
“Tidak masalah jika kalian tak ingin memberi tahukannya. Tapi, jika kalian mati bukankah aku tidak perlu cemas lagi?”
“Dia gila?” Aza Ergo tersenyum.
Reve mulai waspada. Tekanan yang diberikan laki-laki itu, jelas tak sama seperti orang-orang sebelumnya.
“Maafkan aku Nak. Tapi kalian harus mati,” Izanami mengangkat tangannya ke arah mereka.
Ketiga pemuda itu langsung memasang kuda-kuda waspada akan Izanami Forseti yang masih mengelilinginya.
“Agh!” erang seseorang tiba-tiba. Reve dan Aza mendelik kaget begitu menyadari apa yang terjadi.
Riz, mulut dan tubuhnya mulai berlumuran darah. Sosok yang dicari, berdiri di belakang mereka sambil melubangi perut sang pemuda secara tiba-tiba.
“Riz!” sontak Reve langsung menyerang laki-laki di belakang pemuda itu. Izanami berhasil menghindar dengan cepatnya dan kembali ke posisi semulanya. Perlahan, langkahnya kembali memutari mereka.
“Re-ve,” ucap Riz terbata-bata.
“Kau!” geram Aza Ergo.
Akan tetapi, hembusan angin kasar seketika menyapu mereka yang membuat suasana hati semakin buruk.
“Ah, tak kusangka Caprio akan datang kemari. Jadi, apa yang harus kulakukan?” seringai tipisnya.
Reve pun menatap dinginnya sambil tetap menekan lubang besar di tubuh Riz yang terus mengalirkan darah. “Aku akan membunuhmu.”
“Apa kau gila? Kita butuh dia!”
Reve tak mengacuhkan kalimat Aza, “Near, kemarilah,” perintahnya pada ular black mamba yang muncul dari semak-semak. “Bawa Riz pada Horusca. Kau paham?” nadanya begitu menekan.
“Ingin melarikan diri? Tak ada satu pun yang bisa pergi kecuali mayat kalian.” Tangan Izanami kembali terangkat ke arah mereka.
“Kau!” geram Reve langsung membangkitkan banyak pedang mengudara di sekitar mereka. Aza Ergo terdiam, dirinya lebih memilih menatap ketegangan di sekitarnya. Terlebih karena ini pertama kalinya ia melihat Reve Nel Keres sedingin itu.
Dan seketika, sang black mamba membuka mulutnya lebar-lebar lalu melahap Riz Alea bulat-bulat di depan mata kedua orang tersebut. “Ular itu,” lirih Izanami Forseti.
“Pergilah Near.”
“Kau pikir aku akan membiarkannya?” telapak tangan Izanami yang terarah tiba-tiba melukiskan tulisan kuno.
“Dasar!” umpat Aza Ergo. Jentikan jarinya spontan memunculkan dinding magma di sekitar lawan. “Lari ular bodoh!”
Sontak Near sang peliharaan lari tunggang langgang ke dalam semak belukar bersamaan dengan meleburnya dinding magma Aza Ergo.
__ADS_1
“Tak masalah. Aku sudah mengutuknya, jadi bocah itu pasti mati.”
“Kau,” Reve mengambil salah satu pedang yang mengambang dan menyerang Izanami secara berantakan namun mengerikan. Pola tebasannya yang serampangan mewakilkan kalau dirinya cukup ahli sebagai pemain pedang.
“Assandia langka? (Petarung langka?) Cukup menarik karena melihatnya langsung,” sahut Izanami sambil menghindarinya. Namun, tangan yang masih terarah pada Reve belum diturunkan.
El rugit de l’espasa plou! (Raungan hujan pedang!)” teriak Reve yang membuat seluruh senjata mengambangnya memburu Izanami bak hujan.
“Nigel! (Muncullah!)” Tulisan kuno di telapak tangan sang pengetahui kunci Reygan itu langsung membelah kulitnya dan memunculkan darah yang berubah jadi pedang. Ditepisnya seluruh senjata Reve dengan cepat seolah tidak ada apa-apanya. Spontan pedang-pedang yang terlempar berserakan itu menguap jadi debu.
Kedua pemuda itu terdiam melihat kegagalan serangan dari jurus aneh miliknya. “Dia tidak memakai cincin. Apa-apaan kemampuannya itu?” Aza Ergo menyapu pandangan pada tubuh Izanami.
Akan tetapi, angin ribut menghantam mereka dengan kemunculan sosok tak terduga. “Izanami!” teriaknya begitu kakinya menginjak tanah di area pertarungan.
“Caprio, kamu akhirnya datang.”
“Sudah kuduga. Musuh?!” tekan pria berambut pirang yang berbandana. Penampilannya sangat mengejutkan, rupa manusia, namun rambutnya mirip surai singa. Taring panjang di wajah dan mata mirip binatang itu memperlihatkan pesona mengerikannya.
