Death Game

Death Game
Lima pasukan pemburu


__ADS_3

“Perutku? Tentu saja perutku terbuat dari darah suci bangsa hydra.”


Perkataan Kers pun mengundang tatapan jijik dari Heksar Chimeral. Entah kenapa, mereka sangat sulit berdamai sehingga pak tua toko antik geleng-geleng kepala.


“Aku juga merekomendasikan Tuan Aza. Serta Tuan Beltelgeuse sebagai pemimpin selanjutnya.”


Pernyataan Noa Krucoa, dibalas anggukkan oleh para petinggi manusia.


“Setuju. Aku juga akan bergabung dengan kelompok Tuan Beltelgeuse jika diizinkan,” Gandari bersuara.


“Aku tetap menolaknya.” Sanggahan Aza Ergo benar-benar mengundang lirikan heran beberapa orang. “Aku takkan pergi bersama siapa pun karena masih dalam masa pemulihan. Kalaupun di haruskan, lebih baik aku pergi sendiri sehingga takkan menjadi beban, tidak masalah kan?”


“Sendiri?”


Revtel menyelanya. Terlihat sorot matanya tak menampilkan keramahan pada pemuda di hadapannya. Seolah ada sensasi dingin bertebaran di sana setiap wakil Raja hydra itu berbicara.


“Ya.”


“Aza Ergo. Entah kenapa, pernyataanmu itu membuatku curiga. Jika kemampuanmu memang bermasalah, bukankah lebih baik kalau kau pergi bersama? Setidaknya ada orang lain yang bisa membantumu dalam perjalanan.”


Sontak saja, orang-orang terkesiap. Jujur mereka juga heran kenapa petinggi muda itu kukuh untuk jalan-jalan sendirian. Mengingat situasi di dunia Guide setelah insiden ini mungkin saja takkan semulus yang dibayangkan.


Akan tetapi, memang Aza Ergo namanya. Petinggi paling menyebalkan yang pernah ada, melukiskan ekspresi meremehkan pada lawan bicaranya.


“Terserah apa katamu, Tuan Revtel. Aku tidak butuh ocehanmu dalam langkahku,” sindiran Aza yang disertai tawa pelan pun langsung menusuk kesadaran sosok di depannya.


“Kau—”


“Biarkan saja,” sela Kers tiba-tiba. “Lakukan saja sesukamu, Aza. Tapi jika kau mati sia-sia, akan kukirimkan karangan bunga sebagai hadiah perpisahan kita nantinya.”


“Terima kasih,” pengendali magma itu tampak tersenyum puas akan dukungan dari Kers.


Walau nyatanya, ada beberapa orang yang masih menaruh curiga akan hubungan mereka.


Akhirnya, setelah melakukan perundingan yang panjang, kelompok pemburu pun terbentuk di sana.


Pasukan pertama, ada di bawah kepemimpinan Hanzo sang petinggi chimera. Dan Estes dari empusa serta Hayato Sarutobi sosok dracula, bersama dengannya.

__ADS_1


Di kelompok kedua, dipimpin oleh Beltelgeuse Orion yang diikuti Gandari dari bangsa manusia, serta Hea Alcendia sang petinggi muda hydra.


Logan Centrio yang merupakan petinggi dracula pun memimpin pasukan ketiga, diiringi Reoa Attia serta Libra Septor sebagai anggota kelompoknya. Walau tadinya, Libra tidak akan diikut sertakan, tapi wanita itu memohon untuk bisa melakukan perburuan. Dirinya ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri, apa benar sang ayah turut serta menjadi pembangkang di bangsanya.


Pasukan keempat ada dinaungan Arjuna yang berasal dari siren. Bersamanya, terpilihlah petinggi chimera Zarca Aseral serta Toyotomi Evazio sang elftraz tidur bangsa dracula.


Asus Sevka yang merupakan petinggi kurcaci ada di kelompok lima. Diiringi Ilhan Leandro dari bangsa manusia dan Huldra sang siren sebagai anggotanya.


Lima kelompok pemburu dan masing-masing memiliki kemampuan luar biasa. Tak lupa setiap pasukan terdiri dari seorang elftraz sebagai kunci pertarungan jangka panjang mereka.


Sebagai bukti, kalau perburuan sebentar lagi akan dimulai.


“Kalau begitu kita berangkat besok, bagaimana?” tanya Logan.


“Baiklah. Aku setuju, lebih cepat lebih baik,” angguk sekilas Reoa Attia.


“Ya, kupikir kita serentak saja melakukan perjalanannya. Jangan lupa kirimkan suar sebanyak satu kali kalau bertemu musuh dan dua kali jika membutuhkan bantuan. Ini untuk jaga-jaga, takutnya musuh ternyata sedang bersama-sama,” lanjut Hanzo memberikan saran.


