak seperti kota di dalam dongeng.


Banyak orang yang berkeliaran di sana, bahkan juga ada binatang di sekelilingnya. Tapi mereka tampak acuh tak acuh satu sama lainnya.


“Ini benar-benar luar biasa,” mata Toz tak henti-hentinya terpana.


Ia mengikuti langkah kaki Reve berjalan ke arah kiri, di mana banyak bangunan menjulang tinggi yang terbuat dari kristal di sana.


Semakin melangkah semakin Toz tak bisa menghentikan aliran kepalanya yang melirik ke sana kemari. Tapi pijakannya melambat saat Reve memasuki salah satu gang kecil yang cukup sepi.


“Reve?” panggil Toz namun tak diacuhkan.


Mereka semakin jauh memasukinya, sampai akhirnya dinding bangunan yang menemani mereka sekarang terbuat dari kristal hitam seluruhnya.


“Bukankah tempat ini terlalu sepi?”


“Ya, memang ini tujuan kita,” lanjut Reve.


Tiba-tiba Toz berkedip beberapa kali saat menyadari Near sang ular sudah tak ada di leher Reve.


“Ke mana ular itu?” batin Toz bergumam.


Kaki Reve akhirnya terhenti di sebuah tempat yang tampak seperti bar kecil. Hiruk-pikuk suara cukup memecah di dalamnya, menandakan banyak penghuni di sana.


“Ayo masuk.”


“Tapi, tempat ini kan-” Toz tak bisa melanjutkan ucapannya karena Reve sudah terlanjur masuk ke dalam.


“Apa pesananmu Nak?” tanya pelayan bar.


“Bisa siapkan kami makanan dan minuman?” pinta Reve sopan.


“Baiklah, apakah kau ingin yang memabukkan?”


“Tidak, aku ingin yang normal saja untuk dua orang,” ucap Reve.


Lalu ia dan Toz beranjak menuju salah satu meja kosong di pinggir jendela jauh dari pintu masuk.


“Kita makan di sini? Nanti bayar pakai apa?” bisik Toz.


“Aku punya uang,” Reve menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi.


Toz sedikit risih karena ada beberapa mata yang memandang ke arah mereka berdua. Bahkan ada orang yang rupanya mirip monster ikut meliriknya.


Sesekali ia curi-curi pandang ke wajah Reve yang tampak kelelahan sambil menatap langit-langit bar.


Sekitar 15 menit kemudian, pesanan Reve akhirnya datang. Tampak dua porsi ayam goreng jumbo menggugah selera berpose indah di atas piring. Dua gelas minuman dengan hiasan jeruk di atasnya juga ikut menemani mereka.


“Ayo makan, setelah ini kita akan mencari penginapan,” lirih Reve mulai melahap paha ayam di tangannya.


Tanpa buang-buang waktu lagi, Toz juga ikut menyantap ayam dengan lahap. Sedikit senyum, tersungging di bibir Toz karena ini pertama kalinya ia memakan makanan yang normal dan lezat. Walau sebenarnya ia penasaran kenapa bar itu menyajikan ayam goreng.


“Hei! Apa kau akan ikut sayembara?!” tanya seseorang di dalam bar pada rekannya.


“Entahlah, memang apa hadiahnya?”


“Kudengar itu darah salamander dan air mata peri, bukankah hadiahnya sangat menarik?”


“Ya, tapi yang ikut serta pasti lebih menarik.”


“Kudengar petinggi siren juga hadir.”


“Benarkah? Apakah dia juga ikut serta? Kalau iya, harapan menang kita takkan tersisa.”


“Cih, kenapa petinggi-petinggi itu selalu muncul saat sayembara? Kita juga ingin mendapatkan hadiahnya,” gerutu orang itu.


“Tapi, sepertinya bulan ini sayembaranya cukup menegangkan,” timpal pelayan bar.


“Menegangkan? Kenapa?”


“Apa kau tidak dengar berita tentang hydra?” tanya pelayan itu.


Mendengar nama hydra, mulut Toz langsung tertahan saat melahap makanan.

__ADS_1


“Hydra?” Kenapa dengan bangsa itu?”


“Salah satu prajurit mereka mati mengenaskan saat berburu,” timpal seseorang yang bertubuh tinggi berkulit coklat. Ada tato bermotif bunga aneh di tangannya.


“Benarkah? Bukankah mati itu hal yang wajar?”


“Wajar? Apakah mati saat berburu di tanah sendiri benar-benar hal yang wajar?” tanya pria bertato aneh itu.


“Di tanah sendiri?”


“Ya! Kudengar yang mati adalah assandia (petarung) level komandan. Kondisi mayatnya sangat mengerikan,” jelas pelayan bar. “Dan berita itu cukup menghebohkan, karena salah satu petinggi mengirimkan utusan untuk mencari pengacau di masing-masing tanah.”


“Tak kusangka, padahal yang mati hanya bawahan, tapi tindakan mereka seperti kehilangan bangsawan.”


“Mungkin ini ada hubungannya dengan isu-isu pengkhianatan salah satu bangsa.”


“Apa maksudmu?” tanya orang itu pada pria bertato.


“Apa kau tidak tahu? Kabarnya, ada salah satu bangsa yang sedang bersiap untuk memicu perang,” jelas pria bertato dengan sedikit berbisik. “Mungkin saja pembunuhan salah satu hydra adalah langkah awalnya.”


Toz tak bisa berkata-kata, bahkan ayam yang awalnya lezat mulai aneh rasanya. “Tidak habis?” tanya Reve menyadarinya.