“Scodeaz (Pengendali)” lirih Aza Ergo.
“Persetan. Bunuh saja mereka,” ucap Reve akhirnya.
“Kau yakin? Itu berar—”
“Aku tak peduli. Hanya karena keinginanku, bukan berarti aku akan menginjak nyawa temanku.”
“Anak baik,” sindir Izanami.
“Aku tak tahu apa yang terjadi, tapi aku tak suka nada bicaramu!” kesal Caprio.
“Jadi, mau yang mana?”
“Tentu saja keparat itu,” Reve melangkah menghampiri Izanami dengan senyum manisnya.
“Keras kepala,” pedang darah itu langsung ditebaskan ke kepala Reve. Tapi, pedang sang pemuda muncul seketika dan mengambang di udara melindungi dirinya.
“Assandia? (Petarung?)”
“Ya. Tapi sayangnya lawanmu itu aku,” Aza Ergo mengibaskan rambutnya.
“Sebagai petinggi kau cukup mencolok.”
“Benarkah? Terima kasih. Aku memang tampan di kalangan para petinggi.”
__ADS_1
“Bocah sombong!” Caprio langsung menyerang petinggi empusa itu dengan cakarnya. Akan tetapi, dinding magma muncul tiba-tiba untuk melindunginya. “Aku sudah dengar tentang kemampuanmu. Bocah jenius yang gila. Jadi, bagaimana rasanya menjadi adik seperguruan dari pemimpin hydra?”
“Buruk. Karena aku membenci mereka,” sambil menyentuh dinding magma tanpa merasakan sakit sama sekali.
“Revtel kah.”
“Keparat itu memang terkenal ya,” Aza Ergo pun meniup telapak tangannya. Tak disangka, tiupan itu langsung memuntahkan percikan magma yang membesar dari tangannya. Bergerak cepat seperti tornado lalu berubah menjadi siluman singa sebesar aslinya.
“Sepertinya kau menyukai lelucon,” tukas Caprio dingin.
Mendengarnya, Aza Ergo pun mengukir senyum manis di bibirnya. “Ya. Tapi aku lebih suka melawan musuh yang sepadan. Bukankah singa ini mirip denganmu?” sambil mengelus pelannya.
“Dasar keparat!” teriak Caprio hendak menyerangnya. Akan tetapi, justru singa itu yang terpukul oleh serangan tinjunya. Membuat tubuh makhluk itu hancur namun utuh lagi.
“Menarilah wahai scodeaz (pengendali)” ucapnya sambil berdiri dengan angkuhnya. Tapi, hal tak terduga justru terjadi padanya. “Ugh!” erang Aza Ergo tiba-tiba. Di tatapnya ke belakang, sebuah pedang darah yang panjang sudah menusuk punggung dan menembus dadanya.
“Kau lengah Nak,” sela Izanami Forseti dengan senyum mengembang. Dicabutnya pedang panjang yang hampir empat meter itu lalu menguap secara perlahan.
Aza Ergo terdiam sambil menyentuh dadanya yang berlumuran darah. Singa dari magma miliknya seketika memudar begitu tubuhnya menerima serangan tadi.
“Reve,” gumamnya melihat pemuda itu tergeletak sekarat dengan dada berlubang dan tangan yang patah.
“Memang bukan tandinganku ya,” sindir Izanami.
Seketika, pandangan Aza Ergo memudar terlebih ada sensasi aneh muncul dari luka di dadanya.
“Sayang sekali. Sepertinya ini akan menjadi hari penuh duka bagi empusa karena kehilangan petinggi gilanya,” Caprio menyeringai.
“Kupikir juga begitu,” Aza Ergo menyeringai. Dipegangnya kepalanya yang mulai menghilang kesadarannya. Rasa sakit di dada begitu menyiksanya, namun posisi dirinya benar-benar di luar perkiraannya. “Sayang sekali. Ini, benar-benar buruk.”
“Kau benar,” Izanami perlahan berjalan mendekatinya.
“Abteriov (terbukalah)”
Ekspresi Izanami Forseti dan Caprio berubah mndengar gumaman Aza Ergo. “Kau!” pria berbandana itu menatap tajam.
“Hexlama! (Kutukan kegelapan!)” seketika tato aneh menyeruak di wajah Aza Ergo lalu meledakkannya.
“Sial!” pekik Caprio menyadari kecerobohan mereka.
Asap panas menyeruak di hutan dan melelehkan pohon-pohon yang disentuhnya. Izanami spontan menebas asap tersebut dengan pedang darahnya yang muncul tiba-tiba. Begitu pula Caprio, memukul kasar gumpalan gelap itu agar tidak mengenai kulitnya.
Akan tetapi, pemandangan mengerikan justru menyambut mereka. Tak tampaknya sosok Aza Ergo, melainkan monster aneh di depan mata dengan tubuh penuh retakan merah seperti gumpalan bara membara terlihat lewat celah-celah itu.
__ADS_1