Tentu saja mereka menyetujuinya. Dan beberapa pasang mata yang tak ikut serta dalam perburuan, hanya melihat dengan pandangan penuh arti di wajahnya.


Namun, ada seseorang yang menuliskan raut muka paling berbeda. Seolah-olah, lirikan matanya jelas menyiratkan ketidak sukaan di sana.


“Jujur aku masih tak menyangka kalau Hellbertha pengkhianat. Bagaimana denganmu Beltelgeuse?” tanya Reoa Attia saat sedang di perjalanan menuju ruang peristirahatan bangsa gyges.


“Entahlah. Aku tak tahu bagaimana harus mengatakannya, karena firasatku tak mengatakan apa pun saat bersamanya.”


Akan tetapi, dalam pembicaraan yang terus berlanjut antara Reoa serta Ksatria Bintang itu, tampaknya ada seseorang sibuk diam sendirian. Dari awal pertemuan di Aula Kaca, seolah suara enggan keluar dari bibirnya. Kecuali menatap tenang semua kejadian di depan matanya.


Dialah Serpens, sang Wakil Raja bangsa gyges. Dan sikapnya itu jelas-jelas mengundang tatapan heran rekannya, sampai akhirnya Beltelgeuse pun menghentikan langkahnya.


“Serpens, apa semua baik-baik saja?”


Laki-laki itu pun mengangkat wajahnya. “Ya, semua baik-baik saja.”


“Benarkah? Padahal kau tak mengatakan apa pun selama pertemuan.”


Dan sosok yang ditanya pun tersenyum. “Mungkin karena aku bingung harus mengatakan apa. Benar juga, aku lapar. Aku jadi penasaran akan seperti apa jamuan selanjutnya,” selanya sambil berjalan duluan meninggalkan kedua rekannya.

__ADS_1


Tapi, suasana berbeda justru ditampilkan di ruang peristirahatan bangsa hydra. Seolah dingin menerpa sepanjang ruangan di sana. Tentunya semua disebabkan oleh seseorang yang sudah jelas siapa.


Revtel dan juga Kers.


Wakil Raja itu, menatap dingin ke arah pemilik tahta tertinggi bangsa ular. Masih menunggu jawaban, atas apa yang diinginkannya dari bibir adik seperguruannya. Berharap, balasan akan sesuai dengan tindakan sembrono laki-laki di depannya.


“Memangnya ada yang salah? Lagi pula Aza sudah berjasa besar dalam mengumpulkan informasi yang ada.”


“Kers.” Sungguh bulu kuduk berdiri mendengar panggilan Revtel padanya. Bahkan Libra serta Hea hanya bisa meneguk ludah kasar akan irama yang di dengar keduanya. “Tinggalkan kami,” perintahnya pada kedua orang itu akhirnya.  


Dan sosok-sosok petinggi hydra itu pun pergi dari sana tanpa berlama-lama. Memilih berkeliaran untuk menikmati pesona istana siren sebelum akhirnya besok meninggalkan jejak-jejak pertemuan di Aula Kaca.


“Apa semua akan baik-baik saja?” Hea bersuara.


“Apanya?”


“Guru dan Yang Mulia. Jujur ini pertama kalinya aku melihat Guru bersikap seperti itu.”


Libra Septor pun terdiam. Apa yang bisa dikatakannyaa? Nyatanya sepanjang hidupnya mengenal Wakil hydra, nada suara Revtel barusan juga baru di dengarnya setelah sekian lama.


Tanpa ia sadari, bulu kuduknya meremang kembali mengingat lirihan dingin Wakil Raja. Sepertinya, memang pantas kalau Revtel diakui sebagai salah satu Guider terkuat di dunia Guide.


“Apa ada yang kau tutupi?” tanya Revtel setelah akhirnya dirinya hanya bersama Hydragel Kers di dalam ruangan.


“Apa yang aku tutupi?”


“Entahlah. Karena itu aku sedang mencari tahunya.”


“Ayolah, Revtel. Jangan curiga begitu. Terlalu tidak percaya sangat tidak baik untuk kesehatan lho. Bisa-bisa, saat ada hal yang mengejutkan kamu malah jantungan.”


Entah apa maksud Raja hydra berkata seperti itu. Namun yang pasti, Revtel masih belum melepaskan raut muka dingin miliknya. Seolah ingin membekukan tulang laki-laki santai di depannya.


“Jangan lupa, Kers. Kau seorang Raja. Apa pun tindakanmu, akan mempengaruhi kehidupan hydra. Jangan membuatku menyesal, karena sudah memilihmu dan mendukungmu untuk berada di posisi ini setelah semua.”


Dan perlahan, senyuman jahil yang sudah menjadi ciri khas pemimpin bangsa ular pun memudar dari bibirnya.


“Mana mungkin aku lupa? Bagaimanapun aku, sudah berdarah di Altar Hidea untuk kalian semua.”  

__ADS_1


 


 


__ADS_2