“I-itu.”


“Tunggu di dekat pintu, aku akan membayarnya terlebih dahulu,” Reve membawa dua buah piring saji berisi ayam yang belum habis setengah ke meja bar di mana pelayan sedang sibuk bergosip dengan pengunjung tadi.


“Tolong bungkuskan ini,” pinta Reve pada pelayan itu. “Maaf, tapi di manakah aku bisa menemukan penginapan di sekitar sini?”


“Penginapan? Jika mau, pergilah ke belakang bar. Telusuri jalannya, dan kau akan menemukan sebuah pintu yang terbuat dari kristal merah. Di sana ada penginapan yang cukup ramai pengunjungnya.”


“Terima kasih,” ujar Reve.


Pelayan itu lalu menyodorkan bungkusan berisi ayam goreng tadi pada Reve. “Semua dua keping emas,” jelas pelayan sekaligus pemilik bar meminta bayaran.


Reve mengambil sesuatu dari sakunya, lalu menyerahkan dua keping koin emas pada orang itu. “Oh ya anak baru. Berhati-hatilah, karena di tempat ini banyak mata gelap,” tukas pelayan bar memberi peringatan.


“Mata gelap?”


“Ya, pemburu yang akan menghabisi harta dan juga nyawa orang baru di kota ini.”


“Terdengar seperti perampok.”


“Mereka bukan perampok, mereka pemuja. Semua tumbal akan dipersembahkan pada dewa demi keabadiannya,” potong pria bertato.


“Ooh, menarik sekali,” Reve tersenyum tipis. “Terima kasih atas peringatannya, aku akan selalu mengingatnya,” ia pun pergi meninggalkan mereka.


“Ayo kita pergi,” ajak Reve pada Toz yang sudah cukup lama menunggunya.


“Kita akan ke mana?”


“Penginapan, aku sudah tahu di mana tempatnya,” Reve menyentuh dinding yang memagari jalan. Gang menuju ke belakang bar itu cukup panjang dan sepi, hanya ada satu lentera yang tertancap di dinding pembatas sebelah kiri.


“Kenapa daerah ini terasa mengerikan sekali?” gumam Toz.


“Ya, sampai-sampai mengizinkan perampok untuk menjarah anak baru seperti kita,” kalimat Reve membungkam Toz. Ia berhenti dan menoleh ke belakang. “Apa ada yang kalian butuhkan dari kami?” perkataan Reve memecah keheningan jalan.


Tak ada jawaban, membuat Reve menyunggingkan senyum hangatnya. “Ini perampok yang dikatakan pemilik bar? Lebih seperti gelandangan di tengah malam,” sindir Reve dengan sarkasnya.


Tubuh Toz bergetar hebat, begitu melihat tiga sosok tubuh yang lebih tinggi darinya dan Reve muncul di depan. Tak hanya itu, ternyata ada satu lagi di belakang mereka, membuat keduanya terkepung dan tak bisa ke mana-mana.


“Bukankah kalian orang yang ada di bar tadi? Aku yakin sudah melihat wajah itu di pojokan,” sela Reve dengan santainya. Membuat tubuh sosok tak diundang sedikit tersentak kaget karena mendengarnya.


“Tak kusangka, kau bisa mengenali kami. Padahal wajah kami sudah ditutupi sedalam ini," kilah salah satu dari mereka sambil menarik penutup kepala agar menutupi seluruh wajahnya.


“Jika tak ingin ketahuan, hancurkan saja wajah itu. Mudahkan?” Reve berekspresi dengan mengangkat tangan kanan yang memegang bungkusan ayam goreng.


“Sepertinya kau cukup hebat sampai bisa bersikap sombong,” sela seseorang di belakang mereka.


Toz tak bisa apa-apa, kecuali membiarkan keringat dingin membasahi kulitnya. Bahkan suara cerewetnya tak mau menari di saat seperti ini.


“Bagaimana bisa Reve sesantai ini? Apa ia tidak takut pada mereka?” suara batin Toz yang gugup.


“Tidak perlu banyak bicara, apa mau kalian?” tanya Reve akhirnya.


“Harta dan juga jantung kalian.”


“Hah?” Reve memiringkan wajahnya. “Untuk apa?”


“Untuk dewa.”


“Dewa yang entah di mana ya,” seringai Reve melebar.


Suasana menjadi hening. Tiba-tiba, empat orang yang mengurung mereka mengeluarkan senjata berupa pisau dan jarum. “Apa itu?” Reve memandang lekat jarum di tangan mereka.


“Reve, se-sepertinya situasi kita cukup buruk.”


“Kenapa? Kau takut?” tanya Reve berwajah tenang.


Toz tak menjawabnya, karena suara langkah orang di belakang mereka mendekat.


“Tenang saja, bukankah sudah kubilang? Kalau aku ini sangat hebat,” Reve tersenyum sinis. “Near, saatnya berburu,” gumamnya pelan.


Tiba-tiba semuanya sunyi, langkah pijakan keempat orang yang hendak menyerang tanpa menarik perhatian tak lagi terdengar.


Tak ada rintihan, tak ada tangisan, tapi keempat penyerang itu tumbang dalam keadaan yang sangat mengerikan. Kaki Toz membatu tak bisa apa-apa, karena pemandangan secepat kilat yang terjadi tepat di depan matanya.

__ADS_1


Near, ular itu muncul tiba-tiba di depan Toz sambil melilit empat jantung para lawan yang sudah tak bernyawa di sekeliling mereka.


__ADS